PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Kabar Baik


__ADS_3

Abigail, Mattheo dan juga Kayo memperhatikan Fedo yang tengah menikmati makan malam sambil terus tersenyum seperti orang tidak waras. Ya, sejak pria ini pulang dari kantor wajahnya terlihat berseri-seri dengan senyum lebar mengembang di bibirnya. Aneh, tapi sudah bisa di pastikan kalau penyebab Fedo jadi seperti ini adalah karena Luri. Siapa lagi memangnya yang bisa membuat sang Casanova terlihat seperti orang gila selain gadis desa itu? Benar tidak?


"Ekhmmm, kenapa semua makanan yang ada di atas meja berubah menjadi bunga yang sedang mekar ya?" ledek Mattheo sambil berpangku dagu.


"Iya, Ayah benar. Bahkan makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam perutku juga tiba-tiba mekar di dalam. Ahh, apakah musim di negara ini sudah berganti ke musim semi?" timpal Kayo ikut meledek sang kakak.


Fedo yang tengah berbahagia sama sekali tidak menyadari kalau sedang di sindir oleh Kayo dan ayahnya. Dia terus menikmati makanan sambil mengenang percakapannya dengan Luri. Pria mana yang tidak akan merasa bahagia jika mempunyai pasangan yang begitu pengertian? Ya, Fedo sangat beruntung karena respon yang Luri tunjukkan sangat jauh dari apa yang dia pikirkan. Awalnya Fedo sempat ketakutan membayangkan kemurkaan Luri jika gadis itu sampai tahu tentang kebiasaannya yang sangat suka bergonta-ganti wanita. Namun Fedo sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Luri tidak merasa keberatan dengan hal tersebut asalkan semua itu terjadi bukan setelah mereka saling kenal. Coba kalian bayangkan betapa beruntungnya nasib percintaan sang Casanova si penakluk ranjang ini. Sangat penuh dengan kejutan bukan?


"Fedo, apa kau baru saja memenangkan tender di perusahaan?" tanya Abigail.


"Tender apa maksudnya, Bu?" sahut Fedo balas bertanya.


"Sejak tadi Ibu perhatikan kau terus saja tersenyum, bahkan kau tidak menghiraukan ucapan ayah dan juga adikmu. Ada apa, hm? Apakah ada hal baik yang terjadi?"


Setelah berbicara Abigail dengan penuh perhatian mengambilkan lauk untuk putranya. Dan hal ini langsung memicu kecemburuan Mattheo yang mana langsung mengambil lauk di atas piring Fedo kemudian di pindahkan ke atas piringnya. Abigail yang melihat ulah nakal suaminya hanya bisa menghela nafas panjang. Dia malas berdebat.


"Hehe, Ibu tahu saja kalau ada hal baik yang sedang terjadi," ucap Fedo mengabaikan tingkah gila sang ayah. Dia kemudian mengambil lauk sendiri sambil memberitahu keluarganya tentang hal baik apa yang dia dapatkan. "Tadi siang Kanita berhasil menemui Luri. Dia datang dan mengaku sebagai kekasihku di mana kami sering menghabiskan malam bersama. Kanita juga bilang kalau aku sangat candu pada tubuhnya dan tidak bisa tidur jika tidak bercinta dulu dengannya."


Makanan yang ada di dalam mulut Mattheo langsung tertelan begitu saja saat dia mendengar ucapan Fedo. Aneh, entah di bagian mana yang bisa di anggap kabar baik jika orang yang sedang mereka khawatirkan berhasil mewujudkan keinginannya. Putranya ini sepertinya sudah tidak waras.


"Bukankah seharusnya ini menjadi kabar buruk ya, Kak? Kenapa kau malah menganggapnya sebagai kabar yang baik? Otakmu tidak sedang geser kan, Kak?" cecar Kayo tak habis pikir. Dia sampai tak berselera makan setelah mendengar hal tersebut.


"Kau jangan protes dulu, Kay. Aku kan belum selesai bicara!" omel Fedo. "Awalnya aku juga merasa kalau pertemuan mereka adalah kabar yang sangat buruk. Tapi di balik semua itu ternyata Tuhan sudah mengatur skenario yang sangat luar biasa baik. Benar kalau Kanita mengatakan pada Luri kalau kami adalah pasangan kekasih yang merangkap sebagai penikmat ranjang. Akan tetapi Luri menyikapi hal tersebut dengan sangat bijak. Dia bilang padaku tidak apa-apa kalau memang benar aku dan Kanita memiliki hubungan seperti itu dengan catatan kalau semuanya terjadi sebelum kami saling mengenal. Luri benar-benar tidak mempermasalahkan statusku sebagai seorang Casanova yang suka dengan wanita seksi dan menggoda. Dia bahkan dengan tegas berkata di depan wajahnya Kanita kalau dia tidak akan pernah melepaskan aku. Ini adalah kabar yang sangat membahagiakan bukan?"

__ADS_1


Ruang makan menjadi sangat sunyi begitu Fedo memberitahu keluarganya tentang kabar baik yang dia maksud. Dan semuanya baru tersadar dari keheningan tersebut saat ponsel milik Kayo berdering.


"Siapa?" tanya Abigail sedikit tak suka ketika ada yang menerima telepon saat berada di meja makan.


"Anak buahku, Bu. Apa aku boleh mengangkatnya sebentar?" jawab Kayo meminta izin. "Dia orang yang aku tugaskan mengawasi Kanita di Shanghai."


"Oh, ya sudah angkat saja. Jangan lama-lama, Ibu tidak suka!"


Kayo mengangguk.


"Nona Muda, saat ini Nona Kanita sedang dalam perjalanan kembali ke Jepang. Dia pergi karena di ancam akan di bunuh oleh Tuan Jackson. Sedangkan orang yang pergi bersamanya di biarkan selamat karena dia dan Tuan Jackson saling kenal."


"Tidak. Kalian kembalilah kemari, tugas selesai," jawab Kayo singkat kemudian memutuskan panggilan.


"Bu, Jackson membuat Kanita lari terbirit-birit dari Shanghai. Dia sekarang sedang dalam perjalanan pulang ke negara ini," ucap Kayo memberitahu keluarganya.


"Tidak mengherankan jika Kanita langsung pulang ke negara ini. Jackson pasti sudah melakukan sesuatu yang buruk padanya sampai akhirnya dia menyerah kemudian melepaskan Luri. Calon menantumu itu sangat bar-bar sekali ya, darling!" sahut Mattheo sambil menggelengkan kepala.


"Biar saja. Selagi dia tidak memenggal kepala orang aku sama sekali tidak keberatan memiliki menantu sepertinya. Lagipula siapa suruh Kanita memantik kemarahan Jackson. Jadi ya sudah, tanggunglah akibatnya sendiri. Benar kan, Kay?" ucap Abigail seraya tersenyum bangga akan tindakan yang dilakukan sang menantu.


"Tentu saja itu sangat benar, Ibu. Sebenarnya aku sudah melarang Jackson untuk tidak mencampuri urusan Luri dan Kak Fedo. Tapi sepertinya dia masih menyimpan dendam membara pada Kanita gara-gara kejadian waktu itu!" sahut Kayo kemudian melihat ke arah sang kakak. "Kak, aku jadi kasihan pada mantan teman tidurmu itu. Dia pasti sangat ketakutan saat calon suamiku datang menghampirinya."


Sebuah smirk muncul di bibir Fedo saat dia mendengar ejekan yang di lontarkan oleh adiknya. Masih untung Jackson hanya membuat Kanita ketakutan. Coba bayangkan jika sisi gelap Jackson kembali muncul, Kanita pasti akan pulang tanpa nyawa karena kebrutalan calon adik iparnya dalam menghilangkan nafas seseorang cukup membuat Fedo merasa ngilu.

__ADS_1


"Kita sudahi dulu pembahasan tentang Kanita dan Jackson. Sekarang Ibu ingin membahas tentang respon Luri yang begitu dewasa dalam menyikapi kelakuanmu, Fedo!" ucap Abigail sembari menyeka mulutnya dengan tisu. "Apa kau yakin dia benar-benar menerima masa lalumu dengan ikhlas?"


"Sangat yakin, Bu. Asalkan itu semua terjadi sebelum kami saling mengenal, Luri bilang dia tidak merasa keberatan," jawab Fedo dengan raut wajah yang sangat serius.


Abigail mengangguk. Dia kemudian melihat ke arah suaminya yang masih sibuk dengan makanan di piringnya.


"Matt, bagaimana kalau besok pagi kita pergi ke Shanghai untuk melamar Luri pada orangtuanya? Berlian indah sepertinya tidak boleh lepas dari genggaman," tanya Abigail penuh semangat.


"Aku sangat setuju denganmu, darling. Bahkan jika perlu kita langsung nikahkan mereka saja setelah Luri lulus sekolah. Perkara nanti dia akan lanjut kuliah atau tidak itu terserah dia saja. Yang terpenting hanya wanita berpendirian seperti dia yang pantas melahirkan penerus dari keluarga Eiji selanjutnya," jawab Mattheo tanpa ragu.


"Bagaimana, Fed? Apa kau setuju dengan rencana Ayah dan Ibu?" tanya Abigail sambil menatap seksama ke arah putranya.


"Maaf, Bu. Aku tidak setuju!" jawab Fedo dengan


tegas.


Mattheo, Abigail dan Kayo langsung mengerutkan kening. Mereka merasa heran mendengar jawaban Fedo yang ternyata menolak untuk di nikahkan dengan Luri. Padahal mereka tahu dengan jelas kalau Casanova ini begitu tergila-gila pada gadis desa itu. Aneh sekali.


"Ayah, Ibu, aku pernah bilang pada kalian bukan kalau Luri baru akan menerimaku sebagai kekasihnya setelah dia merasa pantas untuk bersanding denganku? Bukannya aku tidak menghargai rencana kalian. Aku bahkan jauh lebih bern*fsu untuk menikahi Luri jika di bandingkan dengan kalian. Tapi di sini aku tidak boleh egois, aku harus menghargai usaha Luri untuk tetap menjaga perasaan orangtuanya. Dia tidak ingin membuat ayah dan ibunya terbebani dengan menjalin hubungan denganku tanpa memiliki sesuatu yang bisa di banggakan. Juga karena dia tidak ingin nama baik keluarga kita menjadi bahan cemoohan orang gara-gara memiliki menantu dengan latar belakang orang biasa. Ya setidaknya kita berilah dia waktu untuk memantaskan diri sebelum menjadi bagian dari keluarga Eiji. Lagipula ya Ayah, Ibu. Rasanya pasti akan jauh lebih membahagiakan jika percintaan kami di bumbui dengan history yang penuh perjuangan. Benar tidak?"


Abigail langsung menghampiri Fedo kemudian memeluknya dengan erat. Sebagai seorang ibu, Abigail merasa sangat bangga karena putranya di cintai dengan begitu hebat oleh seorang gadis berlatar belakang sederhana. Sungguh, tidak ada kebahagiaan yang berarti selain melihat suami dan kedua anaknya memiliki kehidupan yang baik seperti yang dia lihat sekarang. Mattheo memilikinya, Kayo memiliki Jackson yang siap melindungi, sedangkan Fedo memiliki Luri yang begitu dewasa dan penyayang. Nikmat Tuhan mana lagi yang harus Abigail dustakan? Tuhan benar-benar memberikan kehidupan yang begitu sempurna untuknya.


*****

__ADS_1


__ADS_2