
Pagi ini media Shanghai di gemparkan oleh sebuah berita yang memperlihatkan foto salah satu keponakan dari keluarga Ma yang tengah berbincang mesra bersama seorang gadis misterius. Kabar tersebut bahkan menjadi topik utama hampir di semua majalah dan kabar berita, yang mana membuat banyak orang menjadi sangat amat penasaran pada sosok gadis misterius yang telah berhasil menggaet salah satu kerabat dari keluarga paling ternama di Shanghai.
"Woaaahhh, luar biasa. Ini adalah berita yang sangat hebat. Keren!" pekik Nania dengan sangat kuat. Bola matanya hampir meloncat keluar saking senangnya dia membaca berita kalau kakaknya dan Fedo menjadi berita terpanas di salah satu akun gosip yang di ikutinya.
"Ya ampun, Nania. Bisa tidak jangan berteriak sekencang itu. Lihat, Ayahmu sampai tersedak karena kaget mendengar suara teriakanmu!" tegur Nita sembari menepuk pelan punggung suaminya yang sedang terbatuk-batuk.
"Astaga, maafkan aku, Ibu. Aku lupa kalau Ayah sedang minum teh di sini," sahut Nania dengan cepat. Setelah itu dia bergegas mendekati ayahnya kemudian membantu mengelus dadanya dengan lembut. "Ayah, maaf ya. Aku terlalu senang membaca berita di ponselku tadi, makanya aku berteriak. Maafkan aku ya, Ayah. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya."
Wajah Luyan sedikit memerah ketika dia menganggukkan kepala. Masih dengan terbatuk kecil, dia mengusap puncak kepala putrinya yang kini tengah menatapnya dengan sorot mata penuh penyesalan. Lucu, dan Luyan sangat suka melihat Nania yang sedang seperti ini. Sangat manis.
"Memangnya berita apa yang sedang kau baca sampai-sampai membuatmu berteriak sekuat itu, hm?" tanya Luyan penasaran.
"Ini, Ayah. Aku baru saja membaca berita di salah satu akun gosip kalau Kak Luri dan Kak Fedo masuk ke jajaran berita terpanas hari ini. Bahkan foto mereka yang sedang berbincang mesra sekarang terpajang di mana-mana. Semua orang begitu penasaran pada Kak Luri, Ayah. Mereka menyebut Kak Luri sebagai gadis misterius yang sangat luar biasa cantik," jawab Nania dengan begitu antusias.
"Jadi kakakmu masuk berita?" pekik Nita dan Luyan bersamaan.
Nania mengangguk. Setelah itu dia mengambil ponselnya kemudian menunjukkan foto yang dia maksud kepada ayah dan juga ibunya. "Lihat ini Ibu, Ayah. Kak Luri benar-benar sangat cantik di foto ini. Pantas saja dia sampai trending di mana-mana, kecantikannya benar-benar memikat mata semua orang."
Tidak ada tanggapan apapun dari Luyan dan Nita begitu melihat dengan mata kepala sendiri kalau apa yang mereka khawatirkan mulai muncul ke permukaan. Kedekatan Luri dan Fedo menjadi berita terpanas di negara ini, dan itu artinya ada banyak mata yang akan mulai mencari tahu tentang latar belakang kehidupan mereka. Jujur, mau sekuat apapun pengaruh keluarga Fedo, itu masih belum bisa membuat Luyan dan Nita tenang sepenuhnya. Mereka benar-benar sangat takut kalau kabar ini bisa membuat Luri mengalami tekanan tersendiri. Apalagi jika identitas putri mereka sampai terbongkar keluar. Bisa di pastikan kalau orang-orang akan langsung mencemooh Luri yang sejatinya hanya seorang gadis desa biasa.
"Em Ayah, Ibu, kalian kenapa? Tidak senang ya melihat Kak Luri masuk ke berita?" tanya Nania heran melihat kedua orangtuanya yang hanya diam tak bicara.
__ADS_1
"Nania, bisa tolong panggilkan kakakmu kemari tidak? Bilang padanya kalau Ayah ingin bicara," ucap Nita langsung tanggap kalau suaminya perlu berbincang serius dengan Luri.
"Baiklah, Bu."
Sambil terus menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi, Nania berjalan cepat menuju kamar sang kakak. Dia tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke dalam kamar kemudian menghampiri kakaknya yang sedang membereskan pakaian.
"Kak, cepat turun. Ayah sepertinya sangat marah setelah melihat fotomu dan Kak Fedo terpampang di media sosial. Cepatlah, Ayah ingin bicara denganmu," ucap Nania.
Luri menghela nafas. Dia sudah bisa menebak kalau hal ini pasti akan terjadi. Sambil terus berusaha bersikap tenang, Luri mengajak Nania untuk keluar menemui orangtua mereka. Jujur, Luri sebenarnya juga sangat kaget begitu tahu kalau fotonya bersama Fedo terpampang di banyak akun berita. Padahal semalam mereka sudah berusaha sehati-hati mungkin untuk menghindari mata kamera. Tapi apa mau di kata, sepertinya para pemburu berita itu jauh lebih pandai dari yang mereka kira.
"Nania, kau masuklah ke kamarmu dulu. Ada hal penting yang ingin Ayah dan Ibu bahas dengan kakakmu," ucap Luyan tegas begitu kedua putrinya muncul.
Nania mengangguk kemudian bergegas masuk ke kamarnya. Dia cukup tahu kalau usianya masih belum pantas untuk ikut mendengarkan pembicaraan orang dewasa.
"Luri, apa kau sudah membaca berita hari ini?" tanya Luyan tanpa membuang waktu. Pikirannya menjadi tidak karu-karuan setelah melihat foto yang di tunjukkan oleh putri bungsunya tadi.
"Sudah, Ayah," jawab Luri. "Ayah, jika Ayah memiliki sesuatu untuk di katakan padaku, maka katakan saja. Ini salahku, aku siap melakukan apapun yang Ayah perintahkan. Termasuk untuk tidak lagi berhubungan dengan Kak Fedo. Aku memang menyukainya. Akan tetapi jika itu harus mengorbankan perasaan Ayah dan Ibu, maka aku lebih memilih untuk tidak melanjutkan hubungan ini. Aku tahu Ayah dan Ibu merasa kecewa setelah mengetahui berita tersebut, tapi semua itu di luar kehendakku. Semalam aku dan Kak Fedo sudah berusaha semampu kita agar tidak memancing kecurigaan para wartawan. Dan aku sangat tidak menyangka pagi ini media akan mengunggah foto kami berdua. Sungguh!"
Luyan dan Nita tersentak kaget begitu mendengar perkataan Luri yang rela menjauh dari Fedo demi menjaga perasaan mereka. Sungguh, ini di luar yang mereka pikir. Tadinya mereka kira Luri akan menjelaskan kenapa foto-foto itu bisa sampai tersebar ke media. Siapa yang akan menduga kalau gadis ini lebih memilih untuk mementingkan perasaan orang lain ketimbang perasaannya sendiri.
"Sayang, Ayah memanggilmu bukan dengan tujuan seperti itu. Memang benar kalau kami sangat mengkhawatirkan keadaanmu setelah melihat foto-foto di ponsel Nania. Akan tetapi kami bukan bermaksud memintamu untuk meninggalkan Fedo. Bukan seperti itu," ucap Nita sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
"Ibumu benar, Luri. Ayah memanggilmu kemari karena Ayah ingin memastikan apakah kau baik-baik saja dengan kabar ini atau tidak. Ayah khawatir kau akan merasa tidak nyaman jika sampai ada orang yang mengenalimu. Ayah tidak mau melihatmu merasa sedih dan terbebani, Nak. Kau tahu itu kan?" imbuh Luyan kemudian mengelus puncak kepala putrinya penuh kasih.
"Jadi Ayah dan Ibu tidak marah?" tanya Luri terkaget-kaget begitu melihat respon orangtuanya tidak seperti yang dia pikirkan.
"Astaga, sayang. Untuk apa kami marah, hm. Dengar ya, Ayah dan Ibu itu sudah merestui hubunganmu dengan Fedo. Jadi kami mana mungkin marah hanya karena melihat foto kalian tersebar di banyak media berita. Kami itu mengkhawatirkanmu, bukan ingin marah padamu," jawab Nita.
Luri langsung menghembuskan nafas lega setelah mengetahui kebenarannya. Padahal tadi Luri sudah sangat siap menerima keputusan terpahit sekalipun begitu Nania mengatakan kalau sang ayah ingin berbicara dengannya. Sungguh, Luri benar-benar lega sekarang.
"Oh ya, Luri. Apa Fedo sudah tahu tentang berita ini?" tanya Luyan penasaran.
"Sudah, Ayah. Darinya juga aku mengetahui kalau ada wartawan yang ternyata berhasil mengabadikan foto kami kemudian mengunggahnya ke salah satu situs akun gosip. Aku sebenarnya takut, tapi Kak Fedo bilang semuanya akan baik-baik saja. Begitu," jawab Luri dengan jujur mengatakan semuanya.
"Hmmm, sepertinya anak itu perlu di beri sedikit pelajaran supaya tidak ceroboh lagi. Sekarang coba kau hubungi Fedo lalu minta dia untuk datang kemari. Mereka belum berangkat ke Jepang kan, Nak?"
"Sepertinya masih belum, Ayah. Kak Fedo bilang tadi dia dan keluarganya sedang bersiap. Sekitar satu atau dua jam dari dia menelpon mereka baru akan kembali ke Jepang."
"Ya sudah sekarang kau telpon dia. Katakan padanya kalau Ayah sangat marah karena berita itu. Ya?"
"Baik, Ayah!"
Dengan perasaan yang begitu lega Luri pamit untuk kembali ke kamarnya. Setelah itu dia segera menghubungi Fedo dan memintanya untuk singgah sebentar sebelum kembali ke Jepang. Tak lupa juga Luri menyampaikan apa yang di katakan oleh ayahnya, yang mana membuat Fedo menjadi sangat panik lalu mengatakan akan langsung datang ke rumah bersama dengan keluarganya.
__ADS_1
Ya Tuhan, rasanya aku seperti baru saja terbebas dari himpitan batu besar. Sangat melegakan, ujar Luri dalam hati.
*****