
Mattheo dan Fedo menatap bingung ke arah dua wanita cantik yang sedang duduk diam di sofa. Jika biasanya mereka akan mendengar sapaan lembut dari kedua wanita ini saat pulang dari kantor, kali ini tidak. Sepertinya ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran mereka.
"Darling, Kayo. Kalian kenapa?" tanya Mattheo seraya berjalan cepat menghampiri anak dan istrinya.
Abigail menghela nafas. Dia menoleh, menatap suaminya sekilas kemudian berganti menatap wajah putranya. Setelah bertemu Kanita dan ibunya di toko sepatu, perasaan Abigail terus saja gelisah. Dia yakin seratus persen kalau Kanita sedang berbadan dua. Terlepas entah bayi siapa yang sedang di kandungnya, Abigail sangatlah mengkhawatirkan masa depan putranya. Bisa saja Kanita menyasar dengan menuduh Fedo sebagai ayah dari bayi itu mengingat betapa Kanita sangat tergila-gila pada putranya selama ini.
"Hei, kenapa tidak ada yang menjawab? Ada apa? Apa yang terjadi pada kalian?" desak Mattheo setelah duduk di samping istrinya.
"Matt, tadi kami tidak sengaja bertemu dengan Kanita dan ibunya di toko sepatu," ucap Abigail.
"Lalu? Apa mereka melakukan sesuatu yang membuat kalian berdua menjadi kesal?" tanya Mattheo sambil mengeratkan geraham. Lagi-lagi anak dan istrinya di ganggu oleh dua rubah licik itu.
"Bu, katakan dengan jujur. Pasti Kanita dan ibunya menghina Ibu dan Kayo lagi kan? Kurang ajar, apa sih maunya mereka. Apa perlu aku melakukan kekerasan untuk membuat mereka benar-benar jera?"
Setelah berkata seperti itu Fedo duduk di sebelah adiknya yang hanya diam dengan tatapan begitu dingin. Ada yang salah, dan Fedo sangat yakin akan hal ini. Melihat dari ekpresi dingin di wajah Kayo, Fedo percaya kalau tadi Kanita dan ibunya pasti sudah melontarkan kata-kata yang membuat adiknya jadi memendam emosi begini.
"Kenapa menatapku sampai seperti itu, Kak? Tidak pernah melihat wanita cantik ya?" tanya Kayo sarkas. Dia bicara tanpa menatap wajah kakaknya.
"Beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi, Kay. Kau tidak mungkin bersikap sedingin ini padaku jika tidak sedang menutupi masalah. Ada apa, hm? Apa yang Kanita lakukan padamu dan pada Ibu?" tanya Fedo setengah memaksa.
__ADS_1
"Kanita hamil. Ibu yang meyakininya," ucap Kayo terang-terangan. Setelah itu dia menoleh, memperhatikan dengan sangat seksama raut terkejut di wajah sang kakak. "Itu bukan bayi milikmu kan, Kak?"
Untuk sesaat pikiran Fedo seperti tidak bisa mencerna ucapan Kayo. Kanita hamil? Astaga, kabar buruk apa ini. Pantas saja Kayo dan ibunya terlihat sangat berbeda, rupanya karena mereka berfikir kalau bayi yang di kandung Kanita adalah anaknya.
"Fedo, sebenarnya apa yang terjadi pada kalian saat berada di hotel waktu itu? Kalian tidak melakukan sesuatu yang salah kan?" tanya Abigail mencecar putranya dengan tegas.
"Omong kosong apa yang sedang Ibu bicarakan? Ya Tuhan, harus bagaimana lagi aku menjelaskannya kalau waktu itu kami sama sekali tidak melakukan apa-apa. Selain memeluknya, kami tidak melakukan kontak fisik yang lain lagi. Aku jijik, Bu. Aku tidak sudi menyentuh wanita yang sudah pernah aku tiduri. Tolong jangan berpikiran negatif padaku, Bu. Aku tidak ada hubungannya dengan kehamilan Kanita!" jawab Fedo terpancing emosi. Dia kesal karena terus di tuduh melakukan hal tak senonoh dengan Kanita.
Mattheo mengepalkan tangan saat Abigail menahan tubuhnya yang sangat ingin menghajar Fedo. Dia tidak terima putranya bicara dengan nada suara tinggi pada istrinya. Itu tidak sopan, dan Mattheo bermaksud untuk menegurnya.
"Ini bukan waktu yang tepat untuk memberikan teguran pada Fedo, Matt. Karena masih ada hal lain yang jauh lebih penting daripada itu. Tolong bersabarlah, aku yakin Fedo tidak berniat bicara seperti itu padaku," bisik Abigail berusaha menenangkan amarah suaminya.
Fedo langsung terhenyak kaget mendengar sindiran yang dilayangkan oleh ayahnya. Sadar kalau tadi sikapnya sudah keterlaluan, tanpa pikir panjang lagi Fedo langsung bersimpuh di hadapan ibunya. Dia menyesal, merasa sangat berdosa karena sudah berani bicara dengan nada keras pada wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya.
"Maafkan aku, Bu. Sungguh, aku sama sekali tidak berniat untuk bersikap kurang ajar pada Ibu. Aku terbawa emosi karena Ibu masih tidak percaya kalau malam itu aku benar-benar tidak melakukan apapun pada Kanita. Tolong maafkan aku ya, Bu. Aku salah," ucap Fedo penuh sesal.
"Fed, Ibu bukan tidak percaya padamu. Ibu hanya khawatir saja karena hal ini bisa menghancurkan hubunganmu dengan Luri. Ibu juga minta maaf ya kalau perkataan Ibu sudah menyinggung perasaanmu," sahut Abigail dengan nada suara yang lembut. Dia jadi merasa bersalah karena sudah meragukan putranya sendiri.
Fedo menundukkan kepala seraya m*ndesah panjang. Dia tidak mengerti kenapa nama Kanita terus saja membayangi hidupnya. Padahal sudah hampir dua bulan ini hari-hari Fedo terasa sangat tenang karena Kanita tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Tapi sekarang, tiba-tiba saja dia kembali muncul dengan kabar kehamilannya. Dan sialnya lagi Fedo menjadi tersangka utama dari kabar buruk tersebut. Siapalah yang tidak akan emosi jika di hadapkan pada posisi Fedo sekarang. Jadi wajar saja bukan kalau tadi dia sempat hilang kendali?
__ADS_1
"Darling, jika Fedo tidak melakukan apapun pada Kanita, lalu siapa ayah dari bayi itu? Apa pelakunya adalah salah satu pria yang pernah menjadi pasangan one night stand-nya?" tanya Mattheo menerka-nerka.
"Entahlah, Matt. Aku tidak bisa menjawab dengan pasti karena hanya Kanita yang tahu kebenarannya. Dan inilah yang mengganggu pikiranku sejak tadi. Aku takut Kanita akan menyebut nama Fedo saat Nyonya Mili dan Tuan Dominic menanyakan siapa ayah dari bayi yang di kandungnya. Karena dari yang aku lihat, mereka masih belum tahu kalau Kanita sedang hamil. Ini akan sangat berbahaya untuk nama baik putra kita, Matt. Fedo mungkin tidak merasa melakukannya, tapi Kanita itu sangat nekad. Bisa saja kebersamaan mereka di hotel waktu itu di jadikan alat oleh Kanita untuk menjerat Fedo. Kemungkinan seperti ini bisa saja terjadi, bukan?" jawab Abigail mengungkap segala kekhawatiran di hatinya.
Melihat kedua orangtuanya yang mulai panik, Kayo pun tak mau tinggal diam. Dia akan melakukan segala macam cara untuk menyelesaikan masalah ini.
"Ayah, Ibu, Kak Fedo, kalian tenang saja. Selama Kak Fedo tidak menyentuh Kanita, maka itu artinya Kak Fedo bukanlah ayah dari bayi itu. Aku akan mengumpulkan semua bukti yang bisa menepis jika seandainya nanti Kanita benar-benar menunjuk Kak Fedo sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas kehamilannya. Aku tidak sudi mempunyai kakak ipar yang hampir serupa dengan sikap rubah yang terkenal sangat licik, Bu. Aku tidak sudi!" ucap Kayo sebelum akhirnya beranjak pergi menuju kamar.
Mattheo, Abigail dan Fedo hanya bisa menatap kepergian Kayo dengan ekpresi yang berbeda di wajah mereka. Ketiganya terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Saat pikiran Fedo sedang berkelana, tiba-tiba saja dia teringat dengan pria asing yang identitasnya sangat misterius. Segera dia memberitahukan hal tersebut pada ayah dan juga pada ibunya.
"Bu, malam setelah aku keluar dari kamarnya Kanita anak buahku bilang dia pergi ke club. Lalu saat pulang dia di antar oleh seorang pria asing. Menurut laporan dari anak buahku, mereka menghabiskan malam bersama di hotel itu. Aku rasa pria asing inilah yang menjadi ayah biologis dari bayi yang di kandung Kanita. Benar tidak?"
"Fed, kau jangan mengarang cerita. Ibu sudah memerintahkan orang untuk menyelidiki kegiatan Kanita malam itu. Dia pergi dan kembali dari club seorang diri, tidak ada pria yang bersamanya," sahut Abigail menepis pernyataan putranya.
"Ibu salah. Pria asing itu sudah menghapus seluruh rekaman CCTV yang ada di hotel. Termasuk juga rekaman di club yang menjadi saksi pertemuannya dengan Kanita. Apa Ayah dan Ibu ingin melihat seperti apa rupa dari pria itu? Siapa tahu rekaman ini bisa membuat perasaan kalian menjadi lebih tenang!"
Abigail dan Mattheo saling melempar pandangan begitu melihat senyum aneh di bibir Fedo. Setelah itu mereka mengikuti langkah Fedo yang mengajak pergi ke ruang kerja untuk menunjukkan hal menarik yang akan menjadi kunci penyelesaian dari kekalutan yang sedang terjadi.
*****
__ADS_1