
"Ayah, Ibu, aku minta maaf ya atas sikap acuhku pada kalian selama beberapa hari ini. Aku salah, tolong maafkan aku!" ucap Jovan dengan mata berkaca-kaca.
Kedua orang tua Jovan tadinya sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mereka sangat kaget saat Jovan tiba-tiba datang kemudian menghambur ke pelukan mereka dengan ekspresi seperti sedang menahan tangis. Dan kekagetan di diri mereka semakin bertambah saat Jovan meminta maaf atas pengabaian yang dilakukannya semenjak masuk ke rumah sakit. Terharu, tapi juga sedih karena di sini merekalah yang sebenarnya bersalah, bukan Jovan.
"Jo, Ayah dan Ibu yang bersalah. Kau tidak perlu meminta maaf pada kami," ucap Ibu Jovan tak kuasa menahan tangis. Dia merasa sangat sedih atas apa yang menimpa putranya.
"Ibumu benar, Jo. Kamilah yang bersalah, kami yang seharusnya meminta maaf," imbuh Ayah Jovan sambil berusaha menahan air mata agar tidak menetes keluar.
"Tolong jangan pergi Ibu, Ayah. Aku tidak bisa jika tidak ada kalian. Aku tidak mau hidup lagi kalau kalian tidak ada bersamaku. Aku tidak mau kita berpisah Ayah, Ibu."
Kening orangtua Jovan mengerut. Mereka saling memandang dengan raut wajah kebingungan saat mendengar ucapan Jovan yang meminta mereka agar tidak pergi.
Di saat yang bersamaan, Galang dan Luri sampai dimana Jovan dan orangtuanya berada. Mereka kemudian berjalan mendekat untuk menjelaskan alasan kenapa Jovan bisa bicara seperti itu.
"Paman, Bibi, maaf mengganggu. Jovan meminta kalian agar tidak pergi karena dia baru saja mendapat siraman rohani dari Nania. Sepertinya dia sedang cemas sekarang," ucap Luri dengan sopan.
"Siraman rohani? Maksudnya apa, Luri?" tanya ibunya Jovan semakin bingung.
"Nania memberitahu Jovan kalau tidak baik terus mengulur waktu untuk berbaikan dengan kalian. Ayah kami pernah memberi nasehat kalau tidak ada gunanya meminta maaf pada orang yang telah kembali ke pangkuan Tuhan. Dia hanya bermaksud menyadarkan Jovan agar tidak marah lagi pada kalian, tapi caranya sedikit salah. Paman dan Bibi sudah tahu bukan seperti apa gaya bicara Nania? Dia selalu mengeluarkan isi hati tanpa memikirkan perasaan dari orang yang akan mendengarnya. Harap Paman dan Bibi maklum ya. Nania masih anak-anak, dia belum terlalu paham bagaimana cara bicara yang baik dan sopan pada orang lain," ucap Luri menjawab dengan tatanan bahasa yang lebih mudah di pahami.
"Oh, begitu. Pantas saja Jovan mendadak jadi seperti ini. Kami sampai kaget melihatnya tadi," ucap ayah Jovan paham.
__ADS_1
Jovan hanya diam saja tanpa berkeinginan untuk bicara. Dia terlalu syok dengan apa yang dia dengar. Sungguh, ucapan Nania benar-benar sangat tidak manusiawi. Gadis beracun itu menghujam tepat di titik terlemah dimana Jovan sebenarnya sangat menyayangi kedua orangtuanya. Meski ucapan Nania begitu mengerikan, tapi Jovan tahu kalau ucapan tersebutlah yang telah membuatnya sadar. Dia pasti masih dengan kekerasan hatinya menolak untuk berdamai jika saja Nania tidak menyinggung tentang kematian. Membayangkan musibah mengerikan itu membuat bulu kuduk di tubuh Jovan berdiri semua. Dia lalu menggelengkan kepala agar bayangan tersebut hilang dari pikirannya.
"Jo, kau kenapa sayang? Apa ada yang sakit?" tanya ibu Jovan panik melihat Jovan yang terus saja menggelengkan kepala dengan kuat.
"Tidak ada, Bu. Aku hanya sedang berusaha menghilangkan kata-kata mengerikan Nania dari dalam kepalaku. Aku trauma," jawab Jovan seraya mendongak ke atas agar bisa menatap wajah sang ibu.
Galang dan Luri sama-sama menundukkan kepala saat mendengar jawaban Jovan. Mereka menahan diri agar tidak tertawa begitu Jovan mengatakan kalau kata-kata Nania membuatnya trauma. Tapi wajar sih kalau Jovan berpikir seperti itu. Karena memang terkadang ucapan Nania sangat mampu membuat kebatinan seseorang mengalami guncangan hebat.
"Oh ya Galang, Luri. Dimana Nania? Kenapa dia tidak datang bersama kalian?" tanya ayah Jovan sambil melihat-lihat ke arah belakang.
"Em itu, Paman. Nania tadi masih berada di kamarnya Jovan. Tunggu sebentar ya, aku akan memanggilnya kemari," jawab Luri yang juga baru sadar kalau adiknya tidak ada di sana.
"Luri, biar aku saja yang memanggil Nania!" ucap Jovan mencegah Luri yang ingin pergi ke kamarnya.
Jovan menggeleng. Dia kemudian melepaskan diri dari pelukan ibunya.
"Hahhhh, sebaiknya aku jujur saja pada kalian. Nania ... aku menyukainya. Di mataku dia lebih dari hanya seorang gadis yang aku suka. Nania sudah seperti pahlawan bagiku, dia juga yang telah menyadarkan aku agar tidak memusuhi Ayah dan Ibu. Luri, aku tahu Nania masih kecil. Tapi tidak ada salahnya bukan kalau aku mendekatinya dari sekarang? Aku janji aku tidak akan macam-macam padanya," ucap Jovan dengan berani mengakui perasaannya di hadapan teman dan juga orangtuanya.
"Apa Jo? Kau menyukai Nania? Apa Ayah tidak salah dengar?" tanya Ayah Jovan kaget. Begitu pula dengan ibunya. Setelah menyaksikan sendiri betapa brutalnya Nania saat memarahi mereka di rumah sakit, wajar kan kalau mereka begitu syok saat tahu kalau anak mereka ternyata menyukai gadis bermulut bar-bar itu? Ini tidak masuk akal.
"Yang barusan Ayah dan Ibu dengar adalah kejujuran. Aku sangat menyukai Nania, terlepas dari sikapnya yang masih kekanakan. Entah kalian akan mengizinkan atau tidak, yang jelas aku akan tetap mendekatinya. Nania membawa dampak positif dalam hidupku, dan aku tidak mau kehilangan gadis sepertinya."
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Jovan langsung pergi menuju kamarnya. Dia pergi meninggalkan orangtuanya yang sedang terheran-heran setelah mendengar jawabannya. Sementara Galang dan Luri, keduanya nampak ternganga bersama. Mereka tidak menyangka kalau Jovan akan seberani itu mengakui perasaan di hadapan kedua orangtuanya secara langsung. Sungguh, suatu keberanian yang patut untuk di acungi jempol.
Sesampainya Jovan di dalam kamar, dia tertegun melihat seorang gadis yang tengah terlelap di atas ranjang. Jovan kemudian berjalan mengendap-endap agar suara langkah kakinya tidak membangunkan Nania. Dia lalu berdiri diam di samping ranjang sembari memperhatikan wajah cantik Nania yang terlihat begitu tenang ketika sedang memejamkan mata.
"Jika sedang diam begini kau jadi terlihat semakin menggemaskan, Nania. Namun begitu matamu terbuka, kenakalanmu seolah mampu mengguncang dunia. Dasar gadis aneh," gumam Jovan lirih. "Tapi aku jauh lebih aneh karena sudah jatuh cinta pada gadis sepertimu. Aku gila bukan?"
Jovan kemudian tertawa mendengar ucapannya sendiri. Dia buru-buru membungkam mulutnya saat Nania tiba-tiba menggeliatkan tubuh. Setelah itu Jovan menelan ludah, wajahnya berubah tegang saat mata Nania perlahan-lahan mulai terbuka kemudian menatapnya.
"Kak Jovan, apa kau sudah berubah menjadi sesosok ruh sekarang?" tanya Nania antara sadar dan tidak sadar. Nyawanya masih belum terkumpul semua.
"Maksudnya?" sahut Jovan balik bertanya.
"Bukannya kau itu melompat dari loteng atas rumah ini ya?"
Untuk beberapa saat ruangan kamar menjadi sangat sunyi. Jovan berusaha untuk mencerna ucapan Nania yang entah kenapa terdengar begitu ganjal. Lima menit kemudian barulah Jovan sadar kalau gadis yang masih berbaring di ranjang kemungkinan besar bermimpi dirinya terjun dari lantai atas ketika sedang tertidur tadi. Sambil menahan tawa, Jovan dengan sengaja membelokkan asumsi Nania dengan mengaku kalau dirinya memang telah menjadi sesosok ruh.
"Kau benar Nania kalau sekarang aku sudah bukan manusia lagi. Kenapa? Apa kau takut?"
"Untuk apa aku takut pada setan pecundang sepertimu, Kak. Sudahlah, kau pergi saja sana. Aku mengantuk!" jawab Nania yang malah mengusir Jovan agar segera pergi dari hadapannya. Dia kemudian melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu tanpa menghiraukan keberadaan laki-laki yang tengah menatapnya dengan mulut ternganga lebar.
Apa gadis ini tidak merasa takut sedikitpun kalau aku akan merabai tubuhnya di saat dia tidur? Aneh, apa jangan-jangan Nania tidak memiliki n*fsu pada laki-laki ya. Padahal aku yang hanya menatapnya saja sudah berdebar tidak karuan-karuan. Haisshhh, kenapa pikiranku jadi kotor begini sih. Sadar Jovan, sadar! batin Jovan seraya menepuk-nepuk kedua pipinya.
__ADS_1
*****