PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Takdir Cinta Yang Manis


__ADS_3

Dengan langkah lebar Fedo berjalan masuk ke dalam rumahnya. Dia yang harusnya terlihat lelah setelah seharian bekerja malah menunjukkan ekpresi wajah yang begitu bahagia. Sepertinya mantan Casanova ini baru saja mendapat kabar yang sangat baik. Sepertinya.


"Hei hei hei, keponakan Paman yang paling tampan. Kapan kau datang, hem?" tanya Fedo sambil menangkap keponakannya, Russell Eiji Wang, yang sedang sibuk berlari kesana kemari. Dia dengan gemas menciumi pipi gembulnya hingga membuat keponakannya itu menangis histeris.


"Ck, jangan kasar-kasar begitu, Kak. Kasihan Russell, pipinya pasti sakit!" tegur Kayo.


"Sakit apa. Baru juga aku menciumnya beberapa kali," sahut Fedo dengan entengnya. "Oh ya, Kay. Kapan kalian datang?"


Sebelum menjawab, Kayo menggendong Russell terlebih dahulu. Dia lalu menatap lekat sang kakak yang sedang tersenyum tanpa dosa. Kayo menghela nafas.


"Aku datang sore tadi, Kak. Jackson bilang Ibu menelpon dan mengatakan kalau Ayah mogok makan gara-gara sudah lama tidak bertemu dengan Russel. Jadi ya sudah, Jackson langsung mengirim kami berdua datang kemari," jawab Kayo. "Tapi ngomong-ngomong wajahmu kenapa terlihat cerah sekali, Kak. Menang tender ya?"


"Hmmm, ini lebih dari sekedar menang tender, Kay. Dan aku jamin kau juga pasti akan merasa sangat bahagia jika mendengarnya," sahut Fedo.


"Apa itu? Aku jadi penasaran,"


Kayo membuntuti kakaknya yang berjalan menuju sofa. Setelah itu dia pun ikut duduk di sana sambil memangku Russel yang masih merajuk. Sepertinya bayi tampan ini masih mendendam pada pamannya. Hehe.


"Dua hari lagi Luri akan kembali ke Shanghai," ucap Fedo sembari menatap langit-langit ruangan. "Dia akan segera pulang untukku!"


"Wahhh, benarkah?" pekik Kayo kaget. "Ini kabar yang sangat baik, Kak. Akhirnya ya kau tidak perlu merasa kesepian lagi. Aku dan yang lainnya pasti bisa tidur dengan nyenyak setelah ini. Hmmm,"


Senyum yang tadi menghiasi bibir Fedo seketika lenyap begitu dia mendengar perkataan Kayo. Sambil memicingkan mata pada adiknya, Fedo pun melakukan protes. Dia tidak terima di anggap sebagai pria yang kesepian.


"Kay, memangnya apa hubungan antara aku dengan tidur nyenyak kalian? Dan juga apa itu tadi, pria kesepian. Semenyedihkan itukah aku di mata kalian, hem?"


Sebelum sempat Kayo menjawab, Mattheo dan Abigail sudah lebih dulu muncul di sana. Kedua orangtua ini pun langsung berebut untuk menggendong Russel yang ternyata lebih memilih untuk di gendong oleh sang nenek.


"Anak kecil tahu mana orang yang benar-benar menyayanginya, Matt," ledek Abigail sembari memeluk lembut cucu kesayangannya.

__ADS_1


"Ck, darling. Kalau bukan karena aku yang mogok makan, malam ini Kayo dan Russel tidak akan mungkin ada di sini. Jadi tolong dengan kesadaran hatimu cepat serahkan Russel padaku. Aku sudah sangat rindu berat padanya, darling. Oke?" rayu Mattheo dengan pandangan memelas.


Abigail, Fedo, dan juga Kayo tertawa terbahak-bahak saat Russel menolak di gendong oleh kakeknya. Sedangkan Mattheo, mantan buaya darat itu hanya bisa merajuk ketika sang cucu enggan berdekatan dengannya.


"Fed, cepatlah kau menikah dengan Luri. Setelah itu buat anak sebanyak mungkin supaya Ayah tidak di acuhkan seperti ini. Russel benar-benar kejam. Setengah mati Ayah merindukannya, dan lihat sikapnya sekarang. Di pegang saja dia tidak mau!" keluh Mattheo.


"Secepatnya keinginan Ayah akan segera terkabul," sahut Fedo. "Dua hari lagi Luri kembali dari London. Dan rencananya aku akan langsung pergi melamarnya supaya dia tidak kabur-kaburan lagi. Aku kapok di tinggal bertahun-tahun olehnya, Ayah. Jadi aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi lagi!"


"Luri kembali dari London?" tanya Abigail dan Mattheo bersamaan. Mereka cukup kaget mendengar hal ini.


"Hanya pulang sementara dulu sih Bu, Ayah. Dia dan Galang masih akan kembali ke London untuk wisuda dan mengurus hal-hal yang lain!" jawab Fedo menjelaskan. "Tapi apapun itu, aku akan tetap memaksa Luri menikah dulu denganku sebelum dia kembali ke sana. Tenaga juniorku sudah semakin melemah gara-gara di anggurkan sebegini lama olehnya, Bu. Aku tidak kuat lagi!"


"Jaga omonganmu, Fed. Di sini ada anak-anak, jangan sampai kata-katamu itu terekam oleh otaknya Russel. Bisa demam orang dewasa nanti dia!" tegur Abigail sambil memelototkan mata ke arah Fedo. Benar-benar ya anaknya ini. Sudah tahu cucunya ada di antara mereka, masih saja Fedo mengeluarkan kata-kata yang tak seharusnya. Menjengkelkan sekali.


"Itu malah bagus, Bu. Tandanya otak Russel bisa menangkap sesuatu hal penting yang nantinya akan dia gunakan ketika sudah tumbuh besar!" sahut Fedo malah merasa bangga jika keponakannya bisa dewasa sebelum waktunya.


"Sekali lagi kau berani bicara seperti itu di hadapan Russel, aku tidak akan segan memisahkanmu dari Luri, Kak. Coba saja jika tidak percaya!" ancam Kayo dengan sepenuh hati.


"Eiy, kau ini kenapa si, Kay. Aku kan hanya bercanda, jangan serius-seriuslah menanggapinya," sahut Fedo langsung tak berkutik mendengar ancaman Kayo. Adiknya ini memiliki kemampuan untuk membuatnya terpisah dari Luri, jadi Fedo sedikit terintimidasi olehnya. Catat ya, hanya sedikit. Tidak banyak.


"Bercanda juga ada alurnya, Kak. Jangan malah sembarangan seperti tadi. Tahu tidak?"


"Iya-iya, maaf," ucap Fedo mengalah.


Abigail dan Mattheo hanya bisa menghela nafas menyaksikan kedua anak mereka berdebat. Setelah itu mereka bergantian menanyakan pada Fedo apakah benar calon menantu mereka akan segera pulang atau tidak.


"Fed, kabar yang tadi kau katakan itu bukan hoaks 'kan?" tanya Mattheo memastikan.


"Iya, Fed. Luri benar-benar akan pulang ke Shanghai 'kan?" timpal Abigail ikut memastikan kebenarannya.

__ADS_1


"Tentu saja itu sangat benar Ayah, Ibu. Memangnya Ayah dan Ibu tidak bisa melihat tulisan yang ada di keningku ya?" tanya Fedo seraya menunjuk keningnya.


"Tulisan? Tulisan apa?" jawab Mattheo kebingungan.


"Gadis desaku pulang, dan aku akan segera melepas masa lajang!"


Hening. Baik Abigail maupun Mattheo, keduanya sama-sama tercengang heran mendengar ucapan Fedo. Sambil memperhatikan dengan seksama ke kening putra mereka, Abigail dan Mattheo di buat sadar kalau Fedo ternyata sudah tidak normal. Sungguh malang, putranya jadi tidak waras karena terlalu lama di tinggal pergi oleh gadis pujaannya.


"Fed, lebih baik kau periksakan kejiwaanmu pada psikiater. Ayah prihatin padamu," ucap Mattheo sedih.


"Maksud Ayah aku gila?" kaget Fedo. Dia bertanya sambil menunjuk dadanya sendiri.


"Iyalah, apalagi memangnya. Jelas-jelas di keningmu tidak ada tulisan apapun, tapi kenapa kau bilang ada? Kan aneh," jawab Mattheo.


"Haissshhh, beginilah jika bicara dengan orang yang sudah mulai pikun!" kesal Fedo sambil berdecak. "Ayah, yang aku katakan tentang tulisan di kening itu hanya kiasan saja. Itu tidak benar-benar tertulis di sana kalau Ayah mau tahu. Ya ampun,"


"Kenapa bisa begitu? Kau sendiri tadi yang bilang. Iya kan, darling?" tanya Mattheo pada Abigail.


"Iya, benar. Ibu juga mendengarnya, Fed," jawab Abigail yang juga tak paham akan maksud putranya.


Gemas melihat sikap kedua orangtuanya, Fedo berpindah duduk ke samping mereka kemudian memeluknya bergantian. Dia lalu menjelaskan maksud di balik kata yang membuat ayah dan juga ibunya jadi kebingungan seperti ini.


"Ayah, Ibu, tolong dengarkan perkataannku dengan baik. Kenapa aku bilang kalau di keningku ada tulisan gadis desaku pulang dan aku akan segera melepas masa lajang, adalah karena aku yang sedang sangat bahagia. Dan kebahagiaan itu berasal dari Luri, gadis desa yang telah membuatku tersiksa selama lima tahun. Kata-kata itu hanya perumpamaan saja untuk menggambarkan betapa aku sedang sangat bahagia sekali sekarang. Paham?"


"Ohhh, jadi begitu. Ayah pikir di keningmu benar-benar ada tulisan seperti itu, Fed. Hufft, tapi syurkurlah. Setidaknya Ayah dan Ibu tidak perlu merasa khawatir kalau kau menjadi gila gara-gara Luri. Kami lega karena kau masih normal!" sahut Mattheo sambil mengelus dada. Hampir saja dia mati jantungan karena mengira putranya sudah gila.


Setelah itu Abigail dan Mattheo menanyakan tentang rencana Fedo yang ingin langsung melamar Luri begitu pulang ke Shanghai. Mereka sangat antusias mendengarkan rencana yang akan Fedo lakukan untuk bisa menjerat gadis desanya agar tidak kabur-kaburan lagi. Sungguh, takdir cinta kedua orang ini sangatlah manis. Membuat orang yang mendengarkan jadi merasa iri karenanya.


****

__ADS_1


__ADS_2