PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Lebih Dari Sekedar Teman


__ADS_3

📢JANGAN LUPA BOM KOMENTARNYA BESTIE💜


Sesampainya di sekolah, Jovan terus saja terngiang-ngiang akan ucapan Nania saat mereka sarapan di rumahnya tadi. Jovan mendadak jadi terobsesi untuk benar-benar menjadi kandidat utama yang akan di pilih gadis beracun itu sebagai calon suami. Rasanya pasti akan sangat menyenangkan jika mereka bisa bersama dalam satu ikatan rumah tangga. Membayangkan hal itu tanpa sadar membuat Jovan tertawa sendiri.


"Hehehe, rasanya pasti akan sangat menyenangkan jika aku mempunyai istri secerewet Nania. Suasana rumah kami pasti akan selalu terasa seperti taman bermain. Asiknya," gumam Jovan kegirangan.


"Tadinya aku pikir kau sedang kemasukan setan karena tertawa-tawa sendiri, Jo. Rupanya kau itu sedang memikirkan Nania ya."


Luri tersenyum sambil menatap Jovan yang seperti tidak mempedulikan kehadirannya. Setelah itu Luri duduk, kembali memperhatikan Jovan yang sedang kasmaran pada adiknya. Sungguh, sulit untuk bisa di percaya kalau ada orang yang bisa menyukai gadis seculas Nania sampai seperti ini. Karena dari sekian banyaknya siswa laki-laki yang ada di sekolah ini, hanya Jovan saja yang mempunyai pandangan berbeda pada adiknya itu. Di saat semua siswa memandang Nania sebagai gadis yang sangat berbahaya, Jovan malah terus mendekatinya. Entah apa yang salah, tapi mungkin memang benar kalau jatuh cinta itu bisa membuat seseorang menjadi lupa daratan. Seperti yang sedang terjadi di diri Jovan sekarang. Siswa yang mendapat julukan sebagai bintang dari kelas IPS ini tak ragu untuk tertawa seorang diri hanya karena memikirkan Nania. Anak ini bahkan acuh saja meski kelakuan anehnya membuat beberapa siswi saling berbisik dan mengatainya tidak waras.


"Jo, kau tidak sadar ya kalau sejak tadi semua siswa sedang memperhatikanmu?" tanya Luri.


"Biarkan saja, Luri. Aku tidak peduli mereka mau berfikir apa tentangku karena sekarang aku sedang senang," jawab Jovan masa bodo.


"Hmmm, sebegitu senangnya sampai-sampai tidak peduli pada sekitar," sindir Luri seraya tersenyum kecil. "Tidak baik Jo kalau kita terlalu merasa bahagia akan sesuatu hal. Karena biasanya setelah itu kita akan mengalami kesedihan yang lumayan panjang."


Tawa di bibir Jovan langsung sirna begitu dia mendengar ucapan Luri. Segera dia menoleh kemudian menatap penuh penasaran ke arah gadis cantik yang dulu sempat di dekatinya sebelum perasaannya berbelok pada Nania.


"Jangan menakut-nakuti aku, Luri. Bisa saja kan kalau yang kau katakan barusan hanyalah mitos dari orang-orang tua di zaman dulu?" tanya Jovan menolak untuk percaya meski hatinya sedikit gelisah.


"Aku bukan menakut-nakuti, Jovan. Tapi aku hanya memperingatkanmu saja agar tidak terlalu bahagia dalam menyukai sesuatu hal. Sukai sewajarnya saja, jangan berlebihan. Agar nanti jika terjadi sesuatu kau tidak terlalu merasa sedih," jawab Luri.


"Ini bukan hanya tentang mitos, tapi memang seperti itulah adanya. Bahkan di kehidupan sehari-hari kita sebenarnya hal seperti ini sering terjadi juga. Mungkin kau saja yang tidak menyadarinya, Jo."

__ADS_1


"Benarkah? Memangnya kau pernah mengalami hal seperti ini?"


Luri menggeleng lesu. "Tidak pernah."


Mendengar jawaban singkat Luri membuat Jovan merasa aneh. Gadis desa ini biasanya terlihat begitu tenang dan bersemangat. Akan tetapi ekpresi berbeda terlihat di wajahnya hari ini. Luri murung, dia terlihat seperti sedang memikirkan suatu masalah yang cukup berat. Dan sebagai seorang teman sekaligus calon kekasih dari adiknya Luri, Jovan pun berinisiatif untuk bertanya ada apa gerangan. Siapa tahu dengan berbagi cerita beban yang sedang di rasakan oleh temannya ini bisa sedikit berkurang.


"Ekhmm, Luri. Hari ini kau terlihat tidak bersemangat. Ada apa? Apa kau sedang terlilit masalah?" tanya Jovan hati-hati.


"Tidak ada apa-apa, Jo. Aku hanya sedang merasa sedih saja karena sebentar lagi akan berpisah dari keluargaku, juga dengan sekolah ini. Meskipun belum lama, tapi sekolah ini memiliki kesan yang sangat mendalam di hatiku karena para guru di sini sudah membantu mencarikan wadah untuk aku mengejar cita-cita. Begitu," jawab Luri berkilah. Padahal saat ini dia tengah merasa bingung memikirkan arti dari mimpinya waktu itu.


Semoga saja mimpi itu hanyalah bunga tidur seperti yang di katakan oleh Ibu. batin Luri.


"Benarkah? Tapi kenapa aku merasa kalau itu bukan jawaban yang sebenarnya ya?" ucap Jovan meragu. "Luri, kita ini teman. Aku tidak keberatan untuk berbagi suka dan duka denganmu. Sebentar lagi kan kau sudah akan berangkat ke luar negeri, tidak baik kalau fokusmu sampai terbagi. Cerita saja, siapa tahu aku bisa membantu."


"Luri, ayolah cerita saja. Jangan biarkan masalah itu menghalangi tujuanmu. Ayo cerita, kita selesaikan bersama-sama masalahmu itu!" desak Jovan.


"Jo, apa kau percaya dengan sebuah firasat yang datang dari mimpi?" tanya Luri yang akhirnya menyerah untuk tetap diam.


"Firasat yang datang dari mimpi?" sahut Jovan sambil mengerutkan kening. "Aku percaya. Karena walaupun tidak selalu benar, tapi melalui mimpi-mimpi itu terkadang Tuhan ingin menunjukkan sebuah tanda akan sesuatu hal yang akan terjadi. Kenapa memangnya?"


"Malam kemarin aku bermimpi tenggelam di dalam air yang sangat keruh. Dadaku sesak, dan semua orang terlihat begitu sedih," ucap Luri pelan. "Aku takut, Jo. Aku takut kalau mimpi itu adalah pertanda buruk untuk keluargaku. Ayah dan Ibuku sering sakit-sakitan, aku takut mimpi itu di tujukan Tuhan agar aku waspada akan kesehatan kedua orangtuaku."


Setelah berkata seperti itu Luri menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Walau sudah di tenangkan oleh sang ibu, nyatanya Luri masih saja merasa gelisah. Bayangan kejadian yang tidak-tidak terus memenuhi rongga pikiran Luri yang mana membuat perasaannya menjadi tidak karu-karuan.

__ADS_1


"Aku sebenarnya tidak tahu sih apa arti dari mimpimu itu. Tapi yang jelas, kau tidak boleh sepenuhnya percaya kalau mimpi yang kau lihat adalah pertanda buruk untuk keluargamu. Bisa jadi itu di sebabkan karena kau yang terlalu kelelahan jadi mengalami mimpi seperti itu. Positif thinking saja, Luri. Berdo'a pada Tuhan agar semuanya baik-baik saja sampai kau berhasil meraih cita-citamu. Yakinkan hatimu kalau Paman Luyan dan Bibi Nita selalu sehat selama kau berada di luar negeri nanti," ucap Jovan berusaha memberikan penghiburan untuk Luri.


"Aku sudah mencobanya, Jo. Akan tetapi tidak bisa. Bayangan mimpi itu terus saja muncul di dalam pikiranku. Aku benar-benar sangat takut terjadi hal buruk."


"Jangan pernah terbawa perasaan hanya karena kau mengalami mimpi buruk, Luri. Karena bisa jadi itu adalah cara setan menggoyahkan keyakinanmu. Percaya padaku kalau mimpi itu tidak selalu benar. Mimpi hanyalah bunga tidur, yang artinya adalah penghias di malam-malam yang panjang. Kau jangan sampai tertipu, Luri!"


Jovan dan Luri menoleh saat mendengar suara Galang. Terlihat dia yang sedang berjalan mendekat sambil membawa tiga gelas minuman di tangannya.


"Terima kasih, Lang," ucap Luri seraya menerima minuman yang di berikan oleh Galang.


"Thanks, kawan," ucap Jovan yang kegirangan saat mendapat minuman gratis.


Galang mengangguk. Setelah itu dia duduk di samping Jovan sambil terus memperhatikan raut wajah si gadis desa ini.


"Luri, aku juga sering mengalami mimpi yang sangat amat buruk. Akan tetapi aku tidak pernah memasukannya ke dalam hati. Aku selalu beranggapan selama aku bersikap hati-hati dan berpikir positif, semua musibah pasti akan menjauh dari hidupku. Terkecuali jika Tuhan yang menghendaki. Jadi aku harap kau tidak lagi merasa tertekan gara-gara mimpi itu. Terlalu konyol jika kita sampai mempercayai sesuatu yang hanya berbentuk ilusi saja. Kita yang rugi!" ucap Galang kembali meyakinkan Luri.


"Baiklah, aku akan mencoba saran darimu. Terima kasih banyak ya, kalian sudah begitu baik mau mendengarkan masalahku," sahut Luri seraya tersenyum manis pada kedua temannya.


"Jangan sungkan, Luri. Kita teman, jadi sudah sewajarnya untuk saling memberi masukan. Iya kan, Lang?" sahut Jovan sembari meninju pelan lengan Galang.


"Tentu saja iya," sahut Galang dengan ekpresi wajah yang sedikit berbeda.


Dan aku harap kita tidak hanya menjadi seorang teman, Luri. Aku ingin kau menjadi gadis terspesial di hidupku. Aku ingin hubungan kita lebih dari yang sekarang, ujar Galang dalam hati.

__ADS_1


*****


__ADS_2