
"Nita, apakah perlu membuat syukuran atas kemenangan putri kita?" tanya Luyan dengan begitu semangat setelah mendengar kabar kalau putri tengahnya berhasil memenangkan kompetisi.
"Em entahlah, Luyan. Kalau tidak salah waktu itu Luri pernah bilang ada dua kompetisi yang harus dia lewati. Karena sekarang berhasil menang, itu artinya masih ada satu kompetisi lagi yang akan menentukan apakah dia mendapatkan beasiswa itu atau malah Galang dan satu temannya lagi yang akan kuliah gratis ke luar negeri. Jadi aku rasa sebaiknya kita tunggu kompetisi minggu depan saja baru membuat syukuran. Tapi untuk merayakan kabar baik ini nanti malam aku dan para pelayan akan memasak sesuatu yang istimewa untuk kita semua," jawab Nita menanggapi pertanyaan suaminya dengan bijak.
"Jangan lupa minta Lusi dan Gleen untuk datang kemari juga. Hmmm, anak itu benar-benar menjadi sangat sibuk setelah masuk kuliah. Sepertinya dia lupa kalau kita tinggal di kota yang sama dengannya."
Nita hanya tertawa saja mendengar keluhan suaminya. Memang benar sih kalau putri sulung mereka sedikit jarang berkumpul semenjak masuk ke universitas. Namun Nita berusaha untuk memahami karena selain menjadi seorang mahasiswa, Lusi telah memiliki rumah tangga sendiri yang harus di pikirkan. Di tambah lagi menantunya adalah seorang pembisnis. Sudah pasti pasangan pengantin baru itu cukup kelelahan dengan aktifitas masing-masing. Hanya ketika hari libur saja Gleen dan Lusi baru datang berkunjung, dan itupun tidak lama. Tapi ya sudahlah, Nita tak ingin mengambil pusing masalah tersebut.
"Oh ya Nita, setelah malam itu kita bicara mengenai Fedo, apa kau pernah melihat Luri berhubungan lagi dengannya? Sebenarnya aku merasa tidak tega saat Luri memberitahu kita kalau dia menyukai Fedo. Tapi mau bagaimana lagi, takdir mereka terasa begitu sulit untuk sekedar di bayangkan. Fedo terlalu mencolok jika harus menjalin hubungan dengan putri kita. Ibarat kata, semua lenza kamera akan langsung bergerak menyorotnya begitu dia melangkah. Aku takut Luri akan menjadi bahan bully-an di negara ini," ucap Luyan seraya mend*sah panjang.
Sebagai orangtua, Luyan tentu saja ingin yang terbaik untuk semua putri-putrinya. Mungkin jika untuk Lusi, Luyan bisa sedikit menerima karena latar belakang Gleen tidak semencolok keluarga Eiji. Akan tetapi untuk Luri... Sungguh, Luyan benar-benar dibuat bimbang. Suara hatinya mengatakan agar tidak mencampuri urusan pribadi putrinya itu. Namun naluri seorang ayah yang tidak rela melihat putrinya terluka mengatakan untuk membatasi kedekatan mereka. Luyan sangat takut putrinya akan menjadi bahan olok-olokan, dia tidak mau putrinya sampai mengalami tekanan mental.
"Hmmm, untuk masalah ini aku tidak tahu harus bersikap seperti apa, Luyan. Putri kita bukan lagi anak-anak yang bisa selalu kita atur. Dia memiliki privasi, keinginan, tujuan dan juga kebahagiaan sendiri. Termasuk juga dalam masalah percintaan. Di sini aku bukan menyalahkanmu karena berpikiran seperti itu. Wajar, karena kau adalah ayahnya. Akan tetapi melihat cara Luri menyikapi kekhawatiran kita, aku rasa kau dan aku sedikit berlebihan. Sepertinya kita perlu memberinya kebebasan untuk berinteraksi dengan Fedo," sahut Nita seraya menarik nafas dalam.
Saat Luyan dan Nita tengah diam merenung, tanpa di duga-duga Lusi datang berkunjung. Lusi yang melihat kedua orangtuanya sedang melamun pun segera datang menghampiri. Dia khawatir telah terjadi hal buruk di rumah ini.
"Ayah, Ibu, ada apa? Kenapa wajah kalian terlihat murung?" tanya Lusi sambil meletakkan buah-buahan di atas meja.
__ADS_1
"Oh, kau datang sayang?" sahut Nita kaget melihat kemunculan putri sulungnya. "Mana Gleen?"
"Aku datang sendirian, Bu. Hari ini aku pulang cepat, jadi aku memutuskan untuk mampir ke sini dulu sebelum pulang ke apartemen," jawab Lusi. "Bu, apa ada sesuatu yang terjadi? Wajah Ayah dan Ibu terlihat aneh. Ada apa?"
Di cecar seperti itu oleh putri sulungnya membuat Nita kembali menarik nafas panjang. Dia lalu menatap ke arah suaminya sebelum menjawab.
"Adikmu, Lusi. Dia menyukai Fedo, anaknya Nyonya Abigail dan Tuan Mattheo. Keadaan ini membuat Ayah dan Ibu merasa dilema. Kami bingung harus bagaimana."
Lusi mengerutkan kening setelah mendengar ucapan sang ibu. Dia sendiri sudah bisa menebak kalau Fedo memiliki perasaan lebih pada adiknya. Sebenarnya Lusi tidak merasa ada yang salah kalau Fedo dan Luri menjalin hubungan. Akan tetapi dia jadi merasa aneh setelah melihat reaksi tak nyaman di wajah kedua orangtuanya.
"Bu, sebentar lagi Luri akan lulus sekolah. Itu artinya dia sudah cukup besar untuk bisa memilah dan memilih mana yang terbaik untuk kebahagiaannya. Jadi aku rasa tidak masalah kalau dia ingin membuka hati untuk menerima laki-laki. Aku tahu Ayah dan Ibu pasti sedang mengkhawatirkan kondisi mental Luri jika sampai menjalin hubungan dengan pewaris keluarga Eiji itu bukan?"
"Ayah, aku sangat memahami bagaimana perasaan Ayah sekarang. Akan tetapi akan sangat tidak adil bagi Luri jika Ayah sampai melarang mereka untuk menjalin hubungan. Di luar nama besar keluarga Eiji, Fedo hanyalah pria biasa yang berhak memperjuangkan perasaannya. Begitu juga dengan Luri. Aku yakin Luri pasti sudah memikirkan segala konsekuensi yang akan dia terima jika memang benar memutuskan untuk tetap bersama Fedo. Ayah jangan khawatir, adikku adalah gadis yang sangat hebat. Aku yakin mereka tidak akan semudah itu kalah dalam penindasan. Kalaupun benar Luri akan di pojokkan oleh media, memangnya Ayah dan Ibu lupa kalau dia masih memiliki Nania di belakangnya? Ingat Ayah, mulut Nania itu seperti bom waktu yang siap meledakkan harga diri orang-orang yang suka merendahkan keluarga kita. Dia pasti akan membela kakaknya mati-matian meski dia sendiri tidak terlalu menyukai kehadiran Fedo!" ucap Lusi mencoba menenangkan kekhawatiran di diri orangtuanya.
Luyan dan Nita saling memandang saat Lusi mengingatkan seperti apa watak putri bungsu mereka. Benar, hampir saja mereka lupa kalau di rumah ini ada Nania yang selalu siap pasang badan untuk membela keluarga.
"Ayah, Ibu, kalian jangan khawatir. Biarkan Luri mencari kebahagiaannya sendiri. Yang perlu kita lakukan hanyalah memberinya banyak dukungan dan juga nasehat agar dia tidak salah dalam melangkah. Anak-anak di zaman sekarang tidak bisa kita kasari, Ayah. Karena mereka pasti akan berontak dan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Lebih baik kita memposisikan diri sebagai teman yang bisa menjadi sandaran ketika Luri membutuhkan tempat bicara. Begini pasti akan jauh lebih baik untuk kita semua."
__ADS_1
"Kau dengar itu, Luyan. Luri adalah putri kita, jadi jangan membatasi kebahagiaannya lagi. Biarkan saja waktu yang menjawab apakah dia akan tetap bersama Fedo atau tidak. Lagipula mereka berdua kan baru mulai dekat, belum memutuskan untuk lanjut ke jenjang yang lebih serius. Jadi aku rasa ucapan Lusi adalah yang paling tepat. Benar tidak?"
Setelah merenungkan kata-kata putri sulungnya, Luyan akhirnya mengambil keputusan untuk berdamai dengan kekhawatirannya itu. Dia lalu mengusap puncak kepala Lusi yang selalu saja menjadi obat penenang ketika ada masalah. Luyan benar-benar merasa sangat terberkati karena memiliki tiga orang putri yang tak pernah membuatnya kecewa. Tapi untuk Nania, gadis itu adalah satu pengecualian.
"Lusi, malam ini bisa tidak kau dan Gleen makan malam bersama kami? Luri berhasil memenangkan kompetisi hari ini, jadi Ibu ingin membuat perayaan kecil-kecilan agar adikmu itu semakin semangat dalam belajar," ucap Nita yang teringat dengan rencananya.
"Oh, benarkah? Wahhh, Luri benar-benar sangat membanggakan ya Bu. Gleen pasti akan sangat senang jika mendengar kabar ini. Ya Tuhan Bu, aku bahagia sekali mendengarnya," sahut Lusi antusias.
"Iya sayang. Ayah dan Ibu juga sangat bahagia saat Luri menelpon kalau dia berhasil masuk ke tiga besar. Dia bahkan meraih nilai tertinggi dari ke empat orang temannya."
Lusi dan kedua orangtuanya larut dalam uforia kebahagiaan yang di dapat oleh Luri. Melupakan percakapan yang sempat membuat benak ketiganya khawatir. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Lusi kalau keluarga adalah tempat ternyaman untuk berbagi cerita. Dan hal inilah yang akan dilakukan oleh Luyan dan Nita dalam menyikapi masalah percintaan beda kasta yang tengah di rasakan oleh putri kedua di keluarga mereka.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...