
Sejak jam istirahat tadi Nania sama sekali tidak melihat keberadaan kakaknya. Hal itu membuatnya merasa khawatir kalau-kalau telah terjadi sesuatu yang buruk pada kakaknya itu. Dan begitu kelas berakhir, dengan cepat Nania berlari ke kelas sang kakak untuk memastikan kalau keadaannya baik-baik saja. Dia lalu menarik nafas lega saat mendapati kakaknya tengah berjalan keluar kelas bersama dengan Galang.
"Hufftt, aku pikir kakakku hilang," gumam Nania sambil bernafas terengah-engah.
"Ya ampun Nania, kau kenapa? Apa kau baru saja berlarian?" tanya Luri kaget melihat keadaan adiknya yang bermandikan keringat.
Nania mengangguk. Dia lalu melirik sekilas ke arah Galang, mencari tahu apakah ada sesuatu yang terjadi pada kakaknya atau tidak. Galang yang paham akan maksud lirikan mata Nania pun segera menggerakkan jari jempolnya dari balik tas. Dia lalu mengangguk samar.
Luri sebenarnya menyadari kode yang sedang dimainkan oleh Galang dan Nania. Akan tetapi dia berpura-pura tidak tahu karena tak ingin membuat keduanya merasa khawatir. Ya, setelah Luri bertemu dengan wanita itu dia berusaha untuk tetap bersikap normal seperti biasa meski hatinya terasa sedikit nyeri. Bohong besar kalau Luri tidak merasa kecewa. Akan tetapi dia mencoba untuk memahami karena bagaimanapun hal tersebut terjadi sebelum mereka saling mengenal.
"Minggir kalian. Menghalangi jalanku saja!" hardik Marisa sambil menabrakkan bahunya ke bahu Luri. Dia jengkel sekali melihat Galang yang terus menempel pada gadis desa ini.
"Hei, beraninya ya kau menyakiti kakakku!" teriak Nania tak terima. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Marisa yang sedang mencebikkan bibir. "Oh, kau lagi kau lagi. Apa injakan kakiku waktu itu masih belum membuatmu merasa jera? Iya?"
"Ciihh, jangan sok kuat kau anak kecil. Apa kau pikir aku akan merasa takut hanya karena kau menginjak kakiku? Hahaha, percaya diri sekali kau!" sahut Marisa sambil menatap sinis ke arah adik kelasnya yang tidak memiliki sopan santun ini.
Luri segera menahan lengan Nania yang ingin menyerang Marisa. Sambil menggelengkan kepala, Luri mencoba mengingtkan adiknya ini agar tidak membuat keributan di sekolah.
"Tahan emosimu, Nania. Marisa sama sekali tidak menyakiti Kakak, dia tidak sengaja melakukannya. Jangan marah, ya?" bujuk Luri dengan lembut.
"Apa Kak Luri pikir aku ini sudah buta sampai tidak bisa melihat yang tadi dilakukan oleh anak menor ini, hah? Jelas-jelas dia sangat sengaja menabrakkan tubuhnya ke bahu Kakak. Kenapa malah di bela sih!" protes Nania tak terima di halangi oleh sang kakak. "Kak Galang, kau tadi melihat juga kan saat Kak Luri di tabrak olehnya?"
Galang langsung mengangguk. Dia lalu menatap tak suka ke arah Marisa. Bukan sekali dua kali ini saja Marisa berusaha untuk mencelakai Luri, tapi sudah sangat sering. Hanya saja Luri yang terlalu sabar dengan tidak menghiraukan apa yang di perbuat oleh Marisa. Terkadang Galang sampai merasa gemas sendiri karena Luri yang tidak pernah mau balas melawan.
"Marisa, sebenarnya kau ini kenapa sih. Aku perhatikan kau selalu saja bersikap rasis pada Luri. Memangnya Luri pernah berbuat salah apa padamu?" cecar Galang dingin.
__ADS_1
Di cecar seperti itu oleh Galang membuat wajah Marisa sedikit memerah. Dia sangat ingin menjawab kalau Luri adalah penyebab mereka tidak bisa berdekatan. Atau katakan saja Marisa menganggap Luri sebagai saingan untuk mendapatkan cintanya Galang. Tapi semua itu tidak mungkin Marisa katakan karena pasti akan sangat memalukan. Dia tidak siap jika harus menjadi bahan cemoohan siswa-siswi yang ada di sekolah ini.
"Kak Galang, memangnya kau tidak sadar ya kalau anak menor ini berubah menjadi nenek sihir karena merasa cemburu pada kakakku?" tanya Nania sambil menyeringai jahat ke arah Marisa. "Waktu itu aku tidak sengaja mendengar Marisa bicara dengan temannya kalau dia itu menyukaimu. Masa begini saja tidak peka. Payah kau, Kak."
Ingin rasanya Marisa masuk ke dalam perut bumi saat Nania dengan kejam membongkar rahasia hati yang selama ini dia sembunyikan. Dan sialnya lagi hal tersebut di bongkar tepat di hadapan siswa yang dia suka. Bisa kalian bayangkan betapa malunya Marisa saat itu bukan? Dia lagi-lagi di buat kalah telak oleh gadis nakal ini.
"Ekhmm Marisa, tolong jangan di masukkan hati perkataan Nania barusan ya. Dia-dia hanya bercanda saja," ucap Luri tak enak hati. Dia lalu menggelengkan kepala ke arah Nania yang ingin menyahuti perkataannya.
Sudah cukup, Nania. Tolong jangan mencari masalah dengan Marisa. Nanti dia marah, batin Luri resah.
"Kau dan adikmu benar-benar orang yang berpendidikan rendah, Luri. Apa begini cara orangtua kalian mendidik anak? Sungguh memalukan!" ejek Marisa dengan kejam.
Mata Nania langsung berkilat marah begitu mendengar orangtuanya di ejek oleh Marisa. Tak terima dengan penghinaan tersebut, Nania dengan penuh emosi menjambak rambut Marisa hingga membuat kepalanya tertarik ke belakang.
"Awww, sakit, Nania. Lepaskan rambutku!" jerit Marisa terkejut dengan tindakan Nania.
Luri dan Galang yang melihat Nania kerasukan pun segera melerai. Mereka berdua cukup kesulitan saat ingin melepaskan tangan Nania dari kepala Marisa. Sementara si korban hanya bisa menjerit kesakitan saat jambakan tangan Nania kian menguat.
Jovan yang kebetulan lewat di depan kelasnya Luri kaget setengah mati melihat keributan yang sedang terjadi di sana. Dengan jurus kecepatan seribu bayangan dia segera melesat pergi untuk memberikan bantuan. Sungguh, Jovan sangat syok begitu melihat ekpresi di wajah Nania yang terlihat begitu beringas. Gadis ini sepertinya sedang di kuasai oleh emosi yang sangat besar.
"Jovan, apa-apaan kau ini hah! Cepat bantu kami melepaskan jambakan tangan Nania dari kepala Marisa. Kenapa kau malah melamun sih. Ayo cepat bantu!" teriak Galang jengkel.
"Oh, iya-iya maaf," sahut Jovan tergagap. Setelah itu dia segera memegang tangan Nania yang berada di atas kepala Marisa. "Sudah, Nania. Kalau kau tidak melepaskannya yang ada nanti kau yang kena masalah jika kepala sekolah sampai mengetahui perkelahian kalian."
"Biar saja, Kak. Aku bahkan tidak keberatan kalau pihak sekolah ingin mengeluarkan aku dari sini. Anak menor ini sudah sangat keterlaluan, Kak Jovan. Dia menghina Ayah dan Ibuku tadi!" sahut Nania masih dengan amarah yang menggebu-gebu.
__ADS_1
Dan benar saja, keributan yang terjadi antara Nania dan Marisa akhirnya sampai ke telinga kepala sekolah. Perkelahian tersebut baru bisa di hentikan ketika tiga orang guru datang untuk melerai.
"Apa-apaan kalian, hah. Ini sekolah, bukan ring tinju yang bisa kalian gunakan untuk baku hantam. Cepat hentikan atau kalian berdua akan langsung di skors!" omel salah satu guru.
Sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat panas, Marisa segera mengadukan penyerangan yang baru saja dilakukan oleh Nania. Dia berusaha untuk menjelekkan nama gadis desa tersebut agar para guru tidak memberikan sanksi skorsing kepadanya.
"Pak Guru, Nania yang memulainya lebih dulu. Dia tiba-tiba menyerangku karena aku tidak sengaja menabrak bahu kakaknya. Kepalaku sakit sekali sekarang."
"Bohong, Pak. Anak menor ini yang memprovokasi kemarahanku lebih dulu. Dia menghina kedua orangtuaku dengan menyebut kalau mereka tidak becus mendidik aku dan Kak Luri. Sebagai anak yang berbakti aku mana mungkin diam saja ketika orang yang sangat kami hormati di rendahkan seperti itu. Kalau Pak Guru ingin menghukumku ya sudah hukum saja. Aku tidak takut karena posisiku tidak salah!" sahut Nania membela diri.
Mengingat kasus telur yang terjadi beberapa waktu lalu, para guru membuat pertimbangan kalau Nania hanya akan bereaksi keras jika mendapat bully-an saja. Bukannya membenarkan tentang perkelahian yang baru saja terjadi, tapi para guru cukup tahu kalau siswa satu ini hanya melakukan pembelaan diri. Terlebih lagi orang yang barusan di ejek oleh Marisa adalah kedua orangtuanya. Jadi wajar saja kalau Nania mengamuk sampai seperti ini.
"Sekarang kalian berdua ikut bapak ke ruangan kepala sekolah. Biar nanti beliau saja yang memutuskan apakah kalian akan mendapat hukuman atau tidak!"
"Tapi Pak, saya ....
"Tidak ada tapi-tapian, Marisa. Lagipula kau ini ya, Nania itu adalah adik kelasmu. Kenapa kau malah melakukan bully yang jelas-jelas sangat di larang di sekolah kita. Harusnya kau itu bisa menjadi contoh yang baik sebagai kakak kelas bagi para siswa-siswi yang lain. Bukan malah sebaliknya!"
Nania tersenyum dengan sangat puas saat Marisa mendapat omelan dari para guru. Dia lalu meminta sang kakak untuk pulang lebih dulu karena setelah urusannya selesai Nania akan langsung pergi ke tempat lesnya.
"Luri, kau sebaiknya pulang saja. Biar aku yang akan menunggu Nania sampai selesai," ucap Jovan.
"Tidak usah, Jo. Nania di hukum karena ingin melindungiku. Jadi biar aku saja yang menunggunya di sini," sahut Luri lemas memikirkan nasib sang adik.
"Sudah, jangan bertengkar. Lebih baik kita menunggu Nania bersama-sama saja. Begini lebih baik bukan?" ucap Galang menengahi.
__ADS_1
Jovan dan Luri mengangguk. Mereka bertiga kemudian berjalan beriringan menuju ruang kepala sekolah dimana Nania tengah di sidang. Sungguh, keagresifan Nania membuat mereka sampai tak bisa berkata-kata. Menakjubkan, juga mengerikan.
*****