
"Bu, kami berangkat sekolah dulu ya," pamit Luri sembari mencium tangan ibunya. Dia kemudian beralih ke sisi kursi roda sang ayah, berjongkok sambil memegangi tangannya yang mulai keriput. "Ayah, aku berangkat ke sekolah dulu ya. Do'akan agar namaku ada di papan pengumuman nanti."
"Pasti, Nak. Ayah pasti akan selalu mendoakanmu. Kau harus yakin kalau namamu pasti ada di sana. Tapi kalau pun kalah, kau tidak harus merasa sedih karena Ayah tidak akan marah padamu. Memenangkan beasiswa itu atau tidak, kau akan tetap menjadi anak Ayah dan Ibu. Semangat!" sahut Luyan dengan bijak. Setelah itu dia mencium kening putri keduanya ini, tersenyum saat melihat binar kebahagiaan di matanya.
"Terima kasih atas dukungannya, Ayah."
"Sama-sama, sayang."
Nania yang melihat kakaknya mendapat dukungan semangat dari sang ayah nampak mengerucutkan bibir. Dia cemburu. Nita yang menyadari kecemburuan di diri putri bungsunya pun tak kuasa untuk tidak tertawa. Lucu sekali jika melihat Nania sedang merajuk begini. Putrinya ini jadi terlihat sangat menggemaskan. Tidak seperti hari biasanya yang selalu bar-bar dan suka membuat orang jantungan.
"Hei, kau kenapa tertawa? Apa yang lucu?" tanya Luyan yang heran mendengar suara tawa istrinya.
"Coba lihat ke sampingmu sekarang. Di sana ada putri galak yang sedang marah karena cemburu," jawab Nita sambil menunjuk ke arah putri bungsunya.
Luyan dan Luri kompak melihat ke arah yang di tunjuk oleh Nita. Setelah itu keduanya tersenyum, baru sadar kalau keberadaan Nania sedikit terlupakan.
"Jangan melihatku. Aku adalah makhluk tak kasat mata yang tidak mempunyai wujud," ucap Nania kesal. Dia bahkan enggan untuk menatap wajah ayahnya.
"Ekhmm, jadi anak Ayah ini bisa merajuk juga ternyata. Ayah pikir kau hanya bisa baku hantam dan menjahili orang saja, Nania," ledek Luyan dengan sengaja.
"Iihhh Ayah. Kenapa tidak peka sekali sih. Aku juga kan ingin mendapat semangat seperti Kak Luri. Kenapa malah meledekku."
Luri menatap ke arah ibunya saat melihat Nania yang sedang mengomeli ayah mereka. Dia kemudian berdiri, menghampiri sang ibu kemudian memeluknya penuh sayang.
"Nania sangat manis jika sedang begini ya, Bu?" ucap Luri setelah melepaskan pelukannya. Dia merasa tergelitik melihat Nania yang menolak saat ingin di peluk oleh ayah mereka.
"Iya, sayang. Mau senakal apapun dia, Nania tetaplah gadis kecil kesayangan kita semua. Hmmm, melihatnya yang tumbuh semakin besar membuat Ibu menjadi sedih. Padahal Ibu masih belum lupa dengan cara Nania saat belajar berjalan dulu. Dan lihat sekarang. Kemampuan larinya sekarang setara dengan polisi yang sedang mengejar maling," jawab Nita sedikit bercanda.
__ADS_1
Mungkin bagi para orangtua adalah hal yang sedikit menyedihkan ketika melihat anak-anak mereka tumbuh semakin dewasa. Karena nantinya anak-anak ini akan memilih jalan hidupnya sendiri-sendiri. Seperti Lusi. Sekarang anak sulungnya itu sudah menikah dengan seorang pria pilihan hatinya, dan memutuskan untuk tinggal terpisah. Bukannya Nita ingin egois, tapi sebagai seorang ibu wajar bukan kalau dia merasa sedih karena berpisah dengan anak yang sudah susah payah dia besarkan? Tapi ya sudahlah, semua ini sudah menjadi garis Tuhan. Yang terpenting ketiga putrinya bisa hidup bahagia dengan pilihan masing-masing.
"Bu, lihat Ayah. Ayah tidak mau memberi dukungan seperti yang Ayah lakukan pada Kak Luri. Aku tidak masuk sekolah saja!" rajuk Nania mengadu pada sang ibu. Wajahnya sudah sangat masam sekarang.
"Luyan, sudahlah. Berhenti menggoda Nania. Mereka bisa terlambat masuk ke sekolah nanti," lerai Nita sambil menggelengkan kepala. Terkadang suaminya ini suka jahil juga. Pantas saja kalau Nania tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat tengil. Turunan dari ayahnya ternyata.
"Hehehe... dasar anak manja. Baru di goda sedikit saja langsung mengadu pada Ibu," ledek Luyan kemudian menggenggam tangan putrinya dengan erat. "Nania, Ayah do'akan supaya nanti kau meraih kesuksesan sesuai dengan cita-cita yang kau pilih. Apapun itu Ayah pasti akan selalu mendukungmu. Kau adalah anak kesayangan Ayah dan Ibu, jadi jangan sampai berpikir kalau kami tidak mendukungmu ya?"
"Kalau seandainya aku mengikuti lomba bela diri apa Ayah akan tetap mendukungku?" tanya Nania memastikan.
Cita-cita pertama Nania adalah menjadi seorang master bela diri. Lalu cita-cita keduanya adalah menikah dengan pria tampan yang kaya raya. Nania tidak ingin repot dengan bekerja di kantor-kantor atau apapun itu. Dia suka kebebasan. Kebebasan yang membawa pengaruh positif tentunya.
"Akan tetap Ayah dukung. Kenapa memangnya? Tidak ada yang salah bukan jika mengikuti lomba seperti itu? Justru Ayah merasa sangat bangga karena anak Ayah adalah seorang gadis yang tangguh," jawab Luyan.
"Lalu jika suatu hari aku masuk kantor polisi karena menghajar seseorang ... apa Ayah akan tetap memberi dukungan juga?"
Nania mengangguk. Dia bersumpah dalam hati tidak akan menghajar orang lain jika tidak sedang terdesak. Setelah itu Nania segera berpamitan pada ibunya karena hari sudah semakin siang.
"Bu, aku berangkat ke sekolah dulu. Jangan merindukan aku ya."
"Haihh, kau ini ada-ada saja, Nania. Mana mungkin seorang Ibu tidak merindukan anaknya? Dasar nakal!" ucap Nita sembari mencium kening putri bungsunya.
Setelah berpamitan Luri dan Nania berjalan keluar menuju mobil. Tak lupa mereka menyapa pak sopir yang selalu setia mengantarkan mereka kemana-mana.
"Selamat pagi, Pak sopir," sapa Luri dan Nania dengan sopan.
"Selamat pagi, Nona Luri, Nona Nania. Sudah siap berangkat?"
__ADS_1
"Iya, Pak. Kita berangkat sekarang."
Tak berselang lama mobil sudah mulai bergerak pergi meninggalkan pekarangan rumah. Di dalam perjalanan menuju sekolah Luri lebih banyak diam. Dia sedang bingung memikirkan apakah harus memberitahu Fedo jika nanti dia memenangkan beasiswa atau tidak.
"Kak Luri, kau kenapa diam saja? Sedang sariawan ya?" tanya Nania heran. Dia menatap tak berkedip ke arah sang kakak yang tengah menarik nafas dalam.
"Nania, menurutmu apa Kakak perlu memberitahu Kak Fedo atau tidak jika seandainya nanti nama Kakak tertulis sebagai siswa yang mendapatkan beasiswa ke luar negeri?" sahut Luri balik bertanya.
Nania diam berpikir sambil menekan-nekan dagunya. Jika di beritahu, ada kemungkinan besar kalau Fedo akan mengganggu fokus sang kakak dalam mengejar cita-cita. Tapi jika tidak di beritahu pria genit itu pasti akan membuatnya kerepotan. Dan yang lebih buruk lagi Nania pasti akan mendapat teror. Tapi ....
"Lebih baik jangan di beritahu saja, Kak. Kita lihat akan seserius apa Kak Fedo pada perasaannya. Lagipula kau kuliah jauh-jauh kan demi agar bisa di terima oleh keluarganya Kak Fedo. Harusnya sih dia bisa paham," jawab Nania setelah berpikir cukup lama. Ada alasan kenapa Nania menjawab seperti ini. Dan alasannya hanya dia saja yang tahu.
"Em begitu ya? Tapi Nania, apa itu tidak egois untuk Kak Fedo? Dia kan tidak salah apa-apa. Masa iya Kakak pergi tanpa pamit? Kalau dia salah paham bagaimana?" tanya Luri bimbang dengan jawaban adiknya.
"Benar juga ya. Kenapa aku tidak terfikir ke arah sana," gumam Nania.
"Ekhmm maaf Non, kalau boleh Bapak memberi saran sebaiknya Tuan Fedo tetap di beritahu kalau Nona Luri akan kuliah ke luar negeri. Dan Bapak rasa hari yang paling tepat untuk memberitahu Tuan Fedo adalah satu hari sebelum berangkat. Kekhawatiran Nona Nania tadi Bapak rasa cukup beralasan. Kalau Tuan Fedo di beritahu sekarang, bisa jadi dia akan meminta Nona Luri agar tidak pergi. Biasalah, laki-laki yang sedang jatuh cinta pasti akan sangat takut jika di tinggalkan."
Pipi Luri langsung bersemu merah saat pak sopir melayangkan candaan dengan menyebut kalau Fedo sedang jatuh cinta. Memang benar sih, tapi rasanya sungguh malu saat di goda seperti ini oleh orang lain. Wajah Luri sampai memanas di buatnya.
"Aduh yang pipinya merona. Pasti di dalam hati Kakak ada banyak bunga yang sedang mekar ya? Sejuknya sampai terasa di dalam mobil. Benar kan, Pak?" ledek Nania sambil mencolek bahu pak sopir.
"Benar sekali, Nona Nania. Suasana di dalam mobil jadi semakin sejuk sekarang," sahut pak sopir sambil tertawa lucu.
"Nania, kau ini bicara apa sih. Pak sopir juga. Mana mungkin ada bunga yang mekar di dalam tubuh manusia? Itu-itu hanya ada di dalam dongeng saja," kilah Luri malu. Dia kemudian menatap ke luar jendela, memandangi pohon-pohon yang berjejer rapi di sepanjang jalan.
Melihat kakaknya yang malu-malu kejahilan Nania malah semakin bertambah. Dia dan pak sopir bersekongkol untuk menggoda sang kakak hingga membuatnya menjadi salah tingkah. Sungguh, Nania adalah seorang adik yang sangat nakal. Dia tega menjahili kakaknya sendiri demi mendapat kesenangan pribadi.
__ADS_1
*****