
"Hem, ada apa ini? Kenapa wajah kalian terlihat begitu gembira?" tanya Abigail seraya menatap seksama ke arah suami dan juga putranya yang baru saja datang ke ruang makan. Abigail bahkan sampai menghentikan pekerjaannya yang tengah sibuk menata sarapan di atas meja saking penasarannya dia akan gerangan apa yang terjadi.
"Ini, darling. Casanova kita telah mendapat restu dari ayah dan ibunya Luri. Makanya sekarang wajahnya terlihat begitu berbunga-bunga, dia baru saja mendapat tiket penting dalam percintaannya," jawab Mattheo seraya melayangkan godaan pada putranya.
"Oh ya? Waahhh, kalau begitu selamat ya, Fed. Akhirnya mereka mau menerimamu juga. Ibu lega mendengarnya," ucap Abigail seraya tersenyum manis.
Fedo mengangguk. Setelah itu dia segera menghampiri sang ibu kemudian memeluknya dengan erat. Berkat wanita terhormat ini, Fedo bisa merasakan sebuah kebahagiaan yang sangat luar biasa hebat. Harus Fedo akui kalau kehadiran Luri di hidupnya membuat Fedo mengalami banyak perubahan. Terutama dari segi keburukan dan juga kenakalan yang selama ini dia lakukan. N*fsu yang dulu begitu bergemuruh bagai sirna begitu saja setelah Fedo merasa jatuh cinta di hari pertama mereka saling berkenalan.
"Bu, terima kasih banyak sudah melahirkan aku ke dunia ini ya. Berkat Ibu aku bisa merasakan cinta yang tulus dari seorang gadis. Aku mencintaimu, Bu. Benar-benar sangat mencintaimu," ucap Fedo dengan penuh keharuan.
"Sama-sama, Fed. Ibu juga sangat mencintai kau dan juga adikmu. Kalian berdua adalah harta paling berharga di hidup Ibu," sahut Abigail merasa tersentuh akan ungkapan rasa terima kasih dari putranya.
"Darling, kenapa hanya Kayo dan Fedo saja yang kau sebut sebagai harta yang paling berharga di hidupmu. Lalu keberadaanku kau anggap apa selama ini? Ayo cepat ralat kembali ucapanmu, aku tidak terima!" protes Mattheo yang merasa cemburu karena namanya tidak di sebut.
"Astaga Matt, bisa tidak kau jangan merusak suasana dulu? Tanpa harus menyebutkan nama harusnya kau tahu kalau kau itu selalu yang paling berarti di hidupku. Bagaimana sih?" gerutu Abigail tak habis pikir dengan kecemburuan suaminya.
Mattheo langsung mengulum senyum begitu Abigail menegaskan posisinya. Sambil merapihkan kerah kemejanya, Mattheo berjalan mendekat kemudian mendorong Fedo agar melepaskan pelukannya.
"Ayah, kau ini apa-apaan sih. Kenapa mendorongku begitu kasar?" tanya Fedo tak terima dengan apa yang dilakukan sang ayah terhadapnya.
"Wanita cantik ini adalah istriku, Fed. Dan kau sudah terlalu lama memeluknya. Jadi wajar saja bukan jika Ayah mendorongmu agar menjauh?" sahut Mattheo balik bertanya. Dia kemudian meringis pelan saat daun telinganya tiba-tiba terasa panas.
Fedo menyeringai senang melihat ayahnya yang sedang di jewer oleh ibunya. Dia kemudian duduk di salah satu kursi sambil terus menertawakan jerit kesakitan sang ayah saat telinganya semakin kuat di tarik.
"Aww darling, sakit. Tolong lepaskan ya? Nanti telingaku putus!" rengek Mattheo kesakitan.
__ADS_1
"Biar saja. Kau ini benar-benar ya, Matt. Fedo itu putraku, dia lahir dari rahimku. Jadi tidak ada satupun orang yang berhak melarangnya untuk memeluk ibunya sendiri. Kau tahu tidak, hah?" omel Abigail tanpa melepaskan tarikan tangannya dari telinga Mattheo.
"Ck, kalau itu aku juga tahu, darling. Tapi kan bukan berarti dia boleh memelukmu terlalu lama. Kau itu sudah punya suami, jadi hukumnya sangat tidak pantas jika ada laki-laki lain yang menyentuhmu!" sahut Mattheo tetap merasa benar akan ucapannya.
"Tapi Fedo itu putraku, Mattheo. Dia anakmu juga!"
Jengah, Abigail segera pergi ke dapur untuk mengambil sisa makanan yang belum di bawa. Berdebat dengan suaminya yang mengidap penyakit cemburu buta hanya akan berakhir sia-sia. Entah itu Fedo maupun saudara laki-lakinya yang lain, Mattheo akan melarang mereka agar tidak berdekatan dengannya. Hanya dalam suasana tertentu saja Mattheo baru akan bermurah hati membiarkannya bersentuhan dengan Fedo maupun para saudaranya yang lain. Gila bukan? Dan itulah kelakuan seorang Mattheo Eiji.
"Ayah, bisa tidak sih Ayah itu jangan terlalu posesif pada Ibu? Aku jadi merasa kalau aku ini adalah anak pungut yang tidak mempunyai ikatan darah dengan kalian!" protes Fedo sembari menatap kesal ke arah ayahnya yang terlihat santai-santai saja setelah membuat sang ibu marah.
"Tidak bisalah. Memang apa salahnya posesif pada istri sendiri? Toh Ayah ini kan suaminya Ibumu, wajar saja kalau Ayah bersikap siaga dengan menjauhkan para lelaki hidung belang dari sisinya. Kenapa kau protes?" tanya Mattheo sambil menyuapkan sepotong buah ke dalam mulutnya. "Ah, buah melon ini benar-benar sangat nikmat. Sama seperti buah melon yang ada di dada Ibumu, Fed. Kenyal, dan juga segar."
Fedo menelan ludah. Kekesalannya langsung hilang begitu saja saat ayahnya tiba-tiba membahas tentang benda kenyal yang dulu sangat di sukainya.
"Ibu pasti akan menusukkan garpu ke ubun-ubun Ayah jika mendengar apa yang Ayah ucapkan barusan. Aku yakin itu," ucap Fedo sinis. Dia lalu mengambil sepotong buah, mengikuti apa yang ayahnya lakukan.
"Hmmmm ... Mungkin memang benar kalau Ibu tidak akan bisa menusuk Ayah dengan cara yang seperti itu. Tapi jika seandainya Ibu datang dengan membawa samurai di tangannya, apa Ayah masih berani bicara seperti tadi? Tidak takut belalai itu mati terpotong?"
Mattheo menelan ludah. Bahkan sisa buah melon yang belum terkunyah halus langsung tertelan begitu saja setelah Fedo menyebutkan kata samurai. Seumur-umur Mattheo menjadi orang Jepang, orang yang paling dia takuti ketika memegang benda tajam itu hanyalah istrinya. Ya, Mattheo benar-benar tidak bisa melupakan hari dimana Abigail menghabisi para musuh yang menyelinap ke rumah ini menggunakan samurai warisan milik keluarganya. Istrinya yang biasanya terlihat cantik dan anggun itu tiba-tiba menjelma seperti dewi perang dengan samurai yang di penuhi cairan pekat setelah berhasil menumbangkan belasan orang dengan tangannya sendiri. Bisa kalian bayangkan sendiri bukan betapa menyeramkannya Abigail waktu itu?
"Kak, Ayah, ada apa ini? Samurai siapa yang sedang kalian bahas?" tanya Kayo.
Saat Kayo datang ke ruang makan dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Ayah dan juga kakaknya. Pikirannya seketika was-was saat kedua pria dewasa ini membahas tentang senjata tajam yang menjadi ciri khas dari penduduk di Negeri Sakura. Kayo berpikiran kalau ada orang jahat yang ingin menyerang keluarganya.
"Tidak ada apa-apa, Kay. Aku dan Ayah hanya sedang membicarakan tentang melon milik Ibu yang masih terasa kenyal dan segar," jawab Fedo berkelakar. Dia terkekeh saat mendapat lemparan sendok dari ayahnya.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu, Fed. Lidahmu bisa hilang jika Ibumu sampai mendengarnya!" tegur Mattheo kesal.
"Ayah, Kak Fedo, kalian ini apa-apaan sih. Aku itu sedang bertanya serius, kenapa kalian malah asik bercanda sendiri. Cepat beritahu aku kenapa kalian tiba-tiba membahas tentang samurai. Apa ada orang yang ingin mengusik ketenangan di keluarga kita? Siapa?" cecar Kayo yang merasa sedikit kesal.
Sebelum sempat Fedo dan Mattheo menjawab pertanyaan Kayo, dari arah dapur Abigail datang sambil membawa dua buah piring berisi makanan. Kayo yang melihat ibunya muncul pun segera datang mendekat. Dia bermaksud menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Bu, Ayah dan Kakak tadi membahas tentang samurai. Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu?"
"Samurai?" tanya Abigail bingung. Dia meletakkan piring ke atas meja kemudian menatap putrinya dengan seksama. "Dan kau percaya begitu saja dengan semua ucapan yang keluar dari mulut pria-pria tengik ini?"
Kayo mengangguk. Dia kemudian berbalik menatap ayah dan kakaknya yang masih sibuk menikmati buah-buahan.
"Ayah dan Kak Fedo juga bilang kalau melon milik Ibu masih terasa kenyal dan segar. Ini apa maksudnya?"
Seketika wajah Fedo dan Mattheo berubah gelap saat Kayo menyampaikan gurauan yang tadi mereka ucapkan. Keduanya sama-sama tidak berani melihat ke arah singa betina yang kini tengah menarik dan menghembuskan nafasnya dengan sangat kuat.
"Matt, Fedo, bisa tolong jelaskan melon apa yang kalian maksud?" tanya Abigail menahan kesal. Anak dan suaminya ini benar-benar ya. Selalu saja kompak setiap kali membahas tentang sesuatu yang berhubungan dengan bagian tubuh wanita. Bahkan dirinya pun tak luput dari kemesuman dua orang pria yang kini sedang duduk di hadapannya.
"Ibu, bukan aku yang memulai. Aku hanya mengikuti apa yang Ayah katakan. Sungguh!" ucap Fedo dengan cepat melakukan pembelaan diri. Dia tidak mau menjadi korban kemarahan ibunya.
"Yakkk kau anak sialan. Beraninya ya kau menumbalkan Ayah?" omel Mattheo kaget saat Fedo menjual namanya untuk melindungi dirinya sendiri.
"Diam dan makan sarapan kalian!" teriak Abigail murka ketika melihat suami dan putranya hendak beradu argumen.
Bagai kerbau yang di colok hidungnya, Mattheo dan Fedo langsung patuh pada ucapan Abigail. Mereka tidak ada yang berani membuat masalah lagi jika singa betina ini sudah mengeluarkan taringnya. Kayo yang melihat kelakuan konyol di diri ayah dan kakaknya hanya bisa menggelengkan kepala. Tak habis pikir karena ternyata mereka sedang menggunjingkan ibunya sendiri. Benar-benar pasangan anak dan ayah yang sangat luar biasa. Kayo sampai terheran-heran di buatnya.
__ADS_1
*****