
Malam ini Fedo pulang bersama dengan ayahnya. Dia yang baru kembali dari Shanghai terlihat berbunga-bunga ketika mendengar musik romantis yang di putar di dalam mobil. Mattheo yang melihat kebahagiaan di wajah putranya mendadak ingin menjahilinya. Dia penasaran dengan apa yang dilakukan Fedo saat menjinakkan gadis desa yang sudah membuatnya galau selama beberapa hari.
"Ekhmm Fed, apa Luri sudah membuangmu?" tanya Mattheo dengan sengaja.
"Astaga Ayah, kenapa bertanya seperti itu sih," protes Fedo kaget. "Ingat Ayah, ucapan adalah do'a. Memangnya Ayah mau ya melihatku jadi perjaka tua jika Luri benar-benar sampai membuangku?"
"Ya kan Ayah hanya bertanya saja, Fed," kilah Mattheo sambil menahan tawa.
"Mana ada orangtua yang bertanya seperti itu tentang hubungan anaknya. Jahat sekali."
Wajah Fedo berubah sangat masam sekarang. Dia yang tadinya sedang merasa bahagia seketika seperti masuk ke jurang gelap gara-gara pertanyaan ayahnya yang sangat tidak manusiawi. Yang benar saja dia di anggap telah di buang oleh Luri. Padahal jelas-jelas sikapnya memperlihatkan kebahagiaan yang begitu besar. Ayahnya belum tahu saja kalau sekarang hubungannya dengan Luri sudah naik satu tingkat dari teman biasa menjadi teman tapi mesra. Dan Fedo yakin sekali kalau hubungannya akan kembali mengalami kemajuan jika dia rajin menggoda dan menyuap Nania, mata-mata rahasianya yang selalu siap memberikan informasi dua puluh empat jam.
"Kau pulang membawa apa dari Shanghai?" tanya Mattheo dengan mode serius.
"Yang sudah pasti hubunganku baik-baik saja dengan Luri," jawab Fedo cetus.
Mattheo tertawa. Dia tahu kalau putranya merajuk gara-gara pertanyannya tadi.
"Eih, begitu saja langsung merajuk. Ayah kan hanya bercanda, Fed. Kau ini terlihat seperti wanita yang sedang PMS saja sih. Mudah marah dan sangat sensitif."
"Siapa yang tidak marah kalau jenis pertanyaan yang Ayah ucapkan begitu menyesakkan dada? Di buang, oh astaga. Aku rasa hanya Ayahlah satu-satunya orangtua yang tega bertanya seperti itu pada putranya. Memangnya Ayah tidak bisa melihat apakah aku terlihat sedih atau bahagia setelah pulang dari Shanghai apa? Keterlaluan sekali!" omel Fedo mengeluarkan unek-uneknya.
"Iya-iya Ayah minta maaf. Sekarang kita damai, oke?" bujuk Mattheo sambil terkekeh lucu.
Fedo mendengus kesal. Dia merogoh ponsel di dalam saku celana ketika mendengar dering khusus yang dia pasang sebagai pertanda untuk nomor gadisnya.
__ADS_1
"Malam ini aku dan Galang akan kembali belajar bersama, Kak. Jangan salah paham, ini demi sekolahku."
Meski sebenarnya merasa cemburu, Fedo berusaha untuk memahami keinginan Luri. Dia kemudian membalasnya dengan berpesan agar Luri menjaga jarak dari Galang.
"Kenapa lagi sekarang, Fed? Wajahmu terlihat lebih jelek daripada yang tadi," tanya Mattheo penasaran.
"Luri sedang belajar bersama dengan temannya, Ayah," jawab Fedo lesu. Dia terus memandangi layar ponsel yang sudah menggelap.
"Lho, bukannya itu malah bagus ya?"
"Bagus apanya. Luri itu belajar bersama dengan Galang, dia laki-laki!" sahut Fedo emosional.
Mattheo menutup mulut dengan tangannya supaya Fedo tidak mengetahui kalau dia sedang menahan tawa. Sungguh kasihan sekali nasib putranya ini. Baru saja kembali dari Shanghai, sekarang kekasihnya malah belajar bersama dengan laki-laki lain. Nasib Fedo sungguh sangat tidak beruntung.
"Aku tahu Ayah sedang menahan diri untuk tidak menertawaiku kan?"
"Tentu saja aku takut karena Galang menyukai Luri, Ayah. Nania bilang anak ini selalu menempel padanya saat di sekolah. Bahkan selalu menunggu kedatangan Luri setiap hari. Wajarkan kalau aku merasa terancam?"
"Wahhh, percintaanmu sangat rumit ya Fed. Berbeda dengan percintaan Ayah saat sedang berjuang menaklukan Ibumu. Ayah tidak suka bertele-tele. Begitu ada kesempatan, langsung sikat. Dan lihat hasilnya sekarang. Kau dan adikmu muncul setelah Ayah bekerja dengan sangat keras!" ucap Mattheo sambil mengenang kegilaannya ketika masih muda.
Fedo menatap penuh kagum ke arah ayahnya. Dia pernah di beritahu cara apa yang ayahnya gunakan untuk menjerat sang ibu yang dulu begitu dingin dan sangat membenci laki-laki. Namun cara-cara tersebut tidak mungkin Fedo gunakan pada Luri. Bukannya bahagia, yang ada dia malah hidup sengsara karena pasti Luri akan langsung pergi meninggalkannya. Membayangkan hal itu tiba-tiba membuat Fedo kehilangan respek pada ayahnya. Jalur mereka berbeda, dia dan ayahnya bukan mengejar wanita yang berada dalam satu frekuensi yang sama.
"Oh ya Fed, apa kau sudah tahu kenapa Luri tiba-tiba bersikap dingin padamu beberapa hari lalu?" tanya Mattheo setelah puas bernostalgia dengan kelakuan konyolnya dulu.
"Sudah, Ayah. Dia memang sengaja menjaga jarak karena orangtuanya melarang dia untuk dekat denganku. Ayah tahu sendiri kan betapa patuhnya Lusi saat masih bekerja di rumahnya Gabrielle? Dan rupanya gen patuh itu juga mengalir di tubuhnya Luri. Dia dengan lemah lembut menerima begitu saja saat di minta orangtuanya untuk menjauhiku. Benar-benar gadis yang sangat patuh bukan?" jawab Fedo sembari memijit tulang hidungnya.
__ADS_1
Mata Mattheo membelalak lebar begitu mendengar jawaban putranya. Dia tidak menyangka kalau pesona Fedo sama sekali tidak bekerja pada keluarganya Luri. Ini aneh, di saat semua orang seperti berlomba-lomba agar bisa menikahkan anak mereka dengan putranya, keluarga Luri malah melakukan hal yang sebaliknya. Luri adalah gadis pertama yang menolak cinta seorang Fedo, dan orangtuanya adalah keluarga pertama yang berani melarang putri mereka untuk berhubungan dengan putranya. Luar biasa, keanehan ini patut mendapat rekor MURI.
"Tapi untungnya Luri masih menyimpan sedikit kebaikan hatinya padaku, Ayah. Dia bilang dia menyukaiku, tapi baru akan bersedia menjadi kekasihku setelah dia memantaskan diri," lanjut Fedo seraya tersenyum lebar.
"Maksudnya bagaimana Fed? Ayah bingung."
"Ayah, Paman Luyan dan Bibi Nita melarang Luri berhubungan denganku karena mereka sadar kalau kami berasal dari latar belakang yang berbeda. Tapi di belakang mereka Luri memberitahuku kalau dia akan berjuang memantaskan diri agar nantinya status kita tidak berat sebelah. Sebenarnya aku tidak peduli orang mau berkata apa, tapi Luri peduli, Ayah. Dia takut nama baik keluarga kita menjadi bahan olok-olokan jika media sampai tahu kalau Luri hanyalah gadis desa yang tidak memiliki apa-apa. Pemikirannya sangat luar biasa bukan? Di umurnya yang masih sangat muda dia mampu untuk berpikir dari segala sisi. Dia mematuhi keinginan orangtua demi menjaga perasaan mereka. Juga diam-diam berjuang untuk menjaga nama baik keluarga kita. Dimana lagi aku bisa menemukan gadis sehebat Luri, Ayah?" jawab Fedo penuh haru.
Mattheo ternganga. Dia kemudian mengacungkan kedua jari jempolnya ke depan wajah Fedo.
"Pertahankan. Ayah sangat mendukung kalau kau ingin serius dengan gadis desa ini. Kayo dan Ibumu pasti akan sangat bahagia kalau kau berhasil menemukan wanita sejati. Bukan jenis wanita siluman yang bisanya hanya menggeliat di atas ranjang!" ucap Mattheo memuji calon menantunya.
"Jangan hina mantan-mantanku, Ayah. Karena bagaimana pun mereka pernah membuatku mendesah sepanjang malam!"
"Dasar berang-berang kau. Ayah adukan pada Luri baru tahu rasa kau!" ancam Mattheo sengit.
"Adukan saja kalau berani. Lalu aku akan memberitahu Ibu kalau Ayah diam-diam mendatangi pameran mobil untuk berkenalan dengan salah satu karyawan cantik yang bekerja di sana. Lalu setelahnya kita lihat siapa yang akan bernasib buruk!" sahut Fedo balik mengancam sang ayah.
Mattheo langsung mati kutu saat Fedo mengancam dengan membawa nama istrinya. Dia jadi menyesal kenapa hari itu tidak pergi sendiri saja ke pameran mobil. Entah kenapa Mattheo bisa lupa kalau dia memiliki putra kejam yang tidak segan-segan membuatnya menjadi duda kesepian. Sungguh malang nasibnya.
πππππππππππππππππ
β Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama Chanelnya βΆMak Rifani. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss
__ADS_1
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani