
📢 NANIA SUDAH UP DI YUTUP EMAK YA BESTIE. SILAHKAN MAMPIR KALAU MAU 💜
📢 JANGAN LUPA BOM KOMENTAR DI NOVEL
- Love Story ( Gabrielle & Eleanor)
- My Destiny ( Clara & Eland)
- Ma Queen Rose
- Marriage Contract With My Secretary
BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAKNYA YA BIAR EMAK SEMANGAT UP. OK BESTIE 💜
🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗
"Jadi, Luri. Di mana kau akan melanjutkan kuliah setelah ini?" tanya Abigail seraya menatap lekat wajah cantiknya Luri.
Dalam hatinya Abigail membatin kalau dia begitu mengagumi kecantikan natural di diri gadis desa tersebut. Dan pantas saja jika putranya menggila sampai seperti orang tidak waras. Luri memiliki pesona yang tidak dimiliki oleh wanita pada umumnya. Usianya memang masih muda, tapi aura dan juga caranya menata sikap benar-benar terlihat seperti orang yang sudah dewasa. Ini mengagumkan.
Di tanya seperti itu oleh ibunya Fedo membuat Luri merasa sangat gugup. Akan tetapi dia berusaha bersikap setenang mungkin agar apa yang sedang dia tutupi tidak ketahuan. Sembari tersenyum, Luri akhirnya menjawab pertanyaan dari wanita yang terus saja menatapnya lekat.
"Untuk sekarang aku masih belum bisa menjawab di mana aku akan melanjutkan kuliah, Bibi. Mungkin dua atau tiga hari lagi aku baru bisa menentukannya," jawab Luri dengan hati-hati.
"Kenapa begitu? Apa yang sebenarnya sedang kau tunggu?"
Mattheo, Fedo, Kayo, dan juga Jackson menatap penuh penasaran ke arah Luri. Mereka tak sabar menantikan jawaban seperti apa yang akan di ucapkan olehnya. Tidak di pungkiri, mereka semua sebenarnya merasa heran karena jawaban Luri terkesan berbelit seperti ada yang sedang dia sembunyikan. Akan tetapi tidak satupun dari mereka yang memiliki niat untuk menanyakan lebih lanjut karena khawatir kata-kata mereka akan membuat Luri merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Bibi, ada alasan tersendiri kenapa aku belum bisa menjawabnya sekarang. Bukan tidak ingin memberitahu, tapi sekarang aku masih menunggu keputusan dari sekolah dulu. Aku belum tahu apakah aku lulus atau tidak karena pihak sekolah belum mengeluarkan pengumuman. Dan kemungkinan besar hal itu baru akan di umumkan dua atau tiga hari lagi," ucap Luri berkilah.
Mungkin di mata Fedo dan keluarganya jawaban Luri cukup masuk akal. Akan tetapi tidak dengan Jackson. Ya, Jackson bisa melihat dengan sangat jelas kalau Luri ini sebenarnya sudah menentukan di universitas mana dia akan melanjutkan pendidikan. Sebagai seorang mantan penjahat, bukanlah hal yang sulit untuk Jackson membedakan mana orang yang sedang bicara jujur dan mana yang tengah menutupi sesuatu. Dari cara bicara Luri yang terkesan sangat hati-hati, Jackson langsung bisa menarik benang merah bahwasanya gadis ini telah memiliki rencana tersendiri di mana Fedo tidak di izinkan untuk tahu.
Menarik. Luri, kau sepertinya sengaja mempermainkan emosi Fedo dengan tidak membiarkannya tahu di mana kau akan melanjutkan kuliah. Kenapa? Apa kau sedang berencana untuk menjauh dan khawatir Fedo akan melarangmu pergi jika mengetahuinya? Tidak di sangka gadis sederhana sepertimu bisa memainkan trik seperti ini juga. Hmmm, batin Jackson.
"Oh, begitu. Ya sudahlah, apapun hasil pengumuman nanti Bibi harap itu tidak akan mengendurkan semangatmu untuk mengejar cita-cita. Dan juga ....
Perkataan Abigail terjeda. Dia lalu menatap Fedo yang sedang asik memandangi wajah Luri dari samping sambil berpangku dagu.
"Dan juga apakah nantinya kau berhasil meraih gelar yang sedang kau kejar atau tidak, kami akan tetap menerima kehadiranmu di keluarga Eiji dengan tangan terbuka. Bibi sangat berharap kau dan Fedo bisa secepatnya menikah, Luri," ucap Abigail tanpa ragu mengatakan betapa dia sangat ingin Luri bisa segera menjadi bagian dari keluarganya.
Wajah Luri memerah seperti buah tomat saat mendengar ucapan ibunya Fedo. Sungguh, dia sama sekali tidak menyangka kalau ibunya Fedo akan bicara seterus-terang ini kepadanya.
"Nah, kau dengar sendiri kan kalau keluargaku itu menerimamu apa adanya, sayang?" timpal Fedo yang merasa sangat senang mendengar perkataan ibunya.
"Wow, luar biasa, Luri. Kau benar-benar sangat mengagumkan!" puji Mattheo seraya bertepuk tangan. Dia kemudian melihat arah Fedo sambil mengacungkan kedua jempol tangannya. "Kerja bagus, son. Pilihanmu tidak di ragukan lagi kali ini. Kau berhasil!"
Fedo tersenyum lebar begitu mendapat pengakuan dari sang ayah. Setelah itu Fedo menggenggam tangan Luri yang sejak tadi terus dia sembunyikan di bawah meja.
"Kak, jangan begitu. Nanti mereka lihat," bisik Luri merasa tak enak saat Fedo terus meremas jari-jari tangannya. Dia cukup tahu diri dengan tidak mengumbar kemesraan di depan keluarganya Fedo, apalagi dengan status mereka yang belum resmi pacaran. Luri khawatir itu akan membuatnya di cap sebagai gadis yang tidak tahu malu.
"Memangnya kenapa kalau mereka melihat kita berpegangan tangan, sayang?" sahut Fedo iseng bertanya.
Kayo yang melihat Luri tidak bisa menjawab pertanyaan kakaknya pun menjadi gemas sendiri. Segera dia melemparkan sebutir anggur yang ingin dia makan hingga mengenai lengan kakaknya.
"Apa sih, Kay. Mengganggu orang bermesraan saja," protes Fedo sambil menatap kesal ke arah Kayo.
"Kak-Kak. Luri itu merasa tidak nyaman kau pegang-pegang begitu. Jangan kau paksa lah!" sahut Kayo seraya berdecak pelan. Dia lalu mengadukan perbuatan sang kakak pada kedua orangtuanya. "Lihatlah si Casanova itu, Ayah, Ibu. Bahkan di hadapan banyak orang dia dengan tidak malunya memaksa Luri untuk terus bermesraan. Tolong nasehati dia, Bu. Jangan biarkan Luri menjadi korban kegenitannya!"
__ADS_1
"Astaga, Kayo. Kau ini apa-apaan sih. Seenaknya saja memfitnah orang. Apa buktinya kalau aku memaksa Luri, hah? Usil sekali sih!" omel Fedo tak terima mendengar aduan adiknya.
Kayo menjulurkan lidah setelah berhasil menjahili sang kakak. Dia kemudian mengerlingkan mata ke arah Luri yang tengah meliriknya dengan wajah memerah karena menahan malu.
"Kau tenang saja, kakak ipar. Selama ada aku, Casanova ini tidak akan bisa memaksamu. Kau akan selalu aman bersama kita semua. Iya kan, Ayah, Ibu?" ledek Kayo dengan sengaja.
"Kayo, Kak Fedo tidak seperti yang kau tuduhkan kok. Dia tidak genit, hanya sedikit usil saja," sahut Luri tanpa sadar membela Fedo di hadapan keluarganya.
Pandangan mata Abigail dan Mattheo langsung tertuju ke arah Fedo yang kini tengah tersenyum kegirangan setelah Luri membelanya. Mereka lalu menggelengkan kepala melihat kelakuan Fedo yang kini tengah balas menjulurkan lidah ke arah Kayo.
Astaga, Fedo-Fedo. Kenapa kelakuanmu jadi seperti anak kecil sih. Ada-ada saja, batin Abigail gemas.
"Ckckck, dasar kekanakan," sindir Kayo seraya berdecak pelan.
"Bilang saja kau iri karena Jackson tidak pernah membelamu seperti yang Luri lakukan barusan. Iya kan?" sahut Fedo tak mau kalah.
"Siapa bilang Jackson tidak mau membelaku, Kak? Dia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi agar bisa menjadikan aku sebagai calon istrinya. Iya kan, Jack?" tanya Kayo sambil menatap lekat ke wajah Jackson. Kayo sangat berharap kalau calon suaminya ini akan menjawab iya agar kakaknya tak lagi memiliki bahan untuk mengolok-olok.
"Aku tahu kau sangat ingin aku menjawab iya kan?" sahut Jackson yang malah balas bertanya.
"Haih, tidak bisa di andalkan," gerutu Kayo merasa tak puas akan sikap Jackson.
"Bahkan hidupku sudah sepenuhnya menjadi milikmu setelah aku terjerat pesonamu yang kejam itu, Kay," ucap Jackson dengan segera. "Apapun akan aku lakukan demi untuk membahagiakanmu. Jangankan hanya membela, bertarung sampai mati pun sudah pasti akan aku lakukan. Jadi jangan khawatir, kau dan adikku ada di urutan pertama dalam daftar orang yang akan selalu aku bela!"
Fedo dan ayahnya langsung meledek Kayo yang tengah tersipu malu gara-gara perkataan Jackson. Sedangkan Luri, gadis itu nampak tersenyum kecil menyaksikan betapa hangatnya keluarga ini. Di balik kekuasan mereka, rupanya Fedo dan keluarganya adalah orang-orang yang hangat dan juga humoris. Karena mereka hanya memerlukan sebuah candaan sederhana untuk bisa menghadirkan suasana tawa yang begitu menyenangkan.
Ayah, Ibu, Kak Lusi, Nania. Di sini aku seperti menemukan kebahagiaan yang sama seperti di keluarga kita. Kak Fedo dan keluarganya sangat baik, hal ini semakin membuatku yakin untuk terus memperjuangkan perasaanku. Tolong doakan aku ya, batin Luri penuh haru.
*****
__ADS_1