
"Sayang, bagaimana keadaanmu? Apa sudah jauh lebih baik?"
Luri tersenyum setelah membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Hal manis seperti inilah yang selalu dia dapatkan setiap pagi semenjak memutuskan untuk menjadi teman tapi mesra dengan Fedo. Entah itu hanya sekedar menanyakan apakah dia sudah bangun atau belum, selalu saja hal ini berhasil membuat hatinya menghangat.
"Kau benar-benar sangat gigih, Kak. Aku salut padamu," ucap Luri sebelum membalas pesan dengan mengatakan kalau dia sudah jauh lebih baik dari kemarin.
Pagi ini sepertinya Luri masih belum bisa masuk ke sekolah. Perutnya masih belum terlalu nyaman untuk di bawa beraktifitas, jadi dia memutuskan untuk istirahat dulu di rumah.
Sambil menggeliatkan tubuh, Luri perlahan-lahan turun dari ranjang. Dia lalu merapihkan tempat tidur, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Sembari menggosok gigi, Luri terpikir apakah dia harus memberitahu Fedo tentang tujuan kompetisi atau tidak. Karena saat pria itu bertanya, Luri masih enggan untuk menjawab. Bukannya apa, dia hanya tidak mau Fedo melakukan sesuatu yang gila. Kalian pasti tahu kan seperti apa kelakuannya?
"Seandainya aku menang, kira-kira Kak Fedo marah tidak ya jika tahu kalau aku akan kuliah di luar negeri?" gumam Luri seraya memandangi pantulan wajahnya di cermin. Dia lalu tersenyum sendiri membayangkan betapa hebohnya pria itu jika mengetahui hal ini.
Saat Luri sedang asik berangan-angan, terdengar suara Nania yang sedang berteriak memanggilnya. Dia lalu mendesah pelan ketika mendengar ancaman sang adik yang entah kenapa terdengar begitu ambigu.
"Kak Luri, jangan bilang kau sedang mesra-mesraan dengan Kak Fedo di telepon ya. Ingat, rumah ini masih dalam kawasan Ayah dan Ibu. Nanti kau ketahuan!"
Setelah menggoda sang kakak, Nania dengan santainya membuka ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dia lalu mencebik geli saat membaca pesan yang baru saja di kirim oleh Fedo.
"Dasar pria genit. Pagi-pagi begini dia sudah berani menggoda kakakku. Memangnya di Jepang sana dia tidak punya pekerjaan apa? Aneh," gumam Nania. "Aha, apa aku kerjai dia saja ya? Kak Fedo pasti kebakaran jenggot jika tahu kalau semalam ada dua laki-laki yang datang membesuk Kak Luri. Hehe."
Sambil tersenyum evil, Nania segera mengirim pesan pada Fedo menggunakan ponsel miliknya. Senyum jahat terus menghiasi bibirnya ketika merangkai kata yang bisa membuat pria genit itu kelimpungan di Negeri Sakura sana.
"Selamat pagi, Kak Fedo. Aku ingin menginformasikan kalau semalam ada dua orang laki-laki tampan dan kaya yang datang menjenguk Kak Luri. Mereka datang dengan menggunakan mobil mewah dan juga membeli banyak makanan enak untuk kami. Jujur saja Kak, aku sebenarnya tidak mau memihak. Tapi apa daya, salah satu dari laki-laki itu sangat tampan dan juga royal. Sepertinya aku akan membantunya untuk merebut hati Kak Luri. Maaf ya."
"Nania, kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Luri sambil menatap heran ke arah sang adik. Gelagatnya mencurigakan, di tambah lagi ponsel miliknya berada di tangan Nania. Membuat perasaan Luri menjadi sedikit tidak enak.
"Aih Kakak ini, membuatku kaget saja," jawab Nania tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel.
Luri menarik nafas. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Nania kemudian mengambil ponsel yang masih di pegangnya.
"Ini ada pesan masuk dari Kak Fedo, Nania!"
"Yang bilang pesan dari planet Mars itu siapa, Kak. Jelas-jelas nama yang tertera di sana adalah nama pria genit itu, kenapa masih bertanya," sahut Nania seraya menonaktifkan ponsel miliknya. Dia lalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
__ADS_1
"Jangan bilang kau mengirim pesan yang tidak-tidak pada Kak Fedo, Nania. Kakak jadi curiga setelah mengingat senyummu tadi," tuduh Luri penuh selidik.
Adiknya ini sangat usil dan jahil. Wajar kan kalau dia memiliki pikiran seperti ini. Luri menegurnya karena tak enak hati jika benar adiknya telah mengatakan sesuatu yang bukan-bukan pada Fedo. Luri kasihan padanya jika harus kembali menjadi korban kejahilan Nania.
"Iisshhh, apalah Kak Luri ini. Untuk apa juga aku mengirim pesan tidak penting padanya. Lagipula Kakak kan bisa memeriksa di ponsel apakah aku ada membalas pesan Kak Fedo atau tidak. Jadi tolong jangan sembarangan menuduhku dulu, Kak. Aku ini gadis yang sangat baik, tidak mungkin aku melakukan sesuatu yang jahat," sahut Nania seraya memasang raut wajah serius. Padahal dalam hatinya dia tengah menahan tawa membayangkan betapa paniknya Fedo setelah membaca pesan yang dia kirim lewat ponselnya.
"Hmmm, ya sudah kalau begitu Kakak percaya. Oh iya Nania, sepertinya hari ini Kakak masih belum bisa berangkat ke sekolah. Tidak apa-apa kan kalau kau berangkat sendirian lagi?" tanya Luri kemudian meletakkan ponselnya di atas kasur. Dia lalu berjalan menuju meja rias untuk menyisir rambut.
"Perut Kakak masih sakit ya?" sahut Nania balik bertanya. Dia lalu berjalan mendekat ke arah sang kakak. "Apa masih sesakit seperti yang kemarin? Kita pergi ke dokter saja ya, Kak. Aku takut Kakak benar-benar berubah menjadi vampir."
Luri tertawa mendengar cara Nania mengungkapkan rasa khawatirnya. Sungguh, baru kali ini dia mendengar ada orang yang begitu takut saudaranya menjadi vampir hanya gara-gara sakit perut. Nania ini sungguh lucu, kelakuannya selalu saja mengundang tawa meski terkadang membuat orang terkena syok jantung.
"Kakak sudah tidak apa-apa, sayang. Hanya masih lemas dan sedikit nyeri di bagian perut saja. Kau jangan khawatir."
"Benar tidak apa-apa, Kak? Aku takut sekali," ucap Nania. Kali ini dia tidak bohong. Nania sangat takut kakaknya kenapa-napa karena baru kali ini sang kakak sakit sampai sebegini pucat.
"Iya, benar. Tapi ngomong-ngomong kenapa kau belum bersiap pergi ke sekolah?" tanya Luri sembari memperhatikan penampilan adiknya yang masih memakai piyama tidur.
"Aku sudah mandi kok, Kak. Hanya tinggal berganti seragam saja. Aku khawatir Kakak tidak bisa bangun seperti kemarin, makanya aku langsung datang kemari untuk memberi pertolongan," jawab Nania dengan tampang polosnya.
Setelah berkata seperti itu Luri dan Nania sama-sama tertawa. Mereka berdua kemudian memutuskan turun ke bawah untuk menemui ayah dan ibu mereka. Nania yang saat itu ingat kalau tengah mengerjai Fedo, dengan tengilnya menghasut sang kakak agar tidak membawa ponselnya serta. Dan beruntung karena samg kakak langsung mengiyakan ucapannya tanpa banyak bertanya.
Kak Fedo, nikmatilah kepanikanmu sendirian karena aku tidak akan membiarkan Kak Luri memberi penjelasan dengan cepat. Hehe, aku yakin sekali sekarang kau pasti sedang uring-uringan karena pesanmu di abaikan oleh kakakku kan? Kau juga pasti sangat stres karena tidak bisa menghubungi nomorku. Ckck, sungguh senang pagi-pagi begini mendapat mainan baru. Batin Nania puas.
"Nania, kau kenapa tersenyum seperti itu lagi?" tanya Luri dibuat heran oleh kelakukan sang adik yang sedang tersenyum aneh seperti orang tidak waras.
"Memangnya ada larangan untukku tidak boleh tersenyum ya, Kak?" jawab Nania berkilah.
"Tidak, bukan begitu maksud Kakak. Kakak hanya heran saja karena sejak di kamar kau terus memperlihatkan senyum jahat itu. Biasanya kalau seperti ini pasti ada sesuatu yang telah kau lakukan. Makanya Kakak bertanya."
Nania menyeringai. Dia lalu meninggalkan kakaknya kemudian berlari menghampiri sang ayah yang baru saja keluar dari dalam kamar.
"Selamat pagi, Ayah. Ayah tampan sekali hari ini,"
__ADS_1
"Selamat pagi juga, Nania. Hmmm, ada apa ini. Kenapa tiba-tiba putri Ayah bersikap begini manis?" tanya Luyan sembari mengusap rambut putri bungsunya.
"Hehe, tidak ada apa-apa, Ayah. Oh ya, mana Ibu?"
"Ibumu masih di dalam kamar mandi, sayang. Sana jemput dan ajak ke ruang makan."
"Baik, Ayah."
Luyan menggelengkan kepala melihat Nania yg langsung berlari masuk menemui ibunya. Dia kemudian beralih melihat ke arah Luri yang tengah berdiri menyender seraya tersenyum kecil.
"Nania adalah gadis yang nakal, tapi dia juga sangat manis, Ayah. Aku jadi gemas sendiri melihat tingkahnya,"
"Hemm, kau benar, Luri. Oh ya, bagaimana perutmu, Nak? Apakah masih sakit?" tanya Luyan khawatir.
"Tidak, Ayah. Keadaanku sudah jauh lebih baik, tapi hari ini aku masih ingin istirahat di rumah dulu. Tubuhku masih terasa lemas," jawab Luri.
"Ya sudah, besok saja masuk sekolahnya. Kesehatan jauh lebih utama di bandingkan dengan apapun karena jika tubuh kita tidak sehat, maka kita tidak akan bisa menikmati hidup dengan baik. Kau harus ingat pesan Ayah ya,"
"Iya Ayah. Aku pasti akan selalu mengingat semua pesan dan nasehat yang Ayah berikan."
"Hmm, gadis baik. Ayah menyayangimu, Nak," ucap Luyan penuh bangga.
"Aku juga sangat sayang pada Ayah, Ibu, Kak Lusi dan Nania juga. Semoga kita semua selalu sehat dan di beri umur panjang ya, Yah,"
Luyan dan Luri sama-sama mengaminkan keinginan tersebut. Mereka kemudian pergi ke ruang makan sambil menunggu Nania dan ibunya keluar dari dalam kamar.
πππππππππππππππππ
β Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama Chanelnya βΆMak Rifani, jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya
πJangan lupa vote, like, dan comment
ya gengss
__ADS_1
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani