PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Pemilik Hati


__ADS_3


πŸ“’JANGAN LUPA BOM KOMENTAR YA


- Love Story ( Gabrielle & Eleanor)


- My Destiny ( Clara & Eland)


- Ma Queen Rose


- Marriage Contract With My Secretary


BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAKNYA YA BIAR EMAK SEMANGAT UP. OK BESTIE πŸ’œ


πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—


Tubuh Luri panas dingin saat kakinya melangkah masuk ke sebuah restoran yang terlihat begitu mahal. Nafasnya seakan tertahan ketika dirinya tidak sengaja berpapasan dengan artis besar yang sering dia lihat di televisi.


Oh, jadi restoran ini adalah salah satu tempat yang sering di datangi oleh orang-orang besar seperti mereka. Mimpi apa aku semalam sampai-sampai bisa menginjakkan kaki di tempat semahal dan semewah ini, batin Luri penuh kagum.


"Sayang, kenapa tanganmu dingin sekali? Kau baik-baik saja kan?" tanya Fedo khawatir.


"Aku baik-baik saja, Kak. Hanya sedang gugup karena kau membawaku ke tempat yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Restoran ini sangat mewah, dan tadi aku melihat seorang artis baru saja keluar dari sini. Keluargamu ternyata benar-benar sangat kaya ya, Kak," jawab Luri tanpa sadar mengungkapkan rasa kekagumannya.

__ADS_1


Fedo tersenyum samar mendengar pengakuan jujur yang keluar dari mulut gadisnya. Setelah itu dia membawa Luri masuk ke salah satu ruang VVIP yang sudah di booking oleh keluarganya. Dan begitu pintu ruangan itu terbuka, Fedo dan Luri langsung di sambut dengan senyum semringah di bibir semua orang yang ada di dalam sana.


"Halo, Luri. Apa kabar?" sapa Abigail seraya tersenyum lembut ke arah gadis muda yang tengah berdiri kikuk di sebelah putranya.


"Halo, Nyonya. Kabar saya sangat baik. Kabar Nyonya sendiri bagaimana?" sahut Luri menjawab dengan bahasa yang sangat baku. Dia merasa canggung ketika keluarga Fedo terus menatapnya.


"Panggil Bibi saja. Atau jika kau mau, kau boleh memanggilku Ibu," ucap Abigail. Dia kemudian beralih menatap ke arah Fedo yang hanya berdiri diam sambil terus memandangi wajah Luri. "Fed, mau sampai kapan kau berdiri di sana? Ayo ajak Luri bergabung bersama kita di sini. Dia pasti kelelahan setelah duduk lama di mobilmu tadi. Iya kan, sayang?"


Kayo, Jackson, dan juga Mattheo terkekeh pelan melihat Luri yang terlihat semakin canggung ketika di panggil sayang oleh Nyonya Eiji. Sedangkan Fedo, Casanova itu malah tersenyum-senyum tidak jelas.


"Luri, apa kau tidak ingin menyapa Paman?" tanya Mattheo dengan cepat mengambil bagian agar lebih mengenal seperti apa sikap dan sifat dari calon menantunya.


"Em, halo, Paman. Apa kabar?" sapa Luri berusaha menepis rasa canggungnya ketika memanggil ayah Fedo dengan sebutan Paman. Lidahnya serasa kelu, tapi Luri harus tetap menjaga sikap dan tingkah laku di hadapan orang-orang ini. Luri tak ingin membuat Fedo dan orangtuanya kecewa jika dia sampai salah bersikap, jadi dia berusaha sebaik mungkin untuk terus menjaga tata bicaranya.


Fedo dengan penuh perhatian mengambilkan minuman untuk Luri ketika ayahnya mulai melakukan pendekatan. Dia kemudian mengerlingkan mata ke arah Kayo yang sejak tadi terus saja meliriknya.


"Saat pulang dari sekolah tadi Ibu sedang melakukan chek-up di rumah sakit, Paman. Kalau Ayah, beliau sakit sewajarnya orang yang sudah berumur. Maklumlah, Ayah dan Ibu sudah tua," jawab Luri tanpa malu mengatakan kondisi orangtuanya.


Mattheo mengangguk-anggukkan kepala setelah menyaksikan sendiri kalau Luri adalah seorang gadis yang jujur dan juga sederhana. Di hadapan mereka gadis ini sama sekali tidak mencari rasa simpatik, malah dengan santainya mengakui kalau kedua orangtuanya sering tak sehat. Di saat para wanita di luaran sana begitu menjaga kesempurnaan keluarga mereka, tapi gadis ini malah sebaliknya. Luri bicara apa adanya tanpa ada kesan yang di buat-buat. Yang mana membuat Mattheo merasa sangat bangga karena pilihan Fedo benar-benar memuaskan harapannya.


"Ekhmm ekhmmm, kakak ipar. Kapan aku dan calon suamiku akan mendapat giliran untuk di sapa, hm?" ledek Kayo yang juga ingin mengenal dekat gadis yang akan menjadi calon kakak iparnya.


"Kay, jangan memanggil Luri dengan sebutan seperti itu. Nanti dia malu!" tegur Fedo kesal. Dia kemudian menatap Luri yang tengah menundukkan kepala dengan pipi merona merah. "Sayang, abaikan saja perkataan gadis nakal itu. Dia orangnya memang jahil dan suka mengganggu ketenangan orang lain. Jadi jangan dengarkan dia ya?"

__ADS_1


"Ckck, sayang ya? Aduh aduh aduh, manis sekali caramu memanggil kakak ipar, Kak. Aku jadi iri," ucap Kayo kembali meledek pasangan menggemaskan yang ada di hadapannya.


"Jangan di teruskan. Nanti Luri menangis karena malu," bisik Jackson melerai terjadinya gencatan senjata antara Kayo dengan Fedo. Dia tersenyum saat Kayo menatapnya sambil mengerucutkan bibir. Calon istrinya merajuk.


Luri kembali mengangkat wajahnya setelah debaran jantungnya sedikit mereda. Dan rasa malu itu kembali menyelimuti diri Luri saat pandangannya tak sengaja bertabrakan dengan pandangan mata ibunya Fedo. Jujur, tatapan mata wanita ini terasa begitu mengintimidasi. Akan tetapi bukan rasa takut yang di rasakan oleh Luri, melainkan rasa segan. Luri yakin sekali kalau ibunya Fedo pastilah berasal dari keluarga terhormat yang mana memiliki kekuasaan yang sangat besar. Membayangkan betapa hebatnya latar belakang kedua orangtua Fedo membuat Luri tanpa sadar merasa kecil hati. Bayangkan saja. Dia hanyalah seorang gadis desa biasa yang tidak memiliki apapun selain nyawa yang melekat di badan. Di hadapan keluarga berkuasa ini wajar saja bukan kalau Luri merasa dirinya itu sangatlah tidak pantas untuk di sandingkan dengan mereka. Namun ketika Luri tengah terjebak oleh perasaan tersebut, ibunya Fedo tiba-tiba bersuara yang mana membuat Luri kembali mendapatkan kepercaya-diriannya.


"Luri, Bibi tahu saat ini kau pasti sedang membanding-bandingkan statusmu dengan status yang kami miliki. Ingatlah, sayang. Kita semua itu sama, kita tidak ada bedanya sekalipun kau hanya seorang gadis desa dan kami adalah keluarga kaya. Semua sama rata di mata Tuhan karena yang membedakan adalah prilaku kita sendiri. Jadi Bibi harap kau jangan berkecil hati ya? Bibi sama sekali tidak memandang rendah statusmu di sini. Begitu juga dengan ayah dan adiknya Fedo. Termasuk Jackson, calon menantu Bibi. Kau harus percaya bahwa kami semua tidak memandang rendah kehadiranmu. Malah sejak tadi kami semua sudah sangat tidak sabar ingin segera bertemu dengan gadis yang sudah membuat Fedo kembali ke jalan yang benar!" ucap Abigail dengan bijak meyakinkan Luri bahwa dia tidak pernah membeda-bedakan status sesama manusia.


"Maafkan aku, Bibi. Aku janji tidak akan berkecil hati lagi," sahut Luri seraya menghela nafas panjang. Dia lega karena ternyata orangtuanya Fedo adalah orangtua yang memiliki toleransi begitu tinggi terhadap seseorang yang kastanya sangat tertinggal jauh di bawah mereka. Sekarang Luri merasa jauh lebih nyaman, tidak seperti sebelumnya.


"Luri, kita belum berkenalan secara resmi," ucap Kayo. Dia berdiri kemudian mengulurkan tangan ke arahnya. "Aku Kayo Eiji, adik dari Casanova yang duduk di sebelahmu."


Dengan sopan Luri ikut berdiri kemudian menyambut uluran tangan dari adiknya Fedo. "Hai, Kayo. Aku Luri, teman Kak Fedo."


"Calon kekasih, sayang!" celetuk Fedo membenarkan anggapan Luri tentang status mereka.


"Aku tidak mau pacaran sebelum berhasil meraih cita-citaku, Kak. Jadi status kita sekarang ya hanya teman," sahut Luri setelah melepaskan jabat tangannya dengan Kayo. Dia lalu kembali duduk sambil memperhatikan wajah Fedo yang sedikit masam. "Jangan marah. Kau tahu dengan pasti siapa pemilik hatiku."


Mattheo berdecak sebal melihat kelakuan Fedo yang langsung tersenyum senang setelah Luri dengan tegas mengingatkan siapa yang ada di hatinya. Sedetik kemudian Mattheo tersenyum samar, merasa takjub karena gadis desa ini tak ragu mengatakan semua itu di hadapan semua orang. Dari sini Mattheo bisa menilai kalau Luri memanglah sebuah berlian yang perlu untuk di pertahankan. Lidahnya jadi gatal sendiri ingin menanyakan pada gadis desa ini apakah dia bersedia untuk menikah dengan Fedo atau tidak.


"Baiklah kita akhiri dulu sesi perkenalan ini. Dan sebaiknya kita segera menikmati makan siang sebelum makanan ini menjadi dingin. Baru setelahnya kita kembali melanjutkan obrolan. Bagaimana?" ucap Abigail sambil menatap satu-persatu wajah semua orang yang ada di sana.


Semua orang mengangguk setuju dengan ide yang di ucapkan oleh Nyonya Eiji, termasuk juga dengan Luri. Rasa gugup yang sejak tadi melanda hatinya hilang begitu saja setelah melihat sendiri kalau keluarga Fedo menerima kehadirannya dengan tangan terbuka. Luri kemudian mengucap syukur dalam hati karena apa yang dia takutkan tidak terjadi. Dia lega karena keluarga ini benar-benar tidak memandang statusnya yang hanya seorang gadis desa biasa.

__ADS_1


*****


__ADS_2