
Tidak terasa dua bulan hampir terlewat sejak hari di mana Nania merajuk setelah di katai gadis cabe-cabean oleh Jovan. Dan sejak hari itu, banyak kejadian lucu dan juga menarik yang terjadi pada diri semua orang. Mulai dari Nania yang terus mengirim balas dendam pada Jovan, Galang yang semakin gencar melakukan pendekatan pada Luri, Kayo yang dilamar oleh Jackson, dan juga Fedo yang semakin terLuri-Luri setiap harinya. Semua orang bahagia dengan cara masing-masing. Namun, di saat semua orang menikmati kebahagiaan mereka ada seseorang yang tengah berada dalam ruang kehancuran. Dialah Kanita, mantan teman tidur Fedo yang tengah di timpa kemalangan akibat kesalahan satu malam yang terjadi beberapa bulan lalu. Ya, saat ini Kanita tengah berbadan dua. Dia mengandung anak dari pria asing yang malam itu menghabiskan malam di kamar hotel yang dia sewa. Dan pria asing tersebut bernama Ando.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika di biarkan perutku akan semakin bertambah besar. Ayah dan Ibu bisa membunuhku jika mereka tahu aku hamil di luar nikah," gumam Kanita putus asa.
Sambil menatap keluar jendela, Kanita meratapi nasib dan juga ketakutan akan kehamilannya. Sejak dia di nyatakan positif hamil, Kanita tak pernah lagi pulang ke rumah. Dia membeli sebuah apartemen yang jauh dari kediaman orangtuanya dengan alasan ingin menenangkan diri agar bisa melupakan Fedo. Padahal kenyataannya, Kanita hanya ingin menyembunyikan hadirnya janin di dalam rahimnya. Dia butuh suasana yang tenang agar bisa menemukan jalan keluar dari masalah pelik yang tengah membelit hidupnya.
"Kenapa, Tuhan? Kenapa bukan anaknya Fedo saja yang aku kandung? Aku mencintainya, aku ingin menjadi Ibu dari anak-anaknya. Aku harus bagaimana Tuhan? Bagaimana?" jerit Kanita frustasi.
Kanita terperanjat kaget saat bel apartemennya berbunyi. Untuk beberapa saat dia hanya terdiam tanpa ada niat untuk membuka pintu rumahnya. Tapi sepertinya tamu tak di undang ini tak ingin menyerah. Suara bel terus saja berbunyi, yang mana akhirnya berhasil membuat Kanita bergerak untuk membukanya. Dengan langkah gontai, Kanita pun berjalan ke arah pintu. Dia lalu mengintip melalui lubang kecil untuk melihat siapa yang datang bertamu.
Astaga, untuk apa Ibu datang malam-malam begini?Apa jangan-jangan Ibu sudah tahu alasanku menetap di apartemen ini? Gawat, apa yang harus aku lakukan sekarang? batin Kanita panik.
Suara bel kembali berbunyi, membuat Kanita yang tengah panik menjadi semakin panik. Tak mau membuat sang ibu merasa curiga, dia pun segera membuka pintu rumahnya. Sebelum itu Kanita sudah lebih dulu merapihkan penampilannya yang begitu berantakan. Mencoba tersenyum semanis mungkin untuk menutupi kekalutan yang tengah membelenggunya.
"Kanita, apa yang sedang kau lakukan di dalam tadi? Kenapa lama sekali membukanya. Ibu sampai takut kau kenapa-napa!" cecar Mili begitu pintu apartemen putrinya terbuka.
"Aku sedang berada di kamar mandi tadi, Bu. Maaf ya sudah membuat Ibu khawatir begini," jawab Kanita pelan.
Mili tertegun. Ada yang aneh dengan sikap putrinya. Mili kemudian menelisik, memperhatikan penampilan Kanita dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Keningnya mengerut, merasa seperti ada yang berbeda di diri putri kesayangannya ini.
__ADS_1
"Ada apa, Bu? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Kanita sedikit gugup.
"Sayang, kau baik-baik saja kan? Wajahmu pucat, tubuhmu juga terlihat sedikit kurus. Apa kau sakit, hm?" tanya Mili cemas.
Untuk beberapa saat Kanita menahan nafas karena sang ibu menyadari perubahan bentuk tubuhnya. Jika wanita lain akan mengalami masa-masa mengidam dan juga muntah di pagi hari, Kanita sama sekali tidak merasakannya. Entah itu karena dia yang terlalu banyak pikiran, atau karena memang bayinya yang tidak rewel. Satu-satunya perubahan yang Kanita alami semenjak hamil hanyalah insomnia. Ya, dia sangat sulit memejamkan mata, apalagi di malam hari. Mungkin hal inilah yang menjadi pemicu turunnya berat badan di tubuhnya. Membuatnya menjadi terlihat jauh lebih kurus dari sebelumnya.
"Aku baik-baik saja, Bu. Aku hanya tidak bisa tidur karena selalu memikirkan Fedo," jawab Kanita berkilah.
"Ck, Fedo lagi Fedo lagi. Kanita, kapan kau akan berhenti menyebut nama pria kurang ajar itu? Ibu sudah lelah mendengar kau terus-terusan menyebut namanya. Dua bulan kau memutuskan tinggal di luar rumah, tapi masih saja nama Fedo keluar dari mulutmu. Move on, Kanita. Hidupmu tidak harus selalu tentang Fedo. Paham?!" omel Mili sambil menggeleng tak percaya.
Kanita diam saja saat bahunya di tabrak oleh sang ibu ketika akan masuk ke dalam rumah. Dia tidak sepenuhnya berbohong kalau sebagian malamnya memang di habiskan untuk memikirkan Fedo. Kanita resah memikirkan akan bagaimana nasib masa depannya kelak jika Fedo sampai tahu dia tengah mengandung anak dari pria lain. Dia yakin sekali kalau Fedo pasti akan langsung menolaknya mentah-mentah. Memikirkan hal tersebut membuat dada Kanita terasa sangat sesak. Dia kemudian berjalan menyusul sang ibu yang kini sudah duduk di sofa.
"Ibu ingin minum apa? Biar aku siapkan," tanya Kanita kikuk.
Mungkin ini adalah naluri seorang ibu yang memiliki ikatan batin dengan anaknya. Dan hal tersebutlah yang kini tengah di rasakan oleh Mili. Kanita adalah putrinya, dia yang telah mengandung dan membesarkannya hingga saat ini. Melihat perubahan yang terjadi di tubuh Kanita, Mili seakan melihat gambaran dirinya ketika hamil dulu. Di dalam benaknya bermunculan banyak dugaan yang mengarah kalau putrinya sedang berbadan dua.
"Ibu ingin menanyakan apa padaku?" tanya Kanita setelah duduk di samping ibunya. Sebisa mungkin dia bersikap seperti biasa agar rahasianya tidak terbongkar.
"Kanita, tolong jawab pertanyaan Ibu dengan jujur," ucap Mili dengan raut wajah yang begitu serius. "Apa kau sedang menutupi sesuatu hal dari Ibu?"
__ADS_1
"Maksud Ibu?"
"Keadaanmu sekarang sama persis dengan keadaan Ibu saat sedang mengandungmu dulu. Sekarang jawab jujur. Apa kau hamil?" tegas Mili.
Kanita langsung terpaku mendengar pertanyaan sang ibu. Untuk seperkian detik nyawanya seperti terbang keluar. Benarkah dia sudah ketahuan? Tidak mungkin.
"Jawab Ibu, Kanita. Jika memang benar kau sedang hamil, beritahu Ibu siapa ayah dari janin yang sedang kau kandung. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya padamu. Ayo cepat jawab, Kanita!" desak Mili resah melihat kebungkaman di diri putrinya.
"Ibu ini apa-apaan sih. Bagaimana bisa Ibu terfikir kalau aku sedang hamil, hah? Keadaanku jadi seperti ini karena aku sedang berusaha melepaskan Fedo dari hidupku. Ini sangat sulit untukku melakukannya, Bu. Aku tidak bisa makan, tidak bisa tidur, dan tidak bisa berfikir dengan benar. Aku seperti ini bukan karena sedang hamil, tapi aku sedang berjuang!" jawab Kanita histeris. Sesaat kemudian Kanita menangis, dia panik antara takut ketahuan dan juga sakit saat mengatakan sedang berjuang untuk melupakan Fedo. Ibarat kata, dia seakan di paksa untuk menelan racun dan juga memotong urat nadi di tangannya secara bersamaan. Sangat menyakitkan.
Mili mengerjap-ngerjapkan mata mendengar penjelasan Kanita. Ingin percaya, tapi sebagian hatinya berkata kalau Kanita memang benar sedang mengandung. Kecurigaan Mili jadi menghilang saat dia mendengar suara isak tangis Kanita yang begitu menyayat hati. Sebagai seorang ibu, Mili tentu saja tidak tega menyaksikan putri yang begitu dia sayangi terluka sampai seperti ini hanya karena seorang pria. Segera dia memberikan pelukan hangat sembari membujuk agar putrinya berhenti menangis.
"Ssssttt, sudah, jangan menangis lagi, sayang. Maaf kalau perkataan Ibu membuatmu bersedih. Ibu hanya mengkhawatirkanmu saja. Sungguh," ucap Mili lembut.
"Aku tidak hamil, Bu. Aku tidak hamil," sahut Kanita seraya terisak lirih di pelukan sang ibu.
"Iya-iya kau tidak hamil. Sudah ya, berhenti menangis. Kau ingin pergi jalan-jalan tidak untuk menyegarkan pikiran? Ibu janji Ibu akan membelikan apapun yang kau minta. Mau?"
Masih sambil terisak Kanita mengangguk menyetujui ajakan ibunya. Sepertinya dia memang membutuhkan udara segar untuk menjernihkan otaknya yang sudah terlanjur buntu. Siapa tahu dengan pergi jalan-jalan Kanita bisa menemukan jalan keluar untuk masalah ini.
__ADS_1
Aku mohon, Tuhan. Tolong bantu aku menyelesaikan masalah ini. Aku tidak mau Ayah dan Ibuku tahu kalau aku memang sedang mengandung. Tolong aku, Tuhan, batin Kanita penuh harap.
*****