
Luri menundukkan kepala dengan sangat malu ketika ada empat pasang mata yang tengah menatapnya tak berkedip. Dan ke empat pasang mata tersebut adalah milik ayahnya dan juga Fedo. Ya, pria Jepang tersebut tengah menatapnya sambil ternganga hingga membuat kedua sisi rahangnya hampir terjatuh menyentuh lantai saking lebarnya dia membuka mulut. Sedangkan ayahnya, sudahlah. Ayahnya juga melakukan hal serupa seperti Fedo yang mana membuat jantung Luri jadi berdebar tidak karu-karuan.
"Ekhmm-ekhmmm, sadar, Ayah. Ayah itu kan sudah punya Ibu, kenapa menatap Kak Luri sampai seperti itu? Ayah tidak mungkin jatuh cinta pada anak sendiri kan?"
Perkataan Nania sukses membuat semua orang tergelak kaget kecuali Fedo tentunya. Mereka syok dan tidak mengerti kenapa kata-kata tersebut bisa di keluarkan oleh gadis nakal ini. Luyan yang menjadi tersangka dari pertanyaan keterlaluan putrinya ini pun hanya bisa menghela nafas sambil menggelengkan kepala. Mau heran, tapi ini adalah Nania. Jadi ya sudah, tidak ada cara untuk menghentikan perkataannya yang hampir membuat jantung semua orang berhenti berdetak.
"Nania, Ayah menatap kakakmu seperti tadi karena kakakmu terlihat sangat cantik seperti bidadari. Memangnya tidak boleh ya kalau seorang ayah mengagumi kecantikan putrinya sendiri, hm?" tanya Luyan dengan sangat sabar.
"Boleh-boleh saja sih, tapi kan harusnya yang boleh bersikap seperti itu adalah Kak Fedo. Ayah cukup membatin saja," jawab Nania.
"Ya sudah lain kali Ayah tidak akan melakukannya lagi."
"Lain kali kapan? Sebentar lagi kan Kak Luri akan ....
Lusi dengan cepat membungkam mulut Nania yang hampir membocorkan tentang keberangkatan Luri ke London. Dan hal tersebut membuat wajah semua orang menjadi sangat tegang, termasuk juga dengan Luri. Dia kini tak lagi menundukkan kepala, melainkan tengah menatap sang kakak sambil menggigit bibir bawahnya.
Ya Tuhan, semoga saja Kak Fedo tidak mendengar perkataan Nania barusan, batin Luri panik.
Kini tatapan semua orang beralih ke arah Fedo yang terduduk di lantai sembari menatap tak berkedip ke arah Luri. Mereka kemudian menghela nafas perlahan, merasa lega karena ternyata pria ini masih belum tersadar dari keterpesonaannya.
"Nania, kau ini bagaimana sih. Untung saja Fedo sedang tidak fokus. Kalau tidak, perkataanmu barusan bisa merusak rencana kakakmu. Tahu tidak?!" tegur Lusi sambil berbisik di samping telinga adik bungsunya. Setelah itu dia melepaskan bungkaman tangannya lalu menatap kesal ke arah sang adik yang kini tengah meringis sambil menggaruk pinggiran kepala.
"Maafkan aku Kak Lusi, Kak Luri. Aku kelepasan. Sepertinya rem di dalam mulutku perlu untuk di ganti. Aku tidak sengaja. Sungguh," bisik Nania merasa bersalah.
Luri, Lusi, Gleen beserta kedua orangtua mereka sama-sama menahan tawa mendengar perkataan Nania. Setelah itu Lusi menyenggol lengan Luri, memberi isyarat agar adiknya ini segera menyadarkan Fedo dari keterkejutannya.
__ADS_1
"Kak Fedo. Kak!" panggil Luri dengan suara yang cukup kuat.
Samar-samar Fedo seperti mendengar ada orang yang memanggil namanya. Jujur, saat ini jiwanya seperti terbang keluar setelah dia melihat seorang bidadari yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Fedo yang tadinya sedang duduk berjongkok di hadapan ayahnya Luri langsung jatuh terduduk di lantai begitu dia melihat Lusi yang muncul bersama gadisnya yang begitu cantik.
Whaattt? Gadisnya? Jangan bilang bidadari yang tadi aku lihat adalah Luri! Alamak, tidak mungkin. Kenapa dia bisa jadi secantik itu? Ini mataku tidak terkena katarak kan? batin Fedo dalam hati.
"Kak Fedo. Hei, sadarlah. Ini aku, Luri," ucap Luri memberanikan diri menepuk lengannya Fedo pelan.
"Haaa?" kaget Fedo. Dia lalu mengerjapkan mata, kembali ternganga ketika melihat bidadari yang tengah tersenyum ke arahnya. "Cantik sekali. Apa kau adalah bidadari yang baru saja turun dari kayangan?"
Suara gelak tawa langsung memenuhi ruang tamu tersebut saat Fedo mengira kalau Luri adalah bidadari yang turun dari kayangan. Seketika lawakan Fedo langsung menghapus rasa panik yang tadi menyelimuti hati semua orang. Luri yang di anggap seperti bidadari pun tak kuasa untuk tidak merasa malu. Pipinya jadi semakin memerah saat kakak dan adiknya terus saja menyenggol lengannya sambil meledek penuh goda.
"Fedo, ayo bangun. Jangan duduk di lantai begitu, nanti bajumu kotor," ucap Nita sambil berjalan mendekat ke arah Fedo. Setelah itu dia membantunya berdiri.
"Ya ampun, Fedo. Gadis itu adalah putri Bibi, Luri," jawab Nita sambil menahan tawa. "Coba perhatikan baik-baik. Dia adalah Luri, kakaknya Nania. Bukankah kau datang kemari karena ingin menjemputnya ya? Kalian akan berangkat ke pesta bersama-sama bukan?"
Begitu mendengar kata pesta, nyawa Fedo langsung berkumpul menjadi satu. Dia kemudian memekik sambil menutupi mulutnya setelah benar-benar tersadar kalau gadis yang dia sebut sebagai bidadari dari kayangan ternyata adalah gadisnya. Ya, Luri kelewat sangat cantik. Fedo di buat pangling hingga sulit mengenali kalau itu adalah gadis desa kesayangannya. Luar biasa. Ini gila.
"Astaga, sayang. Kau benar-benar sangat cantik. Woaahhh, woaaahhh. Bagaimana ini. Tubuhku tremor!" ucap Fedo heboh sendiri sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
"Kak Fedo, kau baik-baik saja?" tanya Luri khawatir.
"Tidak, sayang. Jantungku, mataku, hatiku, semuanya tidak baik-baik saja setelah melihat kecantikanmu. Kau ... ya ampun. Siapa yang sudah menyulapmu jadi sebegini cantik, hah? Aku harus sangat berterima kasih padanya!" jawab Fedo kemudian berjalan mendekati Luri. Dia tidak sadar kalau mata semua orang kini tengah tertuju padanya. Fedo lupa, dia benar-benar lupa kalau saat ini semua keluarga Luri sedang berkumpul.
Gleen yang melihat Fedo seperti ingin memeluk adik iparnya pun segera mengambil tindakan. Dengan cepat dia berdiri di depan Luri.
__ADS_1
"Ingat ya, Fed. Kau jangan macam-macam pada adikku. Semua gerak-gerikmu sedang di pantau langsung oleh kedua mertuaku. Jadi aku ingatkan kau sebaiknya diam di tempat saja!" ucap Gleen. "Dan satu lagi. Orang yang telah merubah penampilan Luri adalah istriku. Kalau kau ingin mengucapkan terima kasih padanya, maka aku sarankan kau sebaiknya memberi hadiah yang sangat mahal untuk calon anak kami. Dengan begitu kau akan di anggap sebagai calon adik ipar yang baik!"
Meskipun sadar kalau Gleen sedang memanfatkannya, Fedo dengan cepat malah menganggukkan kepala menyetujui apa yang di inginkan olehnya. Namun anehnya persetujuan tersebut malah membuat Gleen mendapat jeweran dari Lusi. Sepertinya ibu hamil tersebut tidak suka kalau Gleen memerasnya.
"Jangan dengarkan kata-kata Gleen, Fedo. Memang benar akulah yang telah merias Luri, dan itu aku lakukan agar dia terlihat cantik saat datang ke pesta nanti. Ini adalah pertama kalinya Luri mendatangi pesta orang-orang besar, aku hanya ingin membuatnya lebih terkesan saja. Apalagi gaun yang kau berikan sangat cantik. Akan sangat sayang sekali kalau tidak di padupadankan dengan riasan yang seimbang," ucap Lusi meralat kata-kata suaminya.
"Apapun alasannya aku tetap ingin mengucapkan terima kasih padamu, Lusi. Berkatmu nyawaku seperti terbang keluar gara-gara melihat Luri yang begitu cantik. Sungguh, baru kali ini aku terlihat bodoh di hadapan seorang wanita. Dan sebagai balasan atas apa yang sudah kau lakukan, sepulang nanti aku akan mengirimkan hadiah khusus untuk calon anakmu. Jangan sungkan, aku memberikan hadiah itu karena nantinya anakmu akan menjadi keponakanku juga. Iya kan, sayang?" sahut Fedo seraya menatap penuh cinta ke arah Luri.
"Hmmm, sekalinya di beri restu langsung berani memanggil kakakku dengan sebutan sayang. Lupa ya kalau di sini masih ada anak kecil?" protes Nania. Dia masih kesal pada Fedo gara-gara tidak memberinya hadiah.
"Oh, jadi kau itu masih anak kecil ya, Nania? Aku pikir kau itu adalah nenek-nenek rempong," sahut Fedo sambil terkekeh lucu.
Tak ingin membiarkan putri bungsunya mengacaukan suasana, Luyan segera memerintahkan Luri, Fedo, Gleen dan juga Lusi untuk segera berangkat ke pesta. Hari sudah mulai malam, mereka bisa terlambat datang jika meladeni Nania yang masih menyimpan jengkel pada Fedo.
"Ayah, Ibu. Aku pergi dulu ya," pamit Luri pada kedua orangtuanya.
"Iya, sayang. Hati-hati, dan nikmatilah pestanya. Ini adalah dunia baru yang akan kau jajaki mulai dari sekarang, jadi berusahalah untuk membaur dengan yang lain. Ya?" sahut Nita.
"Iya, Bu. Kalau begitu aku berangkat dulu."
Nita dan Luyan sama-sama mengangguk. Mereka melepas kepergian Luri dengan hati yang di penuhi rasa haru. Termasuk juga dengan Nania. Gadis nakal ini terus memandangi kepergian sang kakak dengan mata bersinar cerah. Dia sangat suka melihat kebahagiaan yang menyelimuti wajah kakaknya itu.
Kak Luri, semoga malam ini kau bisa pulang dengan selamat, doa Nania dalam hati.
*****
__ADS_1