
Fedo bergegas pergi ke rumahnya Luri setelah gadis itu mengabarkan kalau sudah pulang dari sekolah. Dia tak henti-hentinya tersenyum membayangkan pertemuan penting yang akan segera terjadi antara Luri dengan kedua orangtuanya.
"Hah, kenapa rasanya jadi tidak karu-karuan begini ya?" gumam Fedo yang entah kenapa merasa sangat gugup ketika mobilnya berhenti di depan pintu gerbang rumah gadisnya. Dia kemudian menekan klakson mobil meminta penjaga agar membukakan pintu gerbang untuknya.
Sembari menunggu penjaga datang, Fedo memastikan kalau penampilannya tidak berantakan. Tak lama kemudian pintu gerbang pun terbuka. Fedo dengan cepat menurunkan kaca jendela mobil kemudian tersenyum ke arah penjaga yang tengah membungkukkan badan ke arahnya. Dengan hati yang terus berdebar-debar, Fedo memarkirkan mobil di pekarangan rumah Luri. Setelah itu dia keluar, menatap lama ke arah seorang gadis yang tengah berdiri di depan pintu rumah tersebut.
Ya Tuhan, gadis itu kenapa cantik sekali. Aku kan jadi ingin menculik dan membawanya ke dalam kamar, batin Fedo sambil menelan ludah.
Luri yang melihat Fedo hanya diam mematung sambil memandang ke arahnya nampak mengerutkan kening. Setelah itu dia menunduk, memeriksa apakah ada yang salah dengan penampilannya atau tidak.
"Tidak ada yang salah dengan baju yang ku pakai, tapi kenapa Kak Fedo sampai terbengang begitu? Aneh," gumam Luri keheranan.
Saat ini Luri memakai dress berwarna mustard dengan panjang selutut atas. Dan sebagai alas kakinya Luri memakai flat shoes berwarna senada dengan tas kecil sebagai pelengkap penampilannya siang ini. Andai saja Luri tahu kalau penampilannya sekarang terlihat begitu segar di mata Fedo, dia pasti tidak akan merasa keheranan seperti ini. Pikirannya yang selalu positif membuat Luri tidak menyadari kalau pria di hadapannya tengah berkelana dengan pikiran-pikiran kotornya. Seperti biasa, sang Casanova tengah terjebak dalam pusaran gelombang hitam yang membuat seluruh tubuhnya memanas seketika. Fedo terbakar birahi.
"Kak Fedo, kau baik-baik saja kan?" tanya Luri sambil berjalan mendekat ke arah Fedo yang masih diam di tempat.
"Ha?" Fedo membeo. Setelah itu dia mengerjapkan mata begitu sadar kalau Luri sudah berada di hadapannya. "Sayang, kau bertanya apa barusan?"
"Aku tanya apa kau baik-baik saja. Sejak keluar dari mobil kau hanya diam sambil menatapku tanpa kedip. Ada apa? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" jawab Luri dengan sabar mengulang pertanyaannya.
"Oh, tidak kok. Aku hanya terlalu terpesona melihatmu yang begitu cantik," sahut Fedo dengan sangat jujur.
Luri tersenyum. Dia lalu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Setelah itu Luri mengajak Fedo untuk segera pergi menemui kedua orangtuanya. Hari sudah semakin siang, mereka tak memiliki banyak waktu karena sore nanti semua orang sudah harus pergi menghadiri pesta resepsi pernikahannya dokter Reinhard dengan Nona Levita.
__ADS_1
"Kak, ayo kita berangkat. Ayah dan Ibumu pasti sudah menunggu kedatangan kita di sana!"
"Bukan kita, sayang. Tapi kau," sahut Fedo seraya mengulurkan tangan ke arah Luri. "Paman Luyan dan Bibi Nita ada di dalam tidak? Aku perlu meminta izin pada mereka dulu sebelum membawamu pergi keluar."
"Ibu sedang pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, sedangkan Ayah sekarang sedang istirahat. Tadi pagi sebelum berangkat sekolah aku sudah meminta izin pada mereka kalau siang ini kita akan pergi keluar, Kak. Jadi kau tidak perlu menemui Ayah dan Ibu lagi," ucap Luri. Jantungnya berdebar dengan sangat kuat saat tangannya berada dalam genggaman tangan kekar milik Fedo.
"Apa tidak apa-apa, sayang? Aku tidak mau nantinya di anggap sebagai calon mantu yang tidak punya sopan santun karena sudah membawamu pergi tanpa izin."
Fedo terkesima melihat lesung pipi yang muncul di wajah Luri saat dia tertawa. Penampakan itu benar-benar membuatnya terlihat semakin bertambah cantik. Otak Fedo bahkan seperti berhenti beroperasi saking terpesonanya dia melihat senyum gadis desa ini.
"Sudah, ayo kita berangkat, Kak. Kita jangan sampai membiarkan keluargamu menunggu terlalu lama di sana. Tidak sopan,", ucap Luri kembali mengajak Fedo untuk segera pergi dari sana.
"Haaaahhh, baiklah, sayang. Ayo kita berangkat!"
"Kenapa, Kak? Bukankah kita harus memakai ini jika akan berkendara?" tanya Luri bingung ketika Fedo tiba-tiba menahan tangannya.
"Ini adalah tugasku, sayang. Jadi biar aku saja yang memakaikan seatbelt ini ke tubuhmu. Oke?" jawab Fedo kemudian dengan cepat memakaikan seatbelt ke tubuh Luri.
Kalau saja Fedo tidak berusaha mati-matian untuk menahan diri, dia pasti akan langsung melahap bibirnya Luri yang terlihat begitu menggoda ketika wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat. Bahkan Fedo bisa merasakan hembusan nafas yang keluar dari hidung gadis desa ini saking dekatnya posisi wajah mereka sekarang.
"Kak Fedo, kenapa malah melamun? Kapan kita berangkatnya?" tegur Luri yang mulai merasa gugup berada dalam posisi yang sedikit intim dengan seorang pria. Jantungnya seperti mau copot rasanya.
"Astaga, sayang. Kenapa sih kau selalu saja membuatku hilang fokus. Tadi kecantikanmu, sekarang malah bibirmu. Kau sadar tidak sayang kalau semua yang ada di tubuhmu benar-benar sangat berbahaya. Aku kan jadi lemah," keluh Fedo sambil mengusap wajahnya hingga memerah.
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Fedo bergegas masuk ke dalam mobil lewat pintu samping. Dia kemudian menghela nafas panjang sebelum akhirnya melajukan mobil keluar dari pekarangan rumah Luri.
Selama dalam perjalanan, baik Fedo maupun Luri sama-sama tidak ada yang membuka suara. Mereka fokus dengan pikiran masing-masing di mana Fedo tengah sibuk menjinakkan sesuatu yang sudah menegang di bawah sana. Sedangkan Luri, gadis desa itu terlihat sedang ******* pinggiran dress yang di pakainya. Luri gugup, sangat sangat gugup karena sebentar lagi akan bertatap muka dengan orangtuanya Fedo.
Ya Tuhan, kenapa rasanya jadi gugup begini sih. Kira-kira Ayah dan Ibunya Kak Fedo akan menyukaiku tidak ya? Lalu kata apa yang cocok untuk menyapa mereka nanti. Astaga, ini benar-benar sangat mendebarkan, batin Luri resah sendiri.
Ekor mata Fedo melirik ke arah Luri yang terlihat gelisah dalam duduknya. Fedo paham kalau gadis ini tengah di landa perasaan gugup karena akan segera bertemu dengan keluarganya. Tak mau gadisnya merasa tertekan sendirian, Fedo pun segera menepikan mobil kemudian menggenggam erat kedua tangan Luri.
"Jangan panik. Ayah, Ibu, dan juga Kayo adalah orang-orang yang baik. Mereka tidak seseram seperti yang kau bayangkan!" hibur Fedo dengan lembut.
"Aku hanya sedang bingung memilih kata apa yang akan aku ucapkan di hadapan mereka nanti, Kak. Sebenarnya tadi malam aku sudah berlatih, tapi sekarang semuanya hilang begitu saja dari dalam pikiranku. Aku terlalu gugup, sampai-sampai tanganku menjadi sangat dingin seperti es," sahut Luri mengatakan apa yang terjadi dengan dirinya.
"Tidak apa-apa, itu wajar. Tapi aku yakin di sana nanti kau pasti bisa mengendalikan rasa gugupmu. Aku percaya kalau Paman Luyan dan Bibi Nita telah mendidikmu dengan sangat baik dalam hal sopan santun di hadapan orang yang lebih tua. Benar kan?"
Kegugupan di hati Luri sedikit mereda setelah mendengar perkataan Fedo. Dia lalu menganggukkan kepala, tersenyum malu saat pria ini mencium punggung tangannya.
"Kita berangkat?" tanya Fedo.
"Iya. Kita berangkat sekarang," jawab Luri dengan penuh keyakinan.
Tanpa membuang waktu lagi Fedo kembali melajukan mobilnya. Dan kali ini dia mengemudi dengan kecepatan sedang karena satu tangannya masih menggenggam tangan Luri. Fedo sedang berusaha menyalurkan ketenangan dengan cara tidak melepaskan tautan tangan mereka. Dan sepertinya usaha yang Fedo lakukan itu berhasil karena sekarang Luri terlihat jauh lebih tenang dari yang sebelumnya.
Rupanya di balik sikapmu yang dewasa kau masih menyimpan sisi imut seperti ini juga ya, sayang. Haih, menggemaskan sekali, batin Fedo.
__ADS_1
*****