PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Berharap Mau Mengakui


__ADS_3

Kalau di Shanghai Fedo tengah berbunga-bunga karena semua keluarga mendukung hubungannya dengan Luri, di Jepang ada Kanita yang tengah merenung meratapi nasib. Kebahagiaan yang selama ini selalu membayangi kepalanya kini telah hancur. Ya, hancur berantakan setelah kehamilan yang datang tanpa dia duga-duga. Kanita merasa kalau hidup ini sangat gelap, apalagi setelah dia tidak sengaja mendengar perkataan ayahnya malam itu. Sangat sakit, sakit sampai-sampai membuatnya ingin menyerah.


"Ayah dan Ibu telah mengetahui bayi sialan ini. Rasanya mustahil untuk aku bisa menyingkirkannya," gumam Kanita sembari menatap perutnya yang masih datar.


Andai waktu bisa di putar, ingin rasanya Kanita kembali pada malam di mana dia bertemu dengan Ando. Meski sangat sakit, Kanita pasti akan lebih memilih untuk berdiam diri di dalam hotel ketimbang harus pergi ke club malam. Niat hati hanya ingin menghibur kesedihan diri, malah berakhir dengan petaka besar seperti ini. Mungkin untuk sebagian orang hamil di luar nikah bukanlah sesuatu yang harus di repotkan. Akan tetapi pandangan berbeda akan muncul jika di alami oleh para wanita yang berasal dari kalangan atas seperti Kanita. Karena di mata orang-orang di luaran sana, perbuatan ini akan sangat mencoreng harkat dan martabat seluruh keluarga besar. Dan inilah yang tengah di tanggung oleh Kanita dan keluarganya saat ini. Akibat kebodohannya sendiri, sekarang nama baik keluarga Kanita sedang di pertaruhkan. Pilihannya hanya ada dua, menikah atau menghilangkan bayi ini sebelum ada banyak orang yang mengetahuinya.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Kanita lirih.


Tepat ketika Kanita sedang meratapi nasib, pintu kamarnya terbuka. Lalu masuklah sang ibu yang datang sambil membawa sesuatu di tangannya.


"Kanita, kau sedang apa berdiri di situ?" tanya Mili sambil menatap iba ke arah putrinya yang tengah melamun di dekat jendela. Segera dia berjalan menghampiri kemudian menyodorkan susu yang dia bawa. "Minumlah. Walaupun pikiranmu sedang sangat tertekan, tapi kau juga harus memikirkan kesehatan janin di perutmu. Ya?"


"Jangan menggangguku, Bu. Biar saja. Aku lebih memilih bayi sialan ini pergi daripada harus melihatnya lahir ke dunia. Aku tidak mau!" sahut Kanita acuh akan apa yang dilakukan sang ibu.

__ADS_1


"Kau tidak boleh begitu, Kanita. Bayi itu adalah anakmu, dia ada karena perbuatanmu sendiri. Kau tidak boleh egois."


Walaupun sebenarnya perasaan Mili sangat hancur melihat masa depan putrinya terancam suram, tapi sebagai seorang ibu Mili tetap berusaha untuk bersikap tegar. Suaminya drop, sedangkan putrinya sudah hampir depresi. Kalau bukan Mili yang menguatkan keduanya, maka sudah bisa di pastikan kalau keluarganya pasti akan hancur. Dan Mili tidak mau itu. Jadi sebisa mungkin Mili menjaga anak dan juga suaminya agar tetap bisa berpikir jernih karena tidak menutup kemungkinan kalau kejadian ini akan membuat keduanya nekad melakukan sesuatu yang salah.


"Aku bilang jangan ganggu aku, Ibu. Kau dengar tidak! Hah!" teriak Kanita sambil menatap nyalang ke arah sang ibu. Dia dengan kasar menepis susu yang ada di tangan ibunya kemudian menangis. "Hiksss, Ibu. Aku tidak mau bayi ini lahir, aku tidak mau mempunyai anak. Aku tidak mau, Ibu. Tidak mau!"


Untuk beberapa saat Mili cukup kaget setelah di teriaki oleh putrinya. Tapi sedetik kemudian dia langsung tersadar begitu mendengar suara isak tangis Kanita yang begitu memilukan. Dengan hati teriris-iris Mili memberikan pelukan kemudian mengelus rambut putrinya penuh sayang.


Ya Tuhan, cobaan apa yang sebenarnya sedang kau berikan pada keluargaku. Kenapa semuanya jadi tidak terkendali begini? Dominic pergi entah kemana, sementara Kanita, dia tidak mau menerima kehadiran anaknya. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Tolong bantu aku, aku mohon, batin Mili sedih.


"Sayang, Fedo dan keluarganya sudah tahu kalau kau itu hamil. Mereka mana mungkin mau menerimamu meski bayi ini di buang sekalipun. Tolong kau jangan meminta sesuatu yang tidak bisa Ibu lakukan ya. Le-lebih baik kau katakan saja pada Ibu siapa ayah dari bayi itu. Ibu pasti akan langsung mendatanginya lalu meminta dia untuk menikahimu. Dengan begitu kau dan bayimu tidak akan menjadi bahan cemoohan orang-orang, Kanita. Mau ya?" sahut Mili berusaha membujuk agar putrinya bersedia buka mulut.


"Tidak!" seru Kanita dengan lantang. "Sampai aku matipun aku tidak akan mau mengatakan siapa ayah dari bayi ini. Tidak akan!"

__ADS_1


"Tapi kenapa? Kalau kau masih keras kepala begini maka kau harus siap masa depanmu hancur, Kanita!" tanya Mili yang lama-lama mulai terpancing emosi melihat kekeras-kepalaan di diri putrinya. Padahal jika putrinya mau mengatakan siapa yang telah membuatnya hamil, maka semua masalah ini akan segera terselesaikan.


Kanita dengan kuat menggigit lidahnya saat hampir keceplosan menyebut nama Ando. Ini bahaya, benar-benar sangat berbahaya jika nama pria brengsek itu sampai di dengar oleh ibunya. Kanita tidak mau dinikahkan dengan pria yang tidak mencintai dan juga tidak dia cintai. Kanita hanya mau Fedo, dia hanya ingin Casanova itu yang menjadi suaminya. Bukan orang lain.


"Kanita, Ibu tidak tahu kenapa kau begitu sulit hanya untuk memberitahu siapa ayah dari bayi yang sedang kau kandung. Kau harusnya sadar kalau apa yang sudah kau lakukan sudah sangat mencoreng nama baik keluarga kita. Apa kau sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan Ayah dan Ibu nanti jika orang-orang sampai tahu kau hamil tanpa ada pria yang menjadi ayah dari bayimu itu? Kau kejam, Kanita. Ibu akan sangat kecewa padamu kalau kau lebih memilih untuk tutup mulut daripada mengakui kebenarannya!" ucap Mili kemudian melepaskan pelukan. "Kanita, Ibu akan memberimu waktu selama dua hari untuk berpikir. Kalau kau masih tidak mau menjawab ketika Ibu menanyakan siapa ayah dari bayimu itu, maka bersiaplah Ibu nikahkan dengan siapapun orangnya yang bersedia menjadi suamimu. Pikirkan itu baik-baik, Kanita!"


Setelah berkata seperti itu Mili langsung keluar dari kamar putrinya. Dia lalu memanggil beberapa penjaga untuk berjaga di depan pintu kamar Kanita. Jaga-jaga saja siapa tahu putrinya itu berniat untuk kabur. Final, ini adalah keputusan tergila yang pernah Mili buat. Dia terpaksa mengambil langkah seperti ini dengan harapan kalau Kanita akan bersedia untuk bicara. Semoga saja.


Sementara itu di dalam kamar, tubuh Kanita langsung luruh ke lantai begitu mendengar ancaman yang dilontarkan oleh ibunya. Dia kemudian berteriak kuat sambil terisak-isak. Kanita bingung, dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Kanita tidak mungkin mengakui Ando sebagai ayah dari bayi yang di kandungnya. Dia tidak sudi. Tapi begitu terpikir kalau dia akan dinikahkan paksa dengan sembarang orang, membuat Kanita menjadi sangat gelisah. Hati yang tadinya sudah hancur berkeping-keping, kini semakin hancur hingga tak bersisa. Kanita terjepit, dia dilema dalam suatu keputusan yang dua-duanya membuat Kanita menjadi sesak nafas.


"Bu, kenapa kau bisa setega ini padaku, Bu? Aku tidak mau menikah dengan Ando, tapi aku jauh lebih tidak mau lagi menikah dengan orang yang Ibu pilihkan. Aku harus bagaimana sekarang? Bagaimana!?" teriak Kanita dalam kesedihannya.


Entah karena kelelahan atau karena bau anyir dari susu yang tumpah di lantai, perut Kanita tiba-tiba bergejolak. Segera dia berdiri kemudian berlari masuk ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang tidak terisi makanan apapun sejak pagi. Dalam kondisi tubuh yang begitu lemas setelah muntah, Kanita kembali terisak lirih. Dia merasa sangat sedih karena masa kehamilan ini harus dia lewati tanpa ada seorang suami yang mendampingi. Benar-benar sangat menyedihkan.

__ADS_1


*****


__ADS_2