PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Wanita Berotak Udang


__ADS_3

Dengan amarah yang begitu menggebu-gebu Mili melangkah masuk ke kediaman Eiji. Wajahnya tampak memerah, menandakan kalau sekarang dia sedang sangat marah.


"Kayo, Fedo, keluar kalian!" teriak Mili begitu dia sampai di dalam rumah. Mili kemudian mendorong dua orang pelayan yang datang mendekat hingga membuat keduanya jatuh tersungkur di lantai. "Jangan coba-coba menyentuh tubuh berhargaku dengan tangan kotor kalian ya. Sekarang cepat panggil kemari majikan kalian yang sok hebat itu. Katakan padanya kalau aku ingin membuat perhitungan dengan mereka!"


Salah satu pelayan segera bangkit berdiri kemudian bergegas masuk ke dalam rumah untuk memanggil sang majikan. Sementara itu Kayo yang sedang duduk sambil mengawasi CCTV hanya tersenyum kecil melihat kegilaan ibunya Kanita di rumah ini. Dia tentu saja tahu mengapa wanita tua ini datang merusuh ke kediamannya. Apalagi jawabannya kalau bukan karena Kanita yang syok dan sakit hati setelah menjadi korban ketajaman lidah dari seorang Jack-Gal. Membayangkan reaksi ketakutan Kanita ketika di ancam oleh calon suaminya membuat Kayo tak tahan untuk tidak tertawa. Dia yakin sekali kalau raut wajah Kanita pasti terlihat begitu menggemaskan.


Abigail yang saat itu sedang membaca majalah di halaman belakang rumah menatap heran ke arah pelayan yang datang dengan tergesa-gesa. Sadar ada sesuatu yang terjadi, Abigail tanpa bertanya langsung pergi menuju ruang tamu. Di sana dia di buat kesal oleh kemunculan seorang wanita angkuh yang tengah memaki seorang pelayan.


"Kau datang tanpa undangan lalu mengacau seenaknya di rumah orang. Apa otakmu sudah tidak waras, Nyonya Mili?" tanya Abigail dingin. Dia kemudian datang mendekat, mengulurkan tangan ke arah pelayan yang masih terduduk diam di lantai. "Harusnya tadi itu kau langsung menendang wajah wanita ini sampai tulang hidungnya patah. Kenapa kau malah diam saja saat dia memakimu? Apa selama kau bekerja di sini aku pernah mengajarkanmu untuk menjadi seorang penakut? Tidak kan?"


"Tidak, Nyonya. Saya hanya khawatir salah mengambil tindakan, jadi memutuskan untuk diam menunggu sampai anda datang kemari!" jawab si pelayan dengan sopan.


"Kalau begitu aku ingin kau membalas apa yang sudah wanita ini lakukan terhadapmu. Sekarang, dan lakukan dengan benar agar aku tidak merasa kecewa sudah mempekerjakanmu di rumah ini," ucap Abigail sembari menatap tajam ke arah ibunya Kanita.


Mili langsung mundur ke belakang saat pelayan yang tadi dimakinya tiba-tiba melayangkan tatapan yang sama tajamnya seperti tatapan Abigail. Amarah yang tadi begitu memuncak sirna begitu saja saat pelayan lain ikut mengepungnya.


"Coba saja kalau kalian berani menyakitiku. Aku akan membuat kalian menyesal seumur hidup!" ancam Mili sambil menelan ludah.

__ADS_1


"Ancaman anda sama sekali tidak membuat kami merasa gentar, Nyonya. Lakukan saja karena nanti anda pasti akan mendapat balasan yang jauh lebih menyesalkan lagi. Memang benar kalau saya hanyalah pelayan rendahan yang tidak memiliki reputasi terhormat seperti anda. Akan tetapi kami tidak miskin hati nurani, kami tahu bagaimana cara menghargai orang lain dengan benar terlepas dari apapun pekerjaan mereka. Jadi Nyonya, saya rasa anda perlu merasakan juga apa yang tadi saya rasakan ketika anda menghina dan merendahkan pekerjaan kami!"


Dan setelah berkata seperti itu si pelayan langsung melayangkan satu tamparan ke pipi ibunya Kanita. Abigail yang melihat hal itupun merasa sangat senang. Sudah sewajarnya orang-orang angkuh seperti Mili mendapat perlakuan yang sama dari orang yang telah dia hina.


"Sudah cukup!" cegah Abigail saat si pelayan ingin kembali memberikan pelajaran. "Kalian semua kembalilah ke belakang. Wanita angkuh ini biar aku saja yang mengurus."


"Baik, Nyonya!"


Mili masih sangat syok dengan perlakuan yang baru saja di terimanya. Dia hanya berdiri diam sambil memegangi pipinya yang tadi di tampar oleh pelayan.


"Bagaimana Nyonya Mili, rasanya pasti tidak enak bukan di perlakukan hina oleh orang lain?" tanya Abigail sambil tersenyum kecil.


"Oh, benarkah? Tapi sayangnya aku sama sekali tidak peduli dengan bualanmu itu, Nyonya Mili. Silahkan saja, lakukan apa yang kau mau. Bahkan jika perlu bawa orang-orang dari pihak kepolisian juga untuk menyelesaikan permasalahan ini. Aku tidak takut. Aku akan menghadapi semuanya sendirian tanpa harus melibatkan nama besar keluargaku. Dan aku pastikan nama besar keluargamulah yang akan tercoreng begitu aku membuka mulut. Kau tahu apa sebabnya?"


Abigail maju mendekat ke arah ibunya Kanita kemudian berjalan memutari tubuhnya. Dia memperhatikan dengan seksama setiap jengkal bagian tubuh wanita ini. Iri, tidak mungkin. Abigail hanya merasa prihatin mengapa wanita berkelas seperti Nyonya Mili bisa begitu angkuh dengan selalu membanggakan nama besar keluarganya untuk menggertak orang lain.


"Pertama, kau tiba-tiba masuk ke rumah orang lain tanpa permisi kemudian membuat kekacauan di dalamnya. Kedua, kau melakukan kekerasan dan juga pelecehan terhadap harga diri dan status para pelayan di rumah ini. Dan ketiga ... kau mengancam pemilik rumah. Tidakkah dengan semua kejahatan ini kau bisa di jerat dengan beberapa pasal berlapis oleh pihak berwajib? Aaa satu lagi, semua bukti tindak kriminal yang kau lakukan telah di rekam oleh kamera pengawas yang terpasang di setiap sudut rumah ini. Mulai dari kau yang memaksa masuk, menyakiti para pelayanku, kemudian menunjuk wajahku. Dengan bukti-bukti yang begitu kuat apa kau yakin ingin berurusan denganku, hmm? Sudah siap kehilangan reputasi keluarga yang sangat kau banggakan itu?"

__ADS_1


Tubuh Mili langsung menegang begitu mendengar perkataan Abigail. Mati kutu, itu sudah pasti. Bagaimana tidak! Semua hal yang dia lakukan di rumah ini ternyata terekam oleh kamera CCTV. Mili sungguh bodoh karena tida terpikirkan akan hal ini sebelum datang melabrak. Panik karena tak memiliki celah untuk membuat perhitungan dengan Abigail, Mili sampai lupa dengan tujuannya datang ke rumah ini. Gara-gara para pelayan itu sekarang Mili sampai melupakan nasib putrinya yang sedang menderita setelah mendapat perlakuan kejam dari pria yang akan menjadi menantu wanita ini.


"Nyonya Mili, aku tidak tahu apa tujuanmu datang mengacau di rumahku. Tapi sebagai wanita yang berasal dari keluarga terpandang, aku sangat menyayangkan sikapmu yang sekarang. Kalau kau mempunyai masalah dengan salah satu anggota keluargaku, kau bisa datang dengan sopan kemudian bicara baik-baik dengan kami. Bukannya memaksa masuk seperti pencuri kemudian mengamuk seperti orang tidak waras. Kau sadar tidak kalau perbuatanmu ini bisa aku laporkan pada pihak berwajib dengan tuduhan mengancam keselamatan para penghuni rumah?" cecar Abigail dengan nada suara yang begitu tegas.


"Apa kau sedang mengancamku?" teriak Mili kembali tersulut emosi.


"Sudahlah, Bu. Tidak akan ada gunanya Ibu bicara dengan wanita berotak udang seperti dia. Sia-sia saja. Cihhh, sayang sekali hanya tampilan luarnya saja yang di bungkus dengan pakaian mahal. Sementara hatinya di biarkan polos tanpa pakaian dan attitude yang semestinya. Aku jadi curiga jangan-jangan saat masih muda dia tidak mendapat pendidikan moral yang baik saat berada di bangku sekolah. Miris!" timpal Kayo yang muncul sambil memilin ujung rambutnya.


"Kau ... Kau jangan sembarangan bicara, Kayo. Tahu apa kau tentang pendidikan yang di berikan oleh keluargaku, hah! Jaga bicaramu!" hardik Mili tak terima. Dadanya bergerak naik turun dengan cepat saking emosinya dia pada pasangan ibu dan anak ini.


Kayo tertawa sinis setelah sampai di samping ibunya. Dia lalu berdecak, menatap geli ke arah ibunya Kanita yang sedang menahan amarah.


"Nyonya Mili, daripada sibuk mengamuk di rumah orang lain sebaiknya kau kembali ke hotel saja untuk menemani putrimu yang sedang patah hati dan ketakutan. Memangnya kau tidak khawatir ya kalau calon suamiku akan kembali mendatangi Kanita di sana?" ucap Kayo mengusir ibunya Kanita dengan cara yang halus, tapi penuh nada ancaman.


Mili tertegun. Barulah dia ingat dengan tujuannya datang ke rumah ini saat Kayo menyinggung tentang orang yang telah melukai putrinya. Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Kanita, Mili memutuskan untuk keluar dari kediaman keluarga Eiji. Dia pergi dengan sangat tergesa-gesa sembari menghubungi nomor anaknya buahnya yang dia tugaskan menjaga putrinya di hotel.


Sementara itu di dalam rumah, Kayo dan Abigail masih belum bergeming dari tempat mereka berdiri. Wajah keduanya terlihat begitu dingin, seolah ingin memberitahu pada semua orang kalau keluarga mereka bukanlah keluarga yang bisa di sentuh secara sembarangan. Namun mereka cukup mengakui mental Mili yang berani melangkahkan kaki masuk ke kandang singa tanpa berpikir apa akibatnya. Sebenarnya wajar saja kalau seorang ibu ingin membela kebahagiaan anaknya. Akan tetapi jalan yang di tempuh oleh Mili itu sangat salah karena hal ini hanya akan membuat Kanita semakin besar kepala. Kanita pasti akan kembali menggila jika tahu kalau ibunya ada di pihaknya. Mereka sangat yakin akan hal itu.

__ADS_1


*****


BOM KOMENTAR GENGSS BIAR ENTAR SORE EMAK UP LAGI BUAT NEMENIN MALAM MINGGUAN PARA JOMBLO 😅


__ADS_2