
Luri menatap sang adik sembari menarik nafas dalam-dalam. Dia sungguh tak mengerti lagi kenapa adiknya bisa mempunyai sikap yang begini nakal. Setelah Galang pulang dari sini, Luri yang baru sempat membuka ponselnya terkejut setengah mati ketika mendapat ratusan pesan yang di kirim oleh Fedo. Sebenarnya bukan banyaknya pesan yang membuatnya terkejut, melainkan satu foto yang menjadi penyebab Fedo menggila.
"Nania, kenapa kau mengirim foto seperti itu pada Kak Fedo? Itu memalukan, Nania!" tegur Luri.
"Memalukan apanya sih, Kak. Itu kan hanya foto pelukan, bukan foto kalian yang sedang berbuat mesum. Begitu saja sudah marah-marah," sahut Nania sambil mengepak-ngepakkan tangan di atas kasur.
"Kakak bukannya marah, Nania. Kakak hanya ingin tahu kenapa kau mengirim foto seperti itu. Apa kata Kak Fedo setelah melihat Kakak sedang berpelukan dengan laki-laki lain? Dia pasti akan beranggapan kalau Kakak adalah wanita yang tidak benar."
Bukannya menyadari kesalahan yang dia buat, Nania malah dengan sengaja menggoda sang kakak yang sedang mengomel.
"Apa Kakak sangat takut Kak Fedo akan berpikir seperti itu? Kalau aku sih tidak, Kak. Karena kata temanku, pasangan yang baik adalah dia yang bisa memahami situasi dengan benar. Aku tahu Kakak dan Kak Fedo saling menyukai, harusnya sih dia tidak menjadikan foto itu sebagai alasan untuk putus. Iya kan?"
Pipi Luri sedikit bersemu merah saat Nania menganggap kalau Fedo adalah pasangannya. Dia bahkan sampai tidak berani menatap ke arah sang adik yang kini tengah tersenyum usil ke arahnya.
"Tenang saja, Kak. Aku jamin Kak Fedo tidak akan berani berpikiran macam-macam tentang foto itu. Tadi itu aku tidak sengaja melihat Kakak yang sedang memeluk Kak Galang. Dan kebetulan aku memiliki dendam pribadi pada Kak Fedo. Jadi ya sudah, kesempatan itu aku gunakan untuk membuatnya kesal. Maaf ya kalau perbuatanku membuat Kakak merasa kecewa," ucap Nania tak serius.
"Hmmm, jangan di ulangi lagi ya. Foto seperti itu jika sampai tersebar akan menjadi fitnah, Nania. Kau harus bisa membedakan mana yang boleh dan tidak boleh di jadikan candaan!" sahut Luri sembari berjalan mendekat ke arah ranjang. Dia lalu duduk di sebelah adiknya.
Nania mengangguk. Dia kemudian menarik tangan sang kakak agar berbaring di sebelahnya.
"Kak Luri, apa benar Kak Galang sudah mengungkapkan perasaannya padamu?" tanya Nania memastikan.
"Kau tahu darimana, Nania?" tanya Luri kaget.
"Hehe, tadi aku sengaja menguping pembicaraan kalian. Dan sewaktu Kakak pergi ke kamar aku mendengar gumaman Kak Galang yang menyebut kalau dia akan menjadi orang paling bahagia jika seandainya cintanya tidak ditolak," jawab Nania jujur.
Luri kembali menarik nafas dalam-dalam setelah mendengar jawaban adiknya. Pantas saja tadi Galang terlihat canggung, rupanya karena Nania telah mengetahui hal ini.
__ADS_1
"Jangan beritahu siapapun kalau Galang pernah Kakak tolak ya. Kakak tidak mau hubungan pertemanan kami menjadi canggung. Mengerti kan?" ucap Luri seraya membelai rambut sang adik dengan penuh sayang.
"Apa ini karena Kak Fedo?"
Nania menatap mata kakaknya dengan seksama. Meski dia tidak terlalu paham dengan dunia percintaan, tapi Nania bisa melihat kalau kakaknya ini sangat mencintai pria Jepang itu.
"Tidak semuanya hanya tentang Kak Fedo saja, Nania. Kita juga harus memikirkan perasaan Galang, dia pasti akan merasa sangat malu jika hal ini menjadi bahan olok-olokan. Karena mengakui perasaan pada orang yang kita suka itu bukan hal yang mudah."
"Masa sih Kak? Kalau memang benar itu adalah sesuatu yang tidak mudah mengapa ada banyak orang yang suka sekali mengungkapkan perasaan mereka? Menurutku ini tidak masuk akal!" sahut Nania ragu.
"Nania, ada yang bilang kalau rasa suka pada seseorang bisa membuat kita kehilangan akal sehat. Apa kau pernah membaca berita tentang pembunuhan yang di sebabkan oleh rasa cemburu?" tanya Luri mencoba memberi pengertian pada sang adik.
"Emm, kalau tidak salah aku pernah membaca berita seperti itu, Kak. Kenapa memangnya?"
"Itu adalah salah satu bentuk ketidakwarasan seseorang yang sudah terobsesi pada yang namanya cinta. Dia tidak bisa lagi berpikir jernih ketika hatinya merasa tersakiti. Padahal belum tentu juga pasangan yang dia bunuh telah melakukan perselingkuhan. Bisa jadi si korban sedang bercanda dengan temannya atau dengan keluarganya. Tapi karena mata hati yang sudah di butakan oleh amarah, si pelaku tidak peduli lagi akan hal itu. Hingga pada akhirnya dia melakukan sesuatu yang sangat fatal. Yaitu membunuh pasangannya sendiri."
"Kak Fedo dan Galang adalah laki-laki normal, Nania. Wajar jika mereka mempunyai rasa ketertarikan terhadap seorang wanita. Itu tidak salah dan tidak melanggar undang-undang apapun. Mereka memiliki hak untuk menyukai siapa saja, termasuk menyukai Kakak. Jadi Kakak harap kau tidak lagi menggunakan perasaan mereka untuk menjadikan bahan lelucon. Bisa kan?" tanya Luri.
"Apa nanti mereka akan membunuhku juga, Kak?" tanya Nania sambil mengedip-ngedipkan mata.
Sadar kalau adiknya salah menanggapi ucapannya barusan membuat Luri terkekeh pelan. Nania sungguh lucu, anak ini sama sekali tidak bisa mencerna ucapan orang lain dengan baik.
"Kak, aku jadi takut sekali. Aku kan sering membuat Kak Fedo dan Kak Galang kesal. Bagaimana kalau mereka sakit hati kemudian menyakiti aku? Bagaimana ini Kak?"
"Jangan berprasangka buruk pada mereka, Nania. Mereka itu bukan orang jahat, tapi bukan berarti mereka tidak bisa sakit hati. Karena itulah Kakak selalu mengingatkanmu untuk hati-hati dalam bicara. Rambut kita boleh sama hitamnya, tapi hati manusia siapa yang tahu. Kakak harap kau bisa mengambil pelajaran dari berita yang Kakak sebutkan tadi. Ya?"
Nania mengangguk. Dia kemudian teringat dengan hubungan diam-diam yang di jalani oleh sang kakak.
__ADS_1
"Kak Luri, apa Kakak sangat menyayangi Kak Fedo?" tanya Nania penasaran.
Kening Luri mengerut. Dia mulai merasa was-was setelah mendengar pertanyaan Nania.
"Kenapa bertanya seperti itu pada Kakak? Apa Kak Fedo pernah mengatakan sesuatu padamu?"
"Tidak pernah kok Kak. Dia hanya selalu berpesan agar aku selalu mengawasi semua siswa yang ingin mendekati Kakak. Itu saja," jawab Nania. "Ayo Kak, jawab."
"Apa yang harus di jawab, Nania? Kau tahu sendiri bukan kalau Ayah dan Ibu belum mengizinkan Kakak untuk berpacaran? Juga sekarang Kakak kan sedang ingin fokus ke kompetisi untuk meraih beasiswa ke luar negeri," jawab Luri berkilah.
"Ck, jawaban Kakak sangat tidak memuaskan. Yang aku tanya itu apakah Kakak menyayangi Kak Fedo apa tidak? Kalau sayang ya bilang sayang saja, apa susahnya sih!" omel Nania sambil mengerucutkan bibir.
Saat Luri hendak memberi penjelasan, ponselnya berdering. Dia tersenyum senang melihat siapa yang menelpon.
"Hmmm, baru saja namanya di sebut, sekarang sudah langsung menelpon. Sepertinya Kak Fedo memiliki telinga dewa yang bisa mendengar dari jarak jauh!" ledek Nania.
"Ssttt, diamlah. Kakak ingin mengangkat telfon Kak Fedo dulu!" sahut Luri meminta sang adik agar diam.
Nania yang melihat kakaknya begitu berbunga-bunga semakin yakin kalau kedua orang ini memang memiliki hubungan. Tapi untuk sekarang Nania tidak akan banyak bertanya dulu. Biarkan saja. Selama belut listrik Fedo tidak membuat kakaknya terkena busung lapar, maka Nania akan pura-pura tidak tahu. Kali ini dia ingin menjadi adik yang baik untuk sang kakak. Ingat, hanya kali ini ya. Karena besok belum tentu dia masih memiliki rasa toleransi pada laki-laki yang ingin mendekati kakak kesayangannya.
πππππππππππππππππ
β Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama Chanelnya βΆMak Rifani, dan di sana baru saja up part. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya
πJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss
πIg: rifani_nini
__ADS_1
πFb: Rifani