PESONA SI GADIS DESA

PESONA SI GADIS DESA
(FELUR) ~ Pernah Melakukan


__ADS_3

Setelah menerima pesan dari Nania, Galang menjadi sangat gelisah. Dia lalu memutuskan untuk menunggu kedatangan gadis itu di depan pintu gerbang rumahnya. Galang tidak mengira kalau Luri akan sepenasaran ini pada wanita yang siang tadi datang ke sekolah mereka. Padahal Galang sudah mencoba untuk bersikap biasa saja agar Luri tidak menyadari kalau kedatangan wanita itu adalah untuk mencarinya.


"Apa sebelumnya Nania sudah pernah bertemu dengan wanita itu ya? Makanya dia langsung mengajakku untuk melakukan rapat penting," gumam Galang pelan. "Kalau memang benar mereka sudah pernah bertemu itu artinya Nania juga tahu kalau tujuan wanita itu adalah Luri. Kira-kira masalahnya apa ya?"


Sambil terus bergumam sendiri, Galang berjalan mondar-mandir di depan gerbang. Dan kelakuannya itu baru berhenti ketika mobil Nania datang. Tanpa menunggu gadis itu keluar, Galang sudah lebih dulu datang menghampiri kemudian membukakan pintu mobil untuknya.


"Aku tahu aku cantik. Tapi tidak perlulah menyambutku seantusias ini," celetuk Nania sambil melangkah keluar dari dalam mobil.


"Kau jangan besar kepala dulu ya, Nania. Aku seperti ini bukan untuk menyambutmu, tapi karena aku sudah tidak sabar ingin segera mendengar penjelasanmu!" sahut Galang sambil mendengus pelan. Selain galak dan juga bar-bar, rupanya Nania adalah tipe gadis yang cukup narsis. Sungguh sangat menggelitik hati.


"Halah, alasan saja kau, Kak. Tidak usah malu untuk mengakui karena aku sangat maklum. Hehe."


Setelah berkata seperti itu Nania memperhatikan rumah megah milik Galang. Dia berdecak kagum, tidak menyangka kalau Galang akan tinggal di dalam rumah yang menyerupai istana.


"Jangan terlalu lama memandangi rumahku. Nanti bola matamu copot!" ejek Galang. "Ayo masuk. Ada orang yang sedang menunggu kita di dalam."


"Orang? Siapa, Kak? Bukannya hanya kita berdua saja ya yang akan rapat? Kenapa kau malah mengajak bala bantuan?" tanya Nania sambil mengikuti langkah Galang dari belakang. Dia terkesima melihat taman di rumah ini yang di tata dengan begitu indah. Nania jadi ingin mencuri salah satu bunga yang ada di sana. Maklumlah, jiwa begalnya seperti meronta-ronta saat menyaksikan keindahan alam seperti ini.


"Aku tidak mau di tuduh ingin menikungmu, Nania. Jadi terpaksa aku mengajaknya untuk ikut rapat bersama kita."


"Oh, begitu. Tapi ngomong-ngomong apa yang mau di tikung sih. Aku kan bukan jalan tol, Kak."


"Ck, bisa tidak kau jangan cerewet? Nanti kau akan tahu sendiri siapa orang itu setelah kita sampai di dalam rumah!" omel Galang jengah dengan kebawelan Nania.


Sambil menggerutu Nania berjalan masuk ke rumahnya Galang. Dia lalu memicingkan mata ke arah anak laki-laki yang sedang asik dengan game di tangannya.


"Kak Jovan, kenapa kau bisa ada di rumah Kak Galang? Kau di usir oleh orangtuamu ya?" pekik Nania to the point.


Jovan menoleh. Dia segera mematikan game yang sedang dia mainkan kemudian ikut bergabung dengan Galang dan Nania yang sudah duduk di sofa.

__ADS_1


"Apa aku harus di usir dari rumah dulu baru boleh datang kemari, begitu?" tanya Jovan. Dia diam-diam mengagumi kecantikan natural Nania yang datang hanya dengan memakai kaos putih dan celana jeans pendek. Jangan lupakan juga sepatu kets putih yang membuat penampilannya semakin terlihat segar dan enerjik.


"Em tidak juga sih. Ya sudah lah, anggap aku tidak bicara apapun tadi. Sekarang lebih baik kita segera membahas titik masalah dalam rapat penting ini karena jam malamku tidak banyak!" ucap Nania kemudian memasang raut wajah yang sangat serius. "Kak Galang, apa yang kau bicarakan dengan wanita asing yang siang tadi datang ke sekolah?"


Sebelum menjawab, Galang melirik ke arah Jovan terlebih dahulu. Dia menggelengkan kepala karena mantan rivalnya ini tidak fokus pada apa yang sedang mereka bahas, melainkan malah sibuk curi-curi pandang ke arah Nania. Tapi sayangnya gadis yang sedang menarik perhatian Jovan itu sama sekali tidak menyadari. Nania masih begitu polos.


"Kami tidak bicara banyak. Akan tetapi wanita itu bertanya tentang kakakmu. Dia sepertinya memiliki urusan yang sangat penting dengan Luri," jawab Galang jujur.


"Fyuuhhh, untung saja nenek peyot itu tidak bertanya langsung pada Kak Luri. Kau benar-benar telah menyelamatkan kakakku dari bencana tsunami, Kak Galang. Terima kasih banyak."


Kening Jovan dan Galang sama-sama mengerut ketika Nania dengan lancarnya mengucapkan kata terima kasih. Mereka kemudian saling memandang, heran dengan kata yang baru saja mereka dengar.


Ternyata Nania bisa berterima kasih juga ya. Aku pikir dia hanya tahu cara memarahi dan menindas orang lain, batin Galang keheranan.


"Nania, sebenarnya wanita yang kau sebut nenek peyot itu siapa sih? Dan kenapa juga dia terus mencari keberadaan Luri. Apa kakakmu sedang terlibat hutang pada rentenir?" tanya Jovan begitu penasaran.


"Hei, kalau bicara jangan sembarangan ya. Kakakku adalah gadis alim yang tidak pernah neko-neko. Dia mana mungkin terlibat dengan hal-hal gelap seperti itu!" jawab Nania sambil memelototkan mata ke arah Jovan.


Galang mengangguk menyetujui ucapan Jovan. Sejak awal bertemu dengan wanita itu Galang sudah memiliki pemikiran yang sama. Akan tetapi dia tidak bisa menemukan titik penyebabnya karena mustahil Luri tiba-tiba memiliki musuh yang dari penampakannya saja sudah terbaca kalau wanita itu bukanlah wanita baik-baik.


"Nania, sebaiknya kau beritahukan pada kami tentang siapa wanita itu sebenarnya. Dengan begini kita bertiga baru bisa memikirkan cara untuk melindungi Luri. Kalau kau tidak memperjelas masalahnya, aku dan Jovan jadi tidak tahu langkah apa yang harus kami ambil!" ucap Galang membujuk Nania agar mau bicara.


Mmmm bagaimana ya? Apa tidak apa-apa kalau aku memberitahu Kak Galang dan Kak Jovan tentang hubungan Kak Fedo dan Kak Luri? Bagaimana kalau mereka berdua malah patah hati lalu tidak mau membantuku lagi? Tapi kalau mereka tidak di beritahu, nantinya aku bakal repot sendiri. Ahhh, kenapa jadi pusing begini sih, keluh Nania dalam hati.


"Jangan diam saja, Nania. Ayo cepat katakan apa yang kau ketahui tentang wanita itu!" desak Jovan tak sabar.


"Kalau aku mau memberitahukan yang sebenarnya kalian harus janji untuk tidak marah dan menjauhi kakakku ya? Sekarang keadaannya sedang gawat, dan aku benar-benar membutuhkan bantuan dari kalian berdua. Bisa?" tanya Nania bernegosiasi sebelum mengatakan kebenarannya.


Galang dan Jovan kompak mengangguk. Mereka kemudian menatap seksama ke arah Nania yang sedang berbicara.

__ADS_1


"Sebenarnya wanita itu datang dengan mengaku sebagai kekasihnya Kak Fedo, pria Jepang yang tempo hari kalian lihat. Dan tujuannya datang mencari Kak Luri adalah untuk memintanya menjauhi Kak Fedo. Dia juga mengatakan padaku kalau mereka pernah tidur bersama," ucap Nania. "Kuberitahu kalian ya. Antara Kak Fedo dan kakakku mereka sebenarnya menjalin hubungan teman tapi mesra. Akan tetapi di rahasiakan karena tidak ingin melukai hati Ayah dan Ibuku. Mereka belum resmi menjadi kekasih kok, baru dekat-dekatan saja karena Kak Luri tidak mau berpacaran sebelum sukses."


"Jadi si Fedo-Fedo itu adalah penyebab kedatangannya ke sekolah kita?" tanya Galang naik pitam. "Kurang ajar. Berani sekali dia meniduri wanita lain di saat sedang melakukan pendekatan pada Luri. Dia itu pria sejati atau bukan sih. Heran!"


"Kak Galang aku tahu kau cemburu, tapi tolong tenanglah. Kita bisa bicarakan masalah ini dengan santai!" sahut Nania mencoba untuk menenangkan.


"Bagaimana aku bisa tenang kalau gadis yang aku sukai di dekati oleh pria yang tidak mempunyai moral? Luri adalah gadis baik-baik yang belum tercemar, akan sangat menggelikan kalau dia sampai menjalin hubungan dengan pria yang sudah sering bergonta-ganti pasangan, bahkan tidur bersama. Tidakkah kalian memiliki pemikiran yang sama sepertiku?"


"Aku tidak!" jawab Jovan dan Nania bersamaan.


Galang mendengkus kesal. Dia lalu mengusap wajahnya hingga memerah. Galang sungguh tidak menyangka kalau hati Luri sudah terisi nama pria lain. Pantas saja cintanya di tolak, rupanya karena sudah ada Fedo di hatinya. Tapi biarpun begitu Galang tetap tidak akan menyerah. Selama ikrar pernikahan belum di ucapkan, maka dia masih mempunyai kesempatan untuk memenangkan hatinya Luri. Dia belum gagal sepenuhnya.


"Karena sekarang kalian sudah tahu siapa wanita itu sebaiknya kita segera memikirkan cara agar dia tidak bisa menemui kakakku. Aku tidak mau melihatnya bersedih saat tahu kalau Kak Fedo pernah tidur dengan wanita lain. Aku tidak tega!" ucap Nania sambil menatap lekat ke arah Galang dan juga Jovan.


"Waktu kau bertemu dengannya apa yang kau katakan, Nania?" tanya Jovan menyelidik.


"Aku hanya mengatakan padanya kalau aku ini adalah Luri. Aku juga menyebut kalau aku dan Kak Fedo sudah pernah tidur bersama di berbagai tempat," jawab Nania jujur.


Denyut jantung Galang dan Jovan hampir terhenti saat mendengar ucapan frontal Nania. Mereka berdua berani menjamin kalau wanita asing itu pasti langsung kena mental setelah menjadi tumbal dari ketajaman mulut seorang Nania.


Baru kali ini aku merasa prihatin pada orang jahat. Kasihan sekali kau, Nona, batin Jovan iba.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


...πŸ’œJangan lupa vote, like dan komentar...


...ya gengss...


...πŸ’œIg: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ’œFb: Rifani...


__ADS_2