
Fedo melangkah keluar dari dalam kamarnya sambil terus tersenyum semringah. Bagaimana tidak! Semalam dia baru saja mendapat kabar kalau orangtua dari gadis desa itu telah memberikan izin untuk mereka menjalin hubungan. Sebahagia-bahagianya Fedo ketika memenangkan tender yang bernilai ratusan milyar, rasanya tidak semembahagiakan seperti yang sedang dia rasakan sekarang. Sungguh, restu dari ayah dan ibunya Luri membuat Fedo merasa seperti terbang di awang-awang. Sangat sulit untuk di lukiskan dengan kata-kata.
"Fed, kau tidak gila kan?"
Langkah Fedo langsung terhenti saat mendengar pertanyaan tak manusiawi yang dilontarkan oleh seseorang yang tengah menatapnya sambil bersedekap tangan. Dia kemudian mendengus pelan seraya menatap kesal ke arah orang tersebut.
"Ayah, sebenarnya Ayah itu memiliki masalah apa denganku sih. Kenapa pertanyaan Ayah selalu merujuk ke hal-hal yang negatif!" tanya Fedo.
Mattheo membelalakan mata. Dia berjalan maju ke arah Fedo kemudian menjitak kepalanya dengan cukup kuat. Sejak Casanova tengik ini keluar dari kamarnya, Mattheo diam-diam terus memperhatikan. Dia merasa heran karena Fedo terus saja memperlihatkan gelagat yang tidak wajar. Sebagai ayah yang baik, sudah pasti Mattheo khawatir kalau-kalau putranya ini sudah tidak waras karena tersenyum tanpa alasan. Jadi wajar saja kan kalau dia menanyakan hal seperti itu padanya?
"Fed, Ayah bertanya seperti itu juga ada alasannya. Sembarangan menuduh orang yang tidak-tidak. Dasar anak durhaka!" omel Mattheo seraya berkacak pinggang.
"Ck, alasan!" sahut Fedo sambil berdecak jengah. Dia kemudian mengelus kepalanya yang baru saja mendapat serangan dadakan dari sang ayah.
"Lagipula siapa yang suruh kau berjalan sambil tersenyum-senyum tidak jelas. Ayah kan jadi khawatir kalau kau itu menjadi gila karena merindukan gadis desa itu," ucap Mattheo.
Sudah bukan rahasia umum lagi di rumah ini kalau Fedo akan selalu bertingkah aneh setiap kali berhubungan dengan Luri. Karena seumur-umur hanya gadis desa itu saja yang sanggup membuat seorang Fedo Eiji bersikap seperti orang tidak waras. Bahkan mampu membuat Fedo berpaling dari godaan para wanita yang haus akan belaian dan kehangatan darinya.
"Ayah, Ayah tahu tidak!" ucap Fedo dengan mata berbinar cerah. Dia berniat memberi tahu sang ayah tentang kabar baik yang semalam dia dengar.
__ADS_1
"Tidak tahu!" sahut Mattheo singkat.
"Ck, bisa tidak Ayah sedikit serius saat aku sedang bicara!" protes Fedo tak terima dengan respon yang di tunjukkan oleh sang ayah. Fedo sampai mengendurkan dasi saking kesalnya akan sikap sang ayah yang selalu bertindak konyol setiap kali dia ingin bicara serius.
"Hei, kenapa kau marah-marah pada Ayah. Kau itu kan tidak mengatakan apa-apa saat bertanya pada Ayah. Jadi wajar saja kan kalau Ayah menjawab tidak tahu? Dimana salahnya?" tanya Mattheo ikut merasa kesal. Putranya ini benar-benar ya.
Fedo meringis sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal. Kali ini ayahnya benar. Dia yang salah karena sudah melayangkan pertanyaan di saat dia sendiri belum mengatakan apa-apa. Bodoh sekali dia.
"Hehehe, maaf Ayah. Karena terlalu bahagia otakku sampai tidak bisa bekerja dengan baik. Tolong jangan merajuk ya. Ya?" bujuk Fedo.
"Cihhh!"
"Apa Luri sudah bersedia menjalin hubungan denganmu makanya kau menjadi bodoh seperti sekarang, Fed?" tanya Mattheo sarkas. Dia enggan bertanya dengan kata-kata yang baik. Bukan ciri khas dia sekali.
"Ya ampun, Ayah. Tidak bisakah kau memilih kata yang sedikit indah untuk mempertanyakan sesuatu sepenting ini?" sahut Fedo balik bertanya.
"Sudah jangan protes. Tinggal kau jawab saja apa susahnya sih? Cepat sedikit Fed sebelum singa betina itu mengaum. Kau tahu sendiri bukan kalau Ibumu itu sangat tidak suka kita membuat keributan di sana?"
"Haihhh. Bagaimana bisa aku mempunyai Ayah seperti laki-laki ini sih?" gerutu Fedo lirih. "Baiklah. Sekarang aku akan memberi tahu Ayah mengapa aku begitu bahagia pagi ini. Dan tolong dengarkan baik-baik karena aku tidak akan menayangkan siaran ulang. Paham?"
__ADS_1
Mattheo mengangguk. Dia lalu menatap Fedo dengan seksama. Tak sabar untuk segera mengetahui kabar bahagia apa yang akan di katakan oleh putranya ini.
"Semalam Luri memberitahuku kalau Ayah dan Ibunya telah memberikan restu untuk kami berdua. Mereka akhirnya tahu kalau aku dan Luri sama-sama saling mencintai, Ayah. Awalnya aku berniat menyogok Paman Luyan dan Bibi Nita dengan sesuatu hal yang bisa membuat hati keduanya menjadi luluh. Tapi siapa sangka kalau mereka akan memberikan restu bahkan sebelum aku melakukan tindakan apapun. Aku sangat bahagia mendengar kabar itu, Ayah. Karena sekarang aku dan Luri tidak perlu lagi menyembunyikan perasaan kami di hadapan keluarganya. Hubungan kami sudah selangkah lebih maju sekarang!" ucap Fedo dengan raut wajah bersinar terang.
"Wahhh, benarkah?" pekik Mattheo kaget mendengar cerita Fedo. "Tapi kenapa tiba-tiba orangtua Luri memberikan restu pada kalian berdua? Mereka tidak sedang melakukan konspirasi untuk menyingkirkanmu kan, Fed?"
"Ayah, Paman Luyan dan Bibi Nita bukan orang yang seperti itu. Mereka adalah orangtua yang benar-benar memikirkan kebahagiaan anak-anak mereka. Tapi wajar sih kalau Ayah memiliki anggapan seperti itu karena Ayah belum bertemu mereka secara langsung. Meskipun mereka hidup di pedesaan, keluarga mereka mempunyai prinsip yang begitu kokoh. Aku yakin mereka pasti telah melihat ketulusan dan keseriusan Luri dalam menjalin hubungan denganku. Jika tidak, mereka tidak akan semudah ini memberikan restunya. Karena sebelum ini Paman Luyan pernah menegaskan padaku kalau hubunganku dan Luri tidak sepantasnya terjadi sebab kami terpisah kasta yang tidak mungkin bisa mereka kejar. Dari sini saja kita sudah bisa menilai betapa mereka sangat amat menjaga hati dan perasaan Luri agar tidak terluka. Benar tidak, Yah?" jelas Fedo.
Mattheo terdiam selama beberapa saat. Mungkin keluarga calon besannya itu memang tidak memiliki harta dan kasta yang mendukung. Namun mereka mempunyai sesuatu yang tidak semua orang miliki. Yaitu cinta dan kasih sayang. Luri besar di tengah-tengah keluarga yang kaya akan kelembutan hati dan juga cinta. Mattheo jadi semakin yakin kalau pilihan Fedo kali ini sudah sangat tepat. Luri sangat amat pantas menjadi bagian dari keluarga Eiji meskipun dia berasal dari kasta yang berbeda.
"Fed, apa kau sudah menanyakan pada Luri kapan dia akan bersedia untuk menikah denganmu? Ayah jadi takut dia di curi pria dari keluarga lain," tanya Mattheo dengan raut wajah yang sangat serius.
"Hmmm, dia masih dengan keputusan untuk tetap mengutamakan masa depannya dulu ketimbang hubungan kami, Ayah. Akan tetapi aku sudah mengatakan pada Luri kalau aku akan langsung menikahinya begitu dia lulus kuliah, dan dia setuju. Luri sangat serius dengan hubungan kami. Dia hanya masih menginginkan sedikit waktu dariku agar dia memiliki sesuatu yang bisa kita banggakan!" jawab Fedo sambil tersenyum lebar. Dia kemudian memeluk sang ayah, mencoba menyampaikan betapa beruntungnya dia bertemu dengan gadis sebaik dan sedewasa Luri. "Aku harap Ayah dan Ibu tidak mempermasalahkan status dan latar belakang Luri nantinya. Dia sudah berjuang dengan sangat keras agar bisa terlihat pantas saat menyandang marga keluarga besar kita. Dia gadis yang begitu penuh kasih dan ketulusan, Ayah. Kita akan sangat beruntung jika penerus keluarga ini bisa terlahir dari wanita seperti Luri."
"Fed, sejak awal kau mulai tergila-gila pada Luri, baik Ayah maupun Ibu tidak ada yang menentang. Satu-satunya yang membuat kami khawatir adalah perbedaan usia kalian dan juga masa lalumu. Luri masih sangat muda, kami khawatir Luri tidak bisa menerima kebiasaan burukmu dulu. Tapi setelah melihat betapa dia sangat dewasa menyikapi semuanya, Ayah merasa sangat yakin kalau Luri adalah wanita paling tepat yang cocok menjadi menantu di keluarga Eiji. Kau tenang saja, restu Ayah dan Ibu akan selalu menyertai kalian!" sahut Mattheo dengan begitu bijak. Dia terharu karena sekarang putranya benar-benar sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang tak lagi main-main dengan hidupnya. Dan ini semua berkat kehadiran si gadis desa itu.
Setelah itu Fedo melepaskan pelukannya. Dia merasa begitu lega sekarang. Sambil merangkul bahu sang ayah, Fedo mengajaknya pergi menuju ruang makan dimana wanita yang sangat mereka cintai sudah menunggu di sana. Fedo ingin meminta restu dari sang ibu, sama seperti yang dia lakukan pada ayahnya barusan.
Ibu, terima kasih telah melahirkan aku ke dunia ini. Tanpamu aku tidak akan pernah merasakan rasa bahagia yang begitu membuncah hanya karena seorang gadis. Aku mencintaimu, Ibu. Batin Fedo penuh haru.
__ADS_1
*****