
Luyan dan Nita hanya bisa menarik nafas berulang-ulang setelah mendapat laporan tentang kenakalan putri bungsu mereka di sekolah. Sungguh, sebagai gadis yang datang dari desa, harusnya Nania memiliki sikap pemalu dan mudah tertindas oleh perlakuan orang-orang kota. Tapi ini... astaga. Jangankan merasa malu, justru Nania lah yang menjadi seorang penindas. Luyan dan Nita sudah tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menjinakkan putri bungsunya ini.
"Aku hanya melindungi diri, Ayah," ujar Nania saat sang ayah hanya diam tanpa memberi respon.
"Dengan menjejalkan telur ke dalam mulut temanmu?"
Nania mengangguk.
"Itu namanya bukan melindungi diri, Nak. Tapi membully orang lain. Kau tahu bukan kalau di sekolahmu hal-hal seperti itu sangat di larang?" tanya Nita mencoba memberi pengertian.
Nania lagi-lagi menganggukkan kepala. Tapi dia masih belum mau mengakui kalau apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang salah. Bagi Nania, semua makanan itu sama artinya. Dia dan keluarganya terbiasa hidup dengan sangat sederhana, dia juga selalu di ajarkan untuk selalu menghargai semua jenis makanan. Tapi apa yang dilakukan oleh temannya saat di sekolah tadi membuat Nania merasa sangat marah. Dia tidak terima telurnya di katai sebagai makanan yang tidak layak di makan. Padahal sang kakak sudah memasaknya sesuai dengan standar kebersihan yang dikatakan oleh dokter.
"Nania, Kakak tahu kalau kau marah karena mereka mengejekmu yang tidak pernah makan di kantin. Tapi lain kali jangan menyerang mereka lagi ya? Itu tidak benar. Lebih baik kau cari jalan penengahnya supaya aman. Atau begini saja, besok kau mulailah makan bersama mereka di kantin. Siapa tahu dengan begini teman-temanmu bisa bersikap baik dan tidak membully lagi" ucap Luri memberi nasehat.
"Untuk apa aku menghambur-hamburkan uang hanya untuk membeli makanan di kantin, Kak? Sejak kecil Ayah dan Ibu mengajarkan kita untuk selalu mensyukuri apa yang ada. Meskipun makanan yang Kakak masak tidak semewah seperti yang ada di kantin sekolah, tapi aku tetap menyukainya. Yang Kakak masak kan makanan, bukan racun. Jadi tidak ada alasan untuk aku tidak membawa bekal dari rumah. Masalah mereka mau baik padaku atau tidak, aku tidak peduli. Aku tinggal menghajar mereka saja kalau mereka berani menghinaku lagi. Biarpun dari desa, aku tidak akan membiarkan mereka menindasku, Kak. Harga diri seorang gadis desa adalah harga mati!"
Luri dan kedua orangtuanya tercengang kaget setelah mendengar perkataan Nania. Sepertinya mau sebanyak apapun mereka memberi nasehat, gadis ini tidak akan pernah mau mendengarkan. Nania akan tetap pada sikapnya yang terang-terangan, tak peduli meski orang lain merasa tersinggung sekalipun.
Lusi yang kebetulan datang berkunjung bersama suaminya nampak tersenyum kecil mendengar pengakuan si bungsu. Dia kemudian ikut bergabung setelah menyapa dan mencium kedua pipi orangtuanya.
"Ada apa, hm? Sepertinya adik kakak yang paling cantik ini terlihat tidak senang. Apa ada masalah di sekolah?" tanya Lusi lembut.
Bukannya menjawab, Nania malah masuk ke pelukan sang kakak. Dia lalu menjulurkan lidah ke arah kakak iparnya yang mana langsung membuatnya memasang wajah masam.
"Tadi di sekolah aku di bully, Kak!" adu Nania sambil memainkan rambut sang kakak yang menjuntai di bahu.
"Siapa yang berani melakukannya?"
__ADS_1
Gleen langsung bereaksi cepat. Walaupun dia selalu mendapat serangan dari Nania, Gleen tetaplah sangat menyayangi gadis ini. Dia tentu saja tidak terima adik iparnya di bully oleh murid lain. Gleen khawatir kalau-kalau populasi gadis beracun ini punah jika terus di pojokkan oleh teman-temannya di sekolah.
"Em Kak Gleen, masalah ini sudah selesai kok. Aku juga sudah meminta maaf pada siswi yang membully Nania!" ucap Luri menyela.
"Minta maaf?!" tanya Gleen kaget. "Nania yang di bully kenapa kau yang meminta maaf, Luri? Apa ini tidak terbalik?"
Luri meringis pelan.
"Karena aku menjejalkan telur ke dalam mulut gadis yang membullyku, Kak Gleen. Makanya Kak Luri meminta maaf padanya supaya di antara kami tidak ada dendam!"
Gleen dan Lusi ternganga syok begitu mendengar ucapan Nania. Mereka berdua kemudian saling melempar tatapan kaget.
"Jadi di sini siapa yang sebenarnya menjadi pembully? Kau atau temanmu itu?" tanya Gleen sambil menggaruk kepalanya.
Ya Tuhan, kalau begini sih aku tidak perlu turun tangan. Nania benar-benar brutal. Bagaimana bisa dia melakukan serangan seperti itu pada temannya sendiri? Benar-benar gadis desa yang sangat mengerikan.
"Ya dua-duanya Kak. Aku di bully karena tidak pernah makan di kantin, dia juga menyebut kalau telur yang aku bawa dari rumah tidak layak untuk di makan. Lama-lama akhirnya aku kesal juga. Jadi yang sudah, aku jejalkan saja telur yang baru separuh aku makan ke dalam mulutnya. Gadis itu menangis kemudian melapor pada wali kelas kalau aku telah melakukan kekerasan. Padahal kan itu hanya bentuk pembeladirianku dari penindasan yang dia lakukan. Itu baru telur yang aku jejalkan, kalau dia masih berani menggangguku, aku akan langsung menyumpal mulutnya dengan kotoran ayam biar dia tahu rasa. Huh, aku ini Nania. Meski dari desa, aku tidak akan mudah di tindas. Justru merekalah yang akan aku tindas jika berani macam-macam!" jawab Nania dengan semangat yang begitu berkobar.
"Nania, boleh kalau kau ingin melindungi diri. Tapi bukan berarti kau boleh menyakiti orang lain. Benar kalau kita harus bisa melawan suatu tindakan yang tidak baik. Akan tetapi Kakak tidak membenarkan perbuatan yang kau lakukan pada temanmu. Bukankah selama ini Kakak selalu mengajarkan untuk selalu bersikap tenang dan sopan?" ucap Lusi menasehati sang adik dengan suara lemah lembut.
Nania mengangguk.
"Lusi, ini bukan yang pertama adikmu membuat masalah di sekolah. Melainkan sudah yang kedua kalinya," ucap Luyan memberitahu.
"Kedua kali? Astaga, kenapa aku baru tahu hal ini, Ayah. Kapan itu terjadi?" pekik Lusi kaget.
"Saat kau masih di rawat di rumah sakit. Dia membuat kepala salah satu teman sekelasnya benjol. Haihh, Ayah sudah tidak tahu lagi bagaimana cara untuk membuat adikmu supaya tidak bersikap bar-bar lagi. Tolong kau nasehati dia, Lusi!" jawab Luyan pasrah.
__ADS_1
Luri yang melihat sang ayah sedikit marah segera datang mendekat. Dengan penuh sayang dia mengusap-usap punggung ayahnya supaya tenang.
"Nania masih kecil, Ayah. Jangan terlalu menekannya. Lagipula yang dia lakukan tidak sepenuhnya salah. Dia selalu punya alasan baik di belakangnya meski terkadang membuat kita semua sakit kepala!" ucap Luri menenangkan sang ayah.
"Hmm, andai saja Nania memiliki sikap lemah lembut sepertimu dan juga seperti kakakmu. Ayah dan Ibu pasti akan merasa sangat tenang."
Luri tersenyum. Dia lalu melihat ke arah Nania yang sedang di nasehati oleh kakaknya. Gadis beracun itu terlihat begitu khidmat mendengarkan ucapan sang kakak. Yang mana hal itu membuat Nania terlihat sangat menggemaskan.
"Adikku begitu manis, Ayah, Ibu. Lihatlah, dia seperti anak anjing yang sangat menggemaskan jika sedang diam seperti itu."
Luyan dan Nita pun memperhatikan ke arah putri bungsu mereka yang sedang mendapat petuah. Benar, gadis yang selalu membuat masalah itu terlihat begitu lucu jika tidak sedang berulah. Kekesalan di benak mereka luntur seketika saat menyaksikan bagaimana bola mata gadis itu bersinar terang ketika sedang tertawa mendengar candaan dari kakak tertuanya.
"Putri-putriku adalah gadis yang sangat luar biasa. Ayah bangga memiliki kalian bertiga," ucap Luyan penuh haru.
"Kami semua pun bangga menjadi anak Ayah dan Ibu. Jadi sekarang jangan marah lagi ya pada Nania. Dia belum dewasa, Ayah. Nanti akan ada masanya untuk dia bisa membedakan mana hal yang baik dan yang buruk. Dan saat waktu itu tiba, kita semua tidak akan bisa lagi melihat tingkahnya yang seperti sekarang. Kita pasti akan sangat merindukan masa-masa seperti ini."
Ucapan Luri berhasil menenangkan hati dan perasaan kedua orangtuanya. Mereka kemudian menggelengkan kepala mendengar celetukan Nania yang langsung membuat sang kakak ipar diam tak berkutik.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Sudahkah kalian TerLuri-Luri?
✅ Hai gengss, kisah PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutup emak ya. Nama chanelnya @Mak Rifani, episode 32 baru saja up. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya.
...💜 Jangan lupa vote, like, dan comment keuwuan mereka ya gengss...
__ADS_1
...💜 Ig: rifani_nini...
...💜 Fb: Rifani...