
Seorang wanita terlihat sedang duduk di pinggiran jendela kamar sambil memegang sebotol minuman. Penampilan wanita tersebut begitu kacau dengan rambut yang sangat acak-acakan. Dialah Kanita, putri dari pasangan Nyonya Mili dan Tuan Dominic. Sesampainya Kanita di Jepang, dia tidak langsung pulang ke rumahnya. Kanita malas mendapat cecaran dari sang ibu yang pasti akan menjadi sangat cerewet dengan bertanya ini itu tentang liburan bohongnya. Juga karena Kanita sedang membutuhkan tempat yang sepi untuk menenangkan pikiran setelah apa yang dilakukan calon suaminya Kayo terhadapnya.
Ya, Kanita begitu stress setelah menerima ancaman yang begitu menakutkan. Dia juga panik memikirkan jawaban apa yang akan dia ucapkan jika ketua dari kelompok orang yang dia sewa menanyakan keberadaan dari orang yang pergi bersamanya. Tidak mungkin kan dia menjawab kalau orang tersebut sudah mati terbunuh? Kanita yakin ketua kelompok itu pasti tidak akan melepaskannya begitu saja. Memikirkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi membuat Kanita semakin stress. Belum lagi dengan tujuannya yang gagal saat ingin memisahkan Luri dari Fedo. Kali ini Kanita benar-benar sangat sial. Baik Luri maupun calon suaminya Kayo, kedua orang ini membuat hidupnya menjadi sangat berantakan. Dia marah, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
"Kenapa harus sesulit ini agar bisa bersamamu, Fed. Apa susahnya sih kau untuk mencintaiku. Tidak mungkinkan kau memilih Luri hanya karena usianya jauh lebih muda dariku. Dia masih sangat ingusan, aku tidak yakin dia mampu memberikan servis yang bisa membuatmu puas di atas ranjang," ucap Kanita lirih. Matanya tampak berkaca-kaca, dia terluka oleh cintanya sendiri.
Ucapan Luri yang menyebut kalau gadis itu tidak akan pernah melepaskan Fedo membuat dada Kanita terbakar api amarah yang begitu besar. Dia menjerit dengan sangat kencang kemudian melemparkan botol minumannya ke atas lantai. Setelah itu Kanita meraung seperti orang gila sambil menarik rambutnya sendiri. Dia menangis, hati dan hidupnya hancur berbarengan hanya karena sepatah kata dari gadis ingusan itu. Kanita sungguh tidak menyangka kalau Luri akan tetap mempertahankan Fedo meskipun tahu kalau pria tampan itu adalah seorang Casanova yang suka bergonta-ganti pasangan. Saat itu Kanita langsung mati kutu begitu tahu kalau Luri tidak termakan umpan yang dia tebar. Awalnya Kanita berpikir kalau Luri akan langsung menangis kemudian memutuskan untuk berpisah dengan Fedo. Tapi siapa yang akan menduga kalau gadis itu malah sama sekali tidak keberatan dengan apa yang dilakukan Fedo selama ini.
"Kenapa kau harus menjadi penghalang hubunganku dengan Fedo, Luri. Kau itu masih anak SMA, apa tidak malu berhubungan dengan pria yang usianya berbeda jauh denganmu? Hah?" ratap Kanita sambil menangis terisak-isak. "Aku sangat mencintainya. Tolonglah lepaskan dia untukku. Kau bisa mencari pria yang jauh lebih segala-galanya dari Fedo, Luri. Tolong mengalahlah untukku. Aku mohon!"
Saat Kanita sedang menangisi nasib cintanya, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar hotel. Dia yang masih trauma dengan kejadian saat di Shanghai langsung terdiam dengan wajah pucat pasi. Tangan Kanita kemudian bergerak mengusap keningnya di mana ada luka goresan yang di tinggalkan oleh calon suaminya Kayo. Mengingat betapa mengerikannya raut wajah pria itu membuat tubuh Kanita menggigil kuat. Tubuhnya seperti tidak bisa di gerakkan saat ketukan di pintu kamarnya kian menguat.
"Kanita, ini Ibu, sayang. Cepat buka pintunya. Kanita!"
Samar-samar Kanita seperti mendengar suara ibunya yang sedang berteriak dari luar kamar. Dia lalu menguatkan hati kalau saat ini dirinya sedang berada di Jepang, bukan di Shanghai. Setelah berhasil menguasai diri, barulah Kanita memberanikan diri untuk membuka pintu.
__ADS_1
"I-Ibu," cicit Kanita lirih. Tangisnya langsung pecah begitu tubuhnya di rengkuh oleh sang ibu.
Mili kaget setengah mati saat di beritahu oleh anak buahnya kalau Kanita terlihat masuk ke sebuah hotel dalam kondisi yang sangat berantakan. Dia kemudian bergegas datang kemari untuk memastikan apakah benar putrinya ada di sini atau tidak. Dan begitu pintu di buka, Mili sangat syok menyaksikan penampilan putri kesayangannya yang terlihat begitu kacau. Di tambah lagi sekarang Kanita sedang menangis di pelukannya. Membuat hati Mili serasa hancur berkeping-keping.
"Ya ampun sayang, kau kenapa? Siapa yang sudah membuatmu jadi seperti ini?" tanya Mili sambil menciumi puncak kepala putrinya penuh khawatir. Dia lalu membelalakkan mata ketika mendapati luka goresan di kening mulus putrinya ini. "Kanita, siapa yang berani melukaimu, hah? Beritahu Ibu, Nak. Jangan memendamnya seorang diri. Cepat katakan siapa yang sudah melakukan ini padamu!"
Bukannya menjawab, tangis Kanita malah semakin kencang. Mili yang mendengarnya pun menjadi semakin khawatir. Dia lalu mengajak putrinya untuk masuk ke dalam kamar. Dan begitu dia sampai di dalam, Mili di buat ternganga-nganga oleh banyaknya botol minuman yang berserakan di atas meja, ranjang, dan juga lantai. Sekacau inikah permasalahan yang sedang di alami oleh putrinya?
"Hiksssa, Bu. Gadis itu merebut Fedo dariku. Dia ... dia tidak mau melepaskannya. Dia ingin mengambil Fedo dariku, Bu. Tolong aku!" ucap Kanita sambil menangis sesenggukan di pelukan sang ibu. Biarlah, dia sudah tidak kuat menahan rasa sakit ini. Toh di dunia ini orang yang benar-benar menyayanginya ya hanya wanita ini saja. Jadi tidak ada salahnya untuk Kanita berkata jujur padanya.
"Fedo lagi Fedo lagi. Bukankah Ibu sudah pernah bilang padamu untuk berhenti mengejar laki-laki kurang ajar itu? Kenapa kau bebal sekali, Kanita!" omel Mili yang langsung tersulut emosi begitu nama Fedo di sebut.
Mili dengan kasar melepas pelukannya kemudian menampar pipi Kanita. Murka, ya, Mili benar-benar sangat murka sekarang. Namun kemurkaan di diri Mili langsung meredup begitu dia melihat mata putrinya yang begitu tidak berdaya. Hancur sudah pertahanan Mili sebagai seorang ibu. Hatinya seperti di remas menyaksikan keadaan putrinya yang begitu kasihan.
"Sayang, Ibu melakukan ini karena ingin kau sadar kalau Fedo itu tidak pantas untukmu. Kau terlalu berharga untuk bersanding dengan pria bajingan sepertinya," ucap Mili sembari mengelus pipi putrinya yang baru saja dia tampar. "Sadar ya, Nak. Buka matamu lebar-lebar. Di negara ini tidak hanya Fedo saja yang memiliki ketampanan dan kekayaan yang melimpah. Dia hanya satu dari sekian banyak pria sukses yang ada di negara kita. Jadi Ibu mohon tolong hentikan obsesi tidak masuk akal yang hanya mendatangkan rasa sakit di hidupmu ini ya?"
__ADS_1
Kanita sama sekali tidak merasakan rasa sakit di bagian wajahnya. Karena sekarang hatinya jauh lebih sakit jika di bandingkan dengan tamparan yang baru saja dia terima. Dengan tatapan yang begitu menghiba, Kanita mencoba memohon pada ibunya agar mau membantunya menyingkirkan Luri. Dia benar-benar tidak bisa jika harus merelakan gadis itu hidup bahagia bersama Fedo. Tidak bisa.
"Bu, tolong singkirkan Luri dari hidupnya Fedo. Kalau dia pergi dari dunia ini, aku dan Fedo pasti bisa bersama, kami pasti bisa hidup dengan sangat bahagia. Tolonglah Bu, tolong bantu aku memisahkan Luri dari Fedo. Aku mohon!"
"Otakmu benar-benar sudah tidak waras Kanita. Apa kau tidak bisa membedakan mana yang namanya cinta dan mana yang di sebut obsesi. Lihat keadaanmu sekarang. Kau rela membiarkan dirimu menjadi begitu rendah hanya karena seorang pria yang sama sekali tidak pernah menghargai perasaanmu. Dengarkan Ibu, Kanita. Di sini kau menangis dan terus memikirkan laki-laki itu, apa di sana dia juga melakukan hal yang sama untukmu? Tidak kan? Jadi berhentilah bersikap gila seperti ini. Ibu muak jika terus melihatnya!" sentak Mili penuh emosi.
Dan begitu Mili selesai berbicara, tiba-tiba saja tubuh Kanita luruh ke lantai. Dia sudah sangat lemah karena sejak kembali dari Shanghai Kanita sama sekali tidak memejamkan mata. Juga tidak ada makanan apapun yang masuk ke dalam perutnya selain hanya minuman keras saja. Saat ini Kanita benar-benar berada dalam fase terhancur di hidupnya. Dia sudah sangat tidak berdaya.
Mili yang melihat keadaan putrinya mau tidak mau harus mengesampingkan emosinya terlebih dahulu. Dia dengan penuh perhatian memindahkan kepala Kanita ke atas pangkuannya. Sambil membelai rambutnya, Mili menanyakan darimana luka goresan itu berasal. Dia sangat yakin kalau luka tersebut bukanlah perbuatan tangan putrinya.
"Kanita, siapa yang sudah merusak kulit wajahmu? Apa Luri yang melakukannya? Jika iya, maka detik ini juga Ibu akan langsung mengirim orang untuk membalasnya. Ibu tidak akan membiarkan satu orang pun melukai kesayangan Ibu," tanya Mili pelan.
"Bukan Luri Bu, tapi calon suaminya Kayo yang melakukan. Dia juga mengancam akan membunuhku jika aku berani datang lagi ke Shanghai. Aku takut sekali, Bu. Pria itu sangat mengerikan," jawab Kanita antara sadar dan tidak sadar. Setelah itu matanya terpejam, Kanita terlelap di pangkuan ibunya setelah mengeluarkan segala keluh kesah yang dia rasakan.
"Tidurlah yang nyenyak, sayang. Tenang saja, setelah ini Ibu akan pergi untuk membuat perhitungan dengan keluarga itu. Berani-beraninya calon menantu mereka melukaimu. Ibu tidak akan tinggal diam!" geram Mili dengan mata berkilat marah.
__ADS_1
*****
BOM KOMENTAR GENGSS BIAR ENTAR SORE UP LAGI