
Pagi hari, seorang siswa nampak sedang duduk menunggu kedatangan seseorang di dekat pintu gerbang sekolah. Dialah Galang, siswa laki-laki paling populer di sekolah ini. Para siswi yang melihat keberadaannya di sana terlihat saling berbisik. Mereka menebak-nebak siswi beruntung manakah yang sedang di tunggu oleh si siswa populer tersebut.
"Waahh, siapa yang sedang di tunggu oleh Kak Galang ya? Berani sekali membuat siswa setampan dia menunggu seperti orang bodoh di dekat pintu gerbang!" celetuk seorang siswi dengan suara yang sedikit kuat.
Galang yang mendengar celetukan siswi tersebut nampak acuh tanpa berniat untuk menegurnya. Ya, saat ini dia memang sedang menunggu kedatangan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Luri, teman sekelasnya yang sudah membuat Galang cinta setengah mati. Setelah pulang dari belajar bersama kemarin sore, Galang terus terngiang-ngiang pada gadis tersebut. Dia bahkan sampai di tegur oleh orangtuanya karena tak sadar kalau air yang sedang dia rebus sudah hampir mengering. Memikirkan kebodohannya sendiri membuat Galang tersenyum seperti orang tidak waras. Dia bahkan tidak mempedulikan posisinya yang tengah menjadi pusat perhatian para siswi yang lain.
Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan pintu gerbang sekolah. Dari dalam mobil tersebut keluarlah dua orang gadis dengan seragam yang berbeda. Kedua gadis itu adalah Luri dan Nania. Galang yang melihat kedatangan gadis yang di sukainya pun segera datang mendekat. Namun langkahnya langsung terhenti ketika dia melihat tatapan Nania yang begitu galak.
"Hai Galang!" sapa Luri sambil tersenyum hingga menampilkan kedua lesung di pipinya.
"Hai... Luri," sahut Galang sedikit canggung. Dia lalu menoleh ke arah lain saat Nania berdiri tepat di hadapannya.
"Apakah Kak Galang sedang memainkan peran sebagai pangeran yang menjemput Cinderella?" tanya Nania penuh nada intimidasi.
"Peran pangeran yang menjemput Cinderella? Maksudnya bagaimana Nania, aku tidak paham," jawab Galang bingung.
Nania berdecih. Meski kemarin dia sudah memberi peringatan pada siswa ini, ternyata peringatan itu masih belum memberikan efek jera padanya. Nania sangat tidak suka melihat kakaknya di dekati oleh laki-laki yang bahkan uang jajan saja masih meminta pada orangtuanya. Kan tidak lucu melihat anak kecil berpacaran? Berbeda dengan Kak Fedo. Meskipun genit, pria itu sudah memiliki pekerjaan sendiri. Nania sudah pasti akan lebih setuju jika kakaknya berpacaran dengan pria genit itu ketimbang dengan siswa yang baru akan tumbuh bulu ini.
"Jangan pura-pura tidak tahu, Kak Galang. Mataku bisa melihat dengan jelas kalau kau sedang mencari perhatian kakakku. Makanya pagi-pagi begini kau sudah menunggu kedatangan kami di depan gerbang sekolah. Iya kan?"
__ADS_1
Luri yang melihat Galang kembali di intimidasi oleh Nania segera mengambil tindakan. Dia tidak mau kalau teman sekelasnya ini sampai merasa tersinggung gara-gara ucapan adiknya yang terang-terangan.
"Nania, sudah sana masuk ke kelas. Sebentar lagi bel sekolah akan berbunyi."
"Lalu Kakak akan tetap di sini bersama Kak Galang? Aku tidak mau!" tolak Nania sambil melipat tangan di dada. "Kita berangkat ke sekolah bersama-sama, Kak. Jadi masuk kelas pun harus sama-sama juga."
"Iya Kakak tahu, Nania. Ya sudah, ayo kita masuk!" sahut Luri dengan sabar menuruti keinginan sang adik.
Pupus sudah keinginan Galang yang ingin mengajak Luri untuk pergi ke kelas bersama. Bahkan dia hanya bisa mengikuti kedua gadis ini dari belakang karena Nania tidak berhenti melirik tajam ke arahnya.
Sebenarnya Nania ini adik atau penjaganya Luri sih. Kenapa dia terlihat begitu galak setiap aku ingin mendekati kakaknya? Kalau begini caranya aku harus segera memikirkan cara agar Nania bisa berpihak padaku kemudian mendukung hubunganku dengan Luri. Tapi bagaimana caranya ya?
"Nah, kita sudah sampai di kelasmu. Masuklah!" ucap Luri pada sang adik.
"Kakak tidak ikut masuk?" tanya Nania tak rela berpisah. Tangannya terus bergelayut erat di lengan sang kakak.
"Lho, Kakak kan bukan siswi menengah pertama lagi, Nania. Kelas Kakak ada di sana," jawab Luri sambil menunjuk kelasnya yang berada di lantai atas.
Nania mendengkus. Dia kemudian melihat ke arah Galang yang sedang tersenyum-senyum tidak jelas.
__ADS_1
"Kenapa menatapku seperti itu, Nania?" tanya Galang pura-pura tidak tahu. Padahal sekarang hatinya sedang sangat berbunga-bunga karena akan segera memiliki kesempatan untuk mendekati gadis pujaannya.
"Kak Galang, kau pasti senang sekali kan melihatku masuk ke dalam kelas? Kau pasti sedang memikirkan cara untuk mendekati Kak Luri lagi kan? Awas saja kalau kau berani macam-macam pada kakakku. Akan kucabut semua bulu kakimu sampai botak!" ucap Nania cetus dengan menampilkan raut wajah yang sangat horor.
Luri segera mendorong Nania agar masuk ke dalam kelasnya sebelum mengatakan sesuatu yang lebih buruk lagi pada Galang. Dia benar-benar sangat malu sekarang. Bisa-bisanya Nania memberikan ancaman seperti itu hingga membuat teman sekelasnya ini membeku di tempat.
"Galang, tolong jangan mengambil hati perkataan Nania barusan ya. Dia seperti itu karena sangat menyayangiku. Tolong maafkan dia ya," ucap Luri sambil menatap tak enak ke arah Galang yang masih membeku.
Galang tergagap saat mendengar perkataan Luri. Cepat-cepat dia menormalkan ekpresinya dari keterkejutan yang terjadi akibat ancaman gila Nania.
"Oh, santai saja Luri. Aku sama sekali tidak merasa tersinggung meski ucapan adikmu membuatku kaget setengah mati. Nania sangat mengerikan ya?" sahut Galang dengan nada bercanda.
"Ya begitulah dia, Lang. Nania begitu posesif setiap kali ada laki-laki yang mengobrol denganku. Bahkan saat kami masih tinggal di desa, tidak ada satupun siswa laki-laki yang berani mengajakku bicara. Para siswa itu takut pada Nania karena anak itu tidak segan-segan mengajak mereka untuk baku hantam. Padahal aku dan kedua orangtuaku sudah mengingatkannya agar tidak berbuat seperti itu. Tapi hasilnya tetap sama saja. Nania tetap menjadi gadis yang suka bertindak semaunya. Aku harap kau bisa sedikit maklum ya Lang. Dia begitu galak karena mengira kau ingin berbuat hal buruk padaku. Anak itu salah paham pada kita berdua," ucap Luri sambil tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa, Luri. Aku bisa paham kenapa dia bersikap seperti itu. Nanti lama-lama Nania pasti akan paham sendiri kenapa aku sering mengajakmu bicara."
Luri mengangguk setuju dengan ucapan Galang. Dia kemudian mengajaknya untuk pergi ke kelas mereka. Sambil berjalan, Luri dan Galang saling membahas soal-soal yang mereka kerjakan kemarin. Saking asiknya mengobrol, baik Luri maupun Galang sampai tidak menyadari kalau keakraban di antara mereka membuat siswa-siswi lain merasa cemburu. Terlebih lagi para kaum Hawa. Mereka menatap Luri seakan Luri adalah mangsa yang begitu lezat. Meskipun begitu, para siswi tersebut tidak ada yang berani untuk mengusiknya. Karena satu sekolah ini sudah tahu kalau si gadis berlesung pipi ini memiliki penjaga yang sangat galak seperti dewi perang. Siapa lagi kalau bukan Nania, siswi menengah pertama yang sempat membuat geger gara-gara insiden telur beberapa waktu lalu.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
__ADS_1
✅Hai gengss.. ada yang baru di chanel yutub emak nih. Ada CERPEN ROMANTIS TENTANG CINTA ANTARA LANGIT DAN KINARA. Up langsung lima chapter, edisi khusus untuk malam mingguan. Jangan lupa mampir ya