
"Luri, mana Galang?" tanya Nita yang baru saja hendak pergi ke ruang tamu.
Begitu mendengar suara ibunya, dengan cepat Luri menghapus air mata yang tergenang di matanya. Dia berusaha bersikap biasa saja sebelum berbalik menatap ke arah sang ibu. "Galang sudah pulang, Bu," jawab Luri sambil tersenyum kecil.
"Pulang? Kenapa cepat sekali," sahut Nita keheranan.
Kedua alis Nita saling bertaut ketika mendapati putrinya yang tidak fokus saat dia mengajaknya bicara. Mata putrinya juga terlihat sembab dan sedikit memerah. Khawatir terjadi sesuatu, Nita pun segera datang mendekat kemudian mengelus bahunya pelan.
"Luri, ada apa? Apa kau bertengkar dengan Galang?" tanya Nita dengan lembut.
"Tidak, Bu. Kami tidak pernah bertengkar," jawab Luri dengan suara tercekat. Perkataan Kanita yang menyebut kalau sekarang dia sedang mengandung anaknya Fedo kembali terngiang-ngiang di telinga Luri. Hal ini membuat Luri sedikit tidak bisa mengendalikan perasaannya di hadapan sang ibu. Dia terlalu syok dan juga kecewa mengetahui kenyataan ini.
Tahan Luri, tahan. Ibu tidak boleh sampai mengetahui hal ini, tidak boleh. Kau harus kuat, batin Luri menguatkan hatinya sendiri.
"Lalu jika kalian tidak bertengkar kenapa Galang pulang secepat ini? Dia bahkan tidak pamit pada Ayah dan Ibu. Sebenarnya ini ada apa, Luri? Kalian kenapa?" desak Nita kian yakin kalau ada sesuatu yang telah terjadi antara Galang dengan putrinya.
Di desak seperti itu oleh sang ibu membuat Luri menjadi bingung sendiri. Dia akhirnya memilih untuk berbohong dengan mengatakan kalau keberangkatannya ke London kembali di percepat menjadi besok pagi. Sebenarnya Luri merasa sangat bersalah sebelum membohongi ibunya, tapi ini jauh lebih baik daripada sang ibu harus mengetahui tentang perbuatan Fedo yang ternyata telah menghamili wanita lain. Luri tak ingin ibunya merasa sedih dan kecewa.
"Luri, kenapa diam saja? Kau pasti bertengkar kan dengan Galang?" ucap Nita lagi.
"Bu, sungguh. Aku dan Galang sama sekali tidak bertengkar," jawab Luri. Dia lalu mengajak sang ibu untuk duduk di sofa sebelum melanjutkan perkataannya. "Ibu, tolong Ibu jangan merasa sedih ya setelah aku memberitahu Ibu apa yang sebenarnya terjadi. Ya?"
"Baiklah, Ibu janji Ibu tidak akan bersedih," jawab Nita dengan dada berdebar kuat. Dia dengan tegang menantikan hal apa yang ingin di sampaikan oleh putrinya ini.
__ADS_1
Sebelum bicara Luri menarik nafas panjang terlebih dahulu. Jujur, rasanya sungguh tidak nyaman membohongi orangtua. Akan tetapi harus tetap dia lakukan supaya sang ibu tidak mengetahui perbuatan Fedo.
"Begini, Ibu. Kedatangan Galang kemari adalah untuk memberitahukan kalau keberangkatan kami ke London di percepat menjadi besok pagi. Dan dia buru-buru pulang karena masih ada hal lain yang belum selesai dia persiapkan!" ucap Luri dalam satu kali tarikan nafas. "Aku terlihat sedih karena kaget mendengar hal ini, Bu. Bukan karena bertengkar dengan Galang. Sekarang Ibu sudah tahu 'kan?"
Bukannya merespon perkataan putrinya, Nita malah melenggang masuk ke dalam rumah. Dia kemudian berteriak memanggil semua keluarganya agar segera datang berkumpul. Luri yang melihat sikap sang ibu hanya bisa tertunduk lemas. Rasanya pedih sekali melihat keluarganya menjadi panik gara-gara kabar dadakan ini.
"Luri, apa benar kau akan berangkat besok pagi? Kenapa mendadak begini? Apa yang terjadi?" cecar Lusi sambil berjalan cepat menghampiri Luri. Dia sangat syok melihat ibunya menangis sambil mengatakan kalau adiknya ini akan pergi ke London besok pagi.
"Benar, Kak. Ada kesalahan data yang aku dan Galang kirimkan ke sana, makanya pihak sekolah meminta kami untuk segera pergi agar masalah ini bisa secepatnya di urus. Pihak sekolah khawatir kalau masalah ini tidak segera di selesaikan aku dan Galang tidak bisa mengikuti kelas saat tahun ajaran baru di buka!" jawab Luri berusaha mengatakan alasan yang masuk akal di hadapan kakaknya.
"Astaga. Kenapa bisa sampai seperti itu? Bukankah seharusnya pihak sekolah memeriksa data yang ada sebelum di kirimkan ke sana? Kenapa mereka bisa seceroboh ini sih!"
Di saat yang bersamaan kakak ipar Luri datang menghampiri. Dan tentu saja hal ini membuat dada Luri berdebar tidak karu-karuan. Kakak iparnya memiliki nomor kepala sekolah, bisa gawat jika kakak iparnya sampai menelpon.
"Iya, Kak. Aku dan Galang tidak sengaja melakukan kesalahan karena mengisi data tanpa mengkonfirmasi ke pihak sekolah terlebih dahulu. Jadi data yang kami dan pihak sekolah berikan tidak sinkron. Dan hal inilah yang membuat pihak kampus ingin kami datang ke sana agar masalah ini tidak melebar kemana-mana. Karena takutnya nanti aku dan Galang tidak bisa mengikuti tahun ajaran pertama jika kesalah-pahaman ini tidak segera di benarkan. Begitu Kak," ucap Luri menjawab dengan senatural mungkin.
Dari dalam rumah terdengar suara decitan kursi roda yang bergerak dengan sangat cepat. Ya, itu Luyan. Dia begitu kaget saat di beritahu kalau putri keduanya diminta untuk segera berangkat ke London. Meski memang putrinya akan pergi ke sana, tapi kabar ini terlalu mengejutkan untuk semua orang. Istrinya bahkan sampai menangis tersedu-sedu di kamar setelah mendengar kabar ini. Jadi Luyan rasa dia perlu meminta penjelasan dari putrinya itu.
"Ayah, hati-hati," ucap Luri khawatir.
"Luri, ini benar perintah dari pihak sekolah atau ada masalah lain yang membuatmu memutuskan untuk pergi secepat ini?" cecar Luyan tanpa basa-basi. Dia tahu benar perangai putrinya satu ini, jadi Luyan khawatir kalau ada hal lain yang mendasari kepergiannya ke London.
Lusi yang melihat adiknya begitu sedih segera menggantikannya untuk memberi penjelasan pada ayah mereka. Sebisa mungkin Lusi meyakinkan sang ayah yang entah kenapa seperti tidak percaya kalau Luri pergi karena tuntutan dari pihak sekolahnya.
__ADS_1
"Jadi begitu ceritanya," ucap Luyan setelah memahami situasi yang terjadi. Dia lalu menarik nafas dalam-dalam sambil menatap wajah putri keduanya yang terlihat seperti sedang tertekan. Luyan paham, putrinya pasti juga sangat syok dengan kabar ini. "Luri, kalau memang kau harus berangkat besok pagi, maka berangkatlah. Kau tidak usah sedih karena ini sudah menjadi pilihanmu sendiri. Mungkin memang sedikit lebih cepat. Akan tetapi menurut Ayah ini sama saja karena lusa kau pun akan berangkat ke London. Jadi ya sudah, tidak perlu di tangisi ataupun merasa sedih. Ya?"
"Tapi bagaimana dengan Ibu, Ayah? Aku takut Ibu kenapa-napa," tanya Luri sambil menahan sesak di dadanya. Dia lega karena sang ayah mau mengerti, tapi juga khawatir saat mendengar suara tangis ibunya. Luri dilema.
"Kau jangan khawatir. Masalah Ibumu biar Ayah dan kakakmu yang membereskan. Lebih baik sekarang kau segera berkemas. Waktu sudah tidak banyak lagi, Luri. Kau juga membutuhkan waktu untuk istirahat sebelum melakukan perjalanan panjang di pesawat," jawab Luyan berbesar hati. "Lusi, tolong kau bantu adikmu mengemasi barang-barangnya ya. Kasihan adikmu kalau sampai kelelahan."
"Baik, Ayah," sahut Lusi. Dia kemudian mengajak Luri untuk pergi ke kamarnya.
Setelah Luri dan Lusi pergi dari sana, Gleen berjongkok di hadapan kursi roda ayah mertuanya. Gleen tidak bodoh, dia tentu tahu kalau ada hal lain yang sedang di tutup-tutupi oleh adik iparnya.
"Ayah, apa Ayah benar-benar mempercayai perkataan Luri?" tanya Gleen.
"Tidak sepenuhnya, Gleen. Luri adalah anak yang selalu menyimpan masalahnya sendiri, dan Ayah sangat yakin bukan pihak sekolah yang memintanya agar segera berangkat ke London. Pasti ada hal lain yang terjadi," jawab Luyan sembari menghela nafas.
"Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Fedo? Jika benar, sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkannya menemui Luri lagi, Ayah. Luri terlalu baik untuk menjadi pasangan dari pria sepertinya."
Luyan mengerutkan kening. Dia merasa aneh mendengar perkataan menantunya barusan.
"Apapun itu jika dengan pergi ke London bisa membuat Luri merasa tenang, maka Ayah akan tetap mendukung kepergiannya. Kita tidak boleh berprasangka buruk dulu terhadap orang lain. Lebih baik kita tunggu saja apa yang akan terjadi besok. Jika hal ini memang berhubungan dengan Fedo, besok pagi kabar itu pasti akan langsung mencuat. Ayah yakin itu!" ucap Luyan tanpa ragu.
Setelah itu Luyan mengajak Gleen masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan istrinya. Luyan takut penyakit istrinya kambuh gara-gara tertekan mendengar kabar ini.
***
__ADS_1