PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Merasa Gagal


__ADS_3

Mattheo menatap datar ke arah Dominic yang sedang duduk di ruangannya. Dia masih merasa enggan untuk bertemu dengan rekan bisnisnya ini sejak kejadian waktu itu. Sebagai seorang ayah sekaligus seorang suami, Mattheo tentu saja sangat tidak terima saat harga diri istri dan putrinya di remehkan. Karena selama ini tidak ada satupun orang yang berani mengusik keluarganya, kecuali anak dan istrinya Dominic. Padahal di sini yang jelas-jelas bersalah adalah Kanita dan ibunya. Bukan Fedo, apalagi Kayo dan Abigail. Jadi wajar saja bukan kalau sekarang Mattheo sedikit meradang pada pria ini?


"Matt, aku datang bukan untuk mengajakmu berdebat. Tapi aku datang kemari untuk memperbaiki hubungan kita agar kembali seperti semula," ucap Dominic yang paham akan arti dari tatapan dingin Mattheo. "Sekali lagi aku ingin meminta maaf padamu atas nama anak dan istriku. Aku tahu mereka salah, dan aku juga sudah berusaha untuk memberikan pengertian pada mereka berdua. Aku harap kau tidak membawa masalah ini ke dalam lingkup pekerjaan kita."


"Kau tenang saja. Pekerjaan tetaplah pekerjaan karena aku tidak akan bersikap tidak profesional. Jadi aku rasa kau tidak perlu repot-repot mengingatkan aku tentang hal ini," sahut Mattheo sembari membuka dua kancing jasnya. Dia lalu mengendurkan dasi di lehernya sebelum ikut duduk dengan si tamu yang tak di harapkan kedatangannya.


"Kanita sekarang ini sedang berusaha untuk menjauhi Fedo. Dia akhirnya sadar kalau putramu tidak pernah menginginkannya."


Sebelah alis Mattheo terangkat ke atas begitu dia mendengar perkataan Dominic. Menjauhi Fedo? Heh, hanya orang-orang bodoh seperti Dominic yang akan dengan mudah mempercayai ucapan Kanita. Mattheo tentu saja tahu kalau gadis itu sedang bersandiwara. Seorang Kanita yang begitu tergila-gila pada Fedo mendadak memutuskan untuk menjauh. Tidakkah hal ini terdengar sangat mustahil?


"Dom, kau yakin putrimu benar-benar serius dengan ucapannya?" tanya Mattheo seraya tersenyum tipis. Ingin rasanya Mattheo berteriak di depan wajah Dominic kalau dia itu sedang di permainkan oleh putrinya sendiri.


"Tentu saja aku sangat yakin, Matt. Dia sangat serius saat bicara denganku kemarin," jawab Dominic sungguh-sungguh. "Dan Kanita sekarang sedang pergi jalan-jalan dengan temannya untuk menghibur diri. Fedo bisa tenang setelah dia kembali nanti."


Kau adalah orangtua terbodoh yang pernah aku kenal, Dominic. Putrimu sekarang ini bukan sedang pergi bersama teman-temannya, melainkan sedang mencari keberadaan kekasihnya Fedo. Ckck, bagaimana bisa kau di kelabui dengan begitu mudah oleh Kanita, Dom? Kenapa juga kau mau mempercayai sesuatu yang bahkan kau sendiri pernah menganggapnya gila? batin Mattheo heran.


"Kau yakin kalau putri kesayanganmu itu sedang pergi jalan-jalan dengan temannya?"


Dominic diam sejenak sambil menatap bingung ke arah Mattheo. Entah kenapa dia merasa kalau pertanyaan barusan mengandung sebuah makna tersendiri yang tidak di ketahui olehnya.


"Dom, kuberi tahu satu hal padamu. Maaf jika nanti kau akan merasa sedikit tersinggung. Akan tetapi aku harus mengatakan hal ini karena aku juga adalah seorang ayah!" ucap Mattheo dengan raut wajah yang begitu tegas. "Kita tahu sendiri bukan betapa gilanya Kanita saat sedang mengejar Fedo? Dia bahkan melupakan harga dirinya hanya demi pria yang tidak memiliki rasa apapun terhadapnya. Dengan segala kegilaan yang pernah dia lakukan apakah mungkin Kanita mampu melepaskan Fedo begitu saja? Aku rasa tidak!"


"Tapi dia yang mengatakannya langsung padaku, Matt. Kanita bilang dia ingin melupakan Fedo, tapi dia butuh sedikit waktu," sahut Dominic mempertegas pernyataan putrinya.

__ADS_1


"Dan dari waktu yang dia butuhkan itu aku yakin sekali kalau Kanita pasti sedang merencanakan sesuatu yang baru."


"Apa kau baru saja menuduh putriku?" tanya Dominic sedikit tersinggung mendengar tuduhan yang di lontarkan oleh Mattheo.


"Bukan menuduh. Tapi itu adalah satu kepastian yang tidak kau sadari!" jawab Mattheo tanpa ragu. "Dom, kalau kau mempunyai Kanita sebagai putrimu, maka jangan lupa kalau aku juga mempunyai putri yang bernama Kayo. Dan di antara mereka berdua putriku jauh lebih unggul segala-galanya dari Kanita. Bukannya aku ingin mengejek keburukan putrimu, tapi ini adalah fakta yang harus kau terima. Aku dan Abigail benar-benar sangat teliti dalam menghadapi sikap dan sifat dari kedua anakku. Dan itupun kami masih kecolongan. Sekarang coba bayangkan hubungan antara kau dengan Kanita. Apa kalian sedekat seperti hubungan kekeluargaan kami? Tidak kan? Aku tahu Kanita jauh lebih dekat dengan ibunya ketimbang denganmu. Dan aku juga sangat tahu kalau Nyonya Mili sangat amat memanjakan Kanita. Dengan hubungan yang tidak sehat seperti itu harusnya kau tidak langsung mempercayai ucapan Kanita, Dom. Sadar tidak kalau kau itu sedang di permainkan olehnya, hm?"


Lidah Dominic terasa kelu saat mendengar perkataan Mattheo. Benar juga. Selama ini Kanita tak pernah akrab dengannya. Gadis itu cenderung lebih dekat pada istrinya. Tapi masa iya Kanita tega membohonginya? Memikirkan kemungkinan seperti itu membuat dada Dominic berdenyut nyeri. Rasanya pasti akan sangat mengecewakan jika yang di ucapkan oleh Mattheo adalah benar.


"Haruskah aku mencurigai putriku sendiri, Matt?" tanya Dominic meragu.


"Ya, itu harus. Karena hal ini sangat wajar untuk kau lakukan sebagai seorang ayah. Selama anak perempuan kita belum menikah, maka itu masih menjadi tanggung jawab kita untuk mendidiknya ke jalan yang benar. Percayalah Dom, saat ini Kanita bukan sedang pergi dengan teman-temannya. Tapi dia sedang mendatangi suatu negara di mana di tempat itu tinggal seorang gadis yang Kanita anggap sebagai penghalang hubungannya dengan Fedo!" jawab Mattheo.


"Maksudnya Kanita sedang melabrak seseorang?"


"Fedo sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis yang tinggal di Shanghai. Dan hal ini tidak sengaja di ketahui oleh Kanita," jelas Mattheo. "Dom, sebelum ini apa kau melakukan sesuatu padanya?"


"Aku memblokir semua kartu kredit miliknya sebagai hukuman atas apa yang dia lakukan pada anak dan istrimu. Dua hari setelah itu dia datang padaku untuk meminta maaf, kemudian mengatakan kalau dia akan melepaskan Fedo secara perlahan-lahan. Waktu itu aku tidak tega melihat wajahnya yang memelas saat mengatakan kalau dia tidak bisa pergi berlibur dengan teman-temannya karena semua kartu miliknya telah di bekukan. Jadi ya sudah, tanpa pikir panjang aku kembalikan lagi semua barang miliknya," jawab Dominic dengan raut wajah penuh kekecewaan.


Kepala Dominic tertunduk ke bawah. Dia tidak menyangka kalau Kanita akan tega membohonginya. Sepertinya ucapan Mattheo memang benar kalau Kanita tidak akan mungkin melepaskan Fedo begitu saja.


"Inilah yang akan terjadi jika antara anak dan orangtua tidak terjalin komunikasi yang baik. Kau bahkan tidak bisa membedakan mana yang serius dan mana yang bersilat lidah dari kata-kata putrimu sendiri. Aku prihatin atas semua itu, Dom. Benar-benar sangat prihatin!" ucap Mattheo seraya menarik nafas panjang.


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, Matt? Perlukah aku menyeret gadis itu agar tidak mengganggu kekasihnya Fedo? Hmmm, Kanita benar-benar membuatku sangat malu. Dia membuatku terlihat gagal menjadi seorang ayah," tanya Dominic tak habis pikir. Satu tangannya bergerak memijit pinggiran kepalanya.

__ADS_1


"Untuk sekarang ini biarkan saja Kanita tetap berada di Shanghai, Dom. Aa satu hal lagi. Kau tahu tidak kalau putrimu itu menyewa jasa dari kelompok gelap demi bisa mendapat informasi tentang kekasihnya Fedo? Aku sarankan kau sebaiknya hati-hati untuk hal ini. Berurusan dengan mereka bukanlah hal yang mudah, Dom. Nyawa Kanita bisa berada dalam bahaya jika ketua mereka sampai merasa tidak puas!" jawab Mattheo memberi peringatan.


Mata Dominic membelalak lebar begitu di beritahu kalau Kanita diam-diam bekerjasama dengan anggota gelap yang cukup di takuti di Jepang. Sungguh, otak putrinya itu sepertinya sudah tidak waras. Bisa-bisanya Kanita membuka ruang dengan para penjahat hanya demi mengejar seorang pria yang tidak pernah mencintainya. Sangat miris.


"Pulanglah. Setelah pikiranmu tenang baru kita akan kembali bertemu untuk membahas pekerjaan. Aku tahu kau sedang syok setelah mendengar semua ini," ucap Mattheo paham akan kegundahan yang sedang di rasakan oleh rekan bisnisnya.


"Aku benar-benar sudah gagal mendidik putriku, Matt," gumam Dominic lirih.


"Kau belum gagal sepenuhnya, Dom. Masih ada waktu untuk menyadarkan Kanita dari jalan yang salah."


"Tapi bagaimana caranya? Dia bahkan tega membodohi aku hanya demi mendapatkan apa yang dia mau. Ya Tuhaaan ... entah dosa apa yang pernah aku perbuat sampai-sampai harus memiliki putri seperti Kanita."


Mattheo diam mendengarkan ratapan Dominic yang sedang mengeluh pada Tuhan tentang kelakuan putrinya. Dia merasa cukup iba akan nasib dari pria ini. Dominic memiliki kekuasaan yang lumayan besar, tetapi dia tidak di hargai oleh anak dan istrinya sendiri. Berbeda dengan Mattheo. Dia juga memiliki kekuasaan yang tak kalah besar dari Dominic. Akan tetapi dia selalu mendapat dukungan penuh dan juga kasih sayang yang tulus dari istri dan kedua anaknya.


Terima kasih Tuhan atas segala kebaikan yang kau berikan padaku. Meskipun Abigail sangat galak, tapi aku bersyukur karena dia begitu menghargaiku sebagai kepala rumah tangga. Tidak seperti Dominic yang bahkan putrinya sendiri tega membodohinya. Miris, batin Mattheo.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


...πŸ’œJangan lupa vote, like dan komentar...


...ya gengss...


...πŸ’œIg: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ’œFb: Rifani...


__ADS_2