PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Semak Belukar


__ADS_3

📢 BOM KOMENTAR BESTIE KARENA NANTI SORE EMAK CRAZY-UP LAGI 💜


***


Setelah sang ayah memaafkan kesalahannya, raut kesedihan di wajah Kanita sedikit berkurang. Dia bahkan sudah tidak melakukan penolakan lagi ketika diminta untuk meminum susu ibu hamil. Jujur, Kanita sebenarnya juga tidak benar-benar membenci bayi yang di kandungnya. Dia berkeinginan untuk membuangnya adalah karena pikirannya yang terlalu kalut. Kanita sangat takut, takut dalam semua hal. Terutama tentang Fedo. Ya, hal inilah yang membuat Kanita berada dalam titik kegelapan yang membuatnya merasa sangat hancur. Namun sekarang semua itu tak lagi membebani pikiran Kanita, tapi bukan berarti rasa cinta yang Kanita miliki untuk Fedo sudah hilang. Kanita tetap mencintainya dan masih terus berharap bisa menikah dengannya. Tapi untuk sekarang Fedo akan dia nomor duakan terlebih dahulu karena Kanita ingin fokus pada kehamilannya. Biarlah dia melahirkan tanpa memiliki seorang suami. Asalkan ayah dan ibunya memberikan dukungan, maka Kanita rasa semuanya akan baik-baik saja.


"Maafkan Ibu yang pernah ingin membuangmu ya, sayang. Ibu terlalu takut menghadapi kenyataan buruk di mana kakek dan nenekmu akan memaksa Ibu untuk menikah dengan ayah kandungmu. Ibu tidak sudi melakukannya. Karena yang Ibu cintai adalah Ayah Fedo, bukan Ayah Ando. Tolong mengerti ya?" ujar Kanita lirih sembari mengelus-elus perutnya.


Sambil tersenyum senang, Kanita menyisir rambutnya yang sudah beberapa hari ini dia biarkan tak terawat. Rambut yang biasanya selalu terlihat rapi dan berkilau, kini tak ubahnya seperti semak belukar yang begitu kacau. Wajarlah, dia ini baru saja menghadapi badai yang begitu besar hingga membuat rambutnya ikut menjadi korban.


"Sayang, kau sudah siap belum?"


Mili melangkah masuk ke dalam kamar putrinya yang kebetulan tidak di kunci. Dia lalu tersenyum melihat putrinya yang tengah duduk sambil menyisir rambut panjangnya yang tadinya terlihat begitu berantakan.


Dom, lihatlah putri kesayangan kita sekarang. Kebesaran hatimu telah membuat senyum Kanita kembali bersinar seperti dulu. Terima kasih ya karena sudah bersedia untuk memaafkan kesalahannya. Aku sungguh sangat beruntung memiliki suami sepertimu, ujar Mili dalam hati.


"Bu, rambutku sebaiknya di ikat atau tidak ya?" tanya Kanita sembari mendongak menatap wajah sang ibu.


"Terserah kau saja, sayang. Karena di mata Ibu mau rambutmu di ikat atau tidak, kau tetap terlihat sangat cantik," jawab Mili. "Hmm, kecantikanmu bahkan semakin terlihat bersinar semenjak hamil. Sepertinya nanti cucu Ibu akan berjenis kelamin perempuan. Benar tidak?"


"Aku tidak tahu, Ibu. Usianya saja baru beberapa minggu saat aku pergi memeriksakan diri. Jadi dokter belum bisa mengetahui jenis kelamin bayi ini," sahut Kanita seraya tersenyum senang. Dia lalu mengusap pelan perutnya yang masih terlihat datar. "Ibu, apapun jenis kelamin bayi ini nanti Ibu dan Ayah akan tetap menerimanya bukan?"


"Astaga, kau ini bicara apa, Kanita!" kaget Mili. "Apapun jenis kelaminnya nanti, Ayah dan Ibu akan tetap menerima kehadirannya dengan tangan terbuka. Anakmu itu adalah cucu pertama di keluarga kita, jadi mana mungkin Ayah dan Ibu menolaknya. Sudah gila apa."

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Mili mengambil sisir di tangan Kanita kemudian menggantikannya untuk merapihkan rambut. Sudah cukup lama Mili tak pernah lagi memanjakan Kanita sejak dia tumbuh dewasa. Dan sekarang kenangan manis ini kembali terulang. Sayangnya ada yang kurang lengkap, yaitu kehadiran seorang laki-laki yang menyandang gelar sebagai menantunya. Memikirkan hal ini lagi-lagi membuat Mili sedikit merasa terbebani. Dia iba akan nasib putrinya yang terpaksa hamil tanpa ada suami yang menemani.


"Bu, kenapa Ibu melamun? Lihat, bukan rambut yang sedang Ibu sisir, tapi punggungku," tanya Kanita sambil menatap heran ke arah sang ibu melalui pantulan cermin.


"Ah, maaf-maaf. Ibu tidak sengaja, sayang. Ada yang sakit tidak, hm?" jawab Mili kaget begitu sadar kalau tangannya sedang menggaruk punggung putrinya. Hah, karena melamun Mili jadi tidak fokus begini. Ya ampun.


"Ibu melamun. Apa karena sedang memikirkan siapa ayah dari bayiku?" tanya Kanita lagi.


Tanpa di jawab pun Kanita sudah tahu kalau memang itulah yang sedang di pikirkan oleh sang ibu. Sedetik kemudian ekpresi di wajahnya langsung berubah antara benci dan juga terluka. Mili yang menyadari perubahan di wajah putrinya pun hanya bisa menghela nafas dalam. Dia tidak mengelak, karena memang benar itulah yang sedang dia pikirkan.


"Kanita, Ibu tahu kau tidak ingin Ibu membahas hal ini lagi. Tapi Nak, tidak bisakah kau memberitahu Ibu tentang siapa orang itu? Ibu hanya ingin tahu saja dan Ibu janji tidak akan memaksa orang itu untuk menikahimu," ucap Mili bicara sehati-hati mungkin.


"Bu, harus berapa kali aku katakan kalau aku tidak akan pernah mengatakan siapa ayah dari anakku. Aku punya alasan sendiri kenapa tidak ingin memberitahukannya pada Ayah dan juga Ibu. Tolong jangan memaksaku lagi, Bu. Biarkan aku nyaman dengan keadaanku yang sekarang. Bisa 'kan?" teriak Kanita kembali emosional. Amarahnya langsung mendidih saat wajah Ando melintas di matanya.


"Tapi apa alasannya, Kanita? Apa kau tidak merasa kasihan pada calon anakmu, hm? Bagaimana jika suatu saat nanti dia menanyakan siapa ayahnya. Tidak mungkin kan kau tidak memberitahunya?" sahut Mili masih berusaha membujuk Kanita agar bersedia buka mulut.


"Masalah ini biar aku yang mengurusnya. Dan aku harap Ibu jangan pernah lagi menyinggung-nyinggung tentang siapa ayah dari anakku. Aku tidak suka, Bu!" sahut Kanita dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Dan jika Ibu tetap bersikeras membuatku bicara, maka aku tidak akan segan untuk menyingkirkan janin ini dari dalam perutku. Coba saja kalau tidak percaya."


Sadar kalau pembicaraan mereka sudah tak sehat lagi, Mili memilih untuk mengalah. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya meminta maaf pada putrinya.


"Sayang, tolong maafkan perkataan Ibu ya. Jangan marah, Ibu janji tidak akan membahas masalah ini lagi. Oke?"


"Benar Ibu tidak akan membahasnya lagi?" tanya Kanita memastikan.

__ADS_1


"Iya, sayang. Ibu janji tidak akan pernah mengungkit masalah ini baik di waktu sekarang maupun di masa depan. Seperti yang Ayahmu katakan, asalkan kau dan bayimu sehat, maka semuanya akan baik-baik saja. Ibu menyinggung masalah ini hanya karena kasihan memikirkan nasib cucu Ibu. Kau bisa mengerti bukan?" jawab Mili jujur.


Kanita mengangguk. Dia kemudian berdiri lalu memeluk ibunya dengan sangat erat. Sungguh, di cecar seperti ini membuat tubuh Kanita serasa begitu lemas. Dia sebenarnya juga bingung memikirkan nasib anaknya yang harus terlahir tanpa memiliki seorang ayah. Tapi jika harus mengakui Ando sebagai ayah kandung dari anaknya, Kanita lebih memilih untuk tetap diam saja. Dia tidak akan sudi mengakui pria brengsek itu di hadapan orangtuanya, tidak akan sudi.


"Maafkan aku ya, Bu. Aku benar-benar tidak sanggup untuk memberitahu Ibu tentang siapa ayah dari bayiku. Sungguh," ucap Kanita lirih. Dia sebisa mungkin mengendalikan emosinya agar tidak sampai menangis saat sedang bicara.


"Tidak apa-apa, sayang. Sudahlah, sebaiknya kita lupakan saja pembicaraan tidak penting ini. Lebih baik sekarang kau segera bersiap-siap karena sebentar lagi Ayahmu pasti datang untuk menjemput kita," sahut Mili sambil mengurai pelukan. Dia lalu tersenyum sembari merapihkan anak rambut yang menutupi wajah putrinya. "Ibu ingin kau dan cucu Ibu hidup dengan sangat bahagia, Kanita. Jadi tersenyumlah. Oke?"


Kanita membalas senyuman sang ibu dengan menganggukkan kepala beberapa kali. Setelah itu dia kembali bersiap, merapihkan make-up di wajahnya kemudian mengambil tas dan juga ponsel miliknya.


Tok tok tok


"Kanita, apa kau dan Ibumu sudah siap?" tanya Dominic.


"Sudah, Ayah. Aku dan Ibu sudah siap untuk pergi menghabiskan uang Ayah," jawab Kanita dengan begitu semangatnya.


"Haihhh, dasar wanita. Selalu saja paling semangat jika sudah berurusan dengan dunia belanja," sahut Dominic pura-pura mengeluh.


"Oh, jadi kau tidak terima kalau istri dan anakmu bersenang-senang menghabiskan uangmu?" protes Mili.


Dominic tertawa. Setelah itu dia mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya, yang mana hal itu membuat anak dan istrinya langsung menjerit kesenangan.


Ternyata ini yang sudah aku lupakan. Bukan harta yang sebenarnya mereka inginkan, melainkan waktu dan juga perhatian dariku. Hahhh, terima kasih banyak orang bijak. Berkatmu aku jadi sadar kalau selama ini aku telah menyia-nyiakan waktu yang begitu berharga bersama keluargaku, batin Dominic penuh sesal.

__ADS_1


***


__ADS_2