
"Kau darimana, Dom?" tanya Mili ketika melihat suaminya masuk ke dalam rumah.
Dominic diam tak menyahut. Dia terus berjalan tanpa menghiraukan pertanyaan istrinya. Merasa kecewa karena Kanita masih tidak mau mengakui siapa laki-laki yang telah menghamilinya, Dominic pun memutuskan untuk pergi mencari udara segar di luar rumah. Dadanya sangat-sangat sesak, seolah tidak ada pasokan udara lagi di dalam paru-parunya.
"Dom, aku sedang bertanya padamu. Kau darimana!" teriak Mili mulai kesal karena di abaikan begitu saja.
Masih tidak ada jawaban. Tak tahan melihat kebungkaman tersebut, Mili dengan marah menyusul suaminya yang sedang berjalan menuju kamar mereka. Seharian ini suasana di rumah benar-benar sangat kacau di mana Kanita pingsan dua kali dan sampai saat ini masih belum sadarkan diri. Sementara suaminya, malah bersikap acuh dan sok tidak peduli seperti ini. Wanita manalah yang tidak akan terpancing emosi jika di hadapkan pada situasi seperti yang sedang di alami oleh Mili. Jadi wajarkan kalau sekarang dia menjadi sedikit emosional?
"Apalagi?" tanya Dominic saat lengannya di tarik paksa oleh sang istri.
"Apalagi kau bilang?" sahut Mili dengan nafas menderu. "Kau sadar tidak, Dom. Gara-gara ulahmu, Kanita kembali pingsan dan sampai sekarang masih belum sadar. Aku tahu kau kalut dan panik memikirkan masalah ini, aku paham. Tapi bukan begini juga caranya. Kau acuh, kau bahkan tidak peduli dengan calon cucu kita. Kanita masih putri kita, kau tidak seharusnya mengabaikan dia seperti ini. Dia butuh dukungan dari kita, Dominic. Tolonglah, aku mohon jangan menambah masalah dulu. Kita selesaikan satu-persatu. Ya?"
"Cucu kita kau bilang?"
__ADS_1
Dominic tertawa sumbang mendengar betapa mudahnya Mili mengakui kalau bayi yang ada di dalam perut Kanita adalah cucu mereka. Ya, fakta itu memang benar. Tapi sampai kapanpun Dominic tidak akan pernah mengakuinya sebagai cucu selama Kanita tak mau membuka mulut dan mengatakan siapa ayah dari bayi tersebut. Dominic tidak sudi.
"Aku baru akan mengakuinya sebagai cucu jika Kanita mau memberitahu kita dengan siapa dia melakukan dosa itu. Dan jika dia memilih untuk tetap bungkam, maka selamanya aku tidak akan pernah menganggap dia dan bayinya sebagai keluarga. Biarlah, lebih baik aku tidak mempunyai anak daripada harus makan hati seperti ini!" ucap Dominic sambil menahan tekanan kuat di dadanya. Sangat sakit.
"Kau jangan gila, Dom. Kanita sedang hamil, beri dia waktu untuk mengakui semuanya," sahut Mili panik.
"Sampai kapan? Sampai kandungan di perutnya membesar? Iya?"
Mili gelagapan. Dia sebenarnya juga mengkhawatirkan hal yang sama seperti yang di rasakan oleh suaminya. Akan tetapi Mili juga tak kuasa terus mendesak Kanita karena hal tersebut pasti akan sangat mengganggu kesehatan mental dan kehamilannya. Sebagai wanita yang telah melahirkan Kanita ke dunia ini, Mili jelas bisa merasakan betapa besar keputus-asaan yang sedang di tanggung oleh putrinya itu. Mili bahkan bisa melihat dengan jelas kalau Kanita berkeinginan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Namun, di hadapkan dengan kemarahan suaminya sekarang membuat Mili menjadi serba salah. Dia sampai tidak bisa berpikir jernih saking stresnya menghadapi masalah besar yang tiba-tiba datang menerpa keluarganya.
"Jangan bicara seperti itu, Dom. Kalau bukan karena anaknya Mattheo dan Abigail, Kanita tidak akan mungkin jadi seperti ini. Aku mendidiknya agar tumbuh menjadi gadis yang pintar. Tapi gara-gara rayuan pria tak beradap itu Kanita menjadi lupa daratan dan menggila seperti kehilangan akal. Harusnya kau itu jangan hanya mengambil dari sisi mereka saja, pikirkan juga perasaan putri kita. Dia yang menjadi korban di sini, bukannya Fedo ataupun orang lain!" sahut Mili kembali tak terima putrinya di persalahkan. Enak saja.
"Mili-Mili, kau dan Kanita itu sama saja. Sama-sama bodoh dan buta pemikiran. Sekarang dengarkan aku baik-baik. Fedo memang terkenal suka bergonta-ganti wanita di setiap malam, dan fakta tersebut di ketahui oleh hampir semua orang yang tinggal di Jepang. Akan tetapi dia melakukan semua itu atas dasar suka sama suka, bukan dengan mengatasnamakan perasaan. Tapi coba kau lihat putrimu itu, dia bahkan dengan tidak tahu malunya terus mendekati Fedo dengan harapan bisa menikah dan menjadi Nyonya Eiji. Ingat, Mili. Sebejad-bejadnya seorang pria, dia pasti akan memilih wanita baik-baik yang akan dia jadikan ratu di istananya. Sementara Kanita, dia itu hanyalah wanita sisa yang sudah di jajah oleh banyak pria, termasuk Fedo. Dengan kondisi yang sudah seperti ini apakah mungkin Fedo bersedia untuk menerimanya? Tidak, Mili. Di dunia ini wanita bukan hanya Kanita saja. Ada ribuan bahkan jutaan wanita di luaran sana yang jauh lebih terhormat daripada putri kita. Paham kau!"
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Dominic kembali melanjutkan langkah menuju kamar. Hatinya benar-benar sakit, jadi sekalian saja dia mengakui semua keburukan yang ada di diri putrinya. Sebenarnya sangatlah sakit ketika mengucapkan kata-kata tersebut, tapi Dominic rasa itu jauh lebih baik daripada harus terus berpura-pura dengan menganggap kalau Kanita adalah wanita yang terhormat.
Maafkan Ayah, Kanita. Hati Ayah sudah terlanjur sakit, jadi dengan terpaksa mengakui kalau kau itu memanglah wanita yang tidak mempunyai harga diri. Tapi percayalah, sebesar apapun rasa kekecewaan dan juga rasa malu yang kau berikan sekarang, Ayah tetap sangat menyayangimu. Ayah hanya sedang putus asa, Ayah terluka karena telah gagal mendidikmu. Sekali lagi tolong maafkan Ayah yang tidak berguna ini, Kanita. Maaf atas ketidakmampuan Ayah dalam mendidikmu ke jalan yang benar, batin Dominic pilu.
Mili masih diam mematung di tempatnya berdiri sekarang. Dia syok, benar-benar sangat syok setelah mendengar perkataan suaminya. Hingga tanpa di sadari oleh Mili, wajahnya sudah di banjiri air mata. Segelintir perasaan bersalah tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam benak Mili. Ya, Mili mulai menyadari kesalahannya dalam mendidik putri semata wayangnya itu. Karena tanpa Mili sadari, sikap arogan dan juga keras kepala di diri Kanita dialah yang telah membentuknya.
"Tuhan, benarkah aku sudah salah dalam mendidik Kanita? Apakah benar yang aku lakukan selama ini malah membawanya menuju jurang kehancuran? Jika itu benar, kenapa Kau tidak menyadarkan aku sedari awal, Tuhan? Kenapa?" gumam Mili dengan suara gemetar.
Kalau saja saat itu tidak ada pelayan yang datang menolong, mungkin sekarang Mili sudah jatuh terkapar di lantai. Posisinya yang sedang berdiri di anak tangga membuat para pelayan siaga dengan tetap mengawasi pertengkarannya dengan Dominic. Sambil memegangi dadanya yang terasa sakit dan juga sesak, Mili meminta pelayan agar mengantarkannya istirahat di kamar tamu. Dia tidak siap jika harus bertatap muka dengan suaminya. Terlalu malu.
Tanpa di sadari oleh siapapun, dari celah pintu kamar ada sepasang mata yang tengah mengawasi kejadian yang baru saja berlangsung. Dan mata tersebut adalah milik Kanita. Ya, sebenarnya Kanita sudah sadar sejak Ayah dan Ibunya mulai bertengkar di anak tangga. Dia yang saat itu baru terbangun hampir saja kembali jatuh tak sadarkan diri setelah mendengar perkataan kejam yang keluar dari mulut sang ayah. Sehina itukah dirinya di mata semua orang sampai-sampai orangtuanya sendiri pun beranggapan hal yang sama seperti yang di pikirkan oleh Fedo dan juga Paman Mattheo?
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Semua orang menganggapku sampah, mereka semua menganggapku sebagai wanita yang tidak memiliki harga diri. Haruskah aku pergi saja?" gumam Kanita sesaat sebelum menutup pintu kamar. Dia kembali berbaring di atas ranjang sebelum akhirnya memejamkan mata dengan pikiran melayang ke mana-mana.
__ADS_1
*****