PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Menang Dalam Memuaskan


__ADS_3

Mili buru-buru mendatangi kamar Kanita saat mendapat laporan dari pelayan kalau putrinya itu sedang mengemasi pakaian. Dia begitu takut Kanita akan pergi meninggalkan rumah gara-gara semua fasilitas miliknya di bekukan. Sebenarnya kemarin Kanita sempat meminta Mili untuk membujuk suaminya, tapi dia menolak dengan alasan agar putrinya itu tidak memiliki akses untuk mengejar Fedo. Ya, Mili tahu kalau Kanita diam-diam mempekerjakan seseorang untuk mengawasi gerak-gerik anak kurang ajar itu. Dan hal ini tentu saja membuat Mili menjadi sangat geram. Dia lalu memutuskan untuk tidak menuruti keinginan Kanita meski hatinya sedikit tidak tega.


"Ibu tidak akan membiarkanmu pergi dari rumah ini, Kanita. Tidak akan!" gumam Mili sesaat sebelum dia sampai di depan kamar putrinya.


Sementara itu di dalam kamar, Kanita sedang menata beberapa pakaian yang akan dia bawa ke Shanghai. Setelah semalam dia menerima semua informasi tentang Luri, Kanita memutuskan untuk mendatanginya hari ini juga. Dia sudah tidak sabar ingin segera menjauhkan Fedo dari gadis itu.


"Lihatlah Fed apa yang akan kulakukan pada hubunganmu dengan Luri. Dia pasti akan langsung pergi meninggalkanmu jika tahu kalau kita pernah tidur bersama. Aku sungguh heran kenapa kau bisa jatuh cinta pada gadis ingusan sepertinya. Berbeda jauh dengan selera dimana semua orang tahu kalau kau sangat suka pada wanita dewasa yang pandai memuaskanmu di atas ranjang. Sungguh lucu."


Kanita sangat kaget ketika orang suruhannya memberitahu kalau Luri masih berstatus sebagai siswa sekolah menengah atas. Dia sempat tidak percaya kalau Fedo ternyata jatuh cinta pada gadis yang usianya masih begitu muda. Namun begitu Kanita melihat foto-foto yang di bawa oleh orang suruhannya, barulah dia yakin kalau gadis berseragam putih abu-abu itu memang benar adalah gadis yang di sukai oleh Fedo. Sayangnya orang suruhan Kanita tidak bisa mendapatkan fotonya Luri dengan jelas, juga karena gadis itu tidak bermain media sosial. Hanya nama sekolah gadis itu saja yang bisa di dapat dengan pasti karena foto-foto tersebut berada tepat di depan gerbang sekolah Luri.


"Kanita, kau mau pergi kemana? Kenapa kau mengemasi pakaian tanpa memberitahu Ibu?" tanya Mili begitu membuka pintu kamar.


"Bukan urusan Ibu," jawab Kanita acuh. Dia masih sakit hati dengan penolakan yang dilakukan sang ibu kemarin.


Mili bergegas datang mendekat. Dia lalu menarik bahu Kanita agar menghadapnya. Dengan raut wajah yang begitu khawatir, Mili mencecar Kanita agar mau memberitahu kemana dia akan pergi. Sungguh, Mili begitu takut sekarang.


"Sayang, apa kau marah gara-gara kemarin Ibu menolak untuk membantu membujuk ayahmu? Kalau iya, Ibu minta maaf. Ibu terpaksa melakukan semua itu demi kebahagiaanmu, Kanita. Ibu tidak rela kau terus di remehkan oleh pria kurang ajar itu."


"Kebahagiaan apanya, Bu. Jelas-jelas Ibu tahu kalau Fedo adalah kebahagiaanku yang sebenarnya. Ibu tahu kan kalau aku tidak bisa jika tidak memilikinya? Kau egois, Bu. Aku benci!" hardik Kanita dengan lantang.


Dengan sedikit kasar Kanita mendorong tubuh sang ibu hingga hampir terjurung ke belakang. Tanpa merasa berdosa sama sekali, dia kembali menyusun barang ke dalam koper. Kanita tak mau membuang-buang waktu lagi, dia harus secepatnya sampai di Shanghai untuk menemui Luri. Dengan begitu maka urusannya akan cepat beres dan dia bisa kembali fokus mengejar Fedo. Membayangkan Fedo yang akan kembali ke pelukannya membuat mood Kanita kembali membaik. Dia bahkan dengan sengaja mengabaikan keberadaan sang ibu yang masih berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Kanita sayang, jangan marah. Sekarang tolong beritahu Ibu kemana kau akan pergi. Ibu ikut ya?" rengek Mili semakin panik saat keberadaannya tidak di anggap.


"Aku ingin pergi berlibur dengan teman-temanku, dan di antara kami tidak ada yang membawa orangtua. Jadi tolong Ibu jangan mengacaukan kesenanganku. Jika Ibu ingin pergi berlibur juga, ajak saja teman-teman sosialita Ibu. Mereka tidak mungkin tidak memiliki uang kan?" sahut Kanita tak peduli. Tangannya sibuk memasukkan surat-surat ke dalam tas.


"Tapi Ibu ingin pergi bersamamu, Kanita. Atau jika tidak kau beritahu Ibu saja ke negara mana kalian akan pergi berlibur. Biar nanti Ibu mengajak teman-teman Ibu untuk pergi ke sana juga."


"Sudahlah, Bu. Berhenti merecoki kehidupanku. Jangan kira aku tidak tahu ya kalau Ibu sebenarnya ingin mematai-matai aku. Iya kan?" teriak Kanita habis kesabaran.


Mili tergugu. Dia begitu kaget saat kembali di teriaki oleh putrinya. Kalau saja Kanita bukan putri kesayangannya, dia pasti sudah menampar mulutnya yang begitu kurang ajar. Sayangnya Mili tak memiliki kekuatan untuk melakukan hal tersebut karena dia sangat menyayangi putri semata wayangnya ini. Mili tidak sanggup melihat Kanita terluka meski hanya seujung kuku.


"Kanita, apa kepergianmu kali ini ada hubungannya dengan Fedo?" tanya Mili ingin tahu. "Jika benar, maka Ibu minta batalkan saja. Ibu tidak rela kau merendahkan harga dirimu demi pria tidak tahu diri itu. Kau sangat berharga sayang. Kau tidak pantas bersikap seperti ini."


Terdengar helaan nafas yang cukup kuat dari mulut Kanita saat dia mendengar ucapan sang ibu. Benar-benar. Entah harus bagaimana lagi cara Kanita menjelaskan pada ibunya kalau dia akan tetap mengejar Fedo sampai pria itu resmi menjadi miliknya. Dia benar-benar tak habis pikir kenapa ibunya bisa begitu bebal dan tetap kekeh ingin menjauhkannya dari Fedo. Kelewatan.


"Kanita!" teriak Mili tak habis pikir. "Harusnya kau sadar kalau Fedo itu tidak pernah menyukaimu. Kau hanya akan membuang waktu jika ingin tetap bersamanya."


"Terserah Ibu mau bicara apa, aku tidak peduli. Yang jelas aku akan melakukan segala cara untuk membuat Fedo bertekuk lutut padaku. Kalau memang Ibu tidak bisa menerima Fedo sebagai calon menantu di rumah ini ... fine, itu tidak masalah. Tapi tolong jangan pernah menghalangi jalanku untuk mendapatkannya karena aku tidak akan segan-segan untuk berurusan dengan Ibu. Camkan itu!"


Setelah berkata seperti itu Kanita langsung keluar dari dalam kamar. Dia tidak peduli meski sang ibu terus berteriak memintanya agar tetap tinggal. Dengan langkah cepat Kanita buru-buru masuk ke dalam mobil. Dia lalu meminta sang sopir untuk segera mengantarkannya pergi ke bandara.


"Bagaimana pun caranya kita harus sudah sampai di sana setengah jam lagi. Temanku sudah menunggu!" ucap Kanita pada si sopir.

__ADS_1


"Baik, Nona."


Kanita menarik nafas dalam-dalam saat mobil mulai bergerak keluar dari halaman rumahnya. Dia kemudian teringat dengan orang yang akan menemaninya pergi ke Shanghai. Khawatir kalau orang itu akan datang terlambat, Kanita pun memutuskan untuk menghubunginya.


"Ya Nona, ada apa?"


"Kau dimana sekarang? Awas saja kalau kau berani membuatku menunggu," ucap Kanita begitu panggilannya di jawab.


"Aku sudah ada di bandara sejak sepuluh menit yang lalu. Dan sebaiknya Nona segera sampai di sini karena sebentar lagi pesawatnya akan segera berangkat."


"Sedang dalam perjalanan. Kau tunggu saja di sana," sahut Kanita kemudian memutuskan panggilan.


Sambil menunggu mobilnya sampai di bandara, Kanita kembali melihat-lihat foto dimana Fedo sedang berdiri berhadapan dengan gadis bernama Luri itu. Hatinya sakit, dia merasa sangat cemburu meskipun itu hanya sebuah foto. Di dalam gambar tersebut, Fedo terlihat begitu menyayangi Luri, pria itu tengah mengacak-acak rambutnya yang panjang tergerai. Perasaan wanita mana yang tidak akan hancur jika melihat pria yang kita sukai bermesraan dengan wanita lain. Dan rasa sakit seperti itulah yang sedang di rasakan oleh Kanita sekarang.


"Luri, aku bersumpah tidak akan membiarkanmu memiliki Fedo. Mungkin kau menang dalam faktor usia, tapi aku jamin kau pasti kalah jika di bandingkan dengan kehebatanku dalam memuaskan Fedo. Dia itu hanya menyukai wanita-wanita berkelas sepertiku. Tidak sepertimu yang bahkan ingus saja masih belum tahu cara membersihkannya dengan benar. Kau masih terlalu muda untuk bersaing denganku, gadis kecil," gumam Kanita.


Tak lama berselang, Kanita akhirnya sampai di bandara. Dia bergegas keluar dari mobil kemudian mencari keberadaan orang yang akan menemaninya pergi. Tak ingin membuat si sopir curiga, Kanita mengirim pesan pada orang tersebut agar tidak menyapa lebih dulu. Kanita tidak mau ibunya sampai tahu kalau dia sedang berbohong.


Tunggu aku Luri. Maaf jika kedatanganku nanti akan membuatmu patah hati. Aku harap kau tidak akan menangis kemudian bunuh diri, batin Kanita sembari melangkah masuk ke dalam bandara.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜

__ADS_1


BOM KOMENTAR GENGSS


__ADS_2