
"Yeyyy, kita lolos Luri!" teriak Galang heboh setelah membaca pengumuman kalau dia dan Luri berhasil memenangkan kompetisi yang di gelar tiga hari lalu.
Tak ada sahutan dari Luri ketika Galang berteriak seperti itu. Dia sungguh tidak menyangka kalau nasib baik ini akan benar-benar datang menghampiri. Luri yang awalnya sedikit tidak yakin, menjadi sangat syok begitu membaca pengumuman yang mana namanya berada di urutan pertama dengan hasil nilai tertinggi.
"Luri, kita berdua lolos ke tahap berikutnya. Semoga saja nanti kita berdua bisa kembali memenangkan kompetisi ini agar kita bisa sama-sama kuliah di luar negeri. Ya Tuhan, aku bahagia sekali!" pekik Galang kegirangan sambil terus mengusap wajahnya.
Sebenarnya yang membuat Galang menjadi sangat bahagia bukanlah pengumuman itu. Melainkan karena jalannya untuk terus berdekatan dengan Luri semakin terbuka lebar. Galang dan Luri rencananya akan mengambil jurusan yang sama, yaitu ilmu kedokteran. Jadi bisa di pastikan kalau mereka akan selalu bersama ketika berada di kampus jika di tahap terakhir kompetisi nanti mereka bisa menang kembali.
"Lang, ini bukan mimpi kan? Kita ... kita benar-benar masuk ke tiga besar?" tanya Luri yang masih belum percaya. Kabar ini terlalu mengejutkan untuknya setelah tidak masuk sekolah selama dua hari.
"Bukan, Luri. Tiga orang dari kita berlima benar-benar memenangkan kompetisi ini. Dan seminggu lagi kompetisi terakhir akan kembali di laksanakan. Semoga saja kita berdua yang memenangkan tiket beasiswa itu ya," jawab Galang dengan mata berbinar.
Dari kejauhan, Jovan dan Nania yang tengah memperhatikan uforia Luri dan Galang nampak mengerutkan kening. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Yang jelas, baik Jovan maupun Nania mereka berdua terlihat seperti orang yang sedang mengintai mangsa.
"Kak Jovan, menurutmu jika mereka berdua benar-benar memenangkan kompetisi itu... aman tidak ya kalau Kak Luri kuliah di universitas yang sama dengan Kak Galang? Aku khawatir kalau dia akan memakan kakakku," tanya Nania cemas.
"Hih, bicara apa kau Nania. Memangnya Luri itu makanan yang bisa seenaknya di nikmati apa. Yang benar saja kau!" omel Jovan sambil menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan cara berpikir gadis di sebelahnya.
"We, kenapa kau malah memarahiku si Kak. Aku bertanya seperti itu karena sedang mengkhawatirkan masa depan kakakku. Lagipula kau dan Kak Galang kan sama-sama seorang pria, pikiran kalian pasti satu frekuensi!"
Jovan memicingkan mata ke arah Nania setelah mendengar ucapannya. Ingin rasanya dia melakban mulut gadis ini agar tidak sembarangan bicara. Malas meladeni gerutuan-gerutuan Nania yang semakin tidak jelas, Jovan memutuskan untuk menghampiri Galang dan Luri. Biar bagaimanapun Jovan ingin bersikap gentle dengan memberi ucapan selamat pada rivalnya itu. Sekalian mencari tahu dimana mereka akan kuliah nanti.
"Hai Lang, Luri, selamat ya atas kemenangan kalian!"
Luri dan Galang yang sedang asik bercengkrama langsung menoleh ke arah Jovan begitu mendengar suaranya. Luri bahkan tidak segan untuk menyambut uluran tangan Jovan yang ingin memberi ucapan selamat.
"Terima kasih banyak, Jo. Tapi ini semua belum berakhir karena masih ada satu langkah lagi yang harus kami lewati. Do'akan ya semoga aku dan Galang bisa memenangkan kompetisi pekan depan," jawab Luri sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Untuk beberapa saat Galang dan Jovan diam mematung seperti orang bodoh saat Luri memperlihatkan lesung pipinya. Pikiran mereka seakan terbius oleh kecantikan si gadis desa yang entah mengapa selalu membuat mereka terpana dan terpesona.
"Hei Jo, Galang, kalian kenapa diam begini?" cecar Luri heran melihat kelakuan dua temannya.
"Mereka seperti itu karena hilang kewarasan setelah melihat senyuman Kakak tadi," celetuk Nania yang baru saja datang bergabung. Dia lalu menyeringai sambil melipat tangan di dada. "Ckckck, aku tahu kakakku ini cantik dan mempesona. Tapi tidak begitu juga cara kalian memandanginya. Lihat, seragam kalian sudah basah terkena air liur. Iyuuhhhh!"
Di antara Galang dan Jovan, Galang lah yang tersadar lebih dulu. Dia dengan cepat memeriksa pakaiannya apakah benar telah basah terkena air liur atau tidak. Akan tetapi sebelum sempat Galang menyadari apa yang terjadi, terdengar gelak tawa Nania yang begitu puas.
"Hahahaa, lihatlah Kak Luri. Kak Galang begitu bodoh sampai tidak menyadari kalau aku hanya sedang main-main. Padahal ini bukan yang pertama aku mengerjainya, tapi masih saja dia kecolongan. Benar-benar menggelikan. Hahahaha!" ledek Nania.
"Jadi aku hanya di kerjai?" tanya Galang tak percaya. Seketika dia langsung di landa badai kekesalan terhadap gadis berseragam putih biru yang masih asik menertawakannya.
Nania, kau ini benar-benar ya. Awas saja, begitu ada celah aku pasti akan langsung membalas perbuatanmu. Dasar gadis nakal, geram Galang membatin.
"Nania, ayo minta maaf pada mereka. Kali ini leluconmu sedikit keterlaluan. Ayo cepat minta maaf!" omel Luri merasa tak enak hati melihat wajah Galang yang begitu masam.
"Ishhh tidak mau. Aku kan tidak melakukan dosa besar, jadi untuk apa Kakak memintaku minta maaf pada Kak Galang dan Kak Jovan? Tadi itu kan hanya candaan saja, jangan terlalu serius lah Kak!" tolak Nania sambil mengerucutkan bibir.
"Sudahlah Luri, tidak usah memaksa Nania untuk minta maaf. Lagipula aku dan Galang baik-baik saja kok. Hanya sedikit kaget saat Nania bilang kalau air liur kami menetes di seragam," sela Jovan yang entah kenapa malah membela Nania.
Nania menyeringai. Dia lalu merangkul lengan Jovan sambil tersenyum evil. Nania tidak menyangka kalau pria ini akan membelanya alih-alih memarahinya. Sangat mengejutkan.
"Jo, kau tidak sedang sakit kan? Tumben sekali kau membela Nania. Ada apa ini?" tanya Galang curiga.
"Aku sangat sehat kalau kau merasa cemas, Lang. Dan jawaban dari pertanyaan kenapa aku membela Nania adalah karena dia sudah kuanggap seperti adik sendiri. Dan menurutku candaannya tadi sedikit menghibur walaupun nafasku sendiri hampir terhenti karena menahan malu. Iya kan Nania?" jawab Jovan dengan senyum penuh kemenangan.
"Tentu saja iya, Kak Jovan. Lihatlah Kak Galang, Kak Jovan begitu baik padaku. Kakak ipar seperti dialah yang aku cari-cari selama ini. Baik, pintar, kaya, dan juga jago main basket. Tidak sepertimu yang mudah sekali marah. Huh!" jawab Nania penuh bangga.
__ADS_1
"Nania, jangan begitu pada Galang. Ayah dan Ibu tidak pernah mengajari kita untuk membanding-bandingkan seseorang kan? Jangan di ulangi!" ucap Luri langsung menegur sang adik. Dia sangat khawatir kalau Galang akan merasa tersinggung gara-gara ucapan Nania barusan.
"Iya-iya Kak, maaf," sahut Nania merasa bersalah. Dia lalu melepaskan tangannya dari lengan Jovan kemudian berpindah ke samping Galang. "Kak Galang, aku minta maaf ya kalau kata-kataku barusan ada yang menyinggungmu. Dan karena aku sudah meminta maaf, maka kau harus mau memaafkan juga supaya Kak Luri berhenti memelototkan mata padaku. Oke?"
Luri hanya bisa menarik nafas panjang-panjang ketika melihat cara Nania meminta maaf pada Galang. Adiknya ini benar-benar, masa dia meminta untuk di maafkan dengan cara memaksa. Luri jadi bingung sendiri bagaimana cara membenarkan pola pikir adiknya yang terlalu ekstrem. Kepalanya sampai berdenyut nyeri.
"Ekhmm, karena sekarang adalah hari yang membahagiakan, bagaimana kalau aku mentraktir kalian semua makan di kantin. Ya anggap saja ini sebagai syukuran kecil-kecilan atas kemenangan yang berhasil kami raih," ucap Galang memecah kecanggungan.
"Kalau aku sih iyes," sahut Nania dengan cepat.
"Aku apalagi. Sangat iyes jika menyangkut makanan gratis!" timpal Jovan tanpa malu-malu.
"Lalu kau Luri, kau mau ikut kami makan di kantin tidak?" tanya Galang sembari menatap penuh cinta pada si gadis desa yang hanya diam mendengarkan.
"Em, aku ikut apa yang kalian lakukan saja. Tapi sepertinya aku tidak bisa memesan banyak karena tadi pagi aku sudah menyiapkan bekal makan siang," jawab Luri. Dia memang terbiasa membawa bekal dari rumah.
Nania yang mendengar sang kakak tetap ingin menikmati bekal yang di bawa dari rumah pun segera memutar otak. Dia lalu menjentikkan jari begitu teringat dengan salah satu temannya yang tak pernah merasa kenyang.
"Kak Luri, karena ajakan Kak Galang adalah ajakan yang sangat mulia, sebaiknya Kakak hari ini makan makanan kantin saja. Jangan khawatir, untuk masalah bekal itu Kakak tidak perlu repot-repot memakannya. Aku mempunyai kenalan tong sampah yang mampu menampung porsi makan kita berdua. Tunggu sebentar ya, aku akan memanggilnya datang kemari!"
Setelah berkata seperti itu Nania langsung berteriak memanggil salah satu temannya yang berada tak jauh dari sana. Dia lalu meminta temannya itu untuk memanggilkan si tong sampah yang akan dia beri tugas untuk menghabiskan bekal makan siang miliknya dan juga milik kakaknya.
"Sekarang sudah beres. Ayo kita pergi ke kantin, cacing di dalam perutku sudah mulai tawuran karena tidak sabar ingin segera menikmati makanan gratis. Ayo Kak!" ajak Nania kemudian pergi lebih dulu meninggalkan ketiga orang yang sedang berdiri dengan raut wajah keheranan.
"Luri, terkadang kepolosan Nania membuat otakku tidak bisa bekerja dengan benar. Dia mampu menyelesaikan masalah hanya dalam waktu singkat yang bahkan aku sendiri tidak terpikir ke arah sana. Nania sungguh aneh bin ajaib," ucap Galang sambil berjalan menuju kantin.
"Em, ya begitulah Nania, Lang. Dia memang mempunyai pemikiran yang begitu simpel dan sederhana. Aku harap kalian berdua bisa memahaminya ya," sahut Luri.
__ADS_1
Galang dan Jovan saling melirik. Andai bisa berkata, mereka sungguh tidak mau memahami cara berpikir Nania yang luar biasa itu. Karena apa? Karena itu mustahil. Kalian pasti tahu sendirilah seperti apa watak gadis bar-bar itu. Sedetik bersikap baik, sedetik kemudian bersikap garang seperti dewi perang. Tapi itulah Nania, si gadis desa cilik yang memiliki pesona tersendiri.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜