PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Bibit Unggul


__ADS_3

Setelah semua pekerjaan selesai, Fedo segera mengajak ayahnya untuk pulang ke rumah. Mereka melangkah keluar sambil sesekali melempar ejekan lalu tertawa terbahak-bahak. Tak ayal perbuatan mereka itu membuat beberapa karyawan yang sedang lembur ikut tertawa karenanya. Maklumlah, mau heran tapi mereka adalah Mattheo dan Fedo. Tak jarang orang-orang yang bekerja di sini menjadi saksi atas kegilaan antara ayah dan anak ini yang entah kenapa selalu berada dalam satu jalan setiap kali membicarakan wanita. Aneh bukan?


"Fed, kau ingat gadis yang ada di peragaan mobil minggu lalu tidak?" tanya Mattheo dengan begitu antusias.


"Gadis yang mana, Ayah?" sahut Fedo seraya mengerutkan kening.


"Gadis yang saat itu memakai rok mini berwarna biru langit," ucap Mattheo dengan mata bersinar terang. "Kulit pahanya benar-benar sangat mulus. Ayah terus terbayang sampai detik ini."


Fedo menoleh. Setelah itu dia menyeringai tipis. Bagaimana mungkin dia tidak menjadi seorang Casanova kalau ayahnya saja memiliki tingkat kemesuman yang begitu tinggi. Benar-benar bibit yang sangat unggul.


"Bukannya aku ingin menjadi anak durhaka karena tidak mengapresiasi kemesuman orangtuanya, Ayah. Akan tetapi di dalam biji mataku hanya ada Luri yang paling-paling tersegalanya. Jadi maaf, aku sama sekali tidak bisa mengingat gadis ber-rok mini itu. Karena dalam pandangan mataku, gadis tersebut adalah Luri. Hanya bentuk tubuhnya saja yang sedikit berbeda," ucap Fedo dengan raut wajah yang begitu serius.


"Jadi kesimpulannya kau itu ingat atau tidak?" tanya Mattheo jengah menyaksikan kebucinan putranya.


"Ingatlah," jawab Fedo jujur. "Lagipula ya, Ayah. Pemandangan bening begitu siapa yang mampu melewatkannya?"


Dan kejujuran Fedo di sambut sebuah tinjuan kuat di tangannya. Mattheo sungguh tak habis pikir, bisa-bisanya Fedo bersikap seolah dia adalah sesosok alim di saat dirinya sendiri masih membutuhkan asupan bergizi dari para wanita seksi yang ada di luaran sana. Sungguh, titisannya sangat luar biasa. Mattheo sampai syok karena kelakuan putranya ini.


"Dasar anak kurang ajar kau, Fed. Ayah pikir kau sudah benar-benar tobat setelah mengenal Luri. Ternyata benih Casanova itu masih tumbuh subur di dalam tubuhmu," sindir Mattheo sambil memicingkan mata.


"Untuk masalah hati aku benar-benar sudah tidak bisa mengalihkan diri dari Luri, Ayah. Akan tetapi untuk urusan yang lain, bolehlah sesekali cuci mata. Bukannya Ayah juga begitu ya? Di rumah boleh saja Ayah cinta mati pada Ibu. Tapi di luar rumah, Ayah tetaplah seorang pria normal seperti pria lainnya. Termasuk aku. Benar kan?" sahut Fedo dengan santainya.


"Kau benar juga si, Fed. Tapi jangan salah. Segenit apapun Ayah saat berada di luar rumah, tak pernah sekalipun Ayah menyentuh gadis-gadis seksi itu. Haram hukumnya bagi Ayah karena jika sampai ketahuan oleh Ibumu, maka Ayah tidak akan mendapat akses lagi untuk datang berkunjung. Ayah bisa mati kering jika hal ini sampai terjadi. Kau tahu sendiri kan betapa Ibumu sangat mengerikan jika sudah marah?"

__ADS_1


Fedo tergelak mendengar jawaban jujur ayahnya. Benar-benar ya orangtua satu ini. Tapi jujur, Fedo sangat amat mengangumi bagaimana cara sang ayah menjaga perasaan dan juga cinta ibunya. Memang benar kalau ayahnya adalah pria tua yang sangat mesum, tapi untuk masalah kesetiaan tidak perlu di ragukan lagi. Ayahnya bahkan mampu membuat seluruh tetua di keluarga Eiji tunduk dan bersedia menerima kehadiran ibunya yang dulunya bukanlah siapa-siapa. Padahal waktu itu ayahnya masih muda. Bisa kalian bayangkan sendiri bukan betapa pria ini sangat mencintai pawangnya?


"Kau atau Ayah yang menyetir?" tanya Mattheo setelah sampai di halaman depan perusahaan.


"Aku saja," jawab Fedo. "Ayah sudah tua. Aku khawatir Ayah tak bisa melihat jalanan malam karena mata Ayah sudah rabun. Itu bisa sangat membahayakan keselamatanku dan juga juniorku."


"Sialan. Anak macam apa kau ini, Fed?" omel Mattheo kesal.


Seorang penjaga menyerahkan kunci mobil sebelum Fedo sempat membalas perkataan ayahnya. Sambil tertawa-tawa, dia berjalan memutar ke arah pintu samping di mana dia akan duduk untuk mengemudi. Namun ketika tangan Fedo hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik lengannya. Sontak saja hal tersebut membuat Fedo terkejut kemudian berbalik dengan cepat.


"Fed, aku merindukanmu," ucap Kanita sesaat setelah Fedo berbalik menatapnya.


"Kau lagi kau lagi. Mau apa, hah?" sentak Fedo penuh emosi setelah tahu kalau Kanitalah yang telah menarik lengannya.


"Kanita, tolong pergi dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang buruk kepadamu dan juga pada bayimu. Pergilah, selagi aku masih berbaik hati," ucap Fedo penuh penekanan.


"K-kau tahu aku ... hamil?" tanya Kanita syok. Wajahnya langsung pucat pasi seketika.


"Aku juga tahu siapa pria yang telah menghamilimu," jawab Fedo.


"Fed, itu ... itu kecelakaan. Aku tidak mau ini terjadi. Tolong percaya aku, Fed. Aku ...


Fedo langsung menepis tangan Kanita dari lengannya kemudian menatapnya penuh iba. Meski marah, Fedo masih menyimpan sedikit rasa kasihan pada wanita yang begitu tergila-gila padanya. Dia tahu, sangat tahu kalau Kanita tidak menginginkan bayi tersebut. Entah apa alasannya, yang jelas itu pasti berhubungan dengannya.

__ADS_1


"Kanita, penjelasan apapun yang ingin kau sampaikan padaku lebih baik kau urungkan saja. Bayi yang ada di dalam rahimmu tidak bersalah, terima saja dia. Jangan membencinya. Dia ada karena kesalahan kalian berdua."


"Tapi, Fed. Aku tidak mau bayi ini, aku tidak menginginkannya!" sahut Kanita sambil menahan tangis. "Fed, sampai detik ini aku masih sangat mencintaimu. Aku benar-benar tidak bisa menghapus namamu dari hidupku. Tolong aku, Fed. Tidak bisakah kau memberiku satu kali kesempatan, hm?"


"Dalam keadaan kau yang sedang mengandung anak orang lain? Ayolah, Kanita. Kau jangan bercanda. Bukankah malam itu kita sudah menyelesaikan semuanya? Ini semua sudah cukup, Kanita. Aku lelah terus berhadapan dengan wanita yang sama sekali tak mempedulikan harga diri sepertimu. Pergilah."


Mattheo menarik nafas panjang mendengarkan pertengkaran antara Kanita dan putranya. Dia sebenarnya sangat kasihan pada Kanita. Tapi apa daya, putranya sama sekali tak mencintai anak dari teman bisnisnya itu. Di tambah lagi sekarang Kanita tengah mengandung bayi milik pria lain. Sudah pasti putranya akan semakin risih jika terus di dekati seperti ini. Mattheo khawatir kalau Fedo akan gelap mata jika Kanita tidak segera pergi dari sana.


"Fed, apa artinya jika aku menghilangkan bayi ini dari rahimku kau mau untuk menerimaku?" tanya Kanita dengan tatapan penuh harap. Dia sangat siap menghilangkan bayi milik Ando jika memang benar hal tersebut bisa membuat Fedo kembali menerimanya.


"Otakmu sakit ya, Kanita!" teriak Fedo kaget akan pertanyaan yang dilayangkan Kanita barusan.


"Kanita, Fedo, hentikan. Kalian sedang berada di depan kantor, sangat memalukan jika ada orang lain yang mendengar!" tegur Mattheo ketika Fedo mulai meninggikan suaranya.


Fedo mendengus. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil. Mengabaikan Kanita yang kini tengah mengetuk kaca jendela sambil merengek meminta agar Fedo membukanya.


"Fed, aku belum selesai bicara. Tolong buka, Fed. Fedo!" ucap Kanita sambil terisak-isak.


"Kanita, kau sebaiknya pulang saja. Tidak baik wanita hamil sepertimu berada di luar rumah malam-malam begini. Pulanglah, pikirkan apa yang seharusnya kau lakukan agar bayimu tidak terlahir tanpa ayah. Itu akan menjadi pukulan yang sangat berat untuk ayah dan ibumu jika mereka tahu kau hamil di luar nikah tanpa ada laki-laki yang harus bertanggung jawab. Pulanglah, Kanita. Berhenti mempermalukan dirimu sendiri karena Fedo tidak akan pernah mau hidup bersama wanita sepertimu."


Kanita diam mematung setelah mendengar perkataan ayahnya Fedo. Kata-kata tersebut begitu menohok, membuatnya menjadi bisu seketika. Dengan wajah yang di banjiri air mata, Kanita menatap kepergian Fedo dengan hati yang begitu terluka. Sehina itukah dirinya di mata Fedo dan ayahnya?


*****

__ADS_1


__ADS_2