PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Penyakit Narsis


__ADS_3

📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE KARENA NANTI SORE EMAK AKAN CRAZY-UP LAGI 💜


***


"Kanita, lihat ke sana. Tas itu warnanya bagus sekali, Ibu ingin membelinya!" teriak Mili heboh sambil menunjuk ke salah satu toko yang memajang sebuah tas di etalase toko mereka.


"Waahhh, Ibu benar. Ayo Bu, aku juga ingin membelinya," sahut Kanita tak kalah hebohnya dari sang ibu. Dengan sangat tidak sabaran Kanita menarik tangan ibunya lalu membawanya pergi menuju toko yang mereka maksud.


Sedangkan Dominic, laki-laki itu hanya bisa menarik nafas dalam-dalam melihat betapa antusias anak dan istrinya dalam berburu barang branded. Padahal di tangan Dominic sekarang sudah ada begitu banyak paperbag berisi belanjaan mereka, tapi tetap saja kedua wanita itu enggan untuk berhenti. Namun di balik keheranan yang Dominic rasakan, ada satu kehangatan yang sebelumnya tidak pernah Dominic rasakan. Kebahagiaan, ya, rasa ini begitu kuat menyelimuti perasaannya sekarang. Dominic baru sadar kalau sudah sangat lama dia tak pernah melakukan hal ini pada istri dan anaknya. Memikirkan kebodohan yang telah dia lakukan membuat Dominic merasa sangat bersalah. Andai saja dia menyadarinya sejak awal, nasib Kanita pasti tidak akan berakhir seperti ini.


Maafkan Ayah, Kanita. Gara-gara kelalaian Ayah sekarang kau yang terkena imbasnya. Tapi Ayah janji padamu kalau Ayah tidak akan pernah lagi menyalahkanmu. Apapun yang terjadi nanti, Ayah akan selalu ada untukmu, sayang. Ayah tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama lagi. Ayah janji, ujar Dominic dalam hati.


Sementara itu di dalam toko, Kanita dan ibunya tak henti-henti menunjuk koleksi tas yang menurut mereka sangat bagus. Sesekali juga terdengar suara tawa mereka ketika merasa aneh dengan bentuk tas yang ada di toko tersebut.


"Bu, Ayah kemana? Jangan-jangan Ayah kabur lagi karena uangnya sudah habis tak bersisa," tanya Kanita sambil celingukan mencari keberadaan sang ayah.


"Ah, benar juga. Ibu baru ingat kalau Ayahmu tidak ada di sini, Kanita," jawab Mili sambil menepuk kening. "Tunggu sebentar. Ibu akan menelpon Ayahmu dulu."


"Tidak perlu. Aku selalu ada di belakang kalian sejak tadi!"


Kanita dan Mili langsung berbalik badan begitu mendengar suara orang yang sedang mereka cari. Setelah itu mereka bertiga sama-sama tertawa, merasa lucu dengan kekonyolan yang tidak sengaja mereka buat.


"Aku pikir Ayah pergi melarikan diri karena sudah tidak mempunyai uang lagi," ejek Kanita sambil tertawa lebar.


"Sekalipun tas di toko ini kalian borong semua uang Ayah tidak akan pernah habis, Kanita. Kau lupa ya kalau Ayahmu ini sangat kaya?" sahut Dominic tak ragu membanggakan diri di hadapan anak dan istrinya.


"Astaga-astaga. Sejak kapan kau mengidap penyakit narsis begini, Dom? Kaget aku!" pekik Mili heran melihat kelakuan suaminya.

__ADS_1


"Sejak aku tahu kalau anak dan istriku adalah harta paling berharga yang aku miliki di dunia ini," sahut Dominic dengan entengnya.


Setelah berkata seperti itu Dominic langsung memeluk anak dan istrinya yang tercengang kaget mendengar perkataannya. Wajar sih, karena selama ini Dominic memang terkesan dingin dan acuh pada mereka berdua. Kalaupun Dominic yang ada di posisi mereka, dia pasti juga akan merasa sangat kaget melihat orang yang selama ini cuek dan tidak peduli tiba-tiba berubah menjadi hangat dan penuh perhatian. Mau bagaimana lagi, memang benar apa kata orang kalau penyesalan itu selalu datang belakangan. Dan itulah yang sedang di rasakan oleh Dominic sekarang. Meski sudah sedikit terlambat, tapi setidaknya penyesalan ini belum benar-benar berakhir. Tuhan masih memberi kesempatan pada Dominic untuk merubah sikap agar lebih memperhatikan anak dan juga istrinya. Termasuk juga menyayangi cucunya yang belum lahir.


Ketika Kanita tengah terlena oleh kehangatan yang di berikan oleh sang ayah, dia tidak sengaja mendengar siaran di televisi yang menyebut nama Fedo. Kanita penasaran. Dia lalu melepaskan diri dari pelukan sang ayah kemudian berjalan menghampiri pelayan toko untuk memintanya agar membesarkan volume televisi.


"Tolong tambah volumenya," ucap Kanita sambil terus menatap layar televisi. Jantungnya berdegup dengan kencang.


"Baik, Nona!"


Entah, rasanya seperti ada letusan yang begitu besar di dalam tubuh Kanita begitu dia melihat Fedo yang tengah berbincang mesra bersama seorang gadis. Wajah gadis itu tidak terlalu jelas, tapi Kanita tahu dengan pasti siapa gadis tersebut. Kenyataan ini membuat dada Kanita seakan terhimpit batu yang sangat besar. Sesak, sakit, perih, semua rasa itu bercampur menjadi satu.


"Fed, setega itu kau memamerkan kemesraanmu dengan Luri? Aku sedang hancur, Fedo. Kenapa kau tega melakukan ini padaku?" gumam Kanita lirih.


Berita yang menanyangkan sebuah foto di mana putra dari keluarga Eiji tengah bermesraan dengan seorang gadis misterius rupanya menarik perhatian Mili dan juga Dominic. Segera mereka berjalan cepat menghampiri Kanita yang diam dengan tatapan kosong. Putri mereka kembali hancur.


"Bu, harusnya aku yang ada bersama Fedo di sana. Tapi ini kenapa? Kenapa harus dia?" sahut Kanita. Pikirannya kacau antara ingin marah dan juga menangis.


"Sudahlah, jangan pikirkan anak sampah itu lagi!" ucap Mili kesal karena lagi-lagi hati Kanita tergoyah setelah melihat Fedo masuk ke dalam berita televisi.


"Bagaimana bisa aku tidak memikirkan dia, Bu. Fedo ... Fedo ....


Kedua alis Mili saling bertaut melihat Kanita kesulitan bicara. Merasa ada yang salah, Mili segera mendesak Kanita agar mau mengatakan yang sebenarnya. Di pikiran Mili hanya satu. Fedo adalah ayah dari calon cucunya.


"Kanita, sekarang jawab dengan jujur pertanyaan Ibu. Apa benar Fedo yang telah menghamilimu?"


"Mili, ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah itu. Ingat kita sedang ada di mana!" tegur Dominic langsung mengingatkan istrinya yang bicara tanpa memperhatikan ke sekeliling mereka lebih dulu. Bisa gawat nanti jika para karyawan di toko ini tahu kalau Kanita sedang hamil.

__ADS_1


Mili dan Kanita langsung mengedarkan pandangan setelah mendapat teguran. Setelah itu mereka sama-sama kikuk begitu menyadari kalau saat ini mereka sedang berada di toko tas. Kanita yang merasa tak nyaman pun segera pergi dari toko tersebut. Dia butuh tempat untuk menangis.


"Dom, apa jangan-jangan Fedo adalah ayah dari cucu kita? Kalau memang benar, apa yang akan kau lakukan padanya?" bisik Mili sambil membayar semua barang belanjaannya dan Kanita.


"Ayahnya atau bukan yang terpenting sekarang kita harus segera menyusul Kanita. Aku khawatir dia nekad melakukan sesuatu untuk mencelakai dirinya dan cucu kita!" sahut Dominic kemudian menarik Mili keluar dari toko tersebut.


Dengan langkah terburu-buru Dominic dan Mili berjalan menuju parkiran di mana Kanita telah menunggu. Mereka lalu menghembuskan nafas lega setelah tahu kalau Kanita baik-baik saja. Dia kini sedang bersandar di pintu mobil sambil mengelap air mata di wajahnya.


"Ayah, Ibu. Aku ingin pulang. Sekarang!" ucap Kanita sembari menatap kedua orangtuanya dengan pandangan tak berdaya.


"Kanita, kau belum menjawab pertanyaan Ibu!" sahut Mili tetap ngotot ingin tahu kebenarannya. Dia bahkan tidak peduli saat Dominic menahannya agar tidak bertanya.


"Bu, aku mau pulang. Tolonglah."


"Tapi kau ....


"Masuklah ke dalam, Kanita. Biar Ayah yang bicara dengan Ibumu!" ucap Dominic kemudian membukakan pintu mobil untuk putrinya. Setelah itu Dominic menatap tajam ke arah Mili. "Kanita baru saja bisa tersenyum setelah beberapa hari ini terus murung dan bersedih. Tapi kenapa kau malah kembali mencecarnya dengan pertanyaan seperti itu, Mili? Apa kau tidak kasihan melihat putrimu yang begitu tertekan? Hah?"


"Dom, aku hanya ingin memastikan saja apakah benar Fedo adalah orang yang telah menghamili Kanita atau bukan. Dia terlihat sangat kecewa setelah melihat Fedo sedang bermesraan dengan gadis lain. Aku ibunya, tentu saja aku tidak akan terima jika memang benar Fedo adalah pelakunya. Dia harus mau mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Kanita!" sahut Mili enggan mengalah.


"Aku tahu, tapi tidak bisakah kita membahas hal ini setelah sampai di rumah saja? Ini tempat umum, Mili. Bagaimana jika sampai ada orang yang mendengarnya? Mau kau melihat Kanita kembali hancur?"


Mili keki. Dia dengan patuh masuk ke dalam mobil setelah Dominic membukakan pintu untuknya. Sedangkan Dominic, dia terlihat memijit pinggiran kepalanya sebelum akhirnya ikut masuk menyusul anak dan juga istrinya.


Cobaan apalagi ini, Tuhan. Baru saja aku dan keluargaku merasakan waktu yang begitu bahagia, tapi kenapa kabar tak mengenakan ini harus muncul sekarang? batin Dominic sedih.


***

__ADS_1


__ADS_2