PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Ingin Selalu Berdekatan


__ADS_3

Luri ternganga kaget dengan mata berkaca-kaca saat dia membaca kertas yang tertempel di dinding pengumuman. Ya, saat ini Luri, Galang dan satu temannya lagi tengah membaca pengumuman tentang siapa yang berhasil memenangkan beasiswa ke luar negeri. Dan siapa sangka, Tuhan benar-benar mengabulkan apa yang di inginkan oleh Luri. Ya, dia berhasil memenangkan beasiswa tersebut dengan nilai paling besar di antara Galang dan temannya.


"Ya Tuhan, ini mataku tidak salah lihat bukan?" pekik Luri antara percaya dan tidak percaya. "Lang, kita menang, Lang. Kita berhasil mendapatkan beasiswa itu. Kita berhasil, Galang."


"Iya Luri, kita menang. Kau tidak salah lihat. Dua orang yang mendapat beasiswa itu adalah kau dan aku. Kita akan kuliah di luar negeri!" sahut Galang dengan raut wajah berbinar.


Sebenarnya bukan beasiswa itu yang membuat Galang terlihat begitu bahagia. Melainkan karena dia dan Luri akan melanjutkan pendidikan di tempat dan negara yang sama. Sampai saat ini Galang tidak pantang menyerah untuk terus mendekati gadis desa ini. Baginya selama janji pernikahan belum di ucapkan oleh Luri dan calon suaminya, hukumnya sah-sah saja jika Galang ingin terus memperjuangkan cintanya. Bukan egois, tapi Galang benar-benar sudah di mabuk cinta oleh pesona si gadis desa ini. Hanya Luri satu-satunya perempuan yang bisa menghancurkan dinding es yang selama ini menyelimuti hatinya Galang.


"Waahhh, selamat ya untuk kalian berdua. Aku ikut senang dengan kabar baik ini meskipun aku gagal untuk masuk ke universitas impianku. Sekali lagi selamat untukmu Luri, Galang."


"Terima kasih banyak. Jangan sedih ya, kan nanti kau tetap mendapat beasiswa juga. Hanya universitasnya saja yang berbeda. Apapun itu perjuangan kita bertiga untuk sampai di titik ini adalah pengalaman yang paling berharga. Dan di manapun nanti kita melanjutkan pendidikan, kita bertiga adalah yang terbaik karena sudah mewakili sekolah ini. Jadi jangan kecewa, ya. Siapa tahu nantinya kau malah lebih sukses daripada kami berdua. Kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi bukan?" ucap Luri sembari menepuk bahu temannya yang kalah dalam kompetisi. Dia berusaha menghibur agar temannya ini tidak terlalu merasa kecewa.


"Yang di katakan Luri benar. Menjadi lulusan mahasiswa dari kampus ternama itu belum bisa menjamin kalau kita akan sukses di masa depan. Jadi jangan menyerah. Yakin dan bekerja keraslah karena usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil!" imbuh Galang ikut menghibur temannya.


"Baiklah. Aku rasa tidak ada gunanya juga merasa sedih karena setelah inipun aku akan tetap mendapat beasiswa seperti kalian. Oh iya, ngomong-ngomong kalian berdua ingin mengambil jurusan apa?"


Galang melirik ke arah Luri. Dia tengah menunggu jawaban dari gadis desa ini.


"Aku ingin menjadi seorang dokter," jawab Luri tanpa ragu. "Sebenarnya dulu aku tidak pernah memiliki keinginan yang muluk-muluk. Tapi setelah menyaksikan Ibuku yang di abaikan oleh para tenaga medis hanya karena kami berasal dari keluarga miskin membuatku sadar akan sesuatu hal. Mereka yang berasal dari kalangan menengah bawah butuh seseorang yang bisa mengobati tanpa memandang status mereka. Dan aku ingin menjadi orang yang seperti itu. Aku ingin menjadi dokter yang di butuhkan oleh semua orang, bukan butuh uang mereka."

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Luri tersenyum. Dia sangat bahagia karena jalannya untuk mewujudkan keinginan tersebut telah terbuka dengan sangat lebar. Selain karena tujuan utamanya, dengan begini Luri bisa membanggakan kedua orangtuanya. Juga dengan niatannya yang ingin memantaskan diri agar bisa segera menjalin hubungan lebih dengan Fedo. Membayangkan kebahagiaan tersebut membuat Luri menjadi bahagia bukan kepalang. Namun dia tidak serta-merta menunjukkan kebahagiaan tersebut di hadapan Galang dan temannya. Luri cukup merasakannya di dalam hati saja.


"Waahhh, tujuanmu benar-benar sangat mulia, Luri. Aku salut padamu. Lalu kau, Galang? Jurusan apa yang ingin kau ambil?"


"Sama seperti Luri. Aku juga ingin menjadi dokter yang berguna bagi semua orang. Sejak kecil aku sudah hidup berkecukupan, dan aku rasa sudah saatnya untukku mengabdikan diri pada masyarakat yang membutuhkan," jawab Galang dengan raut wajah yang sangat meyakinkan.


"Hmm, tidak kusangka kalian berdua memiliki sisi kemanusiaan yang begitu kuat. Aku yakin setelah lulus kalian berdua pasti akan menjadi dokter-dokter yang sangat hebat."


"Do'akan saja ya!" sahut Galang dan Luri bersamaan.


Saat Luri tengah menikmati kebahagiaannya, Nania yang baru saja keluar dari kelas langsung berlari menghampiri. Dia sudah sangat tidak sabar ingin segera mengetahui apakah kakaknya berhasil mendapatkan beasiswa itu atau tidak.


"Kak Luri, bagaimana hasilnya? Positif tidak?" tanya Nania dengan nafas sedikit terengah.


"Mana mungkin seorang Nania di kejar hantu, Kak. Yang ada mereka lah yang lari ketakutan karena kukejar," jawab Nania asal. "Positif yang aku maksud itu hasil pengumuman kompetisi, Kakak. Kau menang atau kalah? Pasti menang kan? Iyalah, kakaknya siapa dulu!"


Luri menghela nafas mendengar ucapan Nania yang bertanya kemudian di jawabnya sendiri. Setelah itu Luri tersenyum, bahagia saat terkenang kalau namanya tertulis sebagai siswi yang berhak mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri.


"Aku dan kakakmu berhasil memenangkan kompetisi itu, Nania. Dan setelah ujian akhir sekolah selesai kami berdua akan langsung berangkat ke London untuk melanjutkan studi," ucap Galang menggantikan Luri menjawab.

__ADS_1


Nania langsung memicing tajam ke arah Galang begitu mendengar kalau kakak kelasnya ini juga akan pergi bersama sang kakak. Sangat jelas terlihat kalau Galang memiliki niat terselubung agar bisa kembali mendekati kakaknya yang waktu itu sempat menolak pernyataan cintanya.


"Jangan bilang kau menyuap guru-guru di sekolah ini agar bisa memenangkan kompetisi ya, Kak!" tuduh Nania tanpa basa basi.


"Yaaakk, hati-hati dengan ucapanmu, Nania. Apa gunanya aku menyuap para guru di sekolah ini. Sekalipun tanpa beasiswa orangtuaku masih sangat mampu untuk membiayai kebutuhan sekolahku. Jadi jangan mengada-ada kau!" sahut Galang tak terima dengan tuduhan yang di layangkan oleh Nania. Dia kesal sekali mendengarnya.


Luri yang sadar kalau Galang tersinggung segera melerai saat Nania ingin membalas ucapannya. Untuk kali ini perkataan Nania cukup keterlaluan. Jangankan Galang, Luri rasa dia juga akan merasa tersinggung jika di tuduh menyuap para guru hanya agar bisa memenangkan beasiswa.


"Nania, yang di ucapkan oleh Galang itu benar. Kau tidak boleh menuduh orang sembarangan jika tidak memiliki bukti karena jatuhnya akan menjadi fitnah. Kakak dan Galang sama-sama bekerja keras untuk bisa memenangkan kompetisi ini. Dia sama sekali tidak melakukan tindakan curang!" tegur Luri dengan tegas. "Sekarang cepat minta maaf pada Galang. Jangan membantah."


Nania mendengkus pelan. Jika kakaknya sudah bicara dengan nada yang sangat tegas dan serius, itu menandakan kalau sekarang bukan waktunya untuk bercanda. Jadi mau tidak mau Nania harus meminta maaf pada Galang atas ucapan yang tadi dia lontarkan.


"Kak Galang, aku minta maaf ya. Tapi aku memiliki alasan sendiri kenapa menuduhmu seperti itu," ucap Nania sambil melirik ke arah sang kakak.


"Alasan apa kalau aku boleh tahu?" tanya Galang sedikit was-was.


Semoga saja ini tidak ada hubungannya dengan penolakan Luri waktu itu. Jika iya, maka matilah aku. Mau di taruh dimana wajahku nanti. Batin Galang resah.


"Kak Galang, aku tahu kalau kau begitu menyukai kakakku. Dan Kak Luri pernah bilang kalau orang yang terlalu buta cinta rela menghalalkan segala cara agar bisa selalu berdekatan dengan orang yang dia suka. Contohnya ya dirimu. Waktu itu Kak Luri pernah menolakmu kan, Kak? Nah, ini dia alasannya. Aku takut kau menyuap para guru agar bisa terus sama-sama dengan Kak Luri. Sebagai adik yang baik wajar bukan kalau aku mengkhawatirkan keselamatan kakakku sendiri?" jelas Nania dengan lancar tanpa merasa berdosa sama sekali.

__ADS_1


Galang dan Luri menjadi salah tingkah begitu mendengar alasan Nania menuduh Galang melakukan suap. Bagaimana tidak! Teman mereka masih ada di sana, dan sudah bisa di pastikan kalau dia juga ikut mendengar apa yang Nania katakan barusan. Bisa kalian bayangkan bukan betapa malunya mereka saat ini? Apalagi Galang. Dia sebagai pihak yang di tolak pasti merasa malu yang berkali-kali lipat karena kisah sedih cintanya harus di ketahui oleh orang lain. Sementara Nania, gadis itu terlihat santai-santai saja setelah membongkar aib yang selama ini di rahasiakan oleh Galang dan Luri. Nania sungguh gadis yang sangat tidak terduga bukan?


*****


__ADS_2