
Fedo menatap pantulan wajahnya di depan cermin sembari merapihkan pakaiannya. Hari ini adalah hari yang sangat penting di hidup Fedo. Setelah sempat melewati beberapa perdebatan sengit dengan para tetua di keluarga Eiji, Kayo dan Jackson akhirnya bisa menikah. Dan sebagai seorang kakak yang baik, sudah pasti Fedo wajib memberikan penampilan terbaiknya untuk melepas hari terakhir Kayo sebagai seorang gadis. Haru, itu sudah pasti. Walaupun Fedo di tinggal menikah lebih dulu oleh adiknya, dia sama sekali tidak merasa malu ataupun sedih. Yang ada Fedo malah merasa sangat bahagia karena bisa mengantarkan adik semata wayangnya itu ke tangan pria yang akan menjadi pasangan hidupnya.
"Hmmm, sayang sekali kau tidak ada di sini, Luri. Kalau ada, kita pasti akan memakai pakaian couple seperti saat kita menghadiri pernikahannya Reinhard dan Levita waktu itu," gumam Fedo pelan.
Sudah beberapa bulan berlalu sejak Fedo di tinggal pergi oleh Luri. Dan sejak saat itu pula mereka sama sekali tidak melakukan kontak apapun. Bukannya Fedo marah atau bagaimana. Dia hanya sedang berusaha menghargai permintaan Paman Luyan dan juga Bibi Nita yang melarang Fedo agar jangan mengganggu fokusnya Luri untuk kuliah. Mereka ingin Fedo memberi waktu pada Luri untuk benar-benar memantaskan diri setelah sempat terlibat satu kesalah-pahaman akibat Luri yang masih terlalu labil dalam mengambil keputusan. Dan sebagai calon menantu yang baik, tentu saja Fedo harus menyanggupi permintaan tersebut. Namun bukan Fedo namanya kalau dia tidak memiliki cara lain agar bisa melihat keseharian gadis desanya. Fedo mempunyai seribu satu cara yang bisa dia lakukan untuk menghalau rasa rindu yang membentang.
"Dengar. Aku berjanji akan membiayai seluruh kebutuhanmu selama menempuh pendidikan di London dengan syarat kau bersedia untuk menjadi mata-mataku di sini. Ada seorang mahasiswi baru jurusan kedokteran yang bernama Luri, dia calon istriku. Aku ingin kau mengawasi dan melaporkan apapun yang dia lakukan saat berada di kampus. Kalau perlu aku juga akan menyewakan satu apartemen di gedung yang sama dengan Luri agar kau lebih mudah untuk mengamatinya. Dan juga, tolong kau awasi gerak-gerik Galang. Dia adalah remaja ingusan yang selalu mengambil kesempatan untuk mendekati Luri-ku. Oke?"
Kurang lebih seperti itulah negosiasi yang berlangsung antara Fedo dengan seorang mahasiswi yang bersekolah di satu fakultas yang sama dengan Luri. Dan dari kerjasama merekalah terkadang Fedo secara sembunyi-sembunyi datang ke London kemudian menyamar dengan di bantu oleh mahasiswi tersebut. Sangat besar sekali bukan perjuangan seorang Fedo hanya demi bisa melihat gadis desanya? Dan Fedo merasa sangat bahagia meski hanya melihat Luri dari kejauhan. Itu sudah lebih dari cukup untuknya sekarang.
"Ibu pikir kau tertidur, Fed!" ucap Abigail sambil menatap putranya yang sedang berdiri di depan cermin. "Ayo keluar. Semua orang sudah menunggumu di bawah!"
Fedo menoleh. Dia kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepala. Hari ini Kayo dan Jackson akan menggelar acara pernikahan adat di rumah, jadi semua anggota keluarga wajib untuk hadir, terutama keluarga inti.
"Kau baik-baik saja kan, Fed?" tanya Abigail. Dia melirik sekilas ke arah Fedo yang menggenggam tangannya dengan sangat erat. Abigail khawatir Fedo merasa iri atau bahkan terbebani dengan pernikahan adiknya.
"Memangnya aku terlihat seperti orang sakit ya, Bu?" sahut Fedo balik bertanya.
__ADS_1
"Bukan. Bukan begitu maksud Ibu," ucap Abigail. "Wajahmu terlihat tidak bahagia, Ibu takut kau merasa terbebani dengan pernikahannya Kayo. Biar bagaimanapun Kayo menikah lebih dulu darimu, Fed. Ibu takut kau merasa tertekan!"
Fedo cukup syok begitu mendengar perkataan ibunya. Yang benar saja dia tertekan hanya karena Kayo menikah. Memang di bagian mananya dia harus merasa tertekan? Aneh sekali.
"Ibu, aku terlihat tidak bahagia itu bukan karena tertekan melihat Kayo menikah dengan Jackson. Akan tetapi aku jadi seperti ini karena Luri, aku sedih dia tidak ada di sini bersamaku. Yang benar saja Ibu berpikir aku terbebani melihat adikku menikah dengan pria yang sangat mencintainya. Ada-ada saja," ucap Fedo sambil terkekeh.
"Oh, karena Luri. Hufft, Ibu sudah berdebar-debar tadi."
Abigail tersenyum karena dia sudah salah menduga. Dan sebelum sampai di ruangan tempat acara berlangsung, Abigail menyempatkan diri mengajak Fedo untuk berbincang sejenak. Karena sibuk mengurusi pernak-pernik pernikahan putrinya, Abigail sampai lupa kalau hati putranya sedang tidak baik-baik saja. Kepergian Luri ke London telah membuat sikap Fedo berubah drastis. Awalnya Abigail sangat khawatir dan berniat menjemput paksa Luri untuk di bawa pulang ke negaranya. Dia tidak tahan melihat putranya terus-terusan bersedih dan tidak bahagia seperti hari biasa. Akan tetapi niatnya itu di cegah oleh Mattheo dengan alasan kalau sekarang adalah waktunya bagi Fedo untuk memperbaiki diri. Dan setelah di bujuk dengan ini dan itu, Abigail akhirnya luluh dan mengurungkan niatnya untuk membawa Luri pulang. Dia memilih mengikuti saran Mattheo dengan membiarkan Fedo berintropeksi diri agar masa depannya bisa jauh lebih baik dari yang sekarang.
"Luri sangat baik, Bu. Dari laporan orang suruhanku, di kampus Luri di kenal sebagai mahasiswi yang sangat aktif. Dia juga menjadi kesayangan teman-temannya karena kebaikan hati yang dia miliki. Dan satu lagi, Galang semakin gencar melakukan pendekatan pada Luri. Untung saja Luri tidak merespon balik. Kalau sampai merespon, tak peduli apakah dia akan membenciku atau tidak, aku bersumpah akan menculik kemudian menikahinya detik itu juga!" jawab Fedo dengan raut wajah yang begitu kesal saat menyebut nama Galang.
"Ck, kau ini. Sedari awal kan Luri sudah mengatakan kalau dia hanya akan menjaga hatinya untukmu seorang. Jadi mana mungkinlah Luri menerima Galang untuk menggantikanmu. Ibu tidak akan pernah percaya kalau Luri mampu melakukan hal itu!" sahut Abigail seraya menabok pelan lengan putranya. Masih saja Fedo cemburu pada Galang. Sangat menggelikan.
"Ya kan siapa tahu saja, Bu. Namanya juga cinta, bisa saja kan Galang khilaf kemudian memaksa Luri untuk menerima cintanya? Hal-hal semacam itu sering sekali aku lihat di drama televisi. Jadi wajar saja bukan kalau aku tak pernah bisa percaya pada remaja ingusan itu?"
"Ya-ya-ya, terserah kau saja. Yang jelas Ibu hanya percaya kalau sebentar lagi Luri akan menjadi menantu Ibu. Benar tidak?"
__ADS_1
Sambil tersenyum lebar, Fedo menganggukkan kepalanya. Dia kemudian memeluk pundak sang ibu lalu mencium pipinya penuh sayang.
"Bu, nanti saat Luri pulang dari London kita langsung pergi melamarnya saja ya? Aku takut dia akan meminta waktu lagi agar bisa bekerja sebagai relawan medis. Dia itu kan berhati malaikat, jiwanya pasti merasa terpanggil untuk menolong orang-orang yang membutuhkan. Ya?" rengek Fedo. Dia sempat mendengar laporan dari mata-matanya kalau Luri ingin mendaftar sebagai sukarelawan medis di salah satu negara yang rawan terkena musibah.
"Darimana kau tahu kalau Luri ingin menjadi relawan medis?" tanya Abigail penasaran. Calon menantunya unik sekali. Di saat semua orang berlomba-lomba agar bisa bekerja di rumah sakit ternama, Luri malah berkeinginan menjadi relawan di tempat yang rawan bencana. Sungguh gadis yang sangat unik.
"Pokoknya nanti saat Luri pulang Ayah Dan Ibu harus segera melamarnya pada Paman Luyan. Oke, Bu?" jawab Fedo enggan menjelaskan alasan darimana dia bisa mengetahui semua itu.
"Hmmm, baiklah terserah kau saja. Yang penting kau dan Luri bisa menikah," sahut Abigail sembari mengelus puncak kepala Fedo.
"Terima kasih banyak, Ibu. Kau yang terbaik!"
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita ke sana. Kayo dan Jackson pasti sudah tidak sabar ingin segera menggelar pernikahan adat ini!"
"Baiklah. Ayo, Bu!" sahut Fedo dengan hati yang begitu membuncah. Membahagiakan sekali bukan mempunyai orangtua yang selalu memberi dukungan? Dan itulah yang dirasakan oleh Fedo sejak menjadi anak dari pasangan Abigail dan Mattheo Eiji.
*****
__ADS_1