PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Labirin Cinta


__ADS_3

"Apa kalian sudah menemukan siapa gadis yang sedang menjalin hubungan dekat dengan Fedo?" tanya Kanita pada seorang pria yang wajahnya tertutup masker. Pandangannya sedikit berputar akibat pengaruh alkohol yang dia minum.


"Belum, Nona. Di Jepang tidak ada satupun wanita yang dekat dengan Tuan Fedo selain wanita yang beberapa bulan lalu menemaninya menginap di hotel!"


Kening Kanita mengerut. Yang benar saja. Jelas-jelas waktu itu Fedo mengatakan sendiri kalau dirinya tengah dekat dengan seorang gadis bernama Luri. Masa iya Luri-Luri itu tidak berwujud.


"Sepertinya kau salah menemukan informasi. Priaku benar-benar memiliki seorang gadis, namanya Luri. Dia mengatakannya langsung di depan wajahku!" ucap Kanita emosi seraya menunjuk wajahnya sendiri.


Pria bermasker itu nampak terdiam bingung setelah mendengar ucapan Kanita. Namun kebungkamannya itu malah membuat Kanita menjadi semakin emosi. Dia sudah membayar dengan sangat mahal hanya demi mencari tahu siapa Luri, gadis menjijikkan yang sedang di incar oleh Fedo. Bahkan Kanita rela mendatangi kelompok paling berbahaya di Jepang agar bisa mendapatkan informasi yang dia mau. Sudah bisa di pastikan kebungkaman pria ini membuat darah di tubuh Kanita mendidih. Yang benar saja.


"Nona, sejauh aku mencari tahu tidak ada satupun wanita yang bernama Luri. Akan tetapi jika di lihat dari namanya sepertinya dia bukan berasal dari Jepang. Mungkinkah Tuan Fedo bertemu dengan gadis itu di luar negara ini?"


"Maksudmu Luri itu berasal dari negara lain? Begitu?" tanya Kanita. Emosinya perlahan-lahan mulai mereda.


"Itu bisa saja terjadi mengingat seperti apa jenis pekerjaan yang di lakoni oleh Tuan Fedo. Akan sangat wajar jika mereka bertemu di saat Tuan Fedo melakukan perjalanan bisnis ke negara lain. Jika Nona mau, aku akan menyelidiki masalah ini secepatnya. Akan tetapi ....


Pria bermasker itu langsung tersenyum semringah begitu Kanita melemparkan amplop ke arahnya. Sambil bersiul, pria tersebut membuka amplop untuk memeriksa seberapa banyak bayaran yang dia dapatkan.


"Aku akan memberimu lebih banyak dari ini kalau kau berhasil menemukan alamat gadis itu. Tenang saja, bekerja padaku tidak akan rugi. Kau akan mandi uang jika kinerjamu bisa membuatku merasa puas!" ucap Kanita dengan penuh percaya diri.


"Terima kasih banyak, Nona Kanita. Kau adalah klien paling royal yang pernah aku dapatkan. Em tapi kalau aku boleh tahu apa kau tidak merasa takut jika suatu hari rencana kita di ketahui oleh keluarga Eiji? Dengar-dengar Nyonya di rumah itu sangat berbahaya!" tanya si pria dengan tatapan serius.


Kanita menghela nafas panjang. Sebenarnya dia juga sedikit khawatir kalau pergerakannya di baca oleh keluarga Fedo. Dia bukannya tidak pernah mendengar akan kegarangan seorang Abigail Eiji yang mampu menghabisi belasan penjahat seorang diri yang ketahuan menyelundup masuk ke kediamannya. Sebagai orang normal, sudah pasti Kanita merasa takut dan was-was. Akan tetapi cinta butanya pada Fedo membuat Kanita nekad membayar seseorang untuk menyelidiki gadis yang sudah di klaim kekasih oleh pria kaya raya itu. Dia tidak rela Fedo jatuh ke pelukan wanita lain selain dirinya. Kanita tidak rela.


"Aku tentu saja takut. Karena itulah aku membayar mahal pada kelompokmu demi tugas penting ini. Mulut ketuamu yang banyak bicara itu harusnya tidak membuatku merasa sia-sia menggunakan jasa kalian bukan?" jawab Kanita seraya memicingkan mata.


"Kalau untuk urusan itu aku tidak mau terlibat, Nona. Di sini tugasku hanyalah mencari tahu tentang siapa gadis itu, selebihnya aku tidak akan mau menerima perintah lagi karena aku masih sayang nyawaku. Permisi!"


Setelah menegaskan tentang batasan dia bekerja, pria bermasker tersebut langsung pergi dari sana. Kanita yang merasa tidak di hormati menjadi sangat kesal dibuatnya. Dia seperti sedang di bodohi karena ternyata pria yang tadi hanya melakukan satu tugas saja. Padahal tadinya Kanita berniat memintanya untuk menghabisi si Luri-Luri itu.

__ADS_1


"Sial! Kalau begini cara dia bekerja maka akulah yang di rugikan. Brengsek!"


Dengan marah Kanita pergi keluar dari dalam club. Dia lalu berjalan sempoyongan menuju parkiran mobil.


"Luri, kau tunggu saja apa yang akan aku lakukan begitu keberadaanmu di temukan. Ingin merebut pria-ku? Cih, jangan mimpi!" geram Kanita kemudian meminta sopirnya untuk segera melajukan mobil menuju rumah.


Dalam perjalanan, Kanita tak henti-hentinya memandangi foto Fedo yang sedang terlelap dalam pelukannya. Sungguh, dia sangat merindukan saat-saat kebersamaan mereka ketika sedang beradu gairah di ranjang hotel. Meski hanya satu malam, nyatanya kehangatan itu mampu membuat seorang Kanita menggila. Dia tidak pernah bisa melupakan rasa yang di berikan oleh Fedo malam itu.


"Hanya kau satu-satunya pria yang bisa mengalihkan duniaku, Fed. Maka dari itu aku tidak akan pernah melepaskanmu apapun yang terjadi. Kau harus menjadi milikku. Harus!"


Tak lama kemudian mobil Kanita akhirnya sampai di halaman rumahnya. Dia yang saat itu berada dalam kondisi mabuk berat hampir terjatuh ketika hendak masuk ke dalam rumah. Untung saja ada pelayan yang sigap membantunya. Jika tidak, dia pasti sudah jatuh terjerembab ke lantai.


"Astaga Kanita. Kenapa kau mabuk-mabukan terus sih!" tegur Mili sambil memegangi tubuh putrinya yang tengah di papah oleh pelayan. "Tolong kalian siapkan pakaian ganti untuknya. Jangan lupa air bilasnya juga!"


"Baik Nyonya!"


Dengan susah payah Mili membawa Kanita ke kamarnya. Dia lalu menarik nafas panjang ketika Kanita malah tertawa sambil menatapnya begitu di baringkan di ranjang.


"Memangnya apa yang perlu aku pikirkan, Bu? Orangtuaku kaya raya, hartanya tidak akan pernah habis meski di makan tujuh turunan. Jika aku tidak berfoya-foya seperti ini, lalu siapa yang akan menghabiskan harta benda kalian hah? Tuyul?" seloroh Kanita kemudian tertawa kencang.


"Bicaramu melantur, Kanita. Walaupun memang benar kalau harta keluarga kita tidak akan pernah habis, masa iya seumur hidup kau hanya akan mabuk-mabukan setiap malam? Lihatlah di luaran sana, banyak wanita berlomba-lomba menunjukkan bakat mereka di hadapan publik. Ibu juga ingin melihatmu menonjol seperti mereka, sayang. Ibu ingin orang-orang terus mengelukan namamu!" ucap Mili tak habis pikir.


Tawa Kanita kian menguat ketika sang ibu lagi-lagi bersabda. Rasa-rasanya telinga Kanita seperti akan pecah karena harus selalu mendengar keinginan sang ibu yang tidak masuk akal. Bagi Kanita, untuk apa dia harus bersusah payah berlomba seperti para wanita itu jika dengan uang miliknya saja dia bisa menggenggam segala ketenaran yang ada. Dia bukan tipe wanita bodoh seperti mereka.


"Bu, putrimu ini di takdirkan lahir sebagai tuan putri dari keluarga terhormat. Jadi tolong jangan membandingkan aku dengan wanita-wanita bodoh itu. Kami tidak selevel untuk Ibu sejajarkan!" ucap Kanita.


"Ibu tahu, sayang. Tapi tetap saja Ibu ingin mendengar orang lain memujimu. Selama ini yang masuk ke dalam telinga Ibu hanya tentang sikapmu yang angkuh dan semena-mena. Sama sekali tidak ada satupun yang memuji. Ibu merasa kalah dari mereka, Kanita. Ibu iri!" sahut Mili mengeluarkan unek-uneknya.


"Owh, jadi Ibu iri? Hahaha, tenang saja. Nanti aku akan membantu Ibu membungkam mulut sialan mereka setelah berhasil menikah dengan Fedo. Kita lihat apakah mereka masih berani membully Ibu atau tidak!"

__ADS_1


Raut wajah Mili langsung berubah masam begitu nama Fedo di sebut. Dia masih amat sangat dongkol dengan kelakuan ibu dan juga adiknya ketika bertemu di salon beberapa waktu lalu. Di tambah lagi dengan kejadian di restoran dimana Fedo berani membentaknya. Membuat kebencian Mili kian membesar.


"Kanita, sebenarnya apa yang kau lihat dari pria kasar itu sih? Di negara kita ini tidak hanya dia saja yang memiliki kuasa. Ada banyak tuan muda tampan yang statusnya jauh lebih tinggi darinya. Coba buka matamu lebar-lebar, jangan hanya terpaku pada satu pria saja!"


Mata Kanita terpejam begitu sang ibu selesai bicara. Bagaimana bisa ibunya ini menanyakan tentang kelebihan seorang Fedo Eiji. Memang benar kalau di Jepang bukan hanya Fedo seorang yang mempunyai status tinggi. Akan tetapi yang membuat Kanita menggila padanya adalah pesona Fedo ketika sedang berada di atas ranjang. Fedo begitu panas dan juga basah. Hanya dengan membayangkannya saja mampu membuat tubuh Kanita serasa seperti terbakar. Memaksa otak Kanita tak lagi bisa berpikiran jernih.


"Lupakan Fedo, Kanita. Kau tenang saja, nanti Ibu akan membantumu berkenalan dengan salah satu anak teman Ibu. Dia ....


"Diam!" sentak Kanita menyela ucapan sang ibu. Dengan tatapan membara, Kanita memberi peringatan pada sang ibu agar tidak mencampuri urusannya dengan Fedo. "Sekali lagi aku mendengar Ibu bicara seperti tadi, maka jangan salahkan aku jika aku tidak akan mau menganggapmu sebagai orangtua lagi. Aku mencintai Fedo, Bu. Hanya dia satu-satunya pria yang boleh menjadi suamiku. Hanya dia, Bu. Hanya dia!"


Mili terperanjat kaget saat Kanita meneriakinya. Dia tidak menyangka kalau putri yang begitu dia cintai tega bersikap begini kasar padanya. Dengan perasaan campur-aduk, Mili memilih pergi dari sana. Hatinya seperti tersayat melihat cara Kanita menatapnya. Hanya gara-gara seorang pria, putrinya itu tega bicara dengan begitu kasar. Sungguh sangat sakit hatinya sebagai wanita yang telah melahirkan dan juga membesarkannya selama ini. Mili kecewa.


Kanita yang melihat sang ibu pergi dari kamarnya langsung bangun dari ranjang. Sama sekali tidak terlihat raut penyesalan di wajahnya setelah apa yang dia lakukan barusan.


"Ini yang akan aku lakukan padamu Bu jika masih berani menghalang-halangi hubunganku dengan Fedo. Ibu harusnya tahu kalau aku tidak bisa jika tanpa Fedo. Hanya dia yang aku inginkan!" gumam Kanita pelan.


Malam yang semakin larut membuat mata Kanita mulai mengantuk. Di tambah lagi dia yang sedang dalam kondisi mabuk, membuatnya ingin segera terbang melayang ke alam mimpi.


"Aku mencintaimu, Fedo. Aku pastikan suatu hari nanti kau dan aku akan berada di atas pelaminan yang indah. Kita akan menjadi pasangan paling bahagia di dunia ini, sayang. Aku mencintaimu," ucap Kanita lirih sebelum akhirnya terlelap.


Kadang cinta memang mampu membuat seseorang berkelakuan tidak waras layaknya orang yang kehilangan akal. Dan cinta yang seperti itu kini tengah singgah di hati dan pikiran Kanita. Dia terjebak dalam labirin cinta dimana pria yang dia suka tidak menginginkannya. Kanita sebenarnya sadar kalau dia akan terluka jika memaksakan kehendak, tapi dia tidak sanggup untuk menepis perasaan tersebut. Apalagi perasaan itu telah terbumbui oleh n*fsu, membuatnya semakin ingin dan ingin untuk menguasainya. Dia mencintai Fedo, rasa itu tulus. Tapi sayang, rasa itu tidak bersambut. Dan sepertinya Kanita akan menemukan batu sandungan yang cukup besar jika tidak segera keluar dari labirin cinta ini.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


βœ…Gengss.. PESONA SI GADIS DESA versi lengkapnya ada di yutub. Nama Chanelnya β–ΆMak Rifani, disana sudah up beberapa bab lebih dulu. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya


πŸ’œJangan lupa vote, like, dan comment keuwuan felur kita ya gengss


πŸ’œIg: rifani_nini

__ADS_1


πŸ’œFb: Rifani


__ADS_2