PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~Terbakar Api Cemburu


__ADS_3


πŸ“’JANGAN LUPA BOM KOMENTAR DI NOVEL


- Love Story ( Gabrielle & Eleanor)


- My Destiny ( Clara & Eland)


- Ma Queen Rose ( Adamar & Rose)


"Marriage Contract With My Secretary ( Gerald & Jessy)


BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAK YA BESTIE πŸ’œ


πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—


Sambil tersenyum senang Luri berjalan menghampiri Galang dan juga Jovan. Dia tak henti-hentinya terus menatap paperbag berisi gaun pemberian dari Fedo.


"Luri, apa yang kau bawa?" tanya Galang sembari menatap penuh tanya ke arah paperbag coklat yang di tenteng oleh Luri. Dilihat dari merknya, sepertinya isi dari paperbag tersebut adalah sesuatu yang sangat mahal.


Pria mana yang memberikan hadiah semahal itu pada Luri ya? Apa jangan-jangan itu dari kekasihnya? Ah, tidak mungkin. Luri yang bilang sendiri kalau dia ingin fokus ke pendidikannya dulu, mustahil dia mempunyai kekasih. Jangan berprasangka buruk dulu, Galang. Itu tidak baik, batin Galang bermonolog dengan hatinya.


"Oh, ini hadiah dari Kak Fedo, Lang. Dia baru saja datang dari Jepang, lalu membawakan ini sebagai oleh-oleh untukku," jawab Luri sebisa mungkin mengatakan sesuatu yang tidak menyakiti perasaan Galang. Dia sadar betul kalau teman sekelasnya ini sedang menahan rasa cemburu.


"Kak Fedo? Apa dia pria yang tempo hari mengantarkanmu dan Nania ke sekolah ini?"


"Iya, dia orang yang sama. Kenapa memangnya?"

__ADS_1


Sengaja Luri balas memberi pertanyaan pada Galang supaya dia berhenti mengorek tentang siapa Fedo. Bukannya apa, Luri khawatir kalau perasaan Galang akan semakin tersakiti jika tahu kalau Fedo adalah seseorang yang sedang dia perjuangkan. Luri tidak bermaksud menggantung perasaan Galang dengan tidak memberitahukan tentang hal ini. Namun, meski sedari awal Luri sudah menolak tegas pernyataan cinta dari Galang, tapi anak ini masih tetap kekeh mendekatinya. Sebenarnya Luri bisa saja langsung meminta Galang agar tidak lagi menaruh perasaan lebih terhadapnya, tapi tidak bisa Luri lakukan karena dia tidak mau hubungannya dengan Galang berubah menjadi musuh. Biarlah seperti ini saja, yang terpenting Luri tidak membuka harapan palsu untuknya.


"Tidak kenapa-napa kok. Aku hanya iseng bertanya saja tadi," sahut Galang berkilah.


Dari kejauhan, Jovan yang melihat Nania tengah bergosip dengan teman-temannya memutuskan untuk memanggilnya kemari. Dia sudah tidak tahan berada dalam situasi canggung akibat Galang yang merasa cemburu setelah tahu kalau Luri mendapat hadiah mahal dari seorang pria bernama Fedo.


"Nania, ayo kita mengobrol di sana saja. Kau tahu tidak Galang dan kakakmu sedang terlibat perang dingin," ucap Jovan sembari menarik tangan Nania agar berdiri dari tempat dia duduk.


Bukannya kaget mendengar laporan tersebut, Nania malah merasa sangat marah karena Jovan sudah lancang memegang tangannya. Segera dia menepis tangan kakak kelasnya ini kemudian berdiri sambil berkacak pinggang.


"Kak Jovan, bisa tidak kau jangan genit padaku? Bisa-bisanya ya kau menarik tanganku di hadapan banyak orang? Ingin berbuat cabul ya?" tuduh Nania sengit.


"Astaga, bisa tidak kau jangan menuduhku seperti itu, Nania. Aku memegang tanganmu karena ingin mengajakmu pergi menemui kakakmu, kenapa kau malah berpikiran yang tidak-tidak sih. Aneh!" sahut Jovan sambil berdecak kesal.


Setelah itu Jovan dan Nania sama-sama melayangkan tatapan sengit. Tapi sedetik kemudian barulah Nania ingat kalau Jovan adalah kandidat utama yang akan dia jadikan sebagai seorang suami. Tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba saja sikap Nania langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya menatap garang ke arah Jovan seketika langsung melembut sambil menggaet lengan kakak kelasnya ini.


Huh, kalian tidak tahu saja kalau Kak Jovan adalah calon suami masa depan yang sangat kaya raya. Dia adalah kandidat utama yang akan aku jadikan sebagai penjamin hidup. Awas saja kalau kalian terus berulah yang mana membuat Kak Jovan merasa curiga. Akan kubotaki kepala kalian semua, batin Nania kesal.


"Nania, teman-temanmu itu kenapa ya?" tanya Jovan penasaran.


"Sudah abaikan saja, Kak. Sebaiknya sekarang kita pergi menemui Kak Luri dan Kak Galang saja. Tadi kau bilang mereka sedang perang dingin kan? Ayo!" jawab Nania dengan cepat mengalihkan pertanyaan Jovan dengan cara mengajaknya pergi menghampiri sang kakak.


Jovan tak bisa menolak ajakan Nania yang kini sudah menariknya pergi dari sana. Ada perasaan membuncah di diri Jovan saat gadis yang di sukainya ini terus menggaet lengannya dengan sangat erat. Sambil menahan senyum Jovan mengarahkan Nania menuju tempat di mana Luri dan Galang berada.


"Nania, kenapa kau kemari? Apa kau tidak bermain dengan teman-temanmu?" tanya Luri begitu melihat kemunculan adiknya yang datang bersama Jovan. Keningnya mengerut melihat tangan Nania yang sedang bergelayut di lengan temannya ini.


"Tadi itu sebenarnya aku sedang asik menggosip bersama kelompokku, Kak. Akan tetapi tiba-tiba Kak Jovan datang kemudian memberitahu kalau Kakak dan Kak Galang sedang terlibat perang dingin. Jadi ya sudah, aku ikut saja kemari," jawab Nania kemudian melirik ke arah paperbag coklat yang tergeletak di samping tempat duduk kakaknya. "Kak Luri, itu apa? Kenapa aku seperti mencium aroma uang ya dari paperbag itu?"

__ADS_1


"Ohh, ini hadiah dari Kak Fedo, Nania. Dia baru saja datang kemari untuk menemui Kakak," jawab Luri jujur.


"Jadi Kak Fedo sudah datang ya?"


Nania langsung melepaskan pegangan tangannya dari lengan Jovan kemudian mendudukkan diri di samping sang kakak. Setelah itu Nania melihat-lihat apakah ada paperbag lain yang di peruntukkan untuknya atau tidak. Tapi setelah beberapa saat mencari, Nania tidak menemukan apapun selain hanya paperbag coklat milik kakaknya.


"Nania, kau sedang mencari apa?" tanya Luri bingung.


"Cihh, tidak kusangka ternyata Kak Fedo adalah orang yang sangat pelit. Bisa-bisanya ya dia hanya membawakan hadiah untuk Kakak saja. Apa Kak Fedo sama sekali tidak memiliki inisiatif untuk membayar kerja kerasku selama ini? Jahat sekali!" jawab Nania bersungut-sungut karena tidak mendapat hadiah. Wajahnya langsung berubah masam semasam jeruk nipis.


Galang hanya diam mendengarkan percakapan antara Luri dengan Nania. Dia kini semakin tahu kalau pria yang bernama Fedo memiliki hubungan dekat dengan kedua gadis desa ini. Buktinya sekarang Nania memprotes tindakan Fedo yang hanya membawakan hadiah untuk Luri saja, tidak untuknya. Sadar kalau suasana hatinya semakin memburuk, Galang memutuskan untuk pergi saja dari sana. Galang tidak mau Luri sampai menyadari kalau sekarang dia sedang sangat cemburu terhadap pria yang sudah memberinya hadiah.


"Aku pergi ke toilet dulu ya. Tiba-tiba perutku terasa tidak nyaman," ucap Galang sebelum akhirnya pergi meninggalkan teman-temannya dengan langkah lebar.


Jovan, Nania, dan juga Luri hanya diam saja melihat kepergian Galang. Mereka bertiga tentu tahu alasan kenapa anak itu sampai pergi dari sana. Jika Jovan dan Luri memilih untuk diam tak membahas tentang kecemburuan di diri Galang, lain halnya dengan Nania.


"Begitulah jika orang sedang terbakar api cemburu. Toilet pasti akan menjadi satu-satunya alasan untuk menutupi perasaan itu. Benar kan, Kak Luri?" tanya Nania dengan santainya. Seketika dia lupa dengan kekesalannya terhadap Fedo yang tidak memberinya hadiah.


"Darimana kau tahu kalau Galang sedang cemburu, Nania?" sahut Jovan sambil menggigit bibir bawahnya. Untung saja Galang sudah tidak ada di sini. Jika ada, maka temannya itu pasti akan merasa sangat malu gara-gara mendengar perkataan frontal yang keluar dari mulut gadis beracun ini.


"Tentu saja aku tahulah, Kak Jovan. Kan kau sendiri yang bilang kalau Kak Luri dan Kak Galang sedang terlibat perang dingin. Dan aku yakin penyebab Kak Galang merasa cemburu adalah karena Kak Fedo yang datang membawakan hadiah itu. Benar kan?"


Jovan dan Luri saling melempar pandangan begitu Nania selesai bicara. Mereka tak bisa mengelak karena apa yang di ucapkan oleh Nania memang benar adanya.


Kenapa rasanya jadi horor begini ya jika Nania sudah mengatakan sesuatu? Lang-Lang, kau beruntung karena sudah pergi sebelum Nania mengeluarkan racunnya. Aku jamin kau pasti akan sesak nafas jika mendengar perkataannya barusan. Hmm, batin Jovan iba akan nasib temannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2