
Setelah Fedo dan keluarganya pergi menuju bandara, Luri dan Nania pun bergegas berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari terakhir Luri hadir di sana karena dia datang hanya untuk mengambil berkas-berkas yang akan di bawa ke London. Sekaligus ingin berpamitan pada semua guru dan juga teman-temannya yang lain.
"Kak Luri, apa aku perlu melakukan operasi plastik agar bisa memiliki wajah cantik seperti Kak Kayo?" tanya Nania yang masih belum bisa move-on dari pertemuannya dengan Kayo, wanita cantik yang begitu Nania idolakan.
"Astaga, Nania. Kau ini bicara apa sih," jawab Luri kaget. "Dengar, Nania. Tuhan itu sudah menciptakan makhluknya sesuai dengan porsi masing-masing. Dosa besar kalau kau sampai mempunyai niatan untuk merubah pemberian dari Tuhan hanya demi terlihat cantik. Tahu tidak?"
"Benarkah? Tapi kenapa banyak orang yang melakukan hal serupa demi untuk mempercantik diri?"
Nania menatap lekat wajah sang kakak ketika mendengar helaan nafas panjang dari mulutnya. Nania sedikit kurang memahami kenapa kakaknya tidak mengizinkan dia untuk merubah wajah agar bisa terlihat cantik seperti Kayo.
"Nania, kita harusnya bersyukur karena terlahir dengan kondisi fisik yang sempurna. Jangan hanya karena melihat orang lain bisa dengan mudah merubah penampilan lantas kau ingin mengikuti jejak mereka. Itu tidak baik, sayang. Kau sama saja tidak menghargai pemberian dari Tuhan. Dan Tuhan sangatlah membenci makhluknya yang tidak mau mensyukuri apa yang sudah Dia berikan. Dosa besar itu!" ucap Luri dengan sabar memberi pengertian pada adiknya. "Mungkin untuk orang-orang yang kau maksud, mereka mempunyai alasan tersendiri kenapa melakukan hal itu. Akan tetapi Kakak tegaskan kalau itu bukanlah ranah kita untuk ikut campur. Biarkan saja mereka mau berbuat apa, yang terpenting kita jangan sampai ikut-ikutan. Paham?"
"Tapi, Kak. Aku ingin terlihat cantik seperti adiknya Kak Fedo. Dia sangat sempurna, dan aku ingin sekali seperti dia," jawab Nania kembali menegaskan kalau dia begitu terobsesi oleh kecantikan seorang Kayo Eiji. Kecantikan wanita itu seperti membius akal sehatnya.
"Hmm, kau ini ya. Kenapa bebal sekali sih, hm?" ledek Luri sembari menjepit hidung Nania. Setelah itu dia mengusap puncak kepala adiknya penuh sayang. "Nania, kau tidak akan pernah bisa menyerupai Kayo karena kau tidak mewarisi gen dari tubuh Paman Mattheo dan Bibi Abigail. Akan tetapi kau juga tidak kalah cantik darinya karena di tubuhmu mengalir kecantikan yang berasal dari Ibu. Kau itu sebenarnya sangat cantik, sayang. Hanya belum tahu cara untuk merias diri dengan benar. Nanti setelah kau besar Kakak yakin kau pasti akan sama cantiknya dengan Kayo."
"Kenapa bisa begitu, Kak? Bukankah tadi Kakak yang bilang ya kalau aku ini tidak mewarisi gen dari ayah dan ibunya Kayo? Kenapa kami bisa sama cantiknya?" tanya Nania semakin tidak paham dengan apa yang di jelaskan oleh kakaknya.
__ADS_1
"Ekhmm, maaf menyela Nona Luri, Nona Nania!" sahut pak sopir ikut angkat bicara karena gemas mendengar pertanyaan nona kecilnya.
"Iya tidak apa-apa, Pak. Lanjutkan saja," sahut Luri dengan sopan mempersilahkan.
"Begini, Nona Nania. Pada dasarnya Tuhan menciptakan para wanita itu sama cantiknya. Hanya saja kecantikan yang paling sempurna itu berasal dari dalam hati, bukan dari wajahnya. Percuma memiliki rupa yang elok kalau hatinya busuk, karena itu hanya akan membawa kesengsaraan dalam hidup," ucap Pak sopir menjelaskan dengan bijak. "Nona Nania, kau sudah sangat cantik dengan penampilan yang sekarang. Jadi kau tidak perlu lagi melakukan perubahan hanya untuk menyamai kecantikan orang lain yang jelas-jelas bukan milikmu. Karena jatuhnya itu adalah penyakit hati di mana Nona tidak bisa mensyukuri apa yang sudah ada di tubuh Nona. Cantik itu tidak harus dari wajah, tapi bisa dari sikap dan juga prilaku Nona sehari-hari. Saran saya sebaiknya Nona banyak-banyak memperbaiki diri agar kecantikan itu terlahir alami dari dalam diri Nona. Benar tidak, Nona Luri?"
"Benar sekali, Pak. Aku sangat setuju," jawab Luri sambil tersenyum gembira. Dia selalu suka jika sopirnya sudah angkat bicara. Karena cara penyampaiannya sangat bijak dan mudah di mengerti.
Nania terdiam lama setelah mendengar penjelasan dari sopirnya. Kini dia mulai paham kalau kecantikan wanita itu bukan hanya berasal dari wajah saja, melainkan dari hati juga. Nania kemudian terpikir untuk sering-sering berbuat baik agar kecantikan yang ada di dirinya bisa menguar secepatnya. Dengan begitu kan auranya jadi terlihat mirip seperti Kayo. Hehehe.
Apa mungkin di Jepang sana Kak Kayo adalah wanita yang sangat sopan dan baik hati ya? Makanya kecantikan yang dia miliki bisa begitu bercahaya. Haihh, sayang sekali aku hanya bisa mengagumi. Rasanya pasti akan sangat bahagia jika seandainya aku bisa berpacaran dengan Kak Kayo. Nasib-nasib, batin Nania.
"Sudah, Kak. Dan sekarang aku akan mulai memperbaiki diri agar kecantikanku tidak tersembunyi lagi di dalam hati. Aku juga akan banyak-banyak berdoa pada Tuhan agar nanti wajahku bisa menyerupai Kayo," jawab Nania sambil tersenyum lebar.
Mendengar jawaban adiknya yang masih tertuju pada Kayo membuat Luri tak kuasa untuk tidak tertawa. Rupanya pemikiran adiknya ini masih begitu jauh dari yang dia harapkan karena Nania masih belum bisa menyikapi penjelasan ini dengan benar. Tapi ya sudahlah, setidaknya Nania sudah tidak berkeinginan untuk melakukan operasi plastik lagi agar bisa serupa dengan Kayo. Hmmm, Nania ini ada-ada saja. Luri kan jadi gemas sendiri di buatnya.
"Oh ya, Kak Luri. Nanti kalau urusan Kakak di sekolah sudah beres, Kakak langsung pulang saja ke rumah. Tidak usah menungguku karena aku ada latihan bela diri sore ini," ucap Nania saat terkenang kalau hari ini ada kegiatan penting di kelompoknya.
__ADS_1
"Tidak mau, Kakak mau menunggumu sampai selesai. Sekalian Kakak ingin melihatmu berlatih ilmu bela diri. Bolehkan?" tanya Luri. Kebersamaan mereka sudah tidak banyak lagi, jadi Luri memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama adiknya sampai puas.
"Em, bagaimana ya? Sore ini kelompok kami kedatangan kelompok bela diri dari sekolah lain, Kak. Aku takut Kakak pingsan jika melihatku babak belur karena beradu kekuatan dengan mereka," jawab Nania sedikit ragu untuk membiarkan kakaknya ikut pergi ke tempat dia berlatih.
"Ya ampun, memangnya kalian mau bertarung sampai seperti apa sih? Tidak mungkin juga kan kalian saling melukai tanpa ada wasit yang mengawasi?"
Luri tertawa melihat kekhawatiran di wajah Nania. Sungguh menggemaskan. Sayangnya Jovan tidak ada di sini. Kalau ada, Luri berani jamin kalau temannya itu pasti akan semakin terpesona pada adiknya.
"Ini semacam kompetisi kecil-kecilan untuk melatih kemampuan diri sebelum nanti kami akan di ikut-sertakan pada kompetisi untuk mewakili sekolah. Tapi kalau Kak Luri merasa yakin ingin tetap melihatku berlatih, ya sudah datang saja. Jangan lupa bawakan minuman yang banyak ya Kak karena nanti aku pasti akan mengalami dehidrasi berat. Kakak belum tahu kan kalau aku adalah kandidat terkuat yang sudah di pilih oleh guru kami?" tanya Nania tanpa ragu membanggakan diri di hadapan sang kakak dan juga sopirnya.
"Benarkah?" jawab Luri kaget. Dia sampai ternganga saking kagetnya begitu tahu kalau Nania ternyata sudah di pilih untuk mewakili sekolah mereka dari kelas seni bela diri. Ini benar-benar kabar yang sangat menggembirakan untuknya.
"Tentu saja benar. Akan tetapi jangan di bocorkan dulu ya, Kak. Karena rencananya aku ingin memberitahu Ayah dan Ibu nanti setelah tanggal kompetisi di tentukan," ucap Nania. Namun sedetik kemudian wajah Nania sudah di hiasi awan mendung. Dia lalu menatap kakaknya dalam diam. "Tapi sayang, sepertinya Kak Luri tidak akan bisa melihatku bertanding. Hmmm."
Paham kalau adiknya sedang kecewa, dengan penuh sayang Luri memberinya sebuah pelukan. Sebenarnya diam-diam Luri juga merasakan hal yang sama, tapi apa mau di kata. Demi sebuah kesuksesan maka Luri harus rela kehilangan momet-momen indah bersama adik dan juga keluarganya. Hanya untuk sementara, begitu pikirnya.
"Jangan khawatir. Nanti kan Kakak masih bisa menonton lewat sambungan video call, Nania. Kau tinggal kabari Kakak kapan kompetisinya akan di gelar supaya Kakak bisa mengatur waktu untuk menontonmu. Oke?" hibur Luri sambil menarik nafas berat. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan.
__ADS_1
Nania mengangguk. Tak ada lagi pembicaraan di dalam mobil sampai akhirnya Luri dan Nania sampai di sekolah. Setelah berpamitan pada sopir, mereka bergegas masuk menuju kelas sambil bergandengan tangan. Mencoba menikmati waktu yang tersisa dengan sebaik mungkin.
*****