
"Kak Luri, coba kau lihat ini. Berita tentang kau dan Kak Fedo semakin memanas saja. Bahkan para ibu rumah tangga sampai ikut memberikan komentar. Lucu sekali!" teriak Nania sambil mengarahkan layar ponsel ke wajah kakaknya.
Luri hanya tersenyum kecil ketika membaca komentar yang ada di ponsel Nania. Awalnya dia sedikit takut, tapi setelah Fedo meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja Luri akhirnya bisa kembali merasa tenang. Sekarang ini Luri tengah menyusun sisa barang yang akan di bawanya pergi ke London. Jadi dia tidak sempat membuka ponsel, terkecuali jika Fedo yang menelpon.
"Kak, besok Kak Fedo datang kemari ya?" tanya Nania.
"Iya. Lusa kan Kakak berangkat ke London, jadi Kakak memintanya agar besok datang ke Shanghai karena Kakak ingin berpamitan. Sekalian ingin meminta maaf karena sudah membohonginya beberapa waktu ini," jawab Luri sambil tersenyum.
"Kenapa harus meminta maaf, Kak? Kan Kakak berbohong demi kebaikan. Bukankah itu boleh dilakukan ya?"
Nania menatap seksama ke arah sang kakak yang masih sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam koper. Terbersit sebuah niat di pikiran Nania untuk bersembunyi di dalam koper tersebut agar dia bisa ikut pergi ke London. Namun sedetik kemudian Nania menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia merasa miris sendiri membayangkan nasibnya yang bisa mati kehabisan nafas jika benar-benar masuk ke dalam koper yang sempit itu.
"Kau kenapa, Nania?" tanya Luri heran melihat adiknya yang terus bergidik seperti sedang menahan ngeri.
"Ini, Kak. Aku sedang membayangkan masuk ke dalam koper itu supaya bisa ikut pergi bersama Kakak ke luar negeri, tapi efeknya malah membuatku ngeri sendiri. Aku pasti akan kesulitan bernafas jika koper itu sudah terkunci. Benar tidak?" jawab Nania yang tanpa sengaja malah membongkar niatannya sendiri.
__ADS_1
Luri tergelak. Adiknya ini kenapa bisa sampai terpikir melakukan hal seperti itu sih. Haduuhh, kalau begini kan Luri jadi tidak rela berpisah dengan Nania. Di London nanti Luri pasti akan merasa sangat kesepian karena tidak ada Nania yang akan menghibur hari-harinya.
Kuatkan hatimu, Luri. Ini hanya sementara saja. Nanti setelah cita-citamu tercapai, kau dan Nania pasti akan kembali berkumpul bersama seperti sekarang. Semangat ya, ujar Luri menyemangati dirinya sendiri dari dalam hati.
"Oya, Kak. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Tolong beritahu aku kenapa Kakak harus meminta maaf pada Kak Fedo," ucap Nania menagih jawaban dari sang kakak.
"Hmmm, bagaimana ya,"'sahut Luri. Dia kemudian berdiri, menghampiri Nania yang sedang duduk di tepian ranjang. "Nania, mau sekecil apapun alasannya yang namanya kebohongan tetaplah kebohongan. Dan kita harus sesegera mungkin meminta maaf. Karena jika kita tidak mau melakukannya, maka nanti kita pasti akan kembali melakukan kebohongan lagi, lagi, dan lagi. Bukankah Ayah sudah pernah mengingatkan agar kita jangan mudah untuk berkata bohong? Sikap ini sangat tidak baik karena bisa membuat kita menjadi ketagihan. Sekarang sudah paham belum alasan kenapa Kakak ingin meminta maaf pada Kak Fedo, hm?"
"Ooh, jadi karena itu ya. Sekarang aku sudah paham, Kak," jawab Nania sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kakak tenang saja, masalah ini serahkan saja padaku. Selama ada aku, Ayah dan Ibu pasti akan baik-baik saja. Jangan khawatir, Kakak cukup fokus belajar supaya bisa secepatnya kembali ke Shanghai. Oke?" jawab Nania dengan mantap berjanji akan menjaga orangtuanya sebaik mungkin.
"Hmmmm, rasanya benar-benar sangat berat ingin meninggalkan kalian semua, Nania. Pasti rasanya seperti ada yang kurang setelah Kakak sampai di sana nanti," ucap Luri lirih. Dia menarik nafas sedalam mungkin lalu menghembuskannya dengan kuat.
Paham kalau kakaknya sedang bersedih, Nania dengan penuh perhatian memberinya pelukan. Dia dengan lembut mengelus punggung kakaknya yang terdengar sesak saat menarik nafasnya. Nania tahu, selama ini kan Kakaknya tak pernah jauh dari kedua orangtua mereka. Jadi wajar saja kalau perpisahan ini terasa begitu berat untuknya. Jujur, sebenarnya Nania juga merasakan hal yang sama. Tapi dia memilih untuk bersikap biasa saja supaya ingus yang ada di hidungnya tidak keluar karena sekarang Nania sangat ingin menangis. Adik manalah yang tidak merasa sedih saat akan di tinggal jauh oleh kakak yang selama ini selalu menyayanginya dengan sepenuh hati. Dan hal inilah yang sedang di rasakan oleh seorang Nania sekarang.
__ADS_1
"Kak Luri, tolong jangan sedih-sedih ya. Aku sudah berusaha sekuat mungkin agar ingusku tidak menetes keluar, tapi kalau kau terus memelukku seperti ini lama-lama bendungan di mataku pasti jebol. Tolong jangan sedih ya, Kak. Aku tidak mau di ejek buruk rupa oleh Kak Gleen karena menangis!" bujuk Nania sambil mengelap ujung matanya yang hampir meneteskan air mata.
Luri tertawa. Segera dia melepaskan pelukan Nania kemudian mengelus pipinya dengan lembut. Padahal Nania yang memeluknya, tapi malah dia yang di tuduh. Hmmm, hal-hal semacam inilah yang nanti akan sangat dirindukan oleh Luri. Kejahilan dan ketengilan Nania tidak akan lagi menghiasi hari-harinya setelah dia berada di London.
"Kak, sebaiknya sekarang kita segera bereskan kekacauan yang ada karena sebentar lagi Kak Lusi dan Kak Gleen akan datang kemari. Mereka bilang akan menginap sampai Kakak berangkat ke luar negeri," ucap Nania yang baru teringat kalau kakak ipar dan kakak sulungnya akan berkunjung ke rumah.
"Benarkah? Ya ampun jam berapa sekarang, Nania. Kakak dari tadi sibuk di dalam kamar sampai lupa menyiapkan makan malam!"'sahut Luri panik sendiri. Setelah itu dia melihat jam di dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul empat sore. " Ya ampun sudah jam empat. Nania, ayo cepat bantu Kakak membereskan barang-barang ini. Ayo cepat!"
Nania menaikan sebelah alisnya ke atas melihat kakaknya yang kepanikan sendiri hanya karena belum menyiapkan makan malam. Hmm, sepertinya kakaknya yang cantik ini sudah melupakan sesuatu yang sangat penting kalau di rumah ini ada banyak pelayan yang akan membantu menyiapkan makan malam untuk mereka semua.
"Nania, kenapa kau malah diam saja. Ayolah bantu Kakak kemasi barang ini!" ucap Luri sambil menatap adiknya yang hanya duduk diam sambil bersedekap tangan.
"Kak Luri, kau ini amnesia atau pura-pura lupa sih. Memangnya Kakak tidak ingat ya kalau di rumah ini ada banyak Bibi pelayan? Sekalipun Kakak bersemedi sehari semalam di dalam kamar, Ayah dan Ibu tidak akan mungkin kelaparan. Jadi tidak perlu sepanik ini hanya gara-gara Kakak yang belum menyiapkan makan malam. Ckck, Kakak benar-benar tidak memiliki urat orang kaya. Kasihan sekali hartanya Kak Fedo nanti jika punya istri yang apa-apa ingin dilakukan sendiri!" sahut Nania dengan pedasnya menyindir sikap sang kakak yang terlalu sederhana.
Luri kikuk. Dia lalu tersenyum kecut sambil menatap adiknya yang sedang menggelengkan kepala. Mungkin karena masih terbawa efek keadaan mereka saat masih tinggal di desa, seringkali Luri merasa panik sendiri setiap kali lupa melakukan tugasnya. Padahal di rumah ini ada banyak sekali pelayan yang di pekerjakan oleh kakak iparnya di mana mereka selalu siap memberikan bantuan kapanpun Luri membutuhkan. Jadi wajar saja kalau Nania sampai menyindirnya seperti ini. Luri hanya bisa pasrah, toh memang benar itu dirinya yang masih begitu sederhana meski sekarang kehidupan keluarganya sudah jauh berubah. Hmmm.
__ADS_1
***