
Di ruang tamu terlihat Luyan yang tengah mengobrol bersama Fedo. Kedua pria ini terlibat pembicaraan yang cukup serius karena raut wajah keduanya terlihat sedikit tegang.
"Fedo, kau tahu bukan kalau Luri adalah gadis yang tidak memiliki apa-apa selain keluarganya?" tanya Luyan.
"Aku sangat tahu akan hal itu, Paman. Dan itu sama sekali bukan masalah untukku maupun keluargaku," jawab Fedo dengan tegas menyatakan bahwa keluarganya menerima Luri dengan tangan terbuka. "Setelah bertemu dengan Luri siang tadi, Ayah dan Ibuku bahkan meminta agar aku bisa secepatnya mempersunting Luri untuk menjadi bagian dari keluarga kami. Akan tetapi hal itu tidak mungkin aku wujudkan karena Luri masih ingin meneruskan pendidikannya terlebih dahulu. Di sini aku hanya ingin memberitahu Paman kalau Ayah dan Ibuku sama sekali tidak mempermasalahkan status keluarga kalian. Karena di mata mereka semua orang itu sama kedudukannya. Hanya sikap dan prilaku kita saja yang membedakan!"
Luyan menarik nafas. Sengaja dia bersikap seperti ini agar nantinya tak ada penyesalan di diri Fedo ketika sudah benar-benar bersama dengan putrinya. Wajahnya yang tadi terlihat sangat serius kini mulai berangsur-angsur normal kembali. Luyan yakin, sangat amat yakin kalau Fedo adalah pilihan terbaik untuk putrinya. Di tambah dengan penjelasannya barusan, membuat Luyan semakin yakin kalau Fedo dan keluarganya tidak akan mungkin membiarkan Luri menjadi bahan olok-olokan orang lain.
"Paman, jika Paman masih tidak percaya padaku besok sebelum aku dan keluargaku kembali Ke Jepang kami akan singgah kemari terlebih dahulu. Paman bisa mendengar secara langsung betapa Ayah dan Ibuku sudah sangat mendambakan Luri untuk menjadi menantu mereka. Aku tidak bohong, Paman!" lanjut Fedo sedikit resah saat ayahnya Luri hanya diam tak bicara.
"Fed, Paman merestui hubunganmu dengan Luri. Paman sengaja bertanya seperti itu padamu hanya untuk meyakinkan saja bahwa ke depannya nanti saat kau dan Luri sudah menjalin hubungan tidak akan ada kata penyesalan. Paman cukup tahu diri, Fedo. Paman hanya tidak mau Luri merasa sedih," sahut Luyan dengan tatapan teduhnya.
Tanpa di duga-duga, Fedo beranjak dari duduknya kemudian berjongkok di depan ayahnya Luri yang duduk di kursi roda. Bak seseorang yang tengah meminta restu, Fedo menyatakan keseriusannya atas perasaan yang dia miliki untuk gadis desa itu.
"Paman, aku bersumpah demi nyawaku sendiri kalau selamanya tidak akan pernah ada kata penyesalan dalam hubunganku dengan Luri. Aku sangat mencintai putri Paman, separuh hidupku sudah teratasnamakan untuknya. Jadi Paman jangan khawatir ya. Cintaku pada Luri benar-benar tulus tanpa pamrih."
"Kau masih muda, Fedo. Tidak baik seenak hati mengucap sumpah. Tahu tidak, hm?" tegur Luyan menahan haru yang membuncah di hatinya.
"Justru karena aku tahu kalau sumpah itu tidak boleh di ucapkan sembarangan makanya aku berani berkata seperti itu di hadapan Paman. Pokoknya aku hanya akan mencintai Luri sampai mati. Hanya dia yang akan di akui sebagai menantu di keluarga Eiji!" sahut Fedo tanpa merasa ragu sedikit pun.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Luyan dan Fedo, sebenarnya di balik tembok ada Gleen yang tengah menguping pembicaraan mereka. Dia merasa mempunyai hak untuk melakukannya karena bagaimana pun Luri adalah adiknya juga. Sebagai seorang kakak yang baik tentu saja Gleen wajib memastikan apakah pria Casanova ini benar-benar serius dengan perasaannya atau tidak. Karena pemikiran Gleen kurang lebih sama dengan pemikiran ayah mertuanya yang mengkhawatirkan kebahagiaan Luri di masa depan.
Semoga saja kau memang benar-benar serius dengan ucapanmu itu, Fedo. Walaupun kita adalah teman, aku tetap tidak akan mengampunimu kalau kau berani membuat hati adik iparku terluka, batin Gleen dalam hati.
Gleen yang sedang asik menguping hampir saja berteriak kaget saat bahunya tiba-tiba di tepuk dari arah belakang. Segera dia berbalik kemudian menatap jengkel ke arah gadis nakal yang kini tengah tersenyum tanpa dosa di hadapannya.
"Kenapa kaget begitu sih, Kak? Terpesona ya melihat kecantikanku?" tanya Nania meledek.
"Nania, bisa tidak lain kali jangan mengagetiku lagi seperti tadi. Jantungku hampir saja jatuh tergelincir ke dalam perut gara-gara ulahmu. Tahu tidak!" omel Gleen sembari mengusap dadanya. Gleen tidak bohong, dia benar-benar kaget karena ulah jahil adik iparnya ini.
Kedua alis Nania saling bertaut saat mendengar perkataan kakak iparnya yang terkesan aneh. Masa iya ada jantung yang bisa tergelincir ke dalam perut hanya karena terkejut? Aneh.
"Ibu dan Kak Lusi sedang sibuk membantu Kak Luri bersiap. Tahu tidak, Kak Gleen. Kak Luri menjadi sangat cantik setelah di rias oleh Kak Lusi. Dengan gaun hitamnya itu dia jadi terlihat seperti bidadari dari alam kegelapan. Kau pasti akan sangat kaget saat melihatnya nanti, Kak!" ucap Nania dengan bangga memuji kecantikan kakak keduanya.
Setelah berkata seperti itu jiwa penasaran di diri Nania seperti memberontak saat dia mendengar seseorang yang tengah asik mengobrol di ruang tamu rumahnya. Penasaran siapa yang datang, Nania pun bermaksud untuk pergi menghampiri. Namun langkahnya itu harus terhenti karena kakak iparnya sudah lebih dulu menyeletuk yang mana membuat Nania memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
"Jangan ganggu pembicaraan dua pria dewasa itu, Nania. Ayah dan Fedo sedang berbincang serius, kau bisa kena marah nanti."
"Jadi pria genit itu sudah datang ya, Kak?" tanya Nania seraya berkamuflase menjadi seekor cicak yang menempel ke dinding. Ya, Nania mulai menguping.
__ADS_1
"Sudah sejak tadi. Akan tetapi aku sengaja tidak pergi memanggil kakakmu karena ingin menguping dulu apa yang di bicarakan oleh mereka. Lumayanlah, untuk jaga-jaga," jawab Gleen jujur.
Nania mengangguk paham saat kakak iparnya tidak ragu mengatakan kalau dirinya sedang menguping. Dan alhasil, mereka berdua akhirnya sama-sama menguping pembicaraan kedua pria dewasa tersebut.
"Nania, apa pendapatmu jika Fedo dan Luri benar-benar menjalin hubungan?" tanya Gleen setengah berbisik.
"Aku sih tidak masalah kalau benar mereka menjalin hubungan, Kak. Yang terpenting Kak Fedo bisa membuat hidup kakakku menjadi sangat bahagia," jawab Nania tanpa mengalihkan indra pendengarannya yang mana masih begitu serius menguping.
"Benarkah? Bukannya kau itu sangat tidak menyukai Fedo ya?"
Mau tidak mau Nania akhirnya menoleh setelah mendengar perkataan kakak iparnya. Dia kemudian menghela nafas dalam-dalam sebelum mengatakan alasan kenapa dia bisa dengan mudah menerima kehadiran Fedo.
"Dulu aku memang tidak terlalu menyukai Kak Fedo, Kak. Akan tetapi setelah aku mengamatinya dengan cermat, aku jadi berubah pikiran," ucap Nania. "Kak Fedo tampan dan kaya raya. Jadi aku tidak merasa keberatan memiliki kakak ipar seperti dia."
Mata Gleen mengerjap-ngerjap. Dia sedikit sulit untuk mencerna kata-kata Nania yang dengan jujurnya mengakui alasan gadis ini menerima Casanova itu adalah karena kekayaan dan juga ketampanan yang dimilikinya. Sungguh, Gleen sangat tidak mengerti kenapa sikap Nania bisa berbeda sangat jauh dari kedua kakaknya. Dulu saja ya saat Gleen mengejar cintanya Lusi, harta kekayaan yang dia miliki sama sekali tidak berguna. Begitu juga dengan yang di alami oleh Fedo. Lusi dan Luri tidak menaruh serakah akan apa yang mereka miliki, dan hal inilah yang membuat Gleen dan Fedo jadi semakin tergila-gila pada kedua gadis desa tersebut. Akan tetapi kenapa Nania bisa beranggapan seperti ini? Tidak mungkinkan dia di lahirkan dengan cara yang berbeda? Aneh sekali.
"Sudahlah, Kak. Sebaiknya kita kembali menguping saja sambil menunggu Kak Luri datang. Jadi jangan mengajakku mengobrol lagi ya?" ucap Nania menyudahi bisik-bisiknya dengan sang kakak ipar. Setelah itu dia kembali fokus mendengarkan percakapan ayahnya dengan Fedo. Mengabaikan raut keheranan yang saat ini tengah menghiasi wajah kakak iparnya.
Kenapa aku selalu tidak berdaya di bawah perlakuan Nania ya? Di sini yang lebih dulu menguping itu kan aku, tapi kenapa sekarang malah jadi dia yang memimpin? Nania-Nania, baru kali ini aku bertemu gadis desa yang suka menindas orang lain. Hmmm, batin Gleen dalam hati.
__ADS_1
*****