PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Sedikit Terbuka


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan malam bersama keluarganya, Fedo bergegas masuk ke kamar sambil menenteng paperbag berisi sepasang pakaian couple yang tadi dia beli bersama Kayo. Fedo sudah tidak sabar ingin segera memberitahu Luri kalau besok mereka akan mengenakan pakaian dengan warna senada saat menghadiri pesta pernikahannya Reinhard.


"Hah, semoga saja Luri tidak menolak untuk memakai gaun ini besok. Astaga, kenapa jantungku jadi berdebar-debar begini ya membayangkan betapa cantiknya Luri saat mengenakan gaun ini. Aku bukan sedang mengalami gejala sakit jantung kan?"


Fedo tertawa sendiri setelah bergumam seperti itu. Sebelum menelpon, Fedo masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Aroma tubuhnya sudah tidak karu-karuan karena sudah bercampur dengan keringat dan juga debu setelah hampir setengah hari berkeliling memutari hampir semua toko baju hanya demi mendapatkan pakaian couple yang dia mau.


Meski lumayan melelahkan, tapi Fedo merasa sangat senang karena pulang tidak dengan tangan kosong. Akan tetapi kesenangan itu harus Fedo tukar dengan sesuatu yang amat besar. Ya, Fedo harus merelakan dompetnya di kuras habis oleh Kayo karena tanpa sepengetahuan Fedo, Kayo rupanya telah memborong alat-alat kosmetik yang harganya membuat Fedo sampai terheran-heran.


"Ini sebagai bayaran atas semua waktu dan juga rasa lelah yang aku dapat setelah menemanimu berbelanja baju. Adil, kan?"


Kurang lebih seperti itulah jawaban Kayo saat Fedo menanyakan alasan kenapa dia menguras isi dompetnya tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu. Dan Fedo tidak di izinkan protes karena jika itu tetap dilakukan, Kayo mengancam tidak akan mau untuk menolongnya lagi jika Fedo meminta bantuannya. Sungguh definisi adik yang sangat kejam.


Dengan memakai handuk yang menutupi setengah pahanya, Fedo berjalan keluar dari dalam kamar mandi sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Setelah itu Fedo segera mengambil ponsel kemudian menghubungi Luri.


"Kemana dia? Kenapa lama sekali menjawab panggilanku. Luri tidak mungkin sudah tidur 'kan?" gumam Fedo saat panggilannya tak kunjung di jawab.


Tepat setelah Fedo menggumam, Luri akhirnya menjawab panggilan tersebut. Senyum semringah langsung menghiasi bibir Fedo ketika dia mendengar suara lembut yang menyapanya dari dalam telepon.


"Halo, Kak Fedo. Kau sedang apa?"


"Sedang memikirkan dan merindukanmu, sayang," jawab Fedo membual. "Sayang, tadi apa yang sedang kau lakukan? Bokongku sampai keluar akar gara-gara menunggumu menjawab telepon. Pergi kemana, hm?"


Kening Fedo mengerut saat dia mendengar suara Nania yang seperti sedang menanyakan sesuatu pada Luri. Sambil menunggu Luri selesai bicara dengan gadis beracun itu, Fedo berjalan ke arah lemari kemudian mengambil baju dan celana. Dia menunggu dengan sangat sabar hingga pada akhirnya Luri kembali menyapanya.

__ADS_1


"Halo, Kak. Maaf ya tadi aku mengabaikanmu sebentar. Nania kumat, dia menjahili aku."


"Tidak apa-apa, sayang. Aku sangat bisa memaklumi kenakalan anak satu itu kok," sahut Fedo. Dia kemudian menarik paperbag yang tergeletak di atas ranjang. "Sayang, tadi siang aku dan Kayo pergi ke toko baju. Lalu aku tidak sengaja melihat sepasang pakaian couple kemudian membelinya. Em, aku ingin nanti kita memakainya untuk pergi ke pesta. Kau mau tidak?"


Luri tak langsung menjawab pertanyaan Fedo, dan hal itu membuat Fedo merasa tak tenang. Dia khawatir Luri akan menolak untuk memakai gaun tersebut. Karena penolakan itu akan sangat menghancurkan fantasi yang sudah memenuhi pikiran Fedo.


"Kak, apa kau yakin tidak apa-apa jika aku datang ke pesta itu? Apalagi kita memakai baju pasangan, aku takut orang akan curiga lalu mengejekmu, Kak."


"Ya ampun, sayang. Tidak hanya kita yang akan memakai baju dengan warna yang sama seperti ini. Lagipula siapa sih yang berani mengejek keponakan tersayangnya Bibi Liona? Paling banyak mereka hanya akan berani membatin dalam hati saja. Jadi kau jangan khawatir ya. Aku jamin semuanya pasti akan berjalan dengan baik," jawab Fedo berusaha meyakinkan Luri.


"Oh, begitu ya, Kak? Em, kalau boleh tahu apakah gaun itu ... seksi? Jika iya maka aku tidak bisa memakainya, Kak Fedo. Aku tidak mau Ayah menanggung dosa karena aku yang mengumbar bagian tubuh secara sembarangan."


"Kalau masalah itu kau tenang saja, sayang. Kayo sudah memilihkan baju dengan model yang tidak terlalu terbuka. Tadinya sih aku memilih gaun yang memiliki belahan tinggi di bagian paha dan belahan rendah di bagian dada. Kemudian Kayo mengingatkan aku kalau kau tidak mungkin mau memakai baju seperti itu. Jadilah kami berdua menukarnya dengan gaun lain yang modelnya sedikit lebih sopan. Begitu."


"Benarkah? Wahhh, Kayo baik sekali ya, Kak. Dia sampai harus repot-repot memilihkan gaun untukku."


"Untuk calon kakak iparnya sendiri mana mungkin Kayo merasa repot, sayang. Yang ada dia malah sangat antusias saat aku mengajaknya pergi berbelanja," sahut Fedo. "Oh ya, sayang. Besok aku yang akan menjemputmu di rumah. Sekalian meminta izin pada Paman Luyan kalau Ayah dan Ibu ingin mengajakmu berbincang bersama. Kau mau 'kan?"


Tak terdengar suara apapun dari seberang telepon saat Fedo memberitahu Luri kalau ayah dan ibunya ingin mengajaknya bicara. Fedo maklum, dia tahu kalau Luri pasti sedang gelisah sekarang. Tak mau membuat Luri berpikiran yang tidak-tidak, Fedo pun segera menjelaskan maksud dari ucapannya barusan.


"Sayang, Ayah dan Ibu hanya ingin mengenalmu lebih dekat. Aku berani jamin kalau mereka tidak akan bertanya macam-macam. Sungguh," ucap Fedo.


"Kak, apa kau yakin ingin mengajakku pergi bersama ke pesta itu? Di sana nanti pasti akan ada banyak wartawan, aku takut mereka menyadari kedekatan kita."

__ADS_1


Ada nada kekhawatiran di balik pertanyaan Luri yang mana membuat Fedo menarik nafas dalam. Dia sungguh tidak mengerti dengan cara berpikirnya Luri. Di saat semua wanita berlomba-lomba agar bisa masuk berita bersamanya, gadis desa satu ini malah ketakutan karenanya. Hal ini membuat Fedo jadi semakin mencintai Luri. Perasaan gadis ini benar-benar sangat tulus tanpa memandang status yang dia miliki.


"Sayang, aku sebenarnya sangat tidak keberatan jika media sampai mengetahui kedekatan kita. Akan tetapi jika itu membuatmu merasa tidak nyaman, maka nanti kau bisa masuk ke gedung resepsi bersama Gleen dan juga kakakmu. Tapi dengan syarat pulang pergi harus bersamaku. Ya?"


"Apa dengan cara ini kita akan aman, Kak? Maaf ya kalau ini terlalu repot. Aku hanya tidak mau ada yang melenceng dari harapanku. Kau tidak apa-apa kan Kak kalau kita melakukannya secara diam-diam dulu?"


"Aku sungguh tidak apa-apa, sayang. Karena yang paling penting itu adalah kau. Aku tidak mau kalau kau sampai merasa tidak nyaman nantinya. Jadi sudah ya, jangan panik lagi. Kita akan tetap pergi bersama, tapi kau akan masuk bersama kakakmu demi untuk menghindari sorotan kamera. Oke?"


"Baiklah. Oh ya, kau sudah makan malam belum, Kak?"


Hati Fedo serasa meledak saat Luri lagi-lagi menunjukkan perhatiannya. Mungkin itu hanyalah sepatah kata sederhana yang bisa dilakukan oleh semua orang. Akan tetapi bagi Fedo perhatian yang Luri berikan sangatlah berkesan. Karena apa? Karena gadis ini melakukannya dengan hati yang tulus.


"Sudah, sayang. Tadi setelah pulang berbelanja aku dan yang lainnya langsung makan malam bersama. Kau sendiri sudah makan malam atau belum?"


"Sudah, Kak. Seperti biasa, aku makan malam bersama Nania, Ayah, Ibu dan juga para suster."


"Hmmm, kira-kira kapan ya aku bisa makan di meja yang sama denganmu dan juga dengan keluargamu?" tanya Fedo berandai-andai.


"Akan ada masanya nanti untukmu merasakan hal itu, Kak. Kita sama-sama berdoa saja semoga Tuhan memudahkan semua keinginan yang kita harapkan."


Panggilan terputus saat Luri meminta izin pada Fedo untuk beristirahat lebih dulu. Fedo yang juga kebetulan memiliki sedikit pekerjaan pun langsung menyetujui niatan Luri yang ingin mengakhiri panggilan. Dengan wajah bersinar cerah Fedo berjalan menuju ruang kerjanya. Rasa lelah yang tadi membelenggu tubuhnya serasa hilang setelah mendengar suara merdu milik gadis desanya. Sungguh, Luri adalah obat penenang yang sangat mujarab bagi Fedo. Membuat Fedo jadi kian terLuri-Luri setiap harinya.


*****

__ADS_1


__ADS_2