PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Mengumbar Janji


__ADS_3

Fedo menghentikan mobilnya tak jauh dari lokasi pesta berlangsung. Selama dalam perjalanan kemari, baik dia maupun Luri tidak ada yang berbicara. Bukannya apa, Fedo hanya tidak kuat terlalu sering menatap gadisnya karena itu membuatnya merasa sangat tersiksa. Ya, junior Fedo menegang, bahkan sejak dia masih berada di rumahnya Luri.


Penampilan Luri malam ini benar-benar melampaui espektasi Fedo. Dia tidak pernah menyangka kalau Luri akan terlihat sangat luar biasa cantik setelah Lusi memberi sedikit polesan make-up di wajahnya. Ini tidak baik, benar-benar tidak baik untuk masa depan juniornya.


"Kak Fedo, apa kita akan turun di sini?" tanya Luri canggung. Dia merasa sedikit tak nyaman karena terus di diamkan oleh Fedo.


"Kenapa?" ucap Fedo. "Kenapa kau bisa secantik ini, sayang? Apa kau tidak tahu kalau kecantikanmu itu bisa membuatku mati berdiri? Kenapa?"


"Maksudnya bagaimana ya, Kak? Kau tidak suka ya melihatku memakai make-up? Kalau memang benar begitu, aku tidak keberatan untuk menghapusnya," tanya Luri kebingungan setelah mendengar ucapan Fedo.


Apa ini alasan kenapa sejak tadi Kak Fedo terus mendiamkan aku ya? Hmm, ujar Luri.


"Jangan!" cegah Fedo dengan cepat. Dia kemudian mengusap wajahnya beberapa kali sebelum akhirnya mengusap pelan pipinya Luri. "Aku suka melihatmu seperti ini, sayang. Kau cantik, benar-benar sangat cantik sampai mengalihkan duniaku."


"Lalu kenapa tadi kau mengeluh, Kak? Bukankah itu karena kau yang tidak suka dengan penampilanku ya?"


Luri menatap lekat wajah pria yang tengah mengelus pipinya. Aneh, bagi Luri hal ini sangatlah aneh. Sedetik yang lalu Fedo mengeluhkan tentang kecantikan di wajahnya, tapi sedetik kemudian dia memuji dan bahkan meminta agar make-up yang melekat di wajahnya tidak di hapus. Benar-benar membingungkan.


"Sayang, apa kau marah karena aku terus mendiamkanmu?" tanya Fedo tanggap akan maksud pertanyaan Luri barusan.


"Aku bukan marah Kak, tapi aku bingung. Sejak kita berangkat dari rumah kau sama sekali tidak mengatakan apapun padaku. Jadi wajar bukan kalau aku berpikir itu di sebabkan oleh make-up ini? Aku sungguh tidak apa-apa jika harus menghapus riasan ini karena itu bukanlah masalah besar bagiku," jawab Luri dengan tegas menyatakan bahwa dia tidak keberatan datang ke pesta tanpa memakai riasan wajah.


"Sayang, maaf ya kalau sikapku tadi sudah membuatmu merasa tidak nyaman. Aku diam bukan karena marah atau apapun itu, tapi aku diam karena jantungku terus berdetak dengan sangat cepat. Penampilanmu sangat menghipnotis, membuatku jadi tidak tahan untuk tidak menyentuhmu. Akan tetapi itu tidak mungkin aku lakukan bukan? Itulah kenapa aku diam," ucap Fedo menjelaskan apa yang sebenarnya dia rasakan.

__ADS_1


Dan gara-gara kecantikanmu itu sekarang aku di siksa oleh juniorku, sayang. Dia tidak mau tidur, malah dengan gaya menantang sengaja terus berdiri tegak seperti meminta agar aku segera menyentuhmu. Kau membuatku gila sekaligus tersiksa, Luri. Kau tahu itu tidak, hm? keluh Fedo dalam hati.


"Oh, jadi begitu ya, Kak? Aku pikir kau itu marah. Ternyata karena itu," sahut Luri dengan pipi bersemu merah. Malu, itu sudah pasti. Luri juga tidak sebodoh itu dalam memahami penjelasan Fedo tadi.


Saat Luri dan Fedo sedang asik di dalam mobil, Gleen dan Lusi yang sudah menunggu mereka sejak tadi nampak berjalan mendekat. Ekpresi di wajah Gleen terlihat galak, dia sepertinya tidak menyukai sikap Fedo yang malah mengurung adik iparnya agar tidak keluar dari dalam mobil.


"Fed, buka pintunya. Awas saja ya kalau kau sampai berbuat tak senonoh pada Luri!" teriak Gleen sedikit kuat sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil.


"Gleen, pelankan suaramu. Nanti orang-orang melihat ke arah kita!" tegur Lusi sembari mengelus punggung suaminya yang sedang kesal.


"Casanova ini tidak boleh di biarkan saja, sweety. Luri ada bersamanya di dalam sini, dan itu sangat berbahaya," sahut Gleen sambil terus mengetuk kaca jendela mobilnya Fedo.


Tak lama kemudian pintu mobil akhirnya terbuka. Namun yang muncul hanya Fedo, Luri tidak. Melihat kalau adik iparnya masih belum keluar jugaperasaan Gleen menjadi sangat khawatir. Segera dia hendak membuka pintu, tapi secepat kilat tangannya di tepis oleh Fedo yang kini tengah menatapnya dengan sangat sengit.


"Luri itu kekasihku. Jadi aku peringatkan kau jangan coba-coba mengambil kesempatan dengan membukakan pintu untuknya. Paham?"


"Masa bodo. Yang jelas Luri itu milikku, kalau Lusi baru milikmu," ucap Fedo sambil tangannya membukakan pintu mobil.


Sebelum melangkah turun dari mobil, untuk sesaat Luri sempat tertegun melihat betapa gemerlapnya tempat yang menjadi lokasi pesta. Padahal saat ini mobilnya Fedo belum memasuki parkiran hotel, tapi kemewahan ini sudah membuat Luri berdecak kagum. Luar biasa, orang-orang kaya memang tidak di ragukan lagi dalam menggelontorkan uang mereka. Luri takjub.


"Sayang, jangan kaget begitulah melihat pemandangan di sini. Kita masih di luar, belum sampai di dalam. Jadi sebaiknya kau simpan dulu rasa kagummu itu. Kau tenang saja, nanti saat kita menikah aku akan membuatkan pesta yang seribu kali jauh lebih mewah jika di bandingkan dengan pestanya Reinhard. Aku janjikan itu," ucap Fedo kemudian menarik pelan tangan Luri agar keluar dari dalam mobilnya.


"Jangan suka mengumbar janji, Kak. Karena terkadang yang terjadi di masa depan tidak sesuai dengan yang kita harapkan," sahut Luri sambil menahan malu.

__ADS_1


"Nah, kau dengar itu kan, Fed? Jangan suka mengumbar janji seperti para buaya darat yang ada di luaran sana. Lebih baik diam, lalu buktikan. Iya kan, Luri?" tanya Gleen yang dengan sengaja menggoda adik iparnya.


"Aku masih kecil, Kak Gleen. Dan aku masih ingin sekolah supaya bisa membuat bangga Ayah dan Ibu," jawab Luri sembari menundukkan kepala.


Gleen, Lusi dan juga Fedo hanya tertawa saja melihat Luri yang sedang menahan malu. Setelah itu Lusi berjalan mendekat ke arah Luri kemudian menggandeng tangannya.


"Baiklah semuanya. Bagaimana kalau sekarang kita langsung masuk ke dalam saja. Dokter Reinhard dan Kak Levita bisa marah kalau kita datang terlalu malam," ajak Lusi sembari menatap bergantian ke arah Fedo dan suaminya.


"Ya sudah, ayo!" sahut Gleen kemudian bergegas menggandeng lengan Lusi.


Sedangkan Fedo? Casanova ini hanya bisa menghela nafas panjang ketika di biarkan berjalan sendirian tanpa ada pasangan. Fedo pasrah saat dirinya hanya bisa menatap punggung Luri yang entah kenapa terlihat begitu menggoda.


"Haih, kenapa rasanya tidak enak sekali ya menyembunyikan hubungan dari mata semua orang? Ck, ini semua gara-gara kalian. Kalau saja mulut kalian tidak usil, aku yakin Luri pasti tidak akan menjaga jarak seperti ini dariku. Dasar brengsek!" umpat Fedo pelan sambil menendang kerikil kecil yang dia lihat.


Luri yang merasa tidak tega pada Fedo segera mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat sebelum akhirnya berhenti kemudian berbalik menghadap ke belakang. Dia lalu tersenyum kecil melihat Fedo yang seperti sedang menggerutu sambil menendangi bebatuan kecil yang dia temui.


"Kak Gleen, maukah Kakak menemani Kak Fedo? Kasihan dia, aku tidak tega membiarkannya masuk ke dalam sendirian," tanya Luri menanyakan kesediaan kakak iparnya untuk menemani pria Jepang itu.


"Iya Gleen, Luri benar. Kau sebaiknya masuk bersama Fedo saja ya?" ucap Lusi ikut menimpali.


"Hmmm, astaga. Padahal saat wartawan mengambil foto aku sangat ingin berada dalam satu frame bersama kalian, sweety. Pasti sangat seru bisa berfoto dengan di apit oleh dua wanita cantik!" sahut Gleen sambil menggaruk keningnya. Andai bisa menolak, Gleen sebenarnya sangat tidak mau melepaskan gandengan tangan istrinya. Tapi apa boleh buat, dia tak kuasa menolak permintaan kedua wanita cantik ini.


"Kalian sedang membicarakan apa? Kenapa malah berhenti di sini?" tanya Fedo bingung.

__ADS_1


Tanpa menjawab apa-apa Gleen langsung berpindah ke sisinya Fedo. Dia kemudian meminta Luri dan istrinya untuk berjalan lebih dulu. Fedo yang sadar kalau Gleen hendak menemaninya dengan sengaja menampilkan senyum penuh kepuasan. Akhirnya ada yang satu penderitaan juga dengannya. Hehehe.


*****


__ADS_2