
Dari ruangan kepala sekolah, terlihat Galang dan Luri keluar bersamaan sambil membawa berkas tebal di tangan masing-masing. Senyum lebar nampak menghiasi bibir keduanya karena dua hari lagi mereka akan segera bertolak ke London.
"Luri, malam ini kau ada acara tidak?" tanya Galang. Hatinya sedang sangat bahagia karena sebentar lagi dia dan Luri akan lebih sering menghabiskan waktu bersama.
"Em, aku tidak tahu, Lang. Karena nanti aku rencananya ingin menonton Nania berlatih setelah semua urusan di sekolah beres," jawab Luri. "Waktu kebersamaan kami sudah tidak banyak lagi, Lang. Jadi selagi ada kesempatan aku ingin menghabiskan waktu bersama Nania dan juga dengan keluargaku yang lain. Kau tahu sendiri bukan kalau kita akan menetap selama empat tahun di London?"
Galang menarik nafas panjang kemudian mengangguk. Iri sekali setiap kali mendengar Luri membahas tentang kehangatan di keluarganya. Galang merasa sendiri karena kedua orangtuanya terkesan santai-santai saja meskipun tahu kalau dua hari lagi dia sudah akan pergi meninggalkan Shanghai. Sebenarnya Galang juga sangat ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya, tapi apa mau di kata. Ayah dan ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, Lang," ucap Luri tanggap akan kebungkaman di diri Galang. "Jangan khawatir, kau tidak sendiri. Masih ada aku dan yang lainnya yang akan mendukungmu. Kau harus terus berpikir positif karena itu akan sangat berpengaruh pada fokusmu saat kita kuliah nanti. Tidak apa-apa kalau sekarang Ayah dan Ibumu tidak mau peduli. Buktikan saja pada mereka kalau kau itu adalah seorang anak yang mandiri. Kau tidak cengeng, Galang."
"Haahhh ... Luri-Luri. Kenapa rasanya sulit sekali ya mengikuti saran darimu?" ucap Galang seraya membuang nafas dalam-dalam. " Tapi ya sudahlah, aku tidak mau ambil pusing lagi. Biar saja kalau Ayah dan Ibuku lebih memilih pekerjaan mereka ketimbang kebahagiaan anaknya sendiri. Aku akan berusaha untuk terus yakin kalau suatu saat nanti mereka pasti akan sadar dan mau mempedulikan aku. Benar begitu kan?"
Luri tersenyum kemudian menganggukkan kepala. Dia lalu menepuk pundak Galang, memberinya kekuatan agar tegar menjalani kisah keluarganya yang cukup dingin.
"Oh ya, Lang. Kalau kau tidak mempunyai acara setelah pulang dari sekolah, bagaimana kalau kita pergi menonton Nania bertanding saja? Ya hitung-hitung untuk membuat kenangan sebelum kita berpisah dengan gadis nakal itu," ucap Luri mengajak Galang mencari hiburan.
"Wahhh, ide bagus. Baiklah, nanti aku akan ikut pergi denganmu untuk menonton Nania," sahut Galang dengan semangat empat lima.
"Menonton Nania? Aku ikut!"
Galang dan Luri langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara teriakan Jovan. Mereka kemudian sama-sama menggelengkan kepala melihat Jovan yang datang sambil membawa banyak cemilan di tangannya.
"Aku ikut. Aku juga mau menonton gadisku," ucap Jovan sambil menatap bergantian ke arah Luri dan Galang.
__ADS_1
"Gadismu?" ledek Galang. Dia lalu mengambil satu bungkus cemilan dari tangan Jovan. "Kalau berani coba panggil Nania seperti itu, Jo. Aku akan membayar mahal kalau kau sanggup melakukannya."
Jovan terdecak. Secepat kilat dia menyembunyikan semua cemilan yang di bawanya ke belakang punggung saat Galang ingin kembali mengambilnya. Benar-benar ya anak satu ini, mau enaknya saja.
"Aku tidak butuh uang darimu hanya untuk melakukan hal semudah itu, Lang," sahut Jovan. "Sebelum aku menyebut di depan kalian, aku sudah lebih dulu menyebutnya di hadapan Nania. Apa kalian tahu bagaimana responnya sewaktu aku memanggilnya dengan sebutan gadisku?"
Galang dan Luri kompak menggeleng. Tapi mereka sudah sangat yakin kalau Jovan pasti menerima sesuatu yang berbentuk kekerasan akibat ulahnya itu. Biasalah, Nania kan bar-bar.
"Dia meninju perut dan lenganku. Hehehehe," lanjut Jovan sambil terkekeh senang.
"Harusnya kau itu marah, bukan malah tertawa senang, Jovan. Astaga kau ini. Cinta benar-benar membuat orang menjadi buta segalanya ya," ucap Luri merasa heran dengan sikap yang di tunjukkan oleh Jovan.
"Hahh, mau bagaimana lagi, Luri. Namanya juga sedang jatuh cinta. Mau sesakit apapun perlakuan Nania padaku, aku akan tetap menyukainya. Aneh memang, tapi itulah indahnya jatuh cinta," sahut Jovan tanpa merasa malu sedikitpun.
"Iya indah. Tapi sayang, Nania tidak paham kalau kau menyukainya. Hahahaha!" sindir Galang kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Ngomong-ngomong kau membawa cemilan sebanyak ini untuk siapa, Jo?" tanya Luri penasaran.
"Oh, tentu saja untuk Nania, Luri. Memangnya siapa lagi sih yang bisa membuatku jadi seperti ini selain adikmu itu?" jawab Jovan dengan bangganya.
"Astaga. Jadi Nania yang memintamu membeli semua cemilan ini?" kaget Luri.
Ya ampun, Nania. Harus berapa kali Kakak ingatkan untuk tidak meminta apapun pada orang lain. Terlebih lagi pada laki-laki. Kau juga, Jovan. Kenapa kau mau-mau saja sih menuruti keinginan adikku. Astaga, keluh Luri dalam hati.
__ADS_1
Galang menatap keheranan ke arah Jovan yang dengan santainya mengiyakan pertanyaan Luri. Dia sampai tak habis pikir kalau murid sepintar Jovan akan benar-benar di tundukkan oleh pesona gadis desa yang baru seumur jagung. Akan tetapi diam-diam Galang jadi merasa iri karena Jovan mampu menunjukkan perasaannya secara terang-terangan. Tidak sepertinya yang masih harus menunggu kesempatan datang. Haihh, ingin rasanya Galang berbuat nekad dengan menyatakan kembali perasaannya pada Luri. Tapi dia tidak berani, Galang takut di tolak lagi seperti waktu itu.
"Tadi Nania bilang dia sedang butuh banyak tenaga. Lalu aku mengusulkan untuk membeli cemilan-cemilan ini. Makanya sekarang aku terlihat seperti minimarket berjalan. Semua ini demi adikmu, Luri. Aku keren kan?" tanya Jovan sambil tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih bersih.
"Hmmm, Jo-Jo. Lain kali tolong kau jangan berbuat seperti ini lagi ya. Aku yang merasa tidak enak karena Nania terkesan sedang memanfaatkanmu," jawab Luri pelan.
"Weee, santai saja. Ini kan ideku, bukan Nania yang memintanya lebih dulu. Jadi kau jangan merasa tidak enak begini padaku, Luri. Aku sama sekali tidak keberatan melakukan hal ini karena rasanya sungguh menyenangkan," ucap Jovan santai. "Eh, ngomong-ngomong tadi kalian ingin menonton apa? Apa yang akan dilakukan Nania?"
"Ohh, itu. Aku mengajak Galang untuk menonton Nania berlatih sore ini. Tadi saat berangkat sekolah Nania bilang padaku kalau nanti akan ada uji kekuatan antar kelompok karena sebentar lagi akan di adakan pertandingan seni bela diri. Dan kebetulan Nania terpilih sebagai perwakilan dari sekolah kita. Makanya aku mengajak Galang untuk menonton, sekalian memberi semangat untuknya," jawab Luri penuh bangga saat menceritakan keberhasilan Nania yang terpilih sebagai perwakilan dari kelompoknya. Meski belum tentu menang, bagi Luri hal ini tetaplah sangat membanggakan. Dia sudah cukup puas dengan pencapaian Nania sekarang.
Mulut Galang dan Jovan terbuka lebar begitu mengetahui kalau Nania akan menjadi perwakilan dari kelas bela diri. Setelah itu mereka saling melempar pandang sebelum akhirnya sama-sama meringis kecil..
"Jo, sepertinya kau juga harus masuk kelas bela diri mulai dari sekarang supaya bisa mengimbangi kekuatan Nania nantinya. Kalau tidak, aku jamin kau pasti akan babak belur setiap hari. Percaya itu!" ucap Galang penuh nada peringatan.
"Nania tidak mungkin sekejam itu menjadikan aku sebagai samsak tinjunya, Lang. Kau jangan bicara yang tidak-tidak tentangnya ya!" bela Jovan sambil menelan ludah. Jovan tidak terima Galang berpikir seperti itu tentang Nania, tapi dia sendiri merasa takut. Takut kalau-kalau ucapan Galang akan menjadi kenyataan.
"Haishhh, ya sudahlah terserah kau saja. Aku hanya mengingatkan sebagai seorang teman. Tapi ingat ya, Jo. Jika nanti Nania benar-benar menjadikanmu sebagai samsak tinjunya, kau jangan sampai mengeluh padaku. Aku tidak mau melihat air matamu."
"Ck, kenapa kau jahat sekali, Galang. Sebagai teman harusnya kau itu pasang badan untuk membelaku. Bagaimana sih!" protes Jovan kesal.
"Kalau berurusan dengan Nania aku angkat tangan, Jo. Kau bereskan sendiri saja karena aku tidak mau babak belur di tangannya. Huh!" sahut Galang acuh.
Luri hanya bisa menghela nafas ketika kebar-baran adiknya membuat kedua temannya ini menjadi ketakutan. Galang dan Jovan tidak salah, dan Luri maklum kenapa keduanya sampai bersikap seperti ini. Luri sangat sadar kalau adiknya itu memang kelewat garang dan juga nakal. Jadi ya sudah, lebih baik Luri diam tak membela.
__ADS_1
Semoga saja sikap Nania bisa berubah seiring berjalannya waktu. Aku takut tidak akan ada pria yang berani mendekatinya nanti, ujar Luri dalam hati.
*****