PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Tua-Tua Keladi


__ADS_3

Hari sudah berganti malam ketika Kayo dan Fedo pulang dari berbelanja. Abigail yang melihat kedatangan kedua anaknya langsung meminta mereka untuk pergi ke ruang makan. Ini sudah waktunya untuk makan malam, dan kebetulan juga suaminya sudah pulang dari kantor.


"Ayah, ada apa dengan wajahmu? Jelek sekali," tanya Fedo berpura-pura tidak menyadari penyebab ayahnya terlihat jengkel seperti ini.


"Fed, apa kau tahu ini apa?" tanya Mattheo seraya menunjuk mangkuk berisi sup yang masih mengeluarkan asap.


"Itu adalah sup terenak yang ada di dunia ini, Ayah. Kenapa? Apa Ayah berniat membuang sup tersebut?" jawab Fedo sambil tersenyum penuh maksud.


Kayo tertawa ketika kakaknya mendapat lemparan buah dari sang ayah. Setelah itu Kayo melihat ke arah ibunya yang hanya diam tak menggubris pertengkaran kedua pria tersebut.


"Gara-gara kau, Ayah jadi membatalkan meeting itu. Sudah tahu ada pekerjaan penting, kenapa kau malah pergi tanpa pamit si, Fed. Tahu begitu kan Ayah ikut pergi bersama kalian saja tadi. Bagaimana sih!" protes Mattheo.


"Astaga. Ayah, Ayah itukan bukan bayi satu tahun yang harus selalu ikut kemana pun kami pergi. Lagipula jika Ayah tidak mau mengurusi pekerjaan kantor kenapa Ayah tidak langsung pulang ke rumah saja dan menggoda Ibu? Bukankah biasanya juga seperti itu ya?" tanya Fedo sembari menyendokkan nasi ke dalam piring.


"Dominic datang ke kantor. Dia frustasi dan meminta Ayah untuk menemaninya mengobrol," jawab Mattheo seraya mend*sah panjang.


Abigail, Kayo, dan juga Fedo langsung merubah ekpresi di wajah masing-masing begitu nama Dominic di sebut. Mereka kemudian menatap datar ke arah pria yang kini tengah memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Hei, kalian bertiga ini kenapa sih?" tanya Mattheo sambil menatap heran ke arah istri dan kedua anaknya.


"Kali ini apalagi, Matt?" tanya Abigail. "Apa Kanita benar-benar menyebut Fedo sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang menimpanya?"


"Tidak, darling. Bahkan sampai sekarang Kanita masih belum membuka mulut perihal orang yang sudah membuatnya hamil. Dan hal inilah yang membuat Dominic merasa sangat frustasi. Kasihan dia, darling. Gara-gara Kanita, Dominic sampai tidak bisa tidur," jawab Mattheo sambil menarik nafas panjang.

__ADS_1


Abigail tak lagi bertanya setelah tahu kalau Kanita tidak membahayakan masa depan putranya. Dia kemudian mengambil makanan lalu meletakkan di atas piringnya. Reaksi dan sikap Abigail mungkin terlihat tenang di hadapan suami dan juga kedua anaknya. Akan tetapi tidak di dalam pikirannya. Entah kenapa Abigail merasa sangat yakin kalau masa buruk itu akan segera datang. Dia percaya seratus persen cepat atau lambat Kanita pasti akan menuduh Fedo sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas bayi yang tengah di kandungnya.


Kalau saja aku mempunyai kemampuan untuk melihat masa depan, aku pasti tidak akan segelisah ini menantikan kapan Kanita akan kembali membuat ulah. Hmmm, semoga saja nanti di saat masalah itu terjadi Andero tidak mengkhianati perkataannya. Hidup dan masa depan Fedo bisa hancur lebur jika Luri tahu kalau dia menghamili wanita lain. batin Abigail risau.


"Oh ya, Fed. Tadi itu kau sebenarnya pergi kemana sih. Ayah ratusan kali menelponmu, tapi kau abaikan. Kau tadi tidak sedang bersama para wanita seksi itu kan?" tanya Mattheo di sela-sela menikmati makan malamnya.


"Kak Fedo pergi bersamaku ke toko baju, Ayah. Dia memintaku menemaninya memilih pakaian couple yang akan dia pakai untuk menghadiri pesta resepsi pernikahan Kak Reinhard dan Levita bersama Luri," jawab Kayo menggantikan sang kakak menjawab.


"Apa? Pakaian couple? Cih, menggelikan sekali," ejek Mattheo kemudian menoleh ke arah istrinya. "Darling, aku juga mau memakai pakaian couple yang sama denganmu saat datang ke pesta nanti. Tolong di siapkan ya?"


Makanan yang ada di dalam mulut Fedo hampir saja tersembur keluar begitu dia mendengar perkataan ayahnya. Yang benar saja. Setelah menyebutnya menggelikan, dengan tidak tahu malunya pria ini malah mengikuti apa yang akan Fedo lakukan bersama Luri. Sungguh, urat malu ayahnya benar-benar sudah putus. Fedo sampai tak habis pikir di buatnya.


"Bu, jangan mau menuruti keinginan Ayah. Itu sama saja seperti menjilat air ludah sendiri. Menggelikan!" ucap Fedo balik mengejek ayahnya.


"Biar saja. Kami yang akan memakai baju couple kenapa kau yang sewot, Fed? Iri ya?" sahut Mattheo enggan mengalah.


Abigail menatap bergantian ke arah suami dan putranya yang tengah bertengkar hebat hanya gara-gara pakaian couple. Kesal juga dia lama-lama.


"Sudah berapa kali aku katakan pada kalian semua agar tidak bertengkar saat kita berada di ruang makan!" tegur Abigail galak. "Kau juga, Mattheo. Sebagai kepala rumah tangga harusnya kau itu mencontohkan hal yang baik untuk anak-anak kita, bukannya malah bersikap kekanakan. Bagaimana sih?"


"Aku tidak bersikap kekanakan, darling. Aku hanya tidak mau kalah saja dari anakmu. Lagipula kan tidak ada yang salah kalau kita memakai pakaian yang sama saat datang ke pesta nanti. Benarkan?" sahut Mattheo tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Tanpa harus memakai pakaian yang sama pun semua orang juga sudah tahu kalau kita itu sehati. Kita ini satu, Matt. Jadi tidak perlulah menonjolkan diri hanya karena tak mau kalah saing dengan putramu sendiri. Kita itu sudah tua, bergayalah sesuai umur!" tegur Abigail seraya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Ibu benar, Ayah. Tidak perlu menunjukkan pada orang-orang tentang seberapa besar cinta kalian. Karena tanpa harus kalian berkoar, semua orang akan tahu kalau Ayah adalah milik Ibu, dan Ibu adalah milik Ayah," timpal Kayo yang merasa geli dengan keinginan sang ayah yang tak mau kalah dari kakaknya.


Dasar tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Haihhh, lucu sekali sih cara Ayah menujukkan cintanya pada Ibu. Aku kan jadi iri, batin Kayo.


Mattheo memasang wajah masam saat keinginannya di tentang oleh semua orang. Abigail yang melihat suaminya merajuk pun langsung menarik nafas dalam-dalam. Dia kemudian berdiri, melangkah mendekati suaminya lalu mencium pipinya beberapa kali. Ini adalah salah satu cara Abigail mengembalikan mood suaminya agar kembali membaik. Dan terbukti. Sekarang Mattheo sudah bisa tersenyum lebar sambil mengusap-usap bekas ciuman di pipinya.


"Heh, bilang saja kalau sebenarnya Ayah ingin di cium oleh Ibu. Dasar buaya," ledek Kayo sambil menertawakan kelakuan ayahnya.


"Hehehe, inilah nikmatnya jika sudah menikah, Kay. Saat merajuk ada istri yang membujuk, dan saat ...


"Ekhmm ekhmmm!"


Mattheo tak lagi melanjutkan perkataannya saat mendengar suara deheman dari mulut Abigail. Dia tahu kalau itu adalah tanda bahaya karena memang tadi Mattheo ingin mengatakan tentang sesuatu yang berhubungan dengan ranjang. Biasalah, hobi favoritnya, hehehe.


"Dasar omes. Sudah tahu Ibu tidak suka membahas hal-hal seperti ini saat sedang makan. Masih saja Ayah menggali lubang kubur sendiri!" sindir Fedo sambil terus mengunyah makanan.


"Biar saja. Istri istriku, kenapa kau yang sewot. Makanya cari istri supaya kau tahu bagaimana rasanya," sahut Mattheo sambil tersenyum mengejek.


"Ini juga sedang berjuang untuk mendapatkan istri, Ayah. Calon istriku adalah seorang bidadari, jadi tidak bisa di dapatkan dengan mudah. Tunggu saja nanti. Saat hubunganku dengan Luri sedang hangat-hangatnya, di saat itu Ayah pasti sudah lemah. Ayah tidak mungkin bisa menang jika kita adu mekanik di atas ranjang!"


Pembicaraan panas antara Fedo dan Mattheo baru terhenti saat Abigail menancapkan garpu di atas daging. Segera mereka menutup mulut serapat mungkin kemudian fokus menikmati makan malam tanpa bicara sepatah katapun lagi. Mereka takut garpu itu akan menyasar ke perut masing-masing.


"Waktunya makan itu makan, bukan malah membicarakan hal yang tidak-tidak. Kalian ini ya, bebal sekali sih!" omel Abigail sambil menatap tajam ke arah suami dan juga putranya yang entah kenapa selalu satu pikiran jika sudah membahas tentang urusan ranjang. Membuat Abigail emosi saja.

__ADS_1


Kayo tersenyum puas melihat ayah dan kakaknya di marahi oleh sang ibu. Kedua pria ini memang sangat bebal, sama sekali tidak ada rasa takut meskipun tahu kalau ibunya akan sangat marah jika mereka membicarakan masalah seperti tadi.


*****


__ADS_2