PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Pintu Jodoh


__ADS_3

Setelah melewati sekian jam perjalanan yang sangat panjang, Luri dan Galang akhirnya sampai di London. Kedatangan mereka di bandara di sambut oleh tiga orang penjaga yang akan bertanggung jawab atas keselamatan mereka selama berada di sana. Dan Luri, dia melangkah keluar dari dalam bandara dengan raut wajah yang begitu sendu. Tubuhnya memang ada di sini, tapi hati dan pikirannya tertinggal di tempat lain. Kemarin harusnya Luri dan Fedo saling bertemu, tapi terpaksa harus di batalkan karena Luri sudah terlanjur kecewa lebih dulu. Dan kekecewaan itu masih terbawa sampai detik ini, yang mana membuat hati Luri terasa begitu sedih.


"Luri, ayo masuk!" ucap Galang ketika melihat Luri hanya diam melamun di depan pintu mobil.


Galang mengerutkan kening saat Luri diam tak merespon perkataannya. Paham kalau suasana hati gadis ini masih belum stabil, dengan sabar Galang berjalan menghampiri Luri kemudian menjentikkan jari di depan wajahnya.


"Astaga!" pekik Luri. Dia sampai mundur ke belakang saking kagetnya saat ada tangan yang tiba-tiba muncul di depan wajahnya. "Galang, ada apa?"


"Hmmm, kau melamun, Luri. Dan maaf, tadi aku hanya ingin menyadarkanmu saja. Siapa suruh kau tak merespon saat aku bicara. Jadi ya sudah, aku kageti saja supaya kau berhenti melamun," sahut Galang sambil berusaha menekan keinginan hatinya agar tidak mengelus pipinya Luri. Ekpresi kaget di wajah gadis ini benar-benar sangat menggemaskan, membuat Galang jadi tidak tahan untuk tidak menyentuhnya.


"Aku melamun?"


Luri membeo. Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya merasa canggung pada Galang. Sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya, Luri pun meminta maaf akan sikapnya barusan. Dia merasa tak enak pada Galang.


"Maaf atas sikapku barusan, Lang. Aku tidak bisa berhenti memikirkan keadaan Ayah dan Ibuku, makanya aku menjadi sedikit tidak fokus tadi."


"It's oke, tidak masalah. Santai saja," jawab Galang.


"Em, apa kita akan langsung pulang?" tanya Luri sambil menatap bergantian ke arah tiga orang penjaga yang tengah berdiri di samping mobil.

__ADS_1


"Iya. Tapi kalau kau ingin pergi ke tempat lain dulu juga tidak apa-apa. Dua hari ini kita masih bebas, jadi kita masih bisa berkeliling untuk melihat-lihat pemandangan di kota London," jawab Galang antusias.


"Tidak, bukan begitu, Lang. Sebenarnya aku ingin menelpon Ayah dan Ibu dulu, aku takut mereka khawatir karena sejak berangkat tadi aku mematikan ponsel," sahut Luri langsung menolak tawaran Galang. Luri tahu betul apa maksud di balik ucapannya barusan. "Em, boleh tidak kalau aku menelpon keluargaku sebentar? Aku sangat merindukan mereka, Lang!"


Mendengar alasan Luri membuat Galang terpaksa harus menekan dalam-dalam keinginannya untuk bisa menghabiskan waktu berdua dengan gadis desa ini. Kecewa, itu sudah pasti. Akan tetapi Galang berusaha menutupi rasa kecewanya itu dengan meminta Luri untuk menelpon di dalam mobil saja. Sementara dia sendiri akan menunggu di luar sembari bercakap-cakap dengan ketiga penjaga. Galang tahu Luri butuh ruang untuk melepas rindu dengan keluarganya.


Begitu masuk ke dalam mobil, Luri segera menyalakan kembali ponsel miliknya kemudian menghubungi nomor sang kakak. Namun karena perbedaan waktu antara Shanghai dengan London terpaut cukup jauh, Luri harus menunggu sedikit lama untuk dia bisa mendengar suara kakaknya. Maklumlah, sekarang di London pukul delapan malam. Itu berarti saat ini di Shanghai masih dini hari, atau lebih tepatnya pukul tiga pagi.


"Halo?"


Terdengar suara serak khas orang bangun tidur dari dalam telephone. Luri yang memang sudah tidak sabar ingin menanyakan sesuatu pada sang kakak pun langsung mencecarnya dengan beberapa pertanyaan.


"Halo Kak, aku baru saja sampai di London. Maaf ya kalau aku mengganggu istirahat Kakak!" ucap Luri. "Em, Kak Lusi. Apa kemarin Kak Fedo datang ke rumah? Dia membahas tentang Kanita tidak? Dia marah tidak saat tahu kalau aku pergi ke London bersama Galang? Kak Fedo tidak mengamuk 'kan?"


Luri tersipu malu saat diledek oleh kakaknya. Dia lalu menunggu dengan sangat sabar penjelasan dari kakaknya itu. Luri ingin segera tahu apakah benar Fedo menghamili Kanita atau tidak. Jika iya, maka Luri bersumpah ini akan menjadi kali terakhir Luri menyebut dan memikirkan pria Jepang itu.


"Luri, apa yang di katakan Kanita padamu tidaklah benar. Bayi yang dia kandung bukan anaknya Fedo, melainkan anak pria lain yang bernama Andero. Kemarin setelah kau dan Galang berangkat ke bandara, Kanita dan keluarganya membuat pernyataan di hadapan media dengan menyebut kalau Fedo adalah laki-laki pengecut karena menolak untuk mengakui anaknya sendiri. Akan tetapi tak berselang lama pernyataan Kanita di bantah oleh laki-laki yang menjadi ayah biologis dari bayi itu. Nama baik Fedo berhasil di selamatkan. Dan jika kau ingin tahu apakah Fedo datang ke Shanghai atau tidak, jawabannya adalah iya. Dia datang lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Awalnya Fedo sangat marah setelah tahu kalau kau pergi ke London bersama Galang. Akan tetapi setelah di bujuk oleh Kak Gleen, pacarmu itu akhirnya mau mengerti juga. Dia juga menerima nasehat dari Ayah dan Ibu agar jangan mengganggu kuliahmu dulu. Mereka meyakinkan Fedo kalau kau hanya akan menjaga hati untuknya saja!"


Rasanya beban yang ada di pundak Luri seperti gugur semua begitu tahu kalau Fedo tidaklah bersalah. Luri lega, benar-benar sangat amat lega. Akhirnya ketakutan Luri tidak menjadi kenyataan karena Tuhan masih membukakan pintu jodoh untuk mereka berdua. Dan ketika Luri baru saja merasa lega, tiba-tiba dia terhenyak kaget saat satu nama melintas di pikirannya. Nania, ya, Nania. Adiknya itu pasti melakukan sesuatu pada Fedo karena merasa tak terima melihatnya bersedih. Khawatir terjadi hal buruk antara Fedo dan Nania, Luri pun kembali mencecar sang kakak agar kembali bicara.

__ADS_1


"Kak Lusi, saat Kak Fedo datang Nania tidak melakukan apa-apa padanya 'kan? Nania tidak menghajar Kak Fedo kan, Kak?"


"Haihhh, Luri-Luri. Kau seperti tidak tahu Nania saja. Bahkan sebelum Fedo bertemu dengan Ayah dan Ibu dia sudah lebih dulu di hajar oleh Nania dan juga kakak iparmu. Kau tahu tidak, wajah Fedo sampai tak berbentuk lagi gara-gara mereka berdua. Kakak dan Ibu sampai tidak tega melihatnya!"


"Benarkah? Ya Tuhan, kasihan sekali Kak Fedo. Tapi setelah itu dia di obati kan, Kak?" tanya Luri tak tega. Dia jadi merasa bersalah karena sudah membiarkan Fedo terkena masalah seperti ini.


"Kau ini ya. Memangnya Ibu dan Kakak sejahat itu apa dengan membiarkan Fedo terluka tanpa di obati? Kau tenang saja, Fedo itu laki-laki. Dia tidak mungkin mati hanya karena di hajar oleh Nania dan kakak iparmu. Sudah ya, lebih baik sekarang kau pulang dan istirahat dengan baik. Besok jika sempat kau telponlah Kakak lagi. Ayah, Ibu, Nania, dan juga kakak iparmu pasti ingin mendengar kabarmu di sana. Sekarang Kakak harus kembali tidur, nanti kakak iparmu bisa marah kalau Kakak ketahuan mengobrol malam-malam. Oke?"


"Em, baiklah, Kak. Terima kasih ya sudah mau membagi kabar ini denganku. Kalau begitu Kakak istirahatlah, aku dan Galang juga akan kembali ke apartment!" ucap Luri sambil tersenyum.


"Ya sudah. Kakak matikan panggilannya ya sayang? Daaahhh,"


Luri segera memanggil Galang agar masuk ke dalam mobil setelah kakaknya memutuskan panggilan. Dia lalu mengerutkan kening saat Galang menatapnya lekat.


"Kenapa, Lang?" tanya Luri heran.


"Wajahmu langsung terlihat cerah setelah menelpon keluargamu. Aku sampai kaget melihatnya," jawab Galang kemudian tertawa. "Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa padamu, Luri. Aku hanya kaget saja melihat perubahan sikapmu. Sungguh!"


"Oh, tidak apa-apa, Lang. Aku bisa mengerti," sahut Luri maklum. "Ini adalah kali pertama aku berada jauh dari keluarga, makanya suasana hatiku tidak terlalu baik. Tapi setelah tadi mendengar suara mereka, aku rasa aku akan baik-baik saja di sini. Benar tidak?"

__ADS_1


Galang mengangguk. Setelah itu dia meminta penjaga untuk segera melajukan mobil menuju apartment yang akan mereka tinggali.


*****


__ADS_2