
Sesampainya di Shanghai, Kanita langsung pergi ke sekolah Luri setelah menyimpan barang-barangnya di hotel. Dia sungguh sudah sangat tidak sabar ingin segera bertatap muka dengan gadis ingusan yang telah menjadi penghalang hubungannya dengan Fedo.
"Luri, waktunya sudah tiba untukmu melepaskan Fedo. Maaf ya jika kedatanganku nanti sedikit membuatmu terkejut," gumam Kanita seraya tersenyum licik.
Orang yang menemani Kanita nampak acuh saat dirinya terus menggumamkan kata yang akan dia ucapkan ketika bertemu Luri. Mungkin di mata orang tersebut Kanita terlihat seperti orang tidak waras karena ingin melabrak seorang gadis yang usianya terpaut cukup jauh darinya. Akan tetapi Kanita tidak peduli akan hal itu. Karena baginya semua wanita haruslah di singkirkan jika berani mendekati Fedo, dan Luri adalah target pertamanya.
Tak berselang lama, sampailah Kanita di depan sekolah tempat Luri menuntut ilmu. Dengan segera dia keluar dari dalam mobil kemudian berjalan mendekat ke arah gerbang. Sekolah ini lumayan mewah, menandakan kalau Luri bukan berasal dari kalangan biasa.
"Hmmm, siapapun kau aku akan tetap menghancurkan hubunganmu dengan Fedo, Luri. Muncullah, ada urusan penting yang harus kita selesaikan!" ucap Kanita pelan.
Di dalam sekolah, Nania yang baru saja selesai mengikuti pelajaran di kelasnya nampak berjalan sendirian ke arah gerbang. Suasana hatinya sedang tidak bagus, jadi memutuskan untuk jalan-jalan keluar.
Eh, siapa wanita itu? Pendek sekali pakaiannya, apa dia tidak malu? batin Nania keheranan.
Karena penasaran, Nania pun memutuskan untuk mendekat. Dia mengerutkan kening ketika wanita itu langsung menutupi wajahnya menggunakan syal yang dia bawa. Khawatir kalau wanita tersebut memiliki niat buruk pada sekolahnya, tanpa ragu Nania pun langsung menegurnya.
"Nona, apa yang sedang kau lakukan di depan sekolahku?" tanya Nania sembari menatap penuh curiga pada wanita aneh tersebut.
"Hei kau, apa yang kau lihat?" tanya Kanita risih ketika di tatap oleh seorang gadis cantik berseragam putih biru.
"Terserah aku mau melihat apa. Ini kan mataku, kenapa kau sewot," jawab Nania sambil terus memperhatikan dari atas sampai ke bawah tubuh wanita yang sedang berdiri di hadapannya. Sungguh, dia geli sendiri melihat cara berpakaian wanita ini. Nania yakin sekali kalau pakaian dalam wanita ini pasti akan langsung terlihat jika dia membungkukkan badannya sedikit. Sangat memalukan. Cih.
__ADS_1
Kanita mengepalkan tangan saat mendengar jawaban cetus dari siswa yang datang menghampirinya. Sadar akan tujuannya datang kemari, Kanita pun mencoba mengacuhkan sikap kurang ajar gadis tersebut. Dia kemudian bertanya tentang Luri padanya.
"Gadis kecil, apa kau mengenal siswi yang bernama Luri? Dia sekolah di sini," tanya Kanita seraya menunjuk ke bangunan sekolah.
"Luri?" sahut Nania dengan alis berkerut.
Kenapa wanita memalukan ini mencari Kak Luri ya? Tidak mungkin kan Kak Luri berhutang padanya? Tapi jika di lihat dari penampilannya, sepertinya dia datang dengan maksud yang tidak baik. Ah, sebaiknya aku jangan memberitahu dia seperti apa rupa Kak Luri. Aku khawatir dia cemburu pada kecantikannya, batin Nania curiga.
"Iya Luri. Kau kenal dia tidak?"
"Kenal lah. Kan aku siswi yang bernama Luri," jawab Nania berbohong. Dia harus melakukan hal ini demi melindungi keselamatan sang kakak. Nania mana mungkin rela kakaknya yang lembek itu berhadapan dengan siluman serigala seperti wanita ini.
Mata Kanita membelalak lebar begitu dia tahu kalau gadis yang ada di hadapannya adalah gadis yang sedang dia cari. Dia kemudian menelisik dengan teliti dari wajah hingga ujung kaki gadis berseragam putih biru tersebut. Cantik dan segar, itu yang di dapat Kanita dari fisik luarnya Luri. Jujur saja, Kanita langsung merasa cemburu karena ternyata Luri memiliki paras yang begitu mempesona, sangat jauh dari apa yang dia bayangkan. Sedetik kemudian Kanita menepis pengakuan tersebut, dia tidak rela jika harus merasa kalah dari gadis ingusan ini.
"Jangan sok percaya diri kau. Di bandingkan dengan kecantikan yang kau miliki, pesonaku jauh lebih memikat. Lihat, tubuhku begitu seksi. Sedangkan kau, kau gemuk dan banyak serpihan lemak di setiap lekuk tubuhmu. Cihh, sulit di percaya Fedo bisa jatuh cinta pada gadis jelek sepertimu," sahut Kanita menghina fisik Luri secara terang-terangan. Padahal yang sebenarnya tidaklah begitu. Meski tertutup pakaian, Kanita bisa melihat dengan jelas kalau Luri memiliki bentuk tubuh yang sangat proposional. Bahkan tinggi mereka hampir sama meskipun Luri hanya memakai sepatu biasa.
"Ooh, jadi kau datang kemari gara-gara Kak Fedo ya?" tanya Nania dengan raut wajah yang sangat buruk.
"Kenapa memangnya? Kaget? Haha.. Luri, kuberitahu kau sesuatu dan tolong dengarkan aku baik-baik. Kedatanganku kemari adalah untuk memberitahumu kalau aku dan Fedo adalah sepasang kekasih, dan hubungan kami sudah sangat serius. Jadi aku harap kau jangan tidak tahu diri dengan terus menempel pada kekasihku. Putuskan dia dan carilah pria lain yang seumuran denganmu. Paham!" jawab Kanita tanpa basa basi.
Nania tertegun. Kekasih? Jadi selama ini Fedo hanya mempermainkan kakaknya? Kurang ajar, berani sekali pria genit itu. Saat Nania sedang kesal, dia tidak sengaja melihat senyum aneh di bibir wanita tersebut. Lalu timbullah perasaan curiga di mana Nania berpikir kalau wanita ini datang hanya untuk merusak hubungan kakaknya dengan Fedo.
__ADS_1
"Hei Nona jelek, kuberitahu kau satu hal dan tolong dengarkan aku baik-baik!" ucap Nania mengikuti gaya bicara wanita ini. Dia tidak boleh tinggal diam jika benar wanita ini datang dengan niat ingin menyakiti hati kakaknya. "Selama janur kuning belum melengkung, maka aku masih memiliki hak untuk merebut Kak Fedo darimu. Dan apa tadi kau bilang, hubungan kalian sudah sangat serius? Hahaha, kau lucu sekali. Tahu tidak kalau Kak Fedo sebenarnya sudah melamarku, kami hanya tinggal menunggu hari untuk menikah. Ckck, halu-mu terlalu tinggi, Nona. Sebaiknya kau pulang dan kembalilah tidur agar setelah bangun nanti kau tidak berangan-angan seperti ini lagi. Kasihan sekali!"
"Kau ... kau jangan sembarangan bicara ya. Fedo tidak mungkin melamar gadis ingusan yang buruk rupa sepertimu. Dan asal kau tahu, kami berdua sudah sering menghabiskan malam berdua. Fedo begitu candu akan pelayananku saat kami berada di atas ranjang. Tahu tidak, hah!" teriak Kanita mulai terprovokasi.
"Apa? Buruk rupa? Hei Nona, kemana perginya bola matamu itu hah? Jelas-jelas wajahku jauh lebih cantik dan lebih segar darimu, dan asetku ini sudah mendapat pengakuan dari Kak Fedo!" sahut Nania balas berteriak. "Satu lagi, jangan mentang-mentang kau pernah tidur dengan calon suamiku lalu kau berani berkoar kalau Kak Fedo sudah kecanduan dengan tubuhmu. Kau salah jika bicara seperti itu padaku, nenek peyot. Jika kau hanya melayaninya di atas ranjang, maka kau masih kalau jauh dari pelayanan yang aku berikan padanya. Di ranjang, di dapur, di meja belajar, di hotel, di pantai, di ruang tamu, di sofa, bahkan di dalam mobil pun kami pernah melakukannya. Dengan semua yang sudah kami lakukan apa kau masih berani menyombongkan diri kalau Kak Fedo sudah kecanduan denganmu? Hohoho, sangat menggelikan. Lebih baik sekarang kau cari pria lain untuk menemanimu berlatih dulu. Lalu setelahnya datangi aku, kita adu kekuatan. Mengerti tidak. Pergi sana!"
Setelah berkata seperti itu, Nania pergi meninggalkan wanita itu. Dia benar-benar sangat kesal sekarang. Nania sungguh merutuki kecerobohan Fedo karena telah memberitahukan identitas kakaknya pada nenek peyot tadi. Untung saja tadi dia yang melihat keberadaan wanita itu. Jika tidak, kakaknya pasti akan sangat sakit hati jika sampai mendengar kalau Fedo pernah tidur dengan wanita lain. Ini benar-benar tidak bisa di maafkan.
Awas saja kau, Kak. Kalau sampai aku menemukan kakakku menangis gara-gara kelakuan burukmu, aku bersumpah kau tidak akan bisa hidup dengan tenang. Meskipun kau tinggal di Jepang, aku pasti akan pergi mencarimu ke sana kemudian menghajarmu sampai babak belur. Beraninya kau mempermainkan perasaan kakakku. Dasar buaya darat. Huh.
Sementara itu di luar sekolah, Kanita tampak masih berdiri diam dengan wajah yang sangat syok. Sungguh, dia tidak menyangka kalau Luri adalah tipe gadis yang begitu culas. Kanita merasa sangat tertohok dengan ucapan Luri yang menyebut kalau dia dan dan Fedo sudah sering melakukan percintaan di berbagai tempat. Dia merasa kalah. Karena pada kenyataannya Kanita dan Fedo hanya satu kali melakukan percintaan, dan itupun dalam kondisi mabuk berat.
"Kau ternyata tidak sepolos seperti gadis seusiamu, Luri. Sialan, masa iya aku harus kalah pada gadis ingusan sepertinya? Tidak-tidak, ini tidak bisa di biarkan. Aku tidak bisa membiarkan Fedo menikah dengan Luri, tidak bisa. Ayo berpikir Kanita. Pasti ada jalan lain untuk memisahkan mereka berdua. Kau jangan sampai kalah!" ucap Kanita panik.
Kanita kemudian kembali masuk ke dalam mobil sambil terus memikirkan cara apa yang akan dia gunakan untuk merusak rencana pernikahan antara Luri dengan Fedo. Dia tidak rela jika pria yang di sukainya menikah dengan wanita lain. Membayangkan hal tersebut membuat Kanita menjadi sesak nafas, dia merasa tercekik.
Kau hanya boleh jadi milikku, Fedo. Aku bersumpah akan menyingkirkan semua wanita yang mencoba untuk merebutmu dariku. Termasuk Luri, geram Kanita dalam hati.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment pasangan felur kita ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...