PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Antara Belain Dan Kehangatan


__ADS_3

Di Jepang, Kanita yang baru saja bangun terlihat bingung ketika mendapati tangan kekar yang sedang memeluk perutnya dengan sangat erat. Dia lalu mendesis lirih saat kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri.


Sialan, siapa laki-laki ini? Berani sekali dia meniduriku di kamar ini tanpa meminta izin. Cari mati. Batin Kanita kesal.


Tak ingin terus berdekatan dengan pria asing tersebut, dengan kasar Kanita menyingkirkan tangan yang masih bertengger di perutnya. Setelah itu Kanita mencoba untuk bangun, tapi lagi-lagi dia mendesis saat denyutan di kepalanya semakin menguat.


"Jangan banyak bergerak dulu, semalam kau mabuk berat. Istirahatlah!" ucap Ando tanpa membuka mata.


Sebenarnya sejak tadi Ando sudah bangun, tapi dia sengaja pura-pura tidur karena ingin melihat seperti apa reaksi Kanita saat melihat mereka berada di atas ranjang tanpa busana. Ando mencoba bertaruh dengan dirinya sendiri kalau Kanita pasti akan langsung memakinya setelah tahu kalau malam tadi mereka telah bercinta dengan sangat panas.


"Siapa kau. Dan siapa yang mengizinkanmu masuk ke dalam kamarku!" tanya Kanita jengkel. Dan kejengkelan Kanita semakin bertambah saat tidak sengaja melihat jejak kemerahan di bagian lengan atas tangannya. "Brengsek! Apa yang sudah kau lakukan padaku, hah. Beraninya ya kau meniduriku tanpa meminta izin. Lihat saja, setelah ini aku akan langsung melaporkanmu pada pihak kepolisian dengan tuduhan pelecehan. Akan aku pastikan kau membusuk di dalam penjara. Dasar kurang ajar!"


Ando terkekeh saat mendengar ancaman Kanita. Benar dugaannya kalau wanita ini pasti akan langsung memakinya begitu sadar dengan apa yang mereka lakukan semalam. Masih sambil tertawa, Ando akhirnya membuka mata kemudian menatap Kanita dengan dalam.


"Nona Kanita, kau pikir bagaimana caraku bisa sampai masuk ke dalam kamar ini kalau bukan kau sendiri yang menyerahkan kuncinya padaku, hm? Lagipula kita sebelumnya tidak saling kenal, tidak mungkin juga kan aku langsung tahu kalau kau menginap di hotel ini?" tanya Ando santai. Dia sama sekali tidak merasa tersinggung. Yang ada Ando malah merasa senang, dia sangat terhibur melihat kemarahan di diri wanita cantik ini.


"Aku yang menyerahkan kunci kamar hotel ini padamu?" tanya Kanita sambil menunjuk ujung hidungnya sendiri. "Hahaha, bualanmu sungguh sangat lucu, Tuan. Kau pikir aku akan percaya dengan apa yang kau katakan barusan? Iya?"

__ADS_1


"Hmm, terserah kau mau percaya atau tidak, Nona. Yang jelas aku bisa masuk kemari karena inisiatifmu sendiri yang memberitahukan nama hotel dan nomor kamar ini. Bahkan kau juga tidak ragu untuk membagi nomor sandi kamar ini padaku. Lagipula ya, aku bukan pria kurang kerjaan yang harus mengemis agar bisa masuk ke kamar seorang wanita. Jadi tolong kurang-kurangi kecurigaanmu, Nona Kanita. Aku bisa ada di kamar ini karena kau yang mengundang. Dan aku bisa bertelanjang seperti ini juga karena kau yang menggodaku lebih dulu. So ... aku rasa tidak ada gunanya saling menuduh karena di sini kita sama-sama menginginkan. Kau membutuhkan belaian laki-laki dan aku menginginkan kehangatan dari seorang perempuan. Memangnya kau sudah lupa ya betapa panasnya aktifitas ranjang kita semalam? Jujur, harus aku akui kalau servismu sangat memuaskan, Nona Kanita. Kau juaranya membuat pria terbang melayang!" jawab Ando seraya memperlihatkan satu seringai di bibirnya.


Satu buah bantal melayang tepat di wajah Ando begitu dia selesai bicara. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Kanita. Jika biasanya Kanita akan langsung merasa bangga setiap mendapat pujian dari pasangan ranjangnya, untuk kali ini tidak. Dia merasa amat sangat buruk. Pertama, dia tidur dengan seorang pria asing. Dan kedua, di pikirannya hanya ada Fedo sejak semalam. Kanita merasa kecewa, jijik dan juga murka. Dia ingin membenci, tapi hubungan one night stand ini sudah terlanjur terjadi.


Kau lihat, Fedo. Gara-gara kekejamanmu itu aku sampai mengundang seorang pria asing masuk ke dalam kamarku. Mungkin jika di hari biasa aku akan menganggapnya sebagai satu hiburan. Tapi untuk kali ini tidak bisa. Aku hanya menginginkan belaian darimu, Fed. Aku hanya ingin kau saja. Aku sangat merindukanmu, Fedo. Batin Kanita sedih.


Tak ingin berlama-lama dengan pria asing ini, Kanita pun segera mengusirnya pergi dari sana. Dia tidak mau ada orang lain yang melihat kalau semalam mereka baru saja bercinta.


"Pergilah. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"


"Ckck, kau benar-benar sangat kejam, Nona Kanita. Setelah apa yang kita lewati semalam kau dengan dinginnya mengusirku pergi dari sini. Tidak bisakah kita sarapan bersama lebih dulu? Tenagaku habis setelah semalaman penuh kau kuras!" sahut Ando tak menghiraukan usiran Kanita. Dia terlalu betah berada di sisi wanita ini.


Ando lagi-lagi terkekeh mendengar usiran Kanita. Sepertinya wanita ini benar-benar sedang patah hati serius. Dan ini adalah pertama kalinya Ando menerima perlakuan buruk dari seorang wanita yang menjadi pasangan tidurnya. Sungguh, mood Kanita benar-benar sangat buruk. Tapi Ando suka. Ya, di mata Ando kemarahan Kanita terlihat sangat menggemaskan. Belum lagi dengan wajah polos khas bangun tidurnya, membuat Ando merasa kalau dia sangat cocok dengan wanita ini.


"Nona, kau sadar tidak kalau sikapmu sekarang malah membuatku ingin menerkammu lagi. Sangat menggemaskan," goda Ando sambil mengerling nakal.


"Kau!" hardik Kanita sembari mengacungkan jari telunjuknya ke wajah pria asing tersebut.

__ADS_1


"Namaku Ando," ucap Ando yang baru ingat kalau dirinya belum memperkenalkan diri secara resmi. "Oke, aku akan pergi dari sini. Tapi tolong izinkan aku untuk memakai kamar mandimu dulu sebentar. Tidak mungkin kan aku keluar dalam keadaan seperti ini? Nanti orang-orang pasti akan berpikir singa betina mana yang telah membuat pria setampan aku menjadi begitu menyedihkan. Kau tidak mau itu terjadi bukan?"


Kanita mengeratkan kedua rahangnya. Dia lalu membuang muka ke arah lain saat Ando dengan tidak tahu malunya melenggang masuk ke kamar mandi dengan tubuh polos tertutup pakaian. Kanita kemudian menelan ludah saat tidak sengaja melihat beberapa luka bekas cakaran di punggung Ando. Seketika wajahnya berubah merah padam.


"Apa iya semalam aku benar-benar mabuk berat sampai mengajaknya masuk kemari? Separah itu?" gumam Kanita yang merasa heran dengan kelakuannya sendiri.


Saat Kanita sedang mengingat-ingat kejadian yang membuatnya bisa berakhir di ranjang bersama Ando, tiba-tiba Kanita kembali teringat percakapannya dengan Fedo. Dadanya langsung sesak dan matanya berkaca-kaca saat terngiang dengan ucapan Fedo yang meminta untuk melepaskan perasaannya. Pria itu bahkan dengan kejam bicara terus terang kalau hanya Luri lah yang dia cinta, bukan dirinya.


"Fed, harus sampai seperti inikah? Apa kurangnya aku? Kenapa kau malah lebih memilih gadis ingusan itu daripada memilih aku yang jelas-jelas sudah matang segalanya. Kau tega, Fed. Tega!" ratap Kanita sambil berurai air mata.


Ando yang saat itu baru keluar dari kamar mandi memilih untuk berdiri diam di depan pintu sambil memperhatikan Kanita yang sedang menangis. Sedikit banyak dia sekarang tahu apa yang membuat wanita ini mengalami patah hati. Rupanya karena cinta segitiga dimana pria yang di sukai oleh Kanita mencintai wanita lain. Sedikit miris, tapi inilah hidup karena akan selalu ada pilihan di setiap keputusan yang kita ambil.


"Kalau bertahan membuatmu merasa sakit, maka lepaskan saja. Di dunia ini ada banyak pria yang belum memiliki pasangan, Nona. Jadi aku sarankan kau sebaiknya membuka lembaran baru dengan pria yang baru juga. Dengan begitu kau bisa hidup bahagia, bukan malah terluka karena mencintai pria yang menyukai wanita lain. Itu konyol namanya!" ucap Ando sambil memunguti pakaiannya yang teronggok di lantai.


"Tahu apa kau tentang perasaanku, hah? Jangan sok ikut campur!" bentak Kanita tak terima. Dia menatap tajam ke arah Ando yang sedang memakai kemeja dan celananya.


"Aku memang tidak tahu apa-apa tentang perasaanmu. Lagipula aku kan hanya memberi saran, bukannya memaksa. Kalau kau merasa nyaman dengan menghancurkan hatimu sendiri ya sudah sana nikmati saja rasa sakitmu. Aku masa bodo!" sahut Ando dengan santai. "Akhirnya selesai juga. Oke, kalau begitu aku pamit. Dan ... terima kasih untuk yang semalam. Malam terakhirku di Jepang benar-benar sangat berkesan berkat keahlianmu, Nona Kanita. See you, dear!"

__ADS_1


Dan begitu Ando keluar dari dalam kamar hotel, Kanita langsung mengamuk dengan melemparkan semua benda yang ada ke atas lantai. Dia berteriak memaki Ando, juga merutuki kekejaman Fedo yang tetap kekeh tidak mau menerima cintanya. Hati Kanita sangat hancur, dan semakin hancur saat dia teringat kalau semalam Kanita lupa memakai pengamanan saat sedang bercinta dengan Ando. Tak ingin terjadi suatu hal yang buruk, Kanita bergegas masuk ke kamar mandi. Dia harus segera pergi ke dokter untuk mencegah tumbuhnya sesuatu di dalam rahimnya.


*****


__ADS_2