
Luri bergantian menatap Jovan dan Galang yang tengah duduk di hadapannya. Dia di buat bingung oleh kelakuan dua bocah ini sejak bel istirahat berbunyi.
"Kalian ini kenapa?" tanya Luri tanpa melepaskan tatapan bingungnya.
"Kenapa bagaimana maksudnya?" sahut Galang balik bertanya.
"Sejak tadi kau dan Jovan terus berebut setiap kali aku ingin mengambil sesuatu. Ada apa? Kalian sedang bersaing ya?"
Mendengar pertanyaan Luri yang tepat sasaran membuat Galang dan Jovan sama-sama terbatuk pelan. Mereka kemudian saling memandang, memberi kode agar rahasia persaingan mereka jangan sampai bocor.
"Lang, Jo, kenapa tidak menjawab? Kalian sedang bersaing kan?" desak Luri yang merasa curiga dengan gelagat kedua temannya ini.
"Hmm Luri, memangnya kami ini harus bersaing demi memperebutkan apa? Pertanyaanmu aneh sekali," ujar Jovan santai. "Kami berebut seperti itu karena ingin saja. Memangnya tidak boleh ya?"
"Bukan tidak boleh, Jo. Aku hanya merasa aneh melihat tingkah kalian tadi. Makanya aku bertanya seperti itu," jawab Luri kemudian kembali memakan makan siangnya.
Mata Galang dan Jovan terus memperhatikan bagaimana cara Luri menikmati makanannya. Mereka menelan ludah. Bukan karena ingin mencicipi, melainkan karena terpesona melihat gaya makan Luri yang entah kenapa terlihat sangat elegan.
"Ckckck... Kalau kalian lapar beli saja makanan di kantin. Tidak perlulah memandangi kakakku sampai seperti itu!"
Nania yang baru saja mendapat perintah rahasia dari Fedo tidak sengaja menemukan kakaknya yang sedang di kelilingi oleh dua ekor macan ompong. Dari raut wajah kedua macan ompong ini Nania bisa melihat tingkat kemesuman yang ada. Rupanya kekhawatiran Fedo benar adanya kalau kedua siswa ini pasti ingin melakukan sesuatu yang buruk pada kakaknya.
"Nania, kau di sini?" tanya Luri yang kaget melihat kemunculan sang adik.
"Iyalah. Kakak kan bisa lihat sendiri kalau aku ada di sini sekarang," jawab Nania ketus. Dia kemudian duduk di samping kakaknya sambil menatap penuh curiga ke arah Galang dan Jovan. "Apa yang sedang kalian lihat tadi? Lapar ingin memakan makanan atau lapar karena ingin memakan kakakku?"
Galang dan Jovan gelagapan menghadapi cecaran Nania yang begitu menusuk. Andai boleh jujur, mereka akan menjawab kalau tadi itu mereka sangat ingin memakan bibirnya Luri. Tapi hal itu tidak mungkin mereka katakan di depan Nania. Bisa-bisa mereka terkena masalah jika gadis nakal ini sampai berteriak seperti yang terjadi di perpustakaan kemarin.
"Nania, jangan begitu," tegur Luri tak enak hati.
"Jangan bagaimana sih Kak. Aku melihat dengan bola mataku sendiri bagaimana kelakuan mereka yang begitu mesum memandangi Kakak. Bahkan air liur mereka sudah hampir menetes keluar!" sahut Nania dengan sengit.
"Astaga Nania, mana ada kami sampai seperti itu!" kilah Galang sambil mengelap bibirnya.
"Iya benar. Aku dan Galang hanya memandang kakakmu seperti biasa. Jangan mengada-ada lah!" timpal Jovan menambahkan.
"Lalu apa kalian pikir aku akan percaya? Heh, enak saja. Di mana-mana kaum jantan itu selalu pandai membual. Tapi sayangnya aku lebih percaya dengan apa yang aku saksikan sendiri daripada mendengar alasan kalian yang tidak masuk akal!"
__ADS_1
Luri, Galang, dan Jovan tercengang kaget mendengar kata-kata Nania yang begitu hebat. Mereka bertiga sangat penasaran darimana bocah ini menemukan kata mutiara sebagus itu.
"Nania, darimana kau belajar kalimat yang tadi?" tanya Luri ingin tahu.
"Kak Fedo yang mengajariku. Dia tadi mengirimkan bimbingan khusus yang bisa aku pakai untuk menyingkirkan para jantan yang berkeliaran di sekeliling Kakak. Kenapa memangnya? Apa aku terlihat keren saat mengucapkannya?" sahut Nania malah balik bertanya.
Jika Galang dan Jovan terlihat salah tingkah karena ucapan Nania, lain halnya dengan yang terjadi pada Luri. Dia menahan diri agar tidak tertawa karena lagi-lagi adiknya membocorkan rahasia penting tentang Fedo. Andai saja Fedo ada di sini, pria itu pasti akan sangat malu karena rencananya di bongkar dengan sangat telak oleh adiknya. Fedo benar-benar salah besar karena memilih Nania sebagai mata-mata.
"Luri, pria yang bernama Fedo ini apa yang tadi pagi mengantarkan kalian ke sekolah?" tanya Galang cemburu.
"Iya kau benar. Kenapa memangnya?" jawab Luri pura-pura tak menyadari kecemburuan di diri Galang.
"Tidak kenapa-napa kok. Hanya penasaran saja," sahut Galang dengan wajah masam.
"Cemburu... bilang bos!" celetuk Nania dengan entengnya.
Wajah Galang langsung memerah mendengar celetukan Nania. Setelah itu dia berpamitan pergi ke toilet untuk menutupi rasa malunya. Jovan yang melihat rivalnya pergi pun merasa memiliki banyak kesempatan untuk mendekati Luri. Namun kali ini dia tidak langsung mengincar targetnya, melainkan mengincar Nania. Jovan masih ingat dengan kejadian tadi pagi dimana Nania yang langsung luluh begitu mendapat hadiah makanan dari pria bernama Fedo itu.
"Nania, kau mau makan es krim tidak?" tanya Jovan mulai beraksi.
"Mau aku belikan tidak? Gratis."
Mata Nania langsung berbinar saat mendengar kata gratis. Dia kemudian menganggukkan kepala sambil tersenyum malu ke arah Jovan. Mendadak otak Nania lupa dengan tugasnya yang ingin melindungi sang kakak. Dia sudah tidak mempedulikan sogokan sekotak permen lolipop yang di berikan Fedo pagi tadi. Karena sekarang dia akan mendapatkan ganti yang jauh lebih manis dari permen pelangi itu.
Jovan yang merasa umpannya mengena pun segera mendatangi pemilik kantin untuk memesan tiga cup es krim. Dalam hatinya dia bersorak penuh kemenangan karena ternyata Nania begitu mudah di suap.
Hahaha, akhirnya kena juga kau, Nania. Ternyata membuatmu jinak tidak sesulit yang aku bayangkan, batin Jovan..
"Nania, apa Kak Fedo sudah sampai di Jepang?" tanya Luri setelah menghabiskan makan siangnya.
"Aku tidak tahu, Kak. Biar sajalah, Kak Fedo kan sudah besar. Lagipula pesawatnya tidak akan mungkin tersesat di langit," jawab Nania sambil mengetuk-ngetuk meja tak sabar menunggu es krim gratisnya datang.
Luri tak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar jawaban Nania. Dia kemudian memegang liontin yang menggantung di lehernya. Luri tersenyum kecil. Dia teringat kebersamaannya dengan Fedo semalam. Jatuh cinta, rasanya benar-benar sangat indah.
"Kalungnya bagus. Siapa yang memberikannya?" tanya Galang yang sudah kembali dari toilet.
"Oh, kalung ini pemberian dari Kak Fedo sebelum dia kembali ke Jepang," jawab Luri jujur.
__ADS_1
Hah? Fedo lagi? Jangan-jangan Luri dan si brengsek ini pacaran. Waahhh, sialan. Pantas saja dia menolakku. Tapi Luri bilang kan dia tidak ingin pacaran dulu, dia ingin fokus sekolah katanya. Ahh, kepalaku jadi pusing. Apa aku tanya padanya saja ya?" batin Galang.
"Em Luri, apa kau pacaran dengan Fedo? Maaf jika pertanyaanku membuatmu tersinggung," tanya Galang serius.
"Kak Galang, Kakakku itu tidak boleh pacaran dulu. Dia dan Kak Fedo tidak ada hubungan apa-apa, mereka hanya sebatas kakak adik saja," ucap Nania menggantikan sang kakak bicara.
Luri mengangguk membenarkan ucapan adiknya. Semalam dia memang mengaku kalau antara dia dan Fedo hanya sebatas adik dan kakak saja. Luri tidak berani jujur kalau sebenarnya dia dan Fedo telah menjalin hubungan teman tapi mesra.
"Benarkah? Huhft, syukurlah kalau begitu," ucap Galang sambil menarik nafas lega.
"Siapa yang adik kakak?" tanya Jovan yang datang sambil membawa tiga cup es krim. "Nah Nania, ini ea krimmu. Dan ini untukmu, Luri."
"Waahh, terima kasih banyak Kak Jovan," ucap Nania kegirangan.
"Aku mana?" tanya Galang sambil menyorongkan tangan ke arah Jovan.
"Beli sendiri!"'sahut Jovan dan Nania berbarengan.
Luri tertawa melihat Galang yang langsung merajuk gara-gara tidak mendapat jatah es krim. Tak tega, Luir akhirnya membagi es krim miliknya.
"Ih Kakak, kenapa musti di bagi dengan Kak Galang sih. Kan es krim ini Kak Jovan yang beli!" protes Nania tak terima ketika sang kakak membagi es krimnya menjadi dua bagian.
"Tidak apa-apa, Nania. Lagipula Kakak masih sangat kenyang setelah makan tadi. Oh iya Jo, terima kasih es krimnya ya!" ucap Luri sambil tersenyum manis.
Hati Jovan langsung meleleh melihat senyum Luri. Tapi dia berusaha tetap stay cool untuk mempertahankan harga dirinya. Jovan kemudian berbisik pada Galang kalau skor mereka saat ini satu kosong.
Cihh, baru juga membelikan es krim. Lihatlah nanti apa yang akan aku berikan pada Luri, batin Galang jengkel.
πππππππππππππππππ
β Gengss... PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama ChanelnyaβΆ Mak Rifani. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani
__ADS_1