
Satu hari menjelang libur sekolah ....
"Nania, apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa kau terlihat seperti orang yang sedang mengintai musuh?" tanya Jovan keheranan.
Kalau saja tubuh siswa yang ada di sebelahnya ini tidak setinggi pohon kelapa, Nania pasti sudah langsung menggeplak kepalanya. Bagaimana tidak! Dia sangat kaget saat Jovan tiba-tiba berbicara di dekat telinganya. Posisi Nania saat ini tengah mengintai ke arah gerbang dari arah ujung kelas, dia ingin memastikan apakah nenek peyot itu kembali datang ke sekolah ini atau tidak. Semalam Nania sebenarnya ingin memberi tahu sang kakak kalau drama yang dia maksud bukanlah film yang dia lihat di ponsel temannya. Melainkan drama nyata yang terjadi pada sang kakak, Fedo, dan juga si nenek peyot. Akan tetapi Nania membatalkan niatnya saat mendengar kakaknya yang sedang bercanda dengan Fedo melalui ponsel. Dia tidak setega itu untuk membuat hati kakaknya bersedih, dia tidak rela. Nania kemudian memutuskan untuk membuat si nenek peyot kembali ke tempat asalnya, yaitu di Negeri Sakura, Jepang, agar tidak bisa mengganggu kebahagiaan kakaknya lagi.
"Bisa tidak kau jangan ikut campur urusan orang lain, Kak? Kau sejak pagi terus saja menggangguku. Ada apa? Rindu?" tanya Nania to the point.
"Hih, siapa juga yang akan merasa rindu pada gadis culas sepertimu, Nania. Percaya diri sekali kau," jawab Jovan berkilah. Padahal yang sebenarnya memang iya.
"Lalu kalau bukan rindu kenapa kau terus menempel padaku? Kau pikir aku tidak risih apa, Kak. Kau sudah seperti anak ayam yang tidak bisa lepas dari induknya."
Jovan kikuk. Dia mengusap tengkuknya sambil meringis pelan. Nania ini benar-benar ya. Setiap kali bicara selalu saja membuat orang lain tidak bisa berkutik. Tadi itu Jovan sebenarnya sedang berkumpul dengan teman-temannya di kantin. Tapi dia mulai merasa tak tenang saat tidak menemukan keberadaan Nania di antara teman-temannya. Khawatir terjadi sesuatu pada gadis ini, Jovan memutuskan untuk pergi mencarinya. Dan benar saja, dia berhasil menemukan Nania yang sedang berada di ujung kelas sambil mengendap-endap seperti sedang mengawasi seseorang.
"Ngomong-ngomong kau ini sedang apa, Nania? Semua temanmu sedang enak-enakan makan di kantin, tapi kenapa kau malah berubah seperti detektif Conan di sini?" tanya Jovan setelah teringat dengan tujuannya mendatangi gadis galak ini.
"Diamlah, Kak. Aku sedang mengawasi jamur kulit yang berkeliaran mencari masalah dengan kakakku," jawab Nania acuh tanpa melepaskan tatapan dari arah gerbang.
"Jamur kulit? Ilmuwan mana yang menuliskan kalau jamur seperti itu bisa menyerang manusia, Nania? Aku baru dengar."
Nania mendengkus. Dia kemudian menoleh, menatap Jovan dengan pandangan yang sangat kesal.
"Aku rasa para guru dan siswa yang menganggapmu sebagai bintang di kelas IPS itu sudah gila, Kak. Bisa-bisanya kau tidak memahami maksud dari jamur kulit yang aku katakan barusan. Ya Tuhan, baru kali ini aku bertemu dengan siswa yang sangat bodoh sepertimu," omel Nania tak habis pikir. "Yang aku maksud jamur kulit yang ingin mencari gara-gara dengan kakakku itu adalah manusia seperti kita, Kak Jovan. Kata jamur kulit hanya kata kiasan untuk menggambarkan tentang orang itu. Begini saja tidak tahu. Huh!"
"Eh, kau jangan sembarangan bicara ya. Lagipula siapa suruh kau membuat kata kiasan serumit itu. Jadi kau jangan menyalahkan aku!" sahut Jovan tak terima di katai bodoh.
__ADS_1
"Lalu aku yang salah, begitu?"
"Iyalah. Aku mana mau di salahkan. Memangnya kau pikir aku ini apa!"
Pada akhirnya Jovan dan Nania bertengkar hebat gara-gara si jamur kulit. Dan pertengkaran mereka baru berhenti ketika bel tanda masuk kelas berbunyi. Sambil bersungut-sungut Jovan dan Nania kembali ke kelas masing-masing. Mereka tidak menyadari kalau di luar sekolah si jamur kulit sedang menunggu kemunculan seorang Luri untuk menyelesaikan urusan yang kemarin.
"Hmmm, kenapa gadis sialan itu tidak keluar ya? Padahal aku sudah sangat ingin mencakar wajahnya," gumam Kanita dari dalam mobil.
"Kenapa tidak minta tolong pada siswa lain saja untuk memanggil gadis itu, Nona? Dengan begini kau tidak perlu membuang waktu secara percuma."
Kanita menarik nafas berat. Saran dari pendampingnya ini cukup masuk akal juga. Dan di saat yang bersamaan, dari arah gerbang keluar sebuah mobil yang lumayan mewah. Tapi tiba-tiba mobil itu berhenti kemudian seorang siswa perempuan nampak keluar dari sana lalu kembali masuk ke sekolah. Tak ingin membuang kesempatan, Kanita pun bergegas menghampiri. Tak lupa juga dia menutupi wajahnya menggunakan syal agar tidak ada orang yang bisa mengenalinya.
"Maaf, kau siapa?" tanya Galang heran ketika mobilnya di hampiri oleh seorang wanita yang pakaiannya sangat tidak sopan. Sepertinya wanita ini bukan wanita baik-baik, begitu pikir Galang.
"Apa kau tahu di mana gadis yang bernama Luri?" sahut Kanita balik bertanya. Dia terus melirik ke arah sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang sedang mengawasi.
"Memangnya kau ada urusan apa dengan Luri?" tanya Galang ingin tahu.
"Ck, kau ini tidak sopan sekali ya. Bukannya menjawab kau malah balik bertanya pada orang yang lebih tua. Di sekolah kau di ajarkan tentang sopan santun tidak, hah!" hardik Kanita jengkel.
"Nona, sekolah kami tidak di ajarkan untuk bicara sembarangan dengan orang asing. Dan kau baru saja bertanya padaku tentang siswa yang ada di sekolah ini. Jadi wajar bukan kalau aku bertanya ada urusan apa antara kau dengan Luri. Siapa tahu kau ingin berbuat jahat padanya!"'sahut Galang tanpa merasa takut. Dia menjadi semakin yakin kalau wanita ini bukanlah wanita baik-baik.
Gigi Kanita saling menggeretak saat perkataannya di bantah oleh siswa tersebut. Andai saja tidak ada CCTV di dekat gerbang sekolah ini, Kanita pasti sudah akan menjambak rambut siswa kurang ajar yang sudah membuatnya merasa kesal. Sungguh sial nasib Kanita dua hari ini. Pertama dia harus mati kutu setelah bertemu dengan Luri. Dan sekarang dia harus kembali tidak bisa melakukan apa-apa gara-gara ucapan cetus siswa yang kini tengah memandangnya curiga dari dalam mobil.
Sepertinya tidak akan ada gunanya aku bertanya pada siswa sialan ini. Buang-buang waktu saja. Huh, gerutu Kanita dalam hati.
__ADS_1
Dari arah dalam sekolah, nampak Luri yang sedang berjalan menuju mobilnya Galang. Luri dan Galang tadi di minta oleh wali kelas mereka untuk mengambilkan buku di rumah salah satu guru yang sedang sakit. Dan Luri kembali ke kelas karena ada barang yang tertinggal di sana.
"Dasar murid sialan. Percuma sekolah di tempat yang mahal kalau attitude saja kalian tidak punya. Cihh!" kesal Kanita kemudian pergi meninggalkan siswa tampan yang tadi berdebat dengannya.
"Siapa wanita itu, Lang?" tanya Luri sambil menatap penasaran ke arah wanita yang tadi bicara dengan teman sekelasnya ini.
Galang kaget setengah mati saat Luri tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya. Dia terlalu fokus pada wanita itu sampai-sampai tidak menyadari kalau Luri sudah ada di dalam mobil. Untung saja wanita itu sudah pergi. Jika tidak, Luri pasti akan ketahuan olehnya.
"Lang, ada apa? Apa kau mengenal wanita itu?"
"Tidak, aku sama sekali tidak mengenalnya. Tadi dia hanya bertanya apakah aku mengenal siswa yang bernama Tiara atau tidak. Itu saja," jawab Galang berkilah. Dia terpaksa berkata bohong karena tak ingin membuat Luri menjadi khawatir. Biar nanti dia cari tahu saja tentang wanita itu.
"Oh, begitu. Ya sudah ayo kita berangkat. Teman dan wali kelas kita sudah menunggu buku-buku itu untuk belajar!" ajak Luri kemudian memakai seatbelt ke tubuhnya.
Galang menarik nafas kemudian mengangguk. Dia lalu menjalankan mobilnya sambil terus memikirkan siapa wanita itu. Galang sungguh penasaran kenapa Luri bisa di cari olehnya. Mungkinkah Luri sedang terlibat suatu masalah?
Semoga saja tebakanku salah. Lagipula tidak mungkin juga Luri terlibat masalah dengan wanita yang tidak jelas seperti dia. Atau jangan-jangan wanita itu adalah simpanan kakak iparnya? Astaga, kau ini berpikir apa, Galang. Sudah-sudah, fokus menyetir dulu saja. Batin Galang resah sendiri.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...