
"Nania, kau kenapa? Kakak perhatikan sejak pulang dari sekolah wajahmu terlihat berbeda. Ada apa, hm?" tanya Luri seraya menatap sang adik yang sedang melamun di dekat jendela.
Nania menarik nafas dalam-dalam. Dia kemudian menoleh, menatap seksama ke wajah cantik kakaknya. Sejak Nania bertengkar dengan wanita memalukan itu, entah kenapa perasaannya menjadi sangat tidak tenang. Dia begitu khawatir kalau-kalau wanita itu akan kembali datang ke sekolah. Nania tidak ingin sang kakak tahu kalau Fedo pernah tidur dengan wanita lain. Dia tidak mau melihat kakaknya bersedih.
"Hei, kenapa kau malah melamun, Nania. Ada apa? Ayo beritahu Kakak!" desak Luri semakin heran dengan sikap adiknya.
"Kak Luri, apa yang akan Kakak lakukan jika laki-laki yang kita sukai pernah tidur dengan perempuan lain? Kakak akan merasa sakit hati tidak?" tanya Nania. Dia butuh jawaban dari kakaknya untuk mengantisipasi serangan dari wanita memalukan itu.
Kedua alis Luri saling bertaut ketika mendengar pertanyaan Nania. Aneh, tumben sekali adiknya membahas tentang laki-laki. Setahu Luri, selama ini Nania paling jarang menyinggung tentang sesuatu seperti ini. Mungkinkah adiknya sedang jatuh cinta pada orang lain?
"Jangan berpikir macam-macam dulu tentangku, Kak. Aku bertanya seperti ini karena penasaran setelah menonton drama di ponsel temanku. Drama itu menceritakan tentang seorang wanita yang datang melabrak wanita lain karena berebut pria. Pokoknya mereka bertengkar hebat gara-gara si pria ketahuan pernah tidur dengan wanita lain. Sayangnya drama itu baru akan kembali tayang dua hari lagi. Kan aku jadi penasaran!" ucap Nania cepat-cepat mencari alasan ketika melihat sang kakak seperti sedang mencurigainya.
Ya ampun, jadi hanya gara-gara drama? Kau ini lucu sekali, Nania. Sebegitunya menghayati film sampai terbawa ke dunia nyata, batin Luri gemas.
Luri duduk di samping Nania kemudian merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan. Dia tersenyum, merasa lucu dengan pemikiran adiknya yang terbawa suasana dari sebuah film.
"Nania, pria yang ada di dalam drama itu apa sudah menjalin hubungan dengan salah satu pemeran wanitanya?" tanya Luri ingin tahu.
"Belum, Kak. Pria dan salah satu dari wanita itu hanya menjalin hubungan dekat saja, kemudian datang satu wanita yang mengaku sebagai kekasih dari pria tersebut. Dia juga mengatakan kalau mereka sudah pernah tidur bersama, dan hubungan mereka sangat serius. Begitu ceritanya," jawab Nania dengan mimik wajah yang begitu serius. Untung saja dia menemukan alasan untuk menutupi semuanya dari sang kakak. Jadi dia bisa merasa sedikit tenang sekarang.
"Hmmm, bagaimana ya. Sulit juga jika ada di posisi wanita itu. Tapi Nania, sebelum filmnya habis apa wanita itu mengatakan sesuatu pada wanita yang datang menemuinya? Seperti rencana untuk menikah, mungkin?"
Nania menelan ludah. Kenapa pemikiran kakaknya bisa sama dengan apa yang dia ucapkan siang tadi ya? Kakaknya tidak mungkin tahu kan kalau dia sedang membahas tentang Fedo dan si nenek peyot? Maaakkk, kenapa suasananya jadi mencekam begini sih.
__ADS_1
"Em itu Kak, wanita itu hanya bilang kalau dia dan si pria juga menjalin hubungan yang sangat serius. Mereka, mereka kemungkinan besar juga ingin menikah. Mungkin," jawab Nania gugup. Telapak tangannya sudah basah keringat dingin.
Suasana hening seketika setelah Nania selesai bicara. Luri lagi-lagi merasakan satu keanehan pada adiknya ini. Nania terlihat gugup dan ragu ketika menjawab, berbeda dengan sikapnya yang selalu bicara terus terang tanpa berpikir lebih dulu. Luri kemudian mulai berpikir apakah adiknya ini sedang menutupi sesuatu darinya atau bagaimana.
"Nania, sebaiknya kau jujur saja pada Kakak. Apa yang sedang kau sembunyikan, Kakak tahu kau menyimpan satu rahasia. Iya kan?"
"Rahasia? Rahasia apa memangnya, Kak?" tanya Nania kaget sendiri ketika di tuduh menyimpan rahasia oleh sang kakak.
Tak ingin mulutnya bocor, Nania segera memikirkan cara untuk mengalihkan pertanyaan yang tadi. Dia kemudian ingat kalau sang kakak belum memberi jawaban mengenai respon wanita yang menjadi kekasih si pria.
"Kak Luri, ayo cepat bantu aku menjawab sikap apa yang akan di ambil oleh wanita itu. Kira-kira dia akan pergi meninggalkan si pria atau malah akan tetap bertahan meskipun hatinya terluka. Aku benar-benar sangat penasaran, Kak. Tolong bantu jawab ya!"
"Hmmm kau ini, Nania!" sahut Luri seraya menarik nafas panjang. "Kita bicara dari sudut pandang Kakak saja ya."
"Baiklah-baiklah. Sekarang dengarkan dengan baik agar kau tidak penasaran lagi. Oke?"
Nania mengangguk. Dia memasang kupingnya sebaik mungkin sembari memperhatikan gerakan bibir kakaknya. Sungguh, menanti jawaban itu rasanya seperti sedang menaiki Rollcosteer. Menegangkan, tapi juga membuat penasaran.
"Jika Kakak yang ada di posisi wanita itu, untuk sekejap Kakak pasti akan merasa sangat sedih dan juga terluka. Karena apa? Karena kenyataan kalau pria yang Kakak sukai pernah tidur dengan wanita lain itu sangatlah menyakitkan hati. Namun Kakak juga tidak akan egois. Di awal menjalin suatu hubungan, kepercayaan adalah sesuatu yang sangat penting. Harus ada bukti nyata yang menunjukkan kalau mereka pernah tidur bersama atau tidak. Karena besar kemungkinan Kakak akan lebih memilih untuk bertahan daripada harus berpisah hanya karena sesuatu yang belum tentu asli kebenarannya. Begitu," ucap Luri berusaha bijak dalam menyampaikan jawaban.
"Tapi Kak, jika seandainya terbukti kalau mereka pernah tidur bersama bagaimana? Masa Kakak akan tetap memilih untuk tetap bersama pria itu sih. Memangnya Kakak tidak jijik?" tanya Nania masih kurang puas dengan jawaban sang kakak.
"Jika ada kesalahan, di sana pasti ada alasannya juga, Nania. Semua orang mempunyai masa lalu, entah itu masa lalu yang baik atau bahkan masa lalu yang sangat kelam. Termasuk juga dengan masa lalu pria itu. Keputusan berbeda akan Kakak ambil jika kejadiannya terjadi ketika kami sudah menjalin hubungan. Karena pada dasarnya tidak ada satupun wanita yang mau di duakan. Tapi jika itu terjadi saat Kakak belum menjalin hubungan dengannya, maka akan sangat egois jika Kakak menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk berpisah. Itu pasti akan sangat tidak adil untuknya bukan?" jawab Luri. "Nania, Ayah dan Ibu mengajarkan kita untuk tidak menilai seseorang dari masa lalunya saja. Ada kalanya seseorang menjalani hidup dengan begitu kelam di masa lalu, tapi dia memutuskan untuk menjadi lebih baik demi masa depan. Semua itu butuh proses, dan tugas kita adalah memberi dukungan, bukan malah menghujat dan menghakimi. Karena di setiap perbuatan, ada Tuhan yang akan membalas. Kita sesama manusia tidak memiliki hak untuk itu."
__ADS_1
Rasanya seperti sedang berada di tempat yang begitu teduh ketika Nania mendengar petuah dari sang kakak. Sungguh, selain cantik dan pintar, kakaknya ini begitu hebat dalam menyampaikan perkataan. Andai Nania bukan adiknya, dia pasti akan sangat jatuh cinta pada kakaknya ini. Benar-benar sangat luar biasa, pesona kakaknya seperti tidak ada obat.
"Pantas saja Kak Fedo, Kak Galang dan Kak Jovan tergila-gila padamu, Kak. Aku jadi iri kenapa hanya Kakak dan Kak Lusi saja yang bisa bicara bijak. Sedangkan aku, haiisssshh sudahlah. Mulutku seperti tidak ada rem saat sedang bicara," keluh Nania akan sikapnya sendiri.
Luri tertawa mendengar keluhan Nania. Jarang-jarang adiknya ini mau mengakui kekurangannya sendiri. Walaupun mulut Nania terkadang membuat orang lain sesak nafas, sebenarnya gadis nakal ini mempunyai hati yang begitu baik. Tapi semua itu tertutup oleh ucapannya yang ceplas-ceplos. Jangan lupakan juga dengan sikap bar-barnya yang selalu berhasil membuat Luri dan kedua orangtuanya sakit kepala.
"Sayang, nanti seiring berjalannya waktu pemikiranmu pasti akan berubah dewasa dengan sendirinya. Sekarang kau masih kecil, tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu. Cukuplah bersenang-senang dengan menghabiskan masa mudamu untuk belajar dan bermain. Oke?"
"Iya Kak," sahut Nania patuh. "Oh iya Kak, hari ini ada yang aneh dengan sikap Kak Jovan. Dia tiba-tiba menjadi sangat baik dan perhatian padaku. Karena penasaran, aku bertanya alasan dia melakukan semua itu apa karena menyukaiku atau bagaimana. Tapi dia malah merajuk kemudian pergi meninggalkan aku sendirian di kantin. Sangat aneh kan?"
"Kau langsung bertanya seperti itu pada Jovan?" pekik Luri kaget.
"Iyalah. Kan lebih baik menanyakannya langsung pada orangnya daripada hanya di pendam saja. Bagaimana kalau nanti aku mati penasaran? Kan tidak lucu, Kak."
Luri tersenyum kecut sembari menggaruk keningnya yang tidak gatal. Sebelumnya dia sudah di beritahu oleh Galang kalau Jovan memiliki rasa pada adiknya ini. Temannya itu pasti sangat malu saat Nania bertanya seperti itu padanya.
Kau ini benar-benar, Nania. Meskipun penasaran, tapi tidak begitu juga konsep untuk bertanya. Jovan pasti sangat syok tadi. Kasihan, batin Luri iba.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
...SELAMAT MALMINGAN BUAT YG NGGAK JOMBLO YA 😝...
...💜Ig: rifani_nini...
__ADS_1
...💜Fb: Rifani...